Twins'

Twins'
8.



Sedangkan di pinggiran kota ada sepasang suami istri yang sedang mencari buah Rambutan. Ya mereka adalah Raka dan Zahra. Raka sedang mengidam ingin memakan buah rambutan padahal ini bukan musim rambutan dan bahkan yang lebih membuat Zahra pusing yaitu Raka ingin memakan rambutan ditemani dengan tukang jualnya.


" Masss aku capek ishhhhh!!!! " geram Zahra yang daritadi di ajak jalan kaki oleh suaminya itu.


" Sayanng, rambutannya kan belum ada " ucap Raka dengan suara yang pelan.


" Terserah mas lah!! Kalo mas mau cari yaudah cari sendiri aja aku capek ini udah mau maghrib. Aku mau pulang kalo kamu ga mau nganterin aku yaudah aku pesen taxi online!! " ketus Zahra.


Raka menghembuskan nafasnya dan langsung berjalan ke arah mobilnya dengan menghentakan kaki seperti anak kecil yang tidak di belikan mainan oleh orangtuanya.


* Ya Tuhannnn lapanglanlah hatiku selapang stadion sepak bola 5000 hektar untuk menghadapi sikap bayi besar itu. Nak kamu jangan seperti daddy mu ya, dia sungguh menyebalkan. * batin Zahra sambil mengelus perutnya.


Tak lama terdengar suara klakson mobil Raka, Zahra langsung berjalan dan memasuki mobil itu. Selama di perjalanan mereka hanya diam tak mengeluarkan sedikitpun suara. Sampai akhirnya mobil mereka sampai di mansion mewah.


Aurel yang mendengar suara mobil langsung melihat ke luar dari jendela kamarnya yang ada di lantai 2. Dia mengerutkan keningnya saat melihat Raka yang turun dan meninggalkan Zahra begitu saja di belakangnya karena pasalnya Raka bukanlah laki-laki yang seperti itu sebelumnya.


Bahkan saat memasuki mansion Raka langsung pergi ke kamarnya dan membersihkan tubuh tanpa menjawab sapaan beberapa ART yang ada di dalam mansion itu.


Aurel mengirim pesan pada Aydan untuk menemui orangtua mereka di kamarnya karena memang mereka langsung memasuki kamar.


Saat sudah sampai di depan kamar orangtuanya, Aydan langsung mengetuk pintu tanpa berbicara.


" Siapaa?? " teriak Zahra dari dalam kamar namun Aydan dan Aurel tidak menjawabnya.


Beberapa menit akhirnya Zahra membuka pintunya dan sangat terkejut saat melihat kedua anaknya ada di hadapannya.


" Kakak Adek kalian kapan nyampe? kenapa ga ngasih tau mommy? kalian ada perlu disini? kok pengawal gaada yang ngasih info ke mommy? terus kalian kesini naik apa? " ucap Zahra.


Aydan dan Aurel hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu, mereka memeluk tubuh mommy nya itu.


" Mommy seseorang yang mewawancara itu harus 1 per satu menanyakan pertanyaannya " canda Aydan sambil melepaskan pelukannya.


" Ohh hehe maaf. Lagian kalian tiba-tiba nongol disini kayak si jae aja, terkejut aku terheran-heran " ucap Zahra yang membuat kedua anaknya tertawa.


" Oiya Mom, daddy kenapa? tadi adek liat wajahnya gaenak dipandang gitu " ucap Aurel.


" Ohh itu daddy mu jadi gendeng. Temenan sama wiro sableng kayaknya dia!! " ucap Zahra dengan geram. Zahra menceritakan semuanya pada kedua anaknya dan membuat mereka mebelalakkan matanya saat mendengar daddy nya itu selalu mengidam yang aneh-aneh.


Aydan dan Aurel memutuskan untuk menghampiri Raka. Dilihatnya Raka sedang berbaring di bawah selimut membelakangi posisi mereka saat ini. Dengan cepat Aurel melompat ke kasur dan langsung memeluknya, tentu saja hal itu membuat Raka sangat terkejut.


" Gausah ganggu mom. Daddy mau tidur " ketusnya yang masih belum tau siapa yang memeluknya itu.


Aurel terkekeh mendengar itu semua, tapi dia sama sekali tidak menjawab ucapan Raka malah makin mempererat pelukannya.


" Mommyyy plissss daddy capek, mau istirahat " sambungnya.


Merasa tak ada jawaban akhirnya Raka membalikkan tubuhnya dan melihat siapa yang memeluknya.


" Kaliannn " ucap Raka dengan mata berbinarnya " Jadi yang meluk bukan mommy? Kalian kapan nyampe sini? Terus ada apa kalian kesini? Kenapa ga ngasih tau daddy? " ucap Raka yang membuat semua yang ada disitu tertawa, karena barusan mereka melihat Raka yang sedang menggerutu kesal tapi sekarang mereka melihat Raka dengan wajah bahagianya.


