
Aydan dan Aurel sudah sampai di tempat tujuannya, mereka langsung memasuki apartement yang dibeli oleh mereka dengan uang sendiri.
Kamar Aurell
Aurel menghempaskan tubuhnya ke kasur" Huftttt capek bangett aku, ini awal baru untukku semoga semuanya akan baik-baik saja "
Ketika sedang memejamkan matanya Aurel teringat jika kekasihnya belum ia kabari karena sedari tadi ponsel Maheer tidak bisa dihubungi. Ia menghubungi kembali Maheer dan akhirnya mendapatkan jawaban.
Panggilan telfon
Aurel : Hallo
Maheer : Hallo sayang, ada apa
Aurel : Eh enggak, aku cuma mau ngasih tau kamu kalo aku udah ada di LN
Maheer : Lohhh kok ga ngasih tau aku dari tadi sih yang, kan aku udah bilang aku pengen nganterin kamu ke bandara
Aurel : Aku udah nelfon kamu daritadi cuma nomor kamu ga aktif
Maheer : Ohhh yaampun maaf sayang tadi aku lagi sama papa
Aurel : Iya gapapa kok
Maheer : Yaudah kalo gitu udah dulu ya aku mau jalan pulang dulu dari kantor papa. Nanti aku bakal jemput kamu kalo kamu udah mau balik ke Indo lagi ya. See you sayang. Love you more.
Maheer memutuskan sambungan telfonnya. Setelah memberi kabar pada kekasihnya Aurel memutuskan untuk membersihkan dirinya dan akan makan malam diluar bersama sang kakak sesuai janji mereka tadi siang.
Berapa saat setelah mandi Aurel langsung memasuki kamar Aydan, dilihatnya Aydan sedang tertidur sangat lelap hingga mengeluarkan dengkuran yang cukup keras, dan hal itu membuat Aurel menahan tawanya karena dia baru melihat kakaknya tertidur sangat lelap. Aurel menghampiri kakaknya dan berjongkok mensejajarkan wajah mereka. Dia mengelus rambut kakaknya sambil tersenyum.
" Kau ini kakak sekaligus sahabat untukku, kau pria yang aku cintai setelah daddy. Tetaplah menjadi kakakku yang tampan seperti ini kak Ay. Aku mencintaimu " gumam Aurel.
Aurel langsung membangunkan Aydan karena waktu makan malam sudah hampir terlewat.
" Kak Ayyyyyyy !!!! " teriak Aurel di dekat telinga Aydan dan membuat empunya langsung membuka matanya. Pemandangan pertama yang dilihat adalah wajah adiknya dengan tawa tanpa dosa itu.
" Apa-apaan sih kamu dek!!!. Jantungan aku ishhhh " kesal Aydan
" Liat noh udah jam berapa kak .. Katanya mau ngajak adek makan diluar "
Aydan menoleh ke arah arloji dan melihat sudah waktunya makan malam. Dengan malas dia berjalan ke kamar mandi sambil menggerutu karena ulah adiknya itu.
Setelah selesai dengan ritual mandinya mereka akhirnya pergi ke salah satu restoran milik keluarganya yang ada di negara itu. Tidak terlalu besar, namun omsetnya selalu saja meningkat setiap bulannya bahkan dalam 2 bulan sekali Raka harus mencari pegawai baru untuk restoran itu yang tentunya orang yang sudah dilakukan pemeriksaan sebelumnya.
" Selamat malam Tuan dan Nona muda " sapa Hendrik sebagai tangan kanan Raka yang membantu menjaga restoran itu.
" Malam Om Hen " ucap keduanya dengan ramah karena mereka sudah sangat mengenal Hendrik.
" Tempat VIP untuk Tuan dan Nona muda sudah disiapkan di lantai atas dan makanan juga sudah ditata di meja sana Tuan Nona " ucap Hen
" Om jangan seperti itu, panggil saja kami dengan nama. Lagian kami sudah sangat mengenal om " ucap Aurel
" Saya tidak berani Nona, karena kalian memang atasan saya " jawab Hen
" Bukankah derajat manusia di hadapan Tuhan itu sama? " ucap Aydan
" Karena ini di dunia Tuan, saya belum bertemu dengan Tuhan " jawab Hen dengan tawanya. Aydan dan Aurel hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
" Apa om sudah siap menghadap Tuhan? " canda Aurel.
