Twins'

Twins'
95



Setelah kepergian Vyan, Aurel benar-benar merasa sendiri. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Vyan sudah mengirimkan pesan jika dia akan menginap dirumah temannya. Aurel masih terjaga, tubuhnya sudah lelah tetapi matanya menolak untuk terpejam. Berulang kali Aurel memejamkan matanya namun bayangan suaminya itu selalu menghampiri. Dilihatnya Vano yang masih membuka lebar matanya, rupanya dia ingin menemani Bundanya malam ini. Aurel mencoba mengalihkan perhatiannya pada Vano, ia bermain bersama Vano namun tetap saja merasa khawatir dan bersalah pada Bagas.


Mengapa aku harus merasa khawatir dan merasa bersalah, ini bukan salahku bukan?, batin Aurel.


Tak lama Vano tertidur karena tepukan lembut dilengannya. Aurel menelentangkan tubuhnya menatap langit-langit kamar, setelah itu matanya bergerak mengedarkan pandangannya pada setiap sudut di dalam kamar yang baru ia tiduri ini. Sampai pada pojok kiri di dekat kamar mandi ia melihat benda perekam kecil yang mengarah pada kasur yang saat ini ia tempati.


Sejak kapan ada CCTV dikamar ini?, batin Aurel dengan kerutan di keningnya.


Saat akan menutup matanya ia mendengar suara nyaring di telepon rumah yang berada tak jauh dari kamar tamu. Karena Bi Ira ataupun Mang Tanu tidak ada, Aurel terpaksa mengangkat teleponnya sendiri.


"Hallo" ucap Aurel.


'Hallo Bu' jawab orang diseberang sana dengan nada panik.


"Aji ada apa?"


'Tolong Bu, Bapak mabuk berat. Beliau menghajar orang-orang tidak bersalah disekitar club. Saya sudah mencoba untuk menahannya tapi gagal'


Deg!


Mabuk? bukankah Bagas tau jika Aurel sangat membenci seorang pemabuk? tapi mengapa dia melakukan hal itu.


"Jangan asal bicara kamu" jawab Aurel.


'Saya tidak berbohong Bu. Tadi sehabis maghrib Bapak datang ke apartemen saya dan meminta saya untuk menemaninya ke club malam. Saya sudah mencoba berbagai cara untuk menghentikannya namun ternyata gagal'


"Jangan bercanda. Saya tidak percaya. Mas Tian bukan lelaki seperti itu. Dia tidak mungkin mabuk. Oh, apa jangan-jangan ini rencana kalian agar aku menemui Mas Tian dan memaafkannya, iya?" tebak Aurel.


'Saya akan buktikan pada Ibu'


'Berani kau melawanku bre*gsek!! dasar tidak berguna!! akan kuhabisi kau malam ini juga!!' terdengar suara Bagas yang berteriak dan suara seseorang yang berulang kali memohon ampun pada Bagas.


Perasaan Aurel semakin gelisah. Ia harus berbuat apa?.


"Kamu tidak sedang bercanda kan Ji?" tanya Aurel untuk kedua kalinya.


'Saya mengatakan yang sejujurnya Bu. Karena sejak Bapak datang ke apartemen saya, dia menceritakan masalah Ibu dan Bapak' jawab Aji.


'Aaaaa ampun Tuannn' terdengar lagi teriakkan seseorang di seberang sana, ini bukan suara lelaki sebelumnya melainkan suara perempuan.


Tidak! Aurel tidak bisa membiarkan ini terjadi, ia tidak ingin melihat suaminya terkurung di dalam sel karena kasus pembunuhan.


"Beri tahu aku alamatnya. Aku akan segera kesana" jawab Aurel seraya meraih note kecil yang selalu berada disamping telepon.


'(Aji memberitahukan alamat lengkapnya)'


'Club ini ada ditempat terpencil Bu. Karena selalu dihadiri beberapa pengusaha' ucap Aji.


"Saya kesana sekarang. Tolong coba untuk menghentikan aksinya" jawab Aurel yang langsung memutuskan sambungan telepon.


Aurel berlari ke kamarnya tadi. Ia terlihat gusar saat menatap Vano yang tengah terlelap.


Tidak mungkin aku membawa Vano ke club, batin Aurel.


Aurel terus mondar-mandir di dalam kamar hingga akhirnya menemukan solusi terbaik untuk Vano. Aydan! kakaknya itu pasti tidak masalah jika dititipkan Vano.


Aurel segera meraih ponselnya dan mencoba menelepon Aydan namun tidak mendapat jawaban sama sekali. Arhhh!! Aurel meraih Vano ke gendongannya, memakaikan selimut tebal agar tidak kedinginan dan membawanya keluar rumah.


"Nona mau pergi kemana? ini sudah sangat larut" ucap pengawal yang tidak sengaja berlintas dihadapan Aurel.


