
" Sayang, " Bagas menggenggam tangan Aurel saat mereka sudah memasuki mobil.
" Iya Hubby? "
" Berapa total belanjaanmu tadi? "
" Eh? "
" Beri tahu aku sayang "
" Emm.. ini " Aurel memberikan rincian belanjaannya pada Bagas.
Bagas menepikan mobilnya dan membaca total uang yang di keluarkan Aurel tadi. Setelah mengetahuinya dia langsung membuka ponsel dan mentransfer uang dengan jumlah yang sama ke rekening Aurel.
Ting
Suara pesan masuk di ponsel Aurel, dia membukanya dan langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
" Hubby.. " Aurel berkata pelan dengan menatap Bagas.
" Aku ga mau kita berdebat lagi sayang. Terima aja, dan satu hal lagi. Selagi aku masih sehat, masih bisa nafkahin kamu, pakai uang aku buat beli semua kebutuhan kamu. Aku mengizinkan kamu memakai uangmu sendiri kalau aku udah gaada di dunia ini "
Aurel menatap Bagas dan langsung memeluknya dengan erat.
" Aku ingin menua bersamamu. Selamanya.. "
" Insyaallah sayang "
***
" Kapan rencana penikahan kalian? " Raka menatap Aydan yang ada di hadapannya.
Setelah mendapatkan restu dari orangtua Neli, Aydan membawa Neli ke hadapan orangtuanya dan meminta restu dari mereka.
" Rencana kami bulan November Dad " Aydan menjawab dengan menatap Raka.
" 2 bulan lagi? "
" Iya Dad "
" Terlalu lama! "
" Kita udah ngerencanain bulan itu Dad "
" Terserah kalian, asal kalian bahagia Daddy pun ikut bahagia. Siapkan semuanya jika ada sesuatu yang kurang, bisa minta Daddy "
" Baik Dad. Ay akan siapin semua keperluannya dari sekarang. Emhh tapi Dad.. "
" Kenapa? "
" Setelah menikah, kita akan tinggal di negara xx "
" Ehhh enggak enggak! Kalian disini aja jangan kemana-mana! " Cegah Zahra.
" Momm.. Ini permintaan Neli "
" Ay gapapa kok, kalo emang Mom ga izinin biar kita tinggal disini aja " ucap Neli dengan mengelus punggung tangan Aydan.
" Tuh apa kata Neli. Kalo bisa mah Mom mau semua anak Mom tinggal dirumah ini. Emang kalian ga takut kalo tiba-tiba Mom menghembuskan nafas terakhir tanpa ada kalian disisi Mom? "
" Mommy!!!! " Teriak Raka dan Aydan membuat Zahra terkejut.
" Mas ga suka kamu membicarakan tentang itu!! "
" Ya kan jaga-jaga Mas "
" Setelah ini jangan pernah membahas hal-hal yang tidak akan bisa aku lalui! "
" Tidak ada yang tau tentang kema— "
" Mommy stopp!!! " Aydan berteriak lagi, menghentikan ucapan sang Mommy yang menurutnya konyol.
" Mommy gaakan kemana-mana! Mom akan tetap disini dengan Daddy, Lia, Amel dan Ay!! "
" Ay ga suka Mom membicarakan hal itu!! "
" Iya-iya Mom minta maaf " Zahra menjawab dengan santai yang membuat Raka dan Aydan menggelengkan kepalanya.
***
Di satu sekolah, Vyan sedang menikmati makan siangnya di kelas seorang diri. Saat ini dia sudah duduk di bangku SMP lebih tepatnya kelas 8, walaupun umurnya masih 11 tahun tapi dia sudah bisa memasuki kelas itu. Dan dengan tubuh yang tinggi dan sedikit berisi, dia tidak terlihat seperti anak seusianya.
" Vyan? " Seorang teman perempuan di kelasnya menghampiri Vyan dan memberikan coklat padanya.
Vyan melirik gadis itu dan kembali fokus pada makanan yang sedikit lagi akan habis.
Gadis itu menjauhkan lagi coklatnya dan menatap Vyan yang masih fokus dengan makanannya " Aku ingin menjadi temanmu "
" Aku tidak butuh teman! "
" Sampai kapan? "
Vyan meneguk air putih di botolnya dan memasukkan tempat makan ke dalam tas nya.
Merasa di cueki oleh Vyan, gadis dihadapannya langsung duduk di kursi yang berada di depan meja Vyan.
