Twins'

Twins'
63



"AUREL STOPPPPPPPP!!!!!" Teriak Bagas.


Aurel sama sekali tidak mendengarkan ucapan Bagas karena terlanjur emosi ia menarik rambut teman Dea dengan sangat keras hingga membuat wanita itu menangis.


"Aurel kubilang hentikann!!!!" Bagas menarik tangan Aurel dengan keras, lalu menyeretnya untuk masuk ke kamarnya. Bagas melemparkan tubuh Aurel di atas kasur dengan kasarnya, seakan dia melupakan ada buah hati di dalam perut wanitanya itu.


Rahangnya mengeras, matanya sudah memerah. Tatapannya pada Aurel benar-benar tajam dan menakutkan, namun Aurel tidak memikirkan itu semua. Dia tidak takut dengan apa yang terjadi pada Bagas kali ini.


"Sudah kubilang beberapa kali!!! Kamu marah silahkan, kesal silahkan!! Tapi jangan sekali-kali kamu menggunakan mulutmu untuk menjelekkan orang lain! Bagaimana jika suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan karena ulah mulut pedasmu itu!?" Bentak Bagas.


Aurel mendongak menatap Bagas dengan mata yang juga memerah.


"Lalu bagaimana denganmu!! Tidakkah kamu berpikir jika kata-katamu juga membuat luka di hatiku? Tidakkah kanu berpikir jika suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan antara kita karena mulutmu itu?!!!" Aurel ikut meninggikan suaranya.


"Aku bicara seperti ini karena aku ingin kamu berubah! Aku ingin kamu yang dulu!! Aku gasuka kamu bersikap kasar pada orang lain Lia!!!" Ucap Bagas.


"Jadi hanya aku yang tidak boleh berbuat kasar? Hanya aku saja??! Bagaimana denganmu?!!!! Kamu bahkan lebih kasar dari yang aku pikirkan!!!" Ucap Aurel.


"Ini caraku mendidikmu Aurel!!! Aku ingin kamu menjadi istri di dunia dan akhirat!!" Ucap Bagas.


"Cara mendidikmu salah!!! Aku tidak menyukainya!!!. Lihatlah cara Daddy mendidikku! Dia sama sekali tidak pernah meninggikan suaranya di hadapanku, dia tidak pernah main tangan terhadapku bahkan Kak Aydan. Tapi ada apa denganmu? Kamu bilang begini caramu mendidikku?!! Kamu salah besar!!" Aurel berdiri di hadapan Bagas.


"Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, jika kamu bersikeras untuk meluruskannya, maka kamu akan mematahkannya" Ucap Aurel.


Aurel meninggalkan Bagas dan meraih koper yang ada di atas lemari, ia mulai membuka lemari dan memasukkan beberapa pakaian kedalamnya. Bagas yang melihat tindakan Aurel mulai terlihat gusar.


"Syurga istri ada pada suaminya" Ucap Bagas.


Aurel menatap Bagas dengan deraian air mata, ia menyunggingkan senyumnya.


"Suami seperti apa dulu?" Ucapnya.


Bagas menghampiri Aurel dan menarik kopernya dengan keras lalu melemparnya ke sembarang arah.


"Kamu tidak boleh pergi dari sini!!!" Tegas Bagas.


"Lalu aku harus apa?? Diam di neraka ini? Ck. Aku menyayangi anakku, aku tidak ingin anakku menjadi korban kebodohanmu itu" Ucap Aurel yang menghampiri kopernya namun lagi-lagi Bagas membuang koper itu.


"Jika kau ingin pergi maka jangan pernah membawa satu barang pun dari rumah ini!!!" Tegas Bagas. Yang ada dipikiran Bagas adalah Aurel tidak akan pergi jauh dari sini tanpa uang, prediksinya adalah Aurel akan pergi ke rumah orang tuanya/rumah Rere.


"Baiklah, aku tidak akan membawa satu barangpun dari sini. Aku akan pergi, jangan pernah mencariku. Suatu saat kau akan menyesali semua kata yang telah kamu ucapkan padaku dan anakku" Ucap Aurel.


Dengan terburu-buru, Aurel keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga yang begitu banyak. Ia bahkan melupakan jika dirumah itu ada lift. Tepat saat berada di depan kamar Dea, dia bertemu dengan 2 wanita iblis itu.


"Hussss jangan kembali lagi nonaa!!" Sindir Dea.


Aurel yang tak berselera untuk meladeni Dea pun mencoba mengacuhkan ucapannya itu. Dia menuruni anak tangga dengan langkah yang cepat hingga membuat Cesa dan Bi Ira khawatir melihatnya.


"Nonn, non mau kemana???" Ucap Bi Ira.


"Pergi Bi" Ucap Aurel.


"Pergi kemana kak, ini sudah malam. Biar Cesa antar ya" Ucap Cesa.


"Gapapa, kakak bisa sendiri" Aurel menghadap Bi Ira dan Cesa. Ia memeluk keduanya dengan erat dan buliran air mata yang jatuh di pipinya.


"Terimakasih karena sudah menjagaku selama ini. Apapun yang terjadi aku berharap kalian akan tetap bahagia" Ucap Aurel yang membuat Bi Ira dan Cesa ikut menangis.


Cesa membalas pelukkan Aurel dengan erat.


"Kakak aku mohon jangan pergi dari sini" Ucap Cesa.


"Cesa kakak tidak akan pergi jauh. Kakak akan kembali" Ucap Aurel.


