
"Grandpa Grandma" Vyan mencium punggung tangan Raka dan Zahra.
"Bang minggu depan libur semester kan?" Tanya Raka.
"Iya Grandpa, kenapa?" Ucap Vyan.
"Opa sama Oma minta kamu berlibur disana. Katanya sambil bantu-bantu anak perusahaan Opa" Ucap Raka.
"Abang mau aja asal Bunda sama Ayah kasih izin" Ucap Vyan.
"Bunda sama Ayah kamu udah ngizinin kok Bang. Tinggal nunggu persetujuan kamunya, iyakan Kak?" Ucap Zahra.
"Iya Nak.. Kamu berlibur aja disana, sekalian mengasah kemampuan kamu" Ucap Bagas.
"Kalo gitu Abang setuju" Ucap Vyan.
"Yaudah nanti Grandpa kasih tau Opa" Ucap Raka.
"Abang mau ke LA?" Tanya Amel yang baru tiba setelah mengambil air mineral.
"Iya Nyil. Mau ikut?" Ucap Vyan.
"Gamau!! Aku males ketemu sama Kak Bara" Ucap Amel. Bara sendiri adalah anak dari Kenny (Adik angkat Zahra).
"Loh emang kenapa Nyil kak Bara?" Tanya Vyan.
"Bang, kalo aku kesana itu ya. Kak Bara selalu bawa aku dan ngenalin aku ke temen-temennya. Mana temennya suka jodoh-jodohin aku ke adik nya" Dengus Amel.
"Padahalkan aku udah ada Abang" sambung Amel yang mendapatkan gelak tawa dari semua orang tak terkecuali Vyan.
"Amelll... Kan Abang Vyan itu Abangnya kamu" Ucap Raka.
"Iya emang Abangnya aku. Tapi aku sayang dan cinta sama Abang. Abang juga sayang sama aku, ya kan Bang?" Ucap Amel.
"Iya Unyilll!!!!" Vyan mengelus rambut Amel.
Semoga kisah kamu berakhir seperti kisah Ayah yang mencintai Bundamu secara diam-diam Nak, Batin Bagas.
"Assalamualaikum semua!!!!!" Teriakan seseorang membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
"Waalaikumsallam" Ucap semua orang kecuali Aurel.
"Waalaikumsallam Toa kang perabot" Ucap Aurel saat melihat Aydan dan Neli lah yang datang kerumahnya.
"Kejam banget punya adek" Cebik Aydan.
"Ya lagian dateng kerumah orang gaada manis-manisnya banget" Ucap Aurel.
Setelah menyalimi Raka dan Zahra, Aydan dan Neli duduk di sofa dnegan posisi Neli disamping Aurel dan Aydan di samping Neli.
"Gimana ini?" Tanya Neli sambil mengusap perut Aurel.
"Positive" Ucap Aurel dengan senyum mengembangnya.
"Selamat Rell" Neli memeluk Aurel layaknya seorang sahabat.
"Kalian kenapa peluk-pelukkan?" Ucap Aydan.
"Aku mau jadi Aunty lagi Ay" Ucap Neli.
"Maksudnya?" Ucap Aydan.
"Kamu mau jadi Uncle" Ucap Neli.
"Maksudnya?" Aydan mengerutkan keningnya.
Bugg!!!!
Aurel melemparkan bantal kecil ke arah Aydan.
"Kak Ay kamu itu bodoh tingkat dewa!!!" Ucap Aurel.
"Maksudnya gimana sih gangerti" Ucap Aydan.
"Yaallah Aydan Zayyan Putra Arsenio!!!!!!!! Aku itu lagi hamilll!!!" Aurel berbicara dengan nada yang sedikit meninggi.
"Ohhh hamill" Ucap Aydan.
"Yaelah Kak, responnya gitu amet dah" Cebik Aurel.
"Terus harus gimana?" Jawab Aydan dengan entengnya.
"Emang kakak gaada akhlak!" Ucap Aurel.
"Tokcer juga lo Gas" Ucap Aydan pada Bagas.
"Iya dong pake pupuk urin" Ucap Bagas.
"Dikira taneman apa ya" Ketus Aurel.
"Sayang kita kapan?" Bisik Aydan pada Neli.
"Ngaco kamu Ay, nikahnya baru aja kemaren!!!" Ucap Neli.
"Oiya Rel kita bawain kamu ini" Neli memberikan sebuah paper bag berwarna gold pada Aurel.
"Apa ini Nel?" Ucap Aurel.
"Daster,, buat nanti jaga-jaga kalo badan kamu melar" Ucap Aydan.
"Haisssss kejam banget bahasanya.. Tapi thank you ya, nanti pasti butuh banget ini" Ucap Aurel.
"Sayang aku bikinin susu dulu ya" Bisik Bagas pada Aurel yang di balas dengan anggukkan.
Ketika sedang berbincang terlihat Dea menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi seperti hendak hangout.
