Twins'

Twins'
77



Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Aurel dan Raka tiba di sebuah rumah sakit besar. Aurel menoleh ke kanan, kiri, depan dan belakangnya.


"Tenang aja, Tian udah gak akan ada disini. Daddy sudah mengaturnya" Ucap Raka yang mengetahui kecemasan Aurel.


Aurel tersenyum dan mengangguk. Mereka keluar dari mobil dan berjalan berdampingan, Aurel melingkarkan tangannya ke tangan Raka seperti biasanya.


Setelah menaiki lift Raka membuka salah satu kamar VIP. Aurel melihat mommy nya yang sedang tertidur pulas dengan Amel yang berada di sampingnya.


Hatinya merasakan sakit saat melihat Zahra memakai alat bantu pernafasan. Wajahnya pucat tidak seperti biasanya. Sama seperti Amel, Aurel pun baru kali ini melihat Zahra dengan wajah yang sangat pucatnya itu.


Aurel berjalan ke arah Zahra dan duduk di kursi samping tempat tidur Zahra. Ia menggenggam tangan Zahra dan menciumnya. Zahra yang merasakan tangannya basah karena air mata Aurel pun terkejut dan langsung membuka matanya.


"Momm..." Lirih Aurel dengan deraian air mata.


"Lia.." Lirih Zahra.


"Kamu pulang nak?.." Sambungnya yang di anggukki oleh Aurel.


Zahra merentangkan tangan kanannya agar Aurel datang dan memeluk Zahra. Dengan senang hati mendekati Zahra dan memeluknya.


"Maafin Lia Mom hiks,," Ucap Aurel.


Amel yang merasakan badannya terhