
"Eh jeng Ara gimana kabarnya. Udah lama ya ga ngumpul-ngumpul lagi" Ucap salah satu teman arisan Zahra.
"Baik jeng, iya udah lama banget ya. Kapan-kapan maen lah jeng ke rumah" Ucap Zahra.
"Siap jeng asal ada prasmanannya hahahah"
"Oh apa ini anak bungsu keluarga bangsawan?" Ucap ibu-ibu yang lain.
"Ibu bisa aja. Kenalkan ini anak bungsu ku. Namanya Amellia" Ucap Zahra.
"Tapi kok keliatannya ga secantik kakaknya dulu ya, dia benar anak jeng Ara kan?"
"Jelas dong dia anakku. Dia memang tidak secantik Aurel tapi dia sangat manis dan pintar, buktinya diusianya yang mau menginjak 5 tahun ini dia sudah fasih dalam berbahasa Inggris dan korea" Ucap Zahra.
"Wahh hebat ya, pasti itu dipaksa belajar dari kecil ya. Jangan gitu jeng kasian anaknya"
"Saya ga pernah memaksanya loh jeng. Dia sendiri yang belajar lewat gadget nya, selagi dia nyaman ya saya fine-fine aja"
"Tapi tetangga saya bilang gitu eh taunya sebulan kemudian anaknya jadi kayak orang gila jeng, suka ngomong sendiri"
"Itu orang lain jeng Seni. Alhamdulillah nya anak-anak saya dikasih kapasitas otak yang lumayan besar. Mungkin keturunan kali ya" Ucap Zahra yang menyauti ucapan Seni yang selalu memojokkannya.
"Tapi kok anaknya diem aja ya jeng? Mungkin itu salah satu ciri awal terjadinya pe_" Ucapannya terpotong saat Amel melirik tajam wajahnya.
"Aku tidak bisu!! Aku bisa berbicara. Hanya saja aku diajarkan untuk menyaring kata-kata sebelum keluar dari mulutku. Percuma jika aku berkata panjang lebar hanya untuk mengoceh tidak jelas apalagi sampai menjatuhkan martabat orang lain!" Ketus Amel.
Damagenya bukan maennnn:v
"Loh kamu masih kecil kok ngomongnya udah kayak orang dewasa banget. Ga sopan itu namanya" Ucap Seni yang masih terus saja ingin menjatuhkan nama baik keluarga Arsenio.
"Usiaku memang masih sangat kecil tante. Tapi pemikiranku sudah sangat dewasa dan luas. Aku tau kapan aku harus menanggapi ucapan seseorang" Ucap Amel yang membuat Zahra tersenyum manis.
"Mom sebaiknya kita cepat pergi dari acara ini. Aku sudah gerah" Sambungnya seraya menatap Zahra.
"Ayo sayang, jeng kami pamit untuk menemui yang punya acara ya" Ucap Zahra yang dianggukki oleh ibu-ibu arisannya.
"Kalian liat kan? Betapa tidak sopannya anak dari jeng Ara itu" Ucap Seni yang memanas-manasi ibu-ibu lainnya.
"Bukan tidak sopan namanya jeng, itu sangat dewasa. Malah saya sangat kagum dengan cara berpikir dan bertindaknya. Benar-benar darah bangsawan Tuan Raka mengalir deras dalam tubuh anak-anaknya" Ucap salah satu ibu-ibu.
"Cerdas sama tidak sopan itu beda jeng, jelas-jelas tadi dia ber_" lagi-lagi ucapannya terpotong.
"Ehemmm" dehem Raka yang tiba-tiba ada di belakang mereka.
"Apa kalian melihat istri dan anakku?" Ucao Raka.
"Ahh ii..itu ada disana"
"Oh terimakasih" Raka langsung melangkahkan kakinya menuju anak dan istri tercintanya.
"Aduh jeng kalo mau ngomongin keluarga itu jangan bawa-bawa saya ya. Saya gamau ambil resikonya"
"Iya bener tuh, saya masih ingin hidup mewah"
"Iya jeng saya juga"
Ucapan-ucapan dari teman arisannya membuat Seni menggeram karena kesal. Dia memilih untuk melangkahkan kaki dan menghampiri suaminya.
***
"Bay kenapa kamu cinta sama aku?" Tanya Aurel seusai melakukan adegan panasnya.
"Karena kamu cantik mungkin" Ucap Bagas.
"Kalo aku udah ga cantik, berarti kamu gabakal cinta sama aku lagi?" Ucap Aurel.
"Bagiku dalam keadaan dan kondisi apapun, kamu tetep cantik sayang. Seburuk apapun kamu di mata orang lain, kamu tetap menjadi yang terindah di hidupku" Ucap Bagas.
"Emmm sosweet nya suamiku ini" Ucap Aurel sambil menarik pelan hidung mancung Bagas.
"Terus kalo kamu kenapa bisa cinta sama Mas?" Tanya Bagas.
"Mas?" Ucap Aurel.
"Hehe kayaknya aku lebih senang di panggil Mas daripada Bay" Ucap Bagas.