"Kapan kak?" Ucap Cesa.


"Suatu saat.. Kakak tidak ada waktu untuk saat ini. Jaga kesehatan kalian, aku menyayangi kalian" Aurel semakin mengeratkan pelukkannya kemudian ia melepaskannya dan kembali berjalan keluar rumah.


Setelah berada diluar ia kembali memandangi rumah di hadapannya itu.


"Aku tidak tau apa aku bisa kembali lagi kesini atau tidak, yang pasti aku mohon tetaplah bahagia bagaimanapun keadaannya" Lirih Aurel.


Aurel menyusuri jalan dengan tangan yang benar-benar kosong. Ia tidak membawa apapun dari rumah megah itu, hanya pakaian dan gelang kaki yang melekat di tubuhnya.


"Shhhhhh, ada apa dengan perutku" Aurel memegangi perutnya yang terasa kram, kebetulan ia sudah berada di halte. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu seraya meringis kesakitan.


Jalanan benar-benar sepi, seperti tidak ada kehidupan. Mungkin karena sudah larut.


"Heyyy nona cantik" Beberapa preman menghampiri Aurel dan duduk di samping kiri dan kanannya.


"Wahhh apa kau sedang mengandung??? Dimana suamimu? Mengapa ia membiarkan wanita secantik dan semanismu itu berada di tempat sepi sendirian???" Ucap preman seray mencolek dagu Aurel.


Aurel menepis tangan preman itu dengan lemah, karena rasanya tenaganya benar-benar terkuras habis.


"Ikut Abang yukk" Salah satu preman menarik tangan Aurel namun dengan sisa kekuatannya Aurel menginjak kaki dua preman itu dan berlari menjauh namun,,,


"Awwwww" Ia terjatuh saat tidak sengaja menyandung sebuah batu yang lumayan besar.


"Heyyy!!! Jangan melawan atau akan kubunuh kau!!!" Ucap preman yang sudah memegang tangan Aurel.


"Heyyy lepaskan dia!!!!" Teriak seseorang yang membuat Aurel menatapnya namun sepersekiaj detik kesadarannya mulai hilang.


***


Bagas hang ditinggalkan Aurel mulai gusar. Ia mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat isya yang sempat terlewat karena perdebatannya.


Hatinya mulai tidak tenang, sudah beberapa kali ia mengulang sholatnya karena tidak fokus. Namun akhirnya ia menyelesaikan sholatnya. Ia menaiki kasur dan mencoba memejamkan matanya namun nihil, bayang-bayang Aurel yang sedang menangis membuat matanya enggan untum terlelap.


"Tenang Bagas, biarkan istrimu menenangkan dirinya di rumah Mommy, mungkin disana ia bisa berpikir dengan jernih" Gumam Bagas.


Akhirnya ia menutup matanya dan mulai tertidur.


Pagi harinya Bagas membuka mata dan tidak mendapati Aurel di sampingnya. Ia mengingat kejadi semalam.Bagas memijat pelipisnya yang terasa pusing. Setelah itu ia bangkit dari tidurnya dan segera membersihkan tubuhnya.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, ia turun ke lantai bawah dengan pakaian kantornya.


"Denn sarapan dulu?" Tanya Bi Ira.


"Engga Bi, Bagas mau langsung ngantor aja" Ucap Bagas.


"Emmm Den, a--anu non Lia" Ucap Bi Ira.


"Gapapa Bi, nanti Bagas jemput di rumah Mommy, palingan Lia lagi disana" Ucap Bagas.


"Bagas berangkat dulu Bi" Sambungnya.


"Aduhh bukan gitu maksud Bibi Den,, maksud Bibi itu perdebatan tempo hari bukan salahnya Non Lia tapi salah anak kecil itu" Gumam Bi Ira setelah Bagas menjauh darinya.


***


Di tempat lain Aurel mulai membuka matanya.


"Awwww kepalaku" Aurel memegang kepalanya yang sudah terbungkus kain berwarna putih. Aurel mengingat kejadia semalam yang menimpanya, mungkin kepalanya terluka saat ia terjatuh karena tidak sengaja menyandung batu yang tidak berdosa.


"Alhamdulillah neng kamu teh udah sadar" Ucap wanita yang tidak terlalu tua, mungkin seumuran dengan Mommynya.


"Emmm terimakasih sudah menolongku Bu" Ucap Aurel.


"Bukan Ibu yang menolong kamu teh neng, tapi anak Ibu" Ucap Ibu itu.


Aurel kembali mengingat kejadian yang menimpanya semalam.


"Ah iya, seingatku ada seorang pria yang memakai pakaian dokter menyelamatkanku.. Apakah itu anak Ibu?" Ucap Aurel.


"Iya Neng, itu Bara anak Ibu. Dia teh bilang dia tidak sengaja bertemu dengan wanita hamil di pinggir jalan" Ucap Ibu itu.


"Dia mengetahui aku sedang hamil Bu?" Tanya Aurel yang sempat kaget karena seingatnya semalam ia menggunakan gamis longgar yang menutupi perutnya.


"Kamu ini bagaimana toh neng, tentu saja tau kan dia seorang dokter atuh" Ucap Ibu itu.


"Ahh iya, aku lupa" Ucap Aurel.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yang minta up tiap hari akan aku usahain ya. Semoga lancar jaya halunya hehe:)


Sehat-sehat selalu reader's ku💜