"Kak, siapa itu?" Tanya Zahra pada Aurel.
"Gatau siapa,, Kak Tian seenaknya bawa orang lain kesini" Ketus Aurel yang tidak sengaja di dengar oleh Dea.
Dea menghampiri Aurel dan membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Maaf Kak kalo keberadaan aku bikin kakak risih. Nanti aku bilang sama Kak Bagas biar nyariin apartemen buat aku" Ucap Dea dengan sopannya.
"Kenapa ga dari dulu aja?" Ketus Aurel.
"Dulu aku gatau kalo Kak Bagas udah beristri. Aku pikir masih lajang" Ucap Dea.
"Sudah ataupun belum beristri ga seharusnya kamu tinggal serumah sama lelaki yang bukan muhrim" Ucap Aurel.
"Maaf Kak" Lirih Dea.
"Sayang ini susunya" Ucap Bagas.
"Dea mau kemana?" Tanya Bagas pada Dea.
"Dea mau izin ketemu temen Kak, mau bahas kuliahan" Ucap Dea.
"Yaudah hati-hati De" Ucap Bagas.
"Permisi Kak" Dea membungkukkan tubuhnya lalu meninggalkan ruang tengah itu.
"Kak itu siapa?" Tanya Zahra.
Bagas menceritakan semuanya, tentang kepergian orangtuanya Dea dan bagaimana Ayah Dea meminta Bagas untuk menjaga putri satu-satunya itu.
"Kenapa kamu izinin dia tinggal disini?" Tanya Raka.
"Iya kak, kakak bisa beliin dia apartemen" Ucap Amel.
"Niatnya gitu kalo Dea udah nemu tempat kuliahnya Dad" Ucap Bagas.
"Banyak orang yang memelihara ular berbisa sejak ular itu kecil, namun setelah tumbuh besar ular itu akan membahayakan orang yang merawatnya" Ucap Aydan.
"Ay jangan suudzon mulu" Neli memukul pelan lengan Aydan.
"Engga suudzon yang.. Nyatanya emang sering kayak gitu kok" Ucap Aydan.
"Doain aja semoga semuanya baik-baik aja" Ucap Bagas.
Malam harinya Aurel sedang merebahkan tubuhnya dengan kepala yang ditidurkan di paha Bagas..
"Anak itu?" Bagas mengerutkan keningnya.
"Iya, Dea" Ucap Aurel.
"Kamu ga nyaman ada Dea disini?" Tanya Bagas.
"Sangat" Lirih Aurel.
Bagas menghembuskan nafasnya.
"Apa Dea bersikap kurang aja sama kamu?" Tanya Bagas.
"Enggak.. Tapi aku gasuka sama dia" Ucap Aurel.
"Alasannya?"
"Gatau"
"Sayang kamu gaboleh kayak gini.. Kan kamu yang selalu ngingetin Mas buat nolong sesama?"
"Tapi ga gitu juga konsepnya Mas. Nolong boleh tapi jangan bawa dia masuk ke rumah tangga kita"
"Mas ga bawa dia ke rumah tangga kita sayang, Mas cuma bawa dia ke rumah kita"
"Tau ah Mas!!!" Aurel mengangkat kepalanya dan berdiri di hadapan Bagas.
"Aku jarang ga suka sama seseorang, Mas juga tau sendiri bukan!!. Tapi kalo aku udah gasuka atau benci sama seseorang, orang itu nafas aja aku anggap salah!!" Cebik Aurel yang langsung mendekati kasur dan merebahkan tubuhnya disana.
Bagas menghampiri Aurel dan duduk di sampingnya.
"Sayang dengerin Mas" Ucap Bagas
"Mending kamu tidur Mas, aku ngantuk" Ucap Aurel.
"Mas mau ke ruang kerja dulu sayang" Bagas mengusap kepala Aurel lalu meninggalkannya.
****
Di lain tempat, Aydan dan Neli sedang duduk di balkon.
"Ay kamu kenapa bicara ga sopan di hadapan Dea tadi?" Tanya Neli.
"Aku gasuka aja" Jawab Aydan.
"Tapi gagitu juga Ay. Gimana kalo dia sakit hati sama omongan kamu?"
"Biarin aja sayang.. Itu berarti dia harus intropeksi diri, dan gabakal macem-macem sama keluarga Lia"
"Tapi kan---"
"Sayang aku gamau ngomongin orang lain disaat seperti ini hemmm?"
"Iyaaa" Neli mendengus karena setiap perkataan yang Aydan ucapkan tidak bisa dibantah lagi.
****
"Kak Bagas" Panggil Dea saat Bagas hendak memasuki ruang kerjanya.
"Dea? Kenapa?" Ucap Bagas.
"Emmm itu. Apa benar Kakak mau beliin aku apartemen? Maksudnya nyewain" Ucap Dea dengan ragu-ragu.