" Sampai kapan kau akan menyembunyikan dirimu dalam keramaian! Sampai kapan kau akan berteman dengan sepi!? "
" Sepi adalah teman sejatiku. Dia tidak akan menghianati dan meninggalkanku! "
" Dia tidak bisa diajak menukar pikiran denganmu Vyan! "
" Aku masih punya Tuhan yang akan mendengarkan segala keluh kesahku! "
" Aku tau di dalam lubuk hatimu kau pasti menginginkan seorang teman. Mari berteman denganku Vyan! "
" Ku bilang tidak ya tidak! Kau tuli?! "
" Aku hanya ingin menjadi temanmu, menjadi seseorang yang mendengarkan semua ceritamu! "
" Tidak! Aku tidak akan pergi kalau kamu tidak mengizinkan aku menjadi temanmu! "
" Keras kepala! "
" Ya! Aku memang keras kepala karenamu Vyan! "
" Aku orang yang tidak menyenangkan! Jangan pernah berharap bisa berteman baik denganku! Pergi dan carilah seseorang yang pantas kau sebut sebagai teman! "
" Kau Vyan! Kau yang pantas ku sebut sebagai teman "
Merasa kesal dengan tingkah Tya terhadapnya, Vyan lebih memilih untuk meninggalkan kelas dan masuk ke perpustakaan.
" Aku akan mendapatkanmu Vyan! "
***
" Hubby STOPP!!!! " Teriakkan Aurel membuat Bagas menghentikan mobilnya dengan cepat.
" Hubby, ke pinggir dong. Ini bahaya "
" Kamu yang bikin anak orang jantungan ini! " gumam Bagas. Dia langsung memarkirkan mobilnya di tepi jalan.
" Kenapa sayang? "
" Kita mampir ke supermarket dulu Bay "
" Bay? "
" Kenapa? Aneh? "
Bagas menggelengkan kepalanya " Enggak "
" Hubby terlalu panjang, jadi aku menyingkatkannya dengan Bay "
" Ohhh "
" Ayo turun "
Bagas segera turun dan merangkul bahu istrinya memasuki sebuah supermarket yang tidak terlalu ramai pembelinya.
" Mau beli apa sih sayang? " Bagas masih setia mengikuti istrinya dengan mendorong troli.
" Bay,, aku mau beli bahan masakkan. Aku mau masak setiap hari buat kamu "
" Ada Bi Ira sayang "
" Biarin aja. Aku gamau keahlian masakku terpendam begitu saja "
" Baiklah-baiklah "
" Ah kita beli ikan itu! " Aurel berjalan menghampiri tempat yang memajang ikan di atas meja.
Dia mulai memilih-milih ikan yang akan di belinya. Mulai dari melihat warnanya, mencium aromanya bahkan mengecek keadaan tubuhnya.
Bagas menggelengkan kepalanya dan tersenyum senang. Istrinya sekarang sudah pandai dengan urusan dapur, tidak seperti 3 tahun sebelumnya. Bagas meraih ponselnya dan memotret Aurel diam-diam seperti paparizi sungguhan.
" Bay, kamu mau ikan apa? "
" Apa aja sayang, yang penting hidup di air "
" Yailah mana ada ikan hidup di darat! " Aurel kembali melihat-lihat ikan yang tersedia disana.
" Emhh kayaknya ini yang dibilang Bu Rumi. Ahh iya ini " Aurel memasukkan beberapa ikan yang sudah di wadahi ke dalam troli.
" Ada lagi sayang? "
" Emm apa lagi ya??.. Ah iya kita beli daleman kamu Bay, kamu cuma punya beberapa doang di lemari. Bisa repot nanti kalo musim hujan bisa-bisa kamu pake daleman aku lagi "
" Yaampun sayang, gabakal lah. Masa iya pake punya kamu. Mana muat! "
" Hahaha daripada kamu gapake daleman Bay "
Aurel segera memilih celana dalam Bagas dan membeli 5 box yang satu box nya berisi 3 setel.
" Banyak banget sayang "
" Buat jaga-jaga Bay. Bay liat itu!!! " Aurel menunjuk perlengkapan bayi dan berlari mendekatinya.
" Awwww kiyowo!!! "
Bagas tersenyum saat melihat Aurel yang mengelus-elus perlengkapan bayi berwarna biru di sebuah kotak.
" Sayang, kamu belum ada niat buat beli itu kan? "
" Engga Bay, cuma liat aja. Lucu banget " Aurel memegang dan mengelus perutnya berulang-ulang.
" Semoga dia cepet hadir disini ya By "
Bagas mendekati Aurel dan mendekatkan bibirnya ke telinga Aurel yang tertutup hijab.
" Maka dari itu, kita harus banyak-banyak lemburnya sayang "
" Kamu ini! " Aurel memukul tangan Bagas dan segera meninggalkannya menuju kasir begitu saja.
Kasir sedang mengitung total belanjaan Aurel.
" Mbak totalnya jadi... " kasir menyebutkan total belanjaan Aurel.
Aurel membuka dompetnya lalu memilih menggunakan kartu pemberian Bagas.
" Ini mbak " Aurel memberikan kartunya.
" Silahkan pin nya mbak "
Aurel langsung mengetik pin ATM nya.
Setelah itu mereka langsung menuju ke rumahnya..