"Oke kalau gitu mulai sekarang aku akan panggil kamu Mas. Mas Tian ku tersayang" Ucap Aurel.
"Terimakasih sayangku. Kamu belum jawab pertanyaan Mas loh" Ucap Bagas.
"Ah iya. Kenapa aku bisa cinta sama Mas? Kenapa ya? Gatau aku juga. Mungkin tidak beralasan" Ucap Aurel.
"Kamu benar, cinta itu memang tidak butuh alasan" Ucap Bagas seraya memeluk tubuh Aurel dengan erat.
"Mas..." Lirih Aurel.
"Kenapa sayang?" Ucap Bagas.
"Aku mau mangga yang masih mentah" Ucap Aurel.
"Ceritanya sayang lagi ngidam hemm?? Anak Ayah mau mangga yah??" Bagas mensejajarkan wajahnya dengan perut Aurel dan mengelusnya.
"Iya Ayah tampan, aku ingin mangga" Ucap Aurel menirukan suara anak kecil yang membuat Bagas terkekeh.
"Kamu tunggu sebentar ya sayang, biar Bi Ira yang beli di pasar" Ucap Bagas.
"Tapi aku ingin Mas yang ngambilnya" Ucap Aurel.
"Aku?" Bagas menunjuk dirinya sendiri.
"Ya iya siapa lagi" Ucap Aurel.
"Suruh Mang Tanu aja ya sayang" Ucap Bagas
"Mas ih!! Aku maunya kamu yang ngambil mangga langsung di pohonnya, jangan nyuruh Mang Tanu!!Suaminya aku kan kamu Mas! Kamu harus berjuang napa Mas, jangan mau enaknya pas bikin doang. Emang kamu pikir ini anak siapa? Ini tuh anak kamu! Darah daging kamu. Kamu mau nanti anaknya i_"
Cup!!
Bagas mengecup bibir Aurel.
"Iyaiya sayangku cintaku bidadariku. Aku yang ngambil" Ucap Bagas.
"Nah gitu dong cepet, segala ada acara debat dulu!!" Ucap Aurel.
Setelah membersihkan tubuhnya dan bersiap. Aurel dan Bagas langsung menuju rumah pak RT yang mempunyai pohon mangga. Kebetulan ini adalah musim mangga, jadi Bagas tidak perlu repot-repot mencari kesana kemari.
"Itu yang di depan kamu Mas!!!" Teriak Aurel dari bawah saat Bagas sudah menaiki pohon mangga.
"Jauh sayang!!" Teriak Bagas.
"Mass ihhh!!!!"
"Iya ini mau diambil"
Sudah beberapa buah yang dijatuhkan Bagas dari atas. Setelah dikira sudah cukup, Bagas langsung turun dari pohon mangga dan memasukkan mangga kedalam kantong kresek. Setelah itu dia memberi beberapa lembar uang berwarna merah untuk pak RT, walaupun sempat ditolak namun Bagas memberi pengertian pada pak RT untuk menerimanya hingga dengan terpaksa uang itu jatuh di tangan pak RT.
"Non Lia, sini biar bibi yang bukain mangga nya" Ucap Bi Ira saat Aurel sudah memasuki rumahnya.
"Iya bi makasih Bi" Ucap Aurel.
"Hahhh capek banget, padahal cuma beberapa langkah doang" Ucap Aurel seraya mendudukkan dirinya di sofa.
"Capek yang?" Ucap Bagas.
"Itu normal untuk wanita hamil sayang" Ucap Zahra yang tiba-tiba ada di belakang Aurel dan Bagas.
"Mommy? Kaget aku" Ucap Aurel.
"Mom" Ucap Bagas.
"Gimana cucu Mom sehat kan?" Zahra mendekati Aurel dan mengelus perutnya.
"Alhamdulillah sehat Mom.. Mom sama siapa kesini?" Ucap Aurel.
"Sama Amel dan Daddy.. Mereka lagi beli rujak diluar, Mom pikir kamu pasti mau rujak" Ucap Zahra.
"Yahh Mom, aku baru aja mau makan mangga. Mas Tian udah manjat tadi" Ucap Aurel.
"Wahh benarkah???" Ucap Zahra.
"Demi anakku Mom" Ucap Bagas.
"Bagus itu.. Berarti kamu udah jadi ayah yang baik buat anak kamu" Ucap Zahra.
"Non ini mangga nya" Bi Ira datang dengan membawakan mangga yang sudah di bersihkan dan dipotong kecil-kecil.
Aurel dengan senang hatinya mengambil piring dari tangan Bi Ira. Tanpa aba-aba dia langsung memakannya di hadapan Bagas dan Zahra. Bagas dan Zahra berulang kali menelan air liurnya karena merasakan asam saat melihat Aurel dengan lahapnya memakan mangga.
"Mas mau?" Ucap Aurel.
"Hah?? Engga sayang, buat kamu aja. Mas ga suka" Ucap Bagas dengan menggelengkan kepalanya.
"Beneran? Ini enak banget loh mas" Ucap Aurel.
"Engga sayang kamu abisin aja ya" Ucap Bagas.
"Coba deh Mas... aaaaa..." Aurel menyodorkan satu potongan kecil mangga ke mulut Bagas.