" Jika sudah waktunya siap tidak siap saya harus siap Nona. Tapi jika boleh memilih jangan sekarang karena saya belum menikah dan merasakan nikmat dunia yang sesungguhnya " Hen menjawabnya dengan candaan juga yang membuat 2 anak dihadapannya itu tertawa terbahak-bahak.
" Sudahlah aku sudah sangat lapar. Om kita ke atas dulu ya " ucap Aurel
" Silahkan Tuan Nona " jawab Hen
Dan benar saja mereka makan di tempat duduk yang berpapasan dengan jendela sehingga mereka bisa melihat ke arah jalanan yang banyak kendaraan yang sedang berlalulalang. Mereka memulai menyantap makanan yang tersedia disana dan tentu saja tanpa suara seperti biasanya. Setelah beberapa menit mereka menyelasaikan makan nya.
Aurel menatap ke arah luar gedung melalui jendela, terlihat sorot matanya sangat menyiratkan kesedihan yang membuat Aydan bingung.
" Hah? Apa kak? " jawab Aurel sambil menoleh ke arah Aydan yang ada dihadapannya.
" Kamu kenapa sedih gitu? kamu gasuka makan diluar bareng kakak? " ucap Aydan mengira-ngira.
" Tidak kak, aku hanya melihat dia " Aurel menunjuk ke arah seorang wanita yang mungkin seumuran dengannya sedang bekerja membersihkan taman yang ada di depan restoran itu.
Aydan mengikuti arah jari Aurel dan mengerutkan keningnya
" Ada apa dengannya? " ucapnya.
" Kita terlahir dari keluarga yang terpandang, dari kecil kebutuhan kita selalu dipenuhi oleh daddy, saat beranjak dewasa aku berpikir bahwa terlahir di keluarga yang kaya tidaklah selalu senang, suatu hari nanti kita memiliki tanggung jawab besar untuk memegang kendali perusahaan keluarga kita yang banyak. Tapi saat melihatnya aku sangat bersyukur terlahir dari keluarga ini, aku tidak pernah merasakan teriknya matahari dan dinginnya air hujan yang menyentuh kulit ini hanya untuk mencari uang untuk kehidupan sehari-hari " ucap Aurel yang masih memandang wanita itu.
" Maka dari itu Tuhan mengenalkan kita dengan rasa syukur. Semua yang telah di berikan olehNya adalah yang terbaik untuk kita. Roda kehidupan itu berputar, ada masanya orang yang saat ini sedang banyak kekurangan suatu hari nanti akan merasa sangat bahagia karena telah memiliki apa yang ia inginkan. Begitupun sebaliknya, orang yang saat ini diatas tidak akan selalu ada di atas ada masanya orang itu akan mengalami masa sulitnya " ucap Aydan yang juga melihat wanita itu.
Aurel menoleh ke arah Aydan dan tersenyum seolah mengejek
" Sejak kapan kakak jadi bijak kayak gitu hahahah "
" Ishhhh kau ini, aku kakakmu jadi aku bertugas untuk selalu mengingatkanmu lia!!! " ucap Aydan dengan nada kesal nya.
Setelah cukup lama mereka di restoran itu akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, namun tidak langsung pulang ke apartemen. Aydan melajukan mobilnya kearah taman bermain yang masih ramai dikunjungi para pengunjung. Aurel berjalan dengan menggandeng tangan Aydan layaknya seorang pasangan.
Banyak pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan iri bagaimana tidak, seorang wanita yang sangat cantik mendapatkan pria yang sangat tampan juga, dan mereka sangat mirip.
Mungkin mereka jodoh pikir seseorang yang melihatnya.
