
Hari ini adalah hari kedua Aurel ditinggalkan oleh Bagas ke luar kota, dan hari ini juga adalah jadwal periksa kandungan Aurel. Karena Bagas melarangnya pergi sendiri, akhirnya Aurel memutuskan untuk meminta antar pada Farhan karena dia sedang berada di Indonesia untuk mengatur penikahannya dengan Rere beberapa minggu lagi.
"Hayyy bagaimana kabar ponakan uncle yang satu ini" Ucap Farhan sambil mengelus perut Aurel yang terlihat sedikit membuncit.
"Baik uncle" Aurel meniru suara anak kecil.
Farhan mendongak menatap Aurel dan tersenyum sangat manis.
"Ga nyangka, ternyata ponakanku yang gemashh ini udah mau melahirkan ya" Farhan mendumel-dumel pipi Aurel.
"Iya dong,, Udah ayok kak, Kak Kanita nya udah nunggu" Ucap Aurel.
"Lets go" Farhan membukakan pintu untuk Aurel, kemudian dia masuk ke pintu sebelahnya yang tanpa di sadari sedari tadi Dea sudah melihat dan mendengar interaksi antara keduanya.
"Breaking news" Gumam Dea dengan smirk nya.
***
"DORRRRR!!!!" Teriak Amel saat melihat Vyan sedang fokus dengan laptopnya di taman halaman rumah Oma. Karena setelah Raka dan keluarganya berlibur selama 2 hari ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Oma dan Opa nya.
"Astaghfirullah Unyilllll!!!" Geram Vyan. Vyan menyimpan laptopnya di sebelahnya lalu menarik Amel. Dengan sigap dia menggelitiki perut Amel hingga membuat empunya tertawa hingga meringis.
"Ahhhhh Abangggg ampunnnn hahahahahaha!!!!" Teriak Amel.
"Gaada ampun-ampunan,, suruh siapa ngagetin Abang mulu hemmm" Ucap Vyan yang masih menggelitiki Amel.
"Abangggg!!!! Huaaaa!!!!! Geliiiiii" Teriak Amel dengan tangisan kencangnya hingga membuat Zahra, Raka, Oma dan Opa keluar dan menghampiri mereka. Mereka hanya tersenyum melihat kebersamaan antara anak dan cucu nya itu.
Melihat kedatangan Oma dan Opanya, Vyan segera menghentikan kejahilannya lalu memeluk Amel dengan erat.
"Hahahaha mangkannya jangan jahil Unyill" Bisik Vyan.
Amel melepaskan pelukkannya dan menatap Vyan dengan dalam. Lalu dia membalas kejahilan Vyan dengan cara yang sama hingga membuat Vyan tergeletak di tanah.
"Hahahahaa Unyillll!!!!" Teriak Vyan.
Bugg!!!!
Karena refleks, Vyan mendorong Amel hingga Amel tergelatak di tanah.
"Abanggg!!!!!!!!!" Jerit Amel.
Vyan bangun dari posisinya lalu menghampiri Amel, dia membantu Amel bangun dari tidurnya dan langsung mengangkat dan memutar badan Amel dengan tinggi. Benar saja, hal itu membuat Amel beehenti menangis dan kembali tersenyum.
"Terus Abanggg terus!!!!" Teriak Amel di dunianya sendiri.
Vyan semakin cepat memutar tubuh Amel, namun sepersekian menit dia menurunkan Amel.
"Abangggg lagiiii" Rengek Amel.
"Ga Unyil. Badan kamu besar, Abang capek" Ucap Vyan.
"Abang mah!!" Cebik Amel lalu kemudian dia berlari memasuki Rumah.
"Huhhhhhh ambekkan!!!" Teriak Vyan.
"Bodo amettt!!!! Gapeduli!!!" Teriak Amel.
"Ampunn Opaaa" Vyan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya dan juga menunjukkan jajaran gigi rapinya saat melihat Opanya menatap Vyan dengan tajam karena bagi Opa, Amel adalah cucu kesayangannya.
***
"Sayang gimana baby??" Tanya Bagas saat ia melakukan video call dengan Aurel di mobil karena Aurel dan Farhan sedang menuju rumah sakit.
"Mas,, aku masih di mobil ini, belum juga nyampe" Sinis Aurel.
"Emmm Mas kira udah mau pulang sayang, kan udah siang. Kata kamu periksa kandungannya pagi-pagi" Ucap Bagas.
"Gajadi Mas, Kak Kanita ada urusan penting jadi diundur pemeriksaannya jam 11" Ucap Aurel.
"Kamu sama Farhan kan?" Tanya Bagas.
"Iya Mas,, nih" Aurel mengarahkan kameranya ke kursi kemudi yang diduduki Farhan.
"Heyyy brooo,, gue pinjem istri lo bentar ya" Canda Farhan tanpa menatap ponsel Aurel.
"Tenang,, pur di rumah Mang Tanu masih banyakk" Ucap Farhan.
"Oke kasih yang banyak biar pas gue pulang makin keliatan sexyyy" Ucap Bagas.