" Daddy makan malam yuk, adek laper banget daritadi belum makan nungguin kalian dateng " ucap Aurel.


Raka langsung menggandeng tangan Aurel menuju meja makan, dia menatap istrinya dengan tatapan sinis itu membuat Aydan menahan tawanya karena Aydan merasa daddy nya itu kembali menjadi anak kecil seumuran Vyan, bahkan sikap Vyan lebih dewasa dari daddy nya.


" Cih, awas saja kalau dia membutuhkanku lagi! " gumam Zahra.


" Sabarlah mom, itu kan kemauan adek kecil " canda Aydan lalu mengikuti Aurel dan Raka.


Seperti biasanya mereka makan tanpa ada sedikitpun suara. Setelah selesai mereka memilih untuk bersantai di depan televisi yang berada di ruang keluarga mansion itu.


" Mom Dad " ucap Aurel.


" Ya sayang? " jawab Zahra dan Raka bersamaan.


" Adek mau bicara sesuatu sama kalian " ucap Aurel.


" Bicaralah " jawab Raka dengan tatapan masih menghadap tv.


Aurel menceritakan tentang Vyan, kronologis mereka bertemu sampai identitas asli Vyan yang bernama Rangga itu. Zahra dan Raka membelalakkan matanya saat mendengar itu. Karena Aurel mampu menyembunyikan Vyan dari mereka.


" Dia disini kan? " tanya Zahra yang sudah tidak sabar ingin bertemu Vyan.


Ternyata Vyan sudah tertidur di kamar Aurel karena mungkin dia lelah dengan perjalanannya tadi siang


" Dia ada di kamar adek mom, lagi tidur " jawab Aurel.


" Kalau begitu mom akan melihatnya " ucap Zahra yang langsung bangkit dari sofanya.


" Biar adek anter mom " ucap Aurel.


Zahra mengangguk menyetujui pernyataan Aurel, dia langsung menuju kamar anak perempuannya itu. Saat pintu kamar itu terbuka, Zahra terkejut melihat seorang anak laki-laki tampan yang sedang tertidur pulas. Dengan segera ia menghampiri anak itu dan langsung mengelus puncak kepalanya.


" Dia sangat tampan " ucap Zahra sambil tersenyum tulus.


Vyan terbangun saat merasakan sentuhan di kepalanya, ia menatap wanita tidak di kenal yang ada dihadapannya. Lalu pandangannya beralih pada Aurel yang ada di belakang wanita itu.


" Bunda? " ucapnya pada Aurel.


Aurel yang mengerti akan tatapan Vyan pun menghampirinya


" Dia mommy Zahra Vyan, orangtua bunda " ucap Aurel.


Vyan bangkit dari tidurnya dan mendudukkan dirinya, dia menatap lekat wajah Aurel " Vyan harus memanggilnya apa bun? " tanya Vyan dengan wajah polosnya.


" Kau harus memanggil dengan sebuttan grandma " jawab Zahra sambil tersenyum.


" Grandma? " Vyan menatap Zahra sekilas dan langsung menghadap Aurel lagi.


" Baiklah bunda " Vyan menghadap Zahra, dia menarik tangan kanan Zahra dan langsung menciumnya. Hal itu yang di ajarkan Aurel pada Vyan untuk menghormati seseorang yang lebih tua darinya.


" Haii grandma, aku Vyan anak bunda Aurel " ucap Vyan memperkenalkan dirinya.


" Haii sayang mulai sekarang aku adalah grandma mu " ucap Zahra.


" Ya grandma " jawabnya sambil tersenyum.


" Sangat manis " Zahra tersenyum sambil mengelus pipi Vyan.


" Kau juga harus memanggilku grandpa, anak kecil " ucap Raka yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar bersama Aydan.


Vyan menatap Aurel seolah meminta izin, Aurel mengangguk pada Vyan. Hal itu membuat Raka dan Zahra bangga karena pasalnya Aurel sudah mendidik Vyan dengan didikkan yang benar.


Melihat jawaban Aurel, Vyan pun turun dari kasurnya dan menghampiri Raka. Seperti biasanya, Vyan meraih tangan kanan Raka dan mencium punggung tangannya.


" Haii grandpa " ucap Vyan.


" Kau sangat tampan sayang " ucap Raka.


" Terimakasih grandpa " jawabnya.


Malam ini Raka sekeluarga bersenda gurau di dalam kamar Aurel, terlihat Vyan yang selalu mengelus perut Zahra yang sudah agak terlihat membuncit itu. Alasannya karena sejak dulu Vyan ingin sekali memiliki adik, namun takdir berkata lain ternyata dirinya harus di lahirkan sebagai anak bungsu karena mama nya mengidap penyakit rahim yang mengharuskan untuk mengangkat rahimnya.


Malam semakin larut, Raka Zahra dan Aydan pamit untuk tidur di kamar mereka. Setelah semua orang pergi, seperti biasanya Vyan hanya berdua dengan Aurel. Vyan merebahkan tubuhnya di samping Aurel seraya memeluknya.