Saat sedang berjalan Aurel di kagetkan dengan sentuhan tangan mungil yang dengan sengaja memegang tangan Aurel. Aurel menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah anak itu, dia melihat seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 5 tahun itu sedang menangis tersedu-sedu dengan wajah yang terlihat sangat ketakutan. Aurel berjongkok mensejajarkan badan mereka dan memegang erat tangan anak itu.
" Ada apa? Mengapa kau menangis? Dimana orangtuamu? " tanya Aurel.
" Auntyy tolong aku hikss... " jawab anak itu yang langsung memeluk erat tubuh Aurel dan tak lama anak itu pinsan di dalam dekapan Aurel. Aurel begitu panik melihatnya dan langsung menyuruh Aydan untuk membawa anak itu ke dalam mobil mereka. Dengan langkah yang sedikit berlari Aydan dan Aurel memasuki mobil dan langsung pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya.
Anak itu di tidurkan di pelukan Aurel karena badannya yang sedikit mungil membuat Aurel dengan mudah memposisikan.
" Kak apa yang harus kita lakukan " tanya Aurel dengan wajah panik dan rasa iba nya.
" Untuk sekarang kita harus membawanya ke rumah sakit dulu, nanti jika dia sadar kita harus mengamankannya dulu karena dia terlihat sangat tidak baik-baik saja " ucap Aydan. Aurel pun setuju dengan saran kakaknya itu.
Hanya beberapa menit saja mereka sudah sampai di rumah sakit yang merupakan rumah sakit rekan orangtuanya jadi anak laki-laki yang dibawanya bisa langsung di tangani. Aydan dan Aurel menunggu di depan kamar tempat pemeriksaan, dari tadi Aurel mondar mandir di depan pintu dan membuat Aydan sedikit pusing melihatnya.
" Duduk lah dek,, kau membuatku pusing. kenapa kamu sangat khawatir padanya? " ucap Aydan.
" Entahlah kak, aku merasa sangat kasihan padanya " jawab Aurel.
Tak lama dokterpun keluar dari ruangan itu, Aydan dan Aurel langsung menghampirinya.
" Bagaimana dok apa yang terjadi padanya? " tanya Aurel
" Saya hanya memberitahukan bahwa anak itu sangat lemah kondisinya. Dia sangat kekurangan cairan dan jika dilihat dari hasil pemeriksaannya dia tidak memasukkan makanan sedikitpun sejak 3hari yang lalu " penjelasan dokter.
Aurel kaget mendengar itu semua dia ingin menitikan air matanya dan dia memutuskan untuk memeluk kakaknya karena dia tidak mau orang lain melihat air matanya yang menurutnya sangat berharga itu. Aydan mengerti itu dan membalas pelukkan sang adik.
" Baiklah dok terimakasih atas penanganannya, kami akan menemuinya di dalam " ucap Aydan yang secara halus mengusir dokter itu dari hadapannya karena kondisi adiknya.
" Baiklah saya permisi.. Untuk resep nanti akan diantarkan oleh suster beberapa menit lagi " ucap dokter yang langsung diangguki Aydan.
Setelah dokter meninggalkan mereka berdua, Aydan melepaskan pelukannya.
" Tenanglah dek.. Sekarang kita temui anak itu " ucap Aydan.
Mereka langsung masuk ke dalam kamar anak itu dan menghampirinya. Aurel memegang erat tangan mungilnya, ia melihat wajahnya yang sangat pucat dan mata yang sembab itu. Bahkan bibirnya yang hampir berwarna biru.
" Apa yang terjadi padamu dek? " lirih Aurel.
Aurel mengamati setiap inci tubuh anak itu, sampai saat ia melihat ke arah kaki tangisnya pecah lagi. Dia terisak saat melihat kaki mungil anak itu pecah-pecah seakan dia sudah bekerja sangat keras dan bahkan hampir mengeluarkan darah.
Aurel memeluk kepala anak itu sambil terisak, sedangkan Aydan sedang memerintahkan bawahannya untuk mencari informasi tentang anak yang ia temukan.