"Untunya ada kau. Antar aku ke mansion daddy sekarang" ucap Aurel tergesa-gesa.


"Baik Nona, tunggu sebentar saya keluarkan mobilnya terlebih dahulu" jawab pengawal.


Aurel tetap tak tinggal diam, jarinya terus mengotak-atik ponselnya. Mengirim pesan pada Aydan dan Neli namun sama sekali tidak mendapat jawaban, dibaca pun tidak.


"Mari Nona" pengawal membukakan pintu mobil untuk Aurel.


Aurel segera menduduki kursi belakang mobil dengan Vano yang masih di gendongannya. Ia ingin menghubungi Aji namun tidak memiliki nomornya.


Hampir 20menit perjalanan menuju mansion. Setelah sampai pengawal yang bersama Aurel membunyikan klakson mobilnya dan tak lama terlihat satpam membuka gerbang dan menghampiri mobil yang ditumpangi Aurel.


"Selamat malam Nona" melihat Aurel didalam mobilnya membuat satpam tadi membuka gerbang lebar-lebar.


"Pak Kak Aydan sama Neli ada dirumah?" tanya Aurel yang masih didalam mobil.


"Tuan dan Nona sejak pagi pergi ke luar kota, mungkin besok pagi baru pulang Non" jawab satpam.


"Lia, ngapain kamu malem-malem kesini. Kasian Vano pasti kedinginan. Masuk dulu ke mansion" tegas Aydan. Ya, pemilik mobil tadi ialah Aydan.


"Kak Ay aku gak bisa cerita sekarang, gak ada waktu. Aku titip Vano dulu sebentar. Ada sesuatu yang harus aku urus. Plisss" Aurel memohon pada Aydan yang masih terlihat kebingungan.


"Sini Rel" Neli turun dari mobil dan meraih Vano ke gendongannya.


"Aku titip bentar Nel. Nanti ku jemput lagi ya. Dahh" Aurel berlari kembali ke mobilnya lalu segera memerintahkan pengawal untuk membawanya ke alamat yang sudah ia berikan tadi. Untungnya pengawal mengetahui tempatnya.


Ditengah perjalanan ponsel Aurel berdering dan menampilkan nama 'Mas Tian' di layarnya. Aurel segera menjawab teleponnya.


"Hallo Mas" ucap Aurel.


'Bu ini saya Aji. Saya memakai ponsel Bapak karena saya tidak memiliki nomor Ibu' ternyata Aji yang menggunakan ponsel Bagas.


"Oh Aji. Bagaimana keadaannya sekarang Ji. Apa masih sama seperti tadi?" tanya Aurel.


'Lebih parah Bu. Bapak sama sekali tidak bisa dicegah. Semua orang takut melihatnya bahkan hampir ada yang memanggil polisi namun segera dicegah oleh pemilik club ini. Ibu masih dimana? bisakah lebih cepat? saya khawatir terjadi apa-apa pada Bapak jika terlalu lama dibiarkan' jawab Aji.


"Saya sampai sekitar 15menitan lagi. Tolong bantu Mas Tian untuk menghentikannya. Tunggu saya sebentar" Aurel langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Bisa lebih cepat?" tanya Aurel pada pengawal didepannya.


"Baik Nona" jawab pengawal.


Aurel menyandarkan tubuhnya di kursi seraya memijat keningnya yang terasa sangat pusing.


Dia benar-benar sudah gila!, geram Aurel di dalam hatinya.


"Kita sudah sampai Nona" ucap pengawal.


Aurel mengedarkan pandangannya "Apa benar ini tempatnya? kenapa sangat gelap?" tanya Aurel.


"Jalannya kecil Nona, tidak bisa menggunakan mobil. Mari saya antar"


Aurel segera mengikuti pengawal dari belakang. Kanan dan kirinya dipenuhi dengan lampu remang-remang berwarna kuning. Aurel sempat bergidik ngeri saat melewati satu rumah yang benar-benar gelap. Sampai pada satu tempat yang dihiasa lampu kelap-kelip khas club malam. Di dekat pintunya tertulis 'Nc club'.


'Aaaahhhh!!!' teriakkan seseorang dan keributan di dalam ruangan membuat Aurel terkejut dan membelalakkan matanya. Ia segera meraih handle pintu dan membukanya.


Untuk yabg kedua kali matanya terbelalak saat melihat penampilan Bagas di dalam ruangan itu.


"Apa-apaan ini!" geram Aurel.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kalo ada masalah yang komennya banyak. Sedangkan kalo adem ayem yang koment gak lebih dari 10.. Apa setiap chapter harus disertai masalah ya? 😳


.


.


.


.


Oiya sebentar lagi novel ini tamat. Author mau minta pendapat nih. Bikin novel baru atau bikin sekuel tentang Vano dan yang lainnya ya? yuk voting😊