"Nanti Dea. Kalo kamu udah dapet tempat kuliahnya" Ucap Bagas.
"Kamu ga keberatan kan?, Kakak ga mungkin biarin kamu tinggal disini lebih lama lagi. Kamu tau istri kakak bukan?" Sambungnya.
"Emm iya gapapa Kak.. Hanya saja aku masih takut kalo tinggal sendiri" Ucap Dea.
"Nanti Kakak nyiapin beberapa pengawal buat jagain kamu De" Ucap Bagas.
"Yaudah kalo gitu Dea pamit ke kamar lagi kak" Dea langsung melenggang meninggalkan Bagas.
Tanpa disadari sedari tadi Vyan mendengar percakapan antara Bagas dan Dea.
"Ayahhh...." Panggil Vyan.
"Abang" Ucap Bagas.
"Masuk dulu" Bagas dan Vyan masuk kedalam ruang kerja.
"Kenapa Bang?" Tanya Bagas.
"Ayah, Bunda gasuka liat Dea ada dirumah ini bukan?" Ucap Vyan.
"Iya, kenapa?" Bagas mengernyitkan dahinya.
"Kenapa Ayah ga nyuruh Dea pergi sekarang. Kenapa harus nunggu nanti?" Ucap Vyan.
"Ayah bisa sewain atau beliin apartemennya sekarang. Seberapa lama lagi Ayah bikin Bunda ga nyaman sama kehadiran Dea dirumah ini?" Sambungnya.
"Sebentar lagi Nak, tinggal beberapa minggu lagi" Ucap Bagas.
"Bunda lagi hamil Yah. Emosinya gabisa di filter, gimana kalo suatu saat Ayah berdebat dengan Bunda karena ulah Dea?" Ucap Vyan.
"Gaakan Bang. Ayah bisa menjamin itu semua" Ucap Bagas.
"Kita gapernah tau apa yang akan terjadi di hari berikutnya Yah" Vyan langsung melenggang meninggalkan Bagas.
***
Seminggu berlalu..
Hari ini adalah hari keberangkatan Vyan ke negara LA. Dia diantar oleh Raka, Zahra dan Amel, karena Aurel sejak pagi Aurel sedikit demam yang mengharuskannya untuk tetap tinggal dirumah walaupun ia ingin mengantarkan Vyan ke bandara.
"Jaga diri baik-baik disana bang" Ucap Raka.
"Siap Grandpa" Jawab Vyan.
"Kalo ada apa-apa kamu langsung telfon kita" Ucap Zahra.
"Iya Grandmakuu... Unyilll" Vyan berjongkok dan merentangkan tangannya ke arah Amel.
Amel langsung menghampiri Vyan dan langsung memeluknya.
"Abang jangan lama-lama pulangnya.. Nanti Amel rindu" Celotehnya yang membuat Vyan gemas.
"Iya Unyil.. Nanti Abang sering-sering telfon kamu ya oke" Ucap Vyan.
"Tuan Muda, sudah masuk jam penerbangan" Ucap salah satu pengawal.
"Grandpa, Grandma, Unyil.. Abang pergi dulu ya" Ucap Vyan lalu mencium punggung tangan Raka dan Zahra. Tak lupa Amel pun mencium punggung tangan Vyan seperti yang sering ia lakukan.
Setelah mengantar Vyan ke bandara. Raka, Zahra dan Amel langsung menuju ke kediamannya karena siang nanti mereka akan berlibur.
***
"Masih pusing sayang?" Tanya Bagas setelah membuka kompresan di kening Aurel.
Aurel hanya mengangguk dengan lemah.
"Sedikit pusing Mas,, hiks,,hikss" Lirih Aurel.
"Suttt udah-udah jangan nangis ya, nanti baby nya ikut sedih.. Kamu tidur aja biar pusing nya ilang ya" Bagas menenangkan Aurel yang sejak pagi tadi selalu mengeluh karena pening di kepalanya dan selalu menangis. Setelah mendengar penjelasan dokter mengenai Aurel yang kondisi fisik nya lemah karena sedang mengandung untuk yang pertama kalinya, membuat Bagas menjadi sangat waspada, bahkan ia tidak tenang walau hanya meninggalkan Aurel semenit saja.
"Pusing Mas hiksss,,," Tangis Aurel semakin kencang yang membuat Bagas tidak tega melihatnya. Bagas mendudukkan tubuhnya disamping Aurel dan memijit pelipis Aurel dengan sangat lembut.
"Maafin Mas yang gabisa buat apa-apa untuk kamu" Gumam Bagas dalam hati.
Sepersekian detik akhirnya Aurel memejamkan matanya. Bagas mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aurel. Tangannya mengelus perut Aurel.
"Nak jangan bikin Bunda capek ya.. Kasian Bunda" Ucap Bagas.
_____________
Beberapa chapter lagi bakal ada konflik yang menguras tenaga ya:').
_____________
Commentnya makin dikit;(...