Aurel membalikkan lagi kameranya dan menatap Bagas dengan tajam. Melihat wajah istrinya dari layar ponselpun membuat Bagas bergidig ngeri. Tapi Bagas lebih memilih untuk menyembunyikan kecemasannya itu dengan tawa garingnya.
"Utututututu istri Abang ini cantik banget sih ya" Ucap Bagas.
"Gaada abang-abangan!!! Aku gamau punya suami kang cilok!!" Ketus Aurel.
"Haishhh sembarangan kamu!!!" Cebik Bagas.
"Sayang,, Mas mesti rapat lagi. Kamu jaga diri baik-baik ya, jaga babyy kita juga. Miss you more,, muachhh" Ucap Bagas.
"See you Ayah,, Miss you too" Ucap Aurel.
Tak lama setelah memutuskan panggilannya, Aurel dan Farhan tiba di rumah sakit milik keluarganya. Aurel langsung memasuki ruang pribadi milik keluarganya yang biasa ia pakai jika berada dirumah sakit itu. Ruang pribadi yang berukuran 3 kali lipat dari ruang perawatan lainnua di rumah sakit itu.
"Hallo calon Bundaaa" Ucap Dokter Kanita.
"Hallo calon ngantennnn" Aurel menghampiri Kanita dan langsung memeluknya. Hubungan mereka sangat baik karena Aurel sudah menganggap Kanita sebagai kakaknya, begitu juga dengan Kanita, ia menganggap Aurel sebagai adiknya karena memang dia terlahir sebagai putri tunggal.
"Hallo perawan tua yang bentar lagi bakal lepas jabatannya" Ucap Farhan yang baru saja tiba setelah tadi sempat izin pergi ke toilet.
"Huh,, mending gue mau nikah, daripada lo masih suka comot sana-sini" Cebik Kanita yang membuat Farhan dan Aurel saling bertatapan. Bukankah kau juga akan melepaskan masa lajangmu kak?, Begitulah kiranya sorot mata Aurel yang langsung mendapat gelengan kepala dari Farhan.
Kanita mengernyitkan dahinya.
"Kalian ini kenapa sih??" Tanyanya.
"Ahh engga,, Kak Kanit bisa dimulai sekarang?" Aurel mengalihkan pembicaraannya.
"Ayok.. Baring Rell" Titah Kanita.
Aurel berbaring di tempat tidur dan lamgsung di periksa oleh Kanita. Beberapa menit memeriksa dan menjelaskan kondisi kandungan Aurel. Setelah selesai Aurel dan Farhan memutuskan untuk langsung pulang kerumahnya karena di mansion Raka tidak berpenghuni. Raka, Zahra dan Amel sedang berlibur sedangkan Aydan dan Neli sedang berbulan madu.
"Ga mampir dulu kak" Ucap Aurel setelah turun dari mobil.
"Engga de,, mau ketemu temen. Kamu jaga diri ya, nanti sore kakak kesini lagi" Ucap Farhan.
"Okee,, hati-hati kak" Ucap Aurel. Farhan langsung melajukan mobilnya.
Saat melewati kamar Dea, sayup-sayup Aurel mendengar Dea sedang berbicara melalui ponselnya. Sebenarnya ia tidak peduli dengan urusan Dea, namun saat mendengar nama Bagas disebut Aurel langsung menghentikan langkahnya dan mengintip di balik pintu.
"Terlalu murahan banget tuh cewek. Bisa-bisanya Kak Bagas yang sempurna malah kecantol sama cewek murahan kayak dia. Ya emang sih dia cantik bahkan banget malah, tapi buat apa cantik kalo sikapnya ga jauh dari seorang j****g" Ucap Dea.
Brukk!!!!!
Aurel membanting pintu kamar Dea dengan keras hingga membuat Dea terkejut dan langsung menolehkan kepalanya.
Dea tersenyum sinis melihat keberadaan Aurel.
Saatnya buka topeng. Udah ketauan juga ama tuh orang, buat apa lagi gue sembunyi-sembunyiin, batin Dea.
"Apaansih lo gasopan banget masuk-masuk kamar orang!!" Ucap Dea.
Aurel ikut tersenyum sinis melihat sikap Dea yang ia sembunyikan jika ada Bagas di rumah ini.
"Ck. Galebih dari seorang penggoda di luaran sana!" Ketus Aurel. Aurel melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar Dea. Namun baru beberapa langkah, Dea menarik tangan Aurel dengan kuat.
"Gue bakal aduin sama kak Bagas kalo lo deket-deket sama cowok lain saat Kak Bagas gaada disini" Ancam Dea.
Oh, jadi dia liat gue sama kak Farhan tadi? Cih, batin Aurel.
Aurel memutar tangan dan tubuh Dea, hingga membuat Dea meringis kesakitan.
"Apapun ancaman yang lo ucapin ke gue, gue gatakut" Bisik Aurel dengan penuh penekanan, kemudian Aurel mendorong tubuh Dea hingga tersungkur di lantai.
"Shitttttttt!!!!" Umpat Dea seraya mengusap pergelangan tangannya yang memerah karena cekalan keras dari tangan Aurel.
"Bisa-bisanya bocil kayak dia mau jadi pelakor gitu. Sekolah aja belom bener udah mau kawin aja" Geram Aurel.