"Engga sayang, Mas ga suka, beneran" Bagas memundurkan kepalanya.
"Masss ihh coba!!!" Ucap Aurel.
"Sayang pleaseee..." Ucap Bagas.
"Mas!! Hiks,,,hiks,," Aurel menangis yang membuat Bagas menatap Zahra dengan tatapan memohonnya, namun yang ditatap malah tertawa dengan santainya.
"Perjuangan kak.. Daripada nanti anak kamu bermasalah, mending makan aja deh" Ucap Zahra.
"Tapi Momm" Keluh Bagas.
"Terus kamu mau anak kamu bermasalah?" Ucap Zahra.
Tanpa berpikir panjang, Bagas langsung meraih tangan Aurel yang memegang potongan mangga dan memasukkan ke dalam mulutnya yang membuat Aurel tersenyum senang.
"Enak kan Mas??" Tanya Aurel. Bagas hanya mengangguk dengan mata yang terpajam sebelah menahan rasa asam yang begitu menggelegar di dalam mulutnya.
"Mau lagi?" Ucap Aurel setelah Bagas menghabiskan mangga nya.
"Engga sayang, nanti bisa-bisa Mas sakit perut" Ucap Bagas.
"Assalamualaikum semuanyaa!!!!" Teriak Amel yang sudah di dalam rumah Aurel.
"Waalaikumsallam" Ucap Aurel dan Zahra.
"Waalaikumsallam unyilll!!!" Ucap Bagas yang membuat Amel mendengus. Vyan dan Bagas memang terbiasa memanggil Amel dengan sebutan Unyil karena Amel memang anak yang paling kecil usianya di keluarga Arsenio.
"Unyil-unyil aja!!" Ketus Amel sambil menyalimi Aurel dan Bagas.
"Abang mana kak?" Tanya Amel.
"Kayaknya di kamar Mel" Ucap Aurel.
"Nih kak dari Daddy. Aku samperin Abang dulu ya" Amel memberikan plastik hitam yang berisi rujak pada Aurel, lalu dia melenggang ke kamar Vyan.
"Mom ada apa ke rumah?" Tanya Aurel.
"Mampir aja tadi abis dari acara pembukaan perusahaan temen Daddy.. Oiya kak, Vyan minggu depan libur semester kan?" Ucap Zahra.
"Iya, kenapa Mom?" Ucap Aurel.
"Opa kemarin nelfon, katanya Vyan suruh berlibur di rumah Opa" Ucap Zahra.
"Tumben sih?"
"Gatau Opa kamu. Coba tanya langsung aja sama kamu kak"
***
"HAAAAAAAA...!!!!!!" Teriak Amel saat sampai di dalam kamar Vyan.
"Astaghfirullah Amell!!!" Ucap Vyan.
"Hahahah kaget bang??" Ucap Amel.
"Bisa-bisa jantungan Abang!" Dengus Vyan.
"Jangan dong Bang, masa cakep gini jantungan sih" Goda Amel seraya mencolek hidung mancung Vyan yang sedang tertidur di ranjang.
"Ya mangakannya jangan ngagetin napa. Demen banget kamu bikin Abang terkejut begini"
"Hehehe ya maap Bang. Bang kita latihan tembak yuk" Ucap Amel.
"Gak ah, Abang baru selesai beberapa menit yang lalu" Ucap Vyan.
"Abanggg" Rengek Amel.
"Sendiri aja dek, Abang ngantuk" Vyan membelakangi Amel dan memejamkan matanya.
"Abangg ihhh..."
"Nanti aja Dek, sorean"
"Yauda kalo emang Abang gamau nemenin aku, aku bisa sendiri. Tapi nanti kalo aku kenapa-kenapa kan yang disalahinnya Abang karena gamau nemenin aku!!" Amel langsung melenggang setelah melepar ancaman untuk Vyan.
Vyan membalikkan badannya dan melihat Amel yang sudah keluar dari kamarnya. Dengan rasa kantuk yang menguasai tubuhnya ia terpaksa bangkit dan menemani Amel karena takut akan terjadi apa-apa pada Amel.
"Dekkk" Panggil Vyan saat memasuki ruang latihannya.
"Wahhh ternyata ancaman ku berhasil membuat Abang tampan ini nurut ya" Ucap Amel dengan kekehannya.
"Hemmm" Vyan hanya berdehem menanggapi ucapan Amel. Dia memilih untuk duduk di sofa dan melihat Amel yang begitu lihainya memainkan tembakan berukuran mini.
"Kakk" Ucap Aurel yang tiba-tiba ada di pintu ruang latihan.
"Iya Bun?" Ucap Vyan.
"Ikut kumpul dulu yuk. Ada yang mau dibicarain smaa Grandma dna Grandpa" Ucap Aurel.
"Tapi Amelnya Bun?" Vyan menunjuk Amel yang masih berkutat dengan senjata tajam di tangannya.
"Melll... Suruh kumpul sama Mommy" Ucap Aurel yang berhasil membuat Amel menghentikan aktifitasnya.
_______________________________
I'm comingš³