" Bunda " ucap Vyan.


" Kenapa sayang? " jawab Aurel.


" Kenapa orang-orang dirumah ini baik semua bun? " ucap Vyan.


" Karena kita adalah keluarga " jawab Aurel dengan senyuman.


" Lalu kalau bukan keluarga, kalian ga akan seperti ini bun? " tanya Vyan.


" Tergantung sayang, keluarga ini memang menerapkan peraturan untuk saling menghormati tapi kita juga harus lihat seperti apa orang itu. Jika dia menghormati kita dan menghargai kita, kita harus memperlakukan yang sama sekalipun dia berasal dari kalangan bawah, begitupun sebaliknya. Understand honey? " ucap Aurel.


" Ya Bunda " jawab Vyan.


Tak lama mereka akhirnya terlelap di dalam tidur mereka masing-masing.


Pagi hari seperti biasanya, Raka sekeluarga sedang menyantap sarapannya di meja makan. Terlihat Vyan yang sudah tidak canggung lagi pada keluarga itu, Vyan sudah sangat menganggapnya sebagai keluarga sesungguhnya.


Setelah menyelesaikan sarapannya mereka memilih untuk bersantai di taman depan rumah sekalian berjemur. Saat sedang bersenda gurau terlihat sebuah mobil berwarna merah memasuki pekarangan rumah dan diikuti seorang pria yang keluar dari dalamnya.


" Assalamualaikum " ucap pria itu.


Aurel terkejut melihat siapa yang datang ke rumahnya pagi hari.


" Waalaikumsallam " jawab semua orang dengan serempak.


" Kak Tiannnnnnnn " teriak Aurel yang memanggil pria itu. Ya pria itu adalah Bagas yang memang seminggu sekali dia selalu datang ke rumah Raka.


Aurel berlari ke arah Bagas dan langsung memeluknya.


" Heyyy kau datang dek? " ucap Bagas sambil mengelus rambut panjang Aurel.


" Aku merindukanmu kak " jawab Aurel yang tidak sesuai dengan pertanyaan Bagas dan tentu membuat Bagas bahagia.


" Cih kamu bilang gaakan rindu sama kakak " ledek Bagas. Aurel langsung melepaskan pelukannya dan menatap Bagas dengan bibir yang mengerucutnya. " Apa kamu mau aku khilaf dek? " ucap Bagas sambil mencubit bibir Aurel lalu meninggalkan Aurel dan menghampiri yang lainnya.


Setelah bersalaman Bagas melihat Vyan yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya. Bagas sudah tau jika ada orang asing masuk ke keluarga ini bahkan sampai bergabung saat bersantai berarti orang itu sudah di percaya oleh keluarga Raka. Bagas berjongkok di hadapan Vyan dan langsung mengangkat dagu Vyan agar melihat wajah anak itu.


" Hallo sayang mengapa kau menundukkan kepalamu? " ucap Bagas sambil tersenyum.


" Ha..lo uncle " jawab Vyan dengan gugup ia takut jika Bagas tidak seperti yang lainnya yang menyukainya.


" Laki-laki itu tidak boleh seperti ini sikapnya sayang, kau harus menegakkan kepalamu saat berbicara dengan orang lain " ucap Bagas yang langsung membuat Vyan mengangkat wajahnya namun ia langsung menatap Aurel. Aurel tersenyum lalu menghampirinya, dia duduk di samping Bagas.


" Itu benar sayang, bukankah kak Ay pernah bicara seperti itu padamu? " ucap Aurel yang langsung di angguki oleh Vyan


" Kenalkan dia uncle Bagas, bunda biasa memanggilnya kak Tian kau bisa memanggil semaumu sayang " sambungnya.


" Kamu dipanggil bunda dek? " tanya Bagas pada Aurel.


" Iya dong " jawab Aurel dengan bangganya.


" Kalau seperti itu, kau harus memanggilku ayah " ucap Bagas pada Vyan.


Aurel membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Bagas yang ingin dipanggil sebagai Ayah " Tidak tidak, apa-apaan kamu kak, gaada ayah-ayahan " tolak Aurel dengan cepat.


" Biarin dong dek, lagian masa ada bunda gaada ayahnya sih kan gaenak " ucap Raka yang ikut menimpali.


" Ishhh dad bukan gitu, ya ayah nya masa kak Tian sihhh " jawab Aurel.


" Ga masalah lah dek " ucap Raka.


Aurel membuang nafasnya dengan kasar " Baiklah terserah, tapi kita tanya dulu Vyan nya mau manggil apa ke kakak " ucap Aurel.


" Kau mau kan memanggilku Ayah? " ucap Bagas pada Vyan.


Vyan tersenyum dan mengangguk " Tentu saja Ayah " ucapnya yang membuat Bagas sangat bahagia karena. Ia menginginkan suatu saat nanti akan memiliki keturunan yang pastinya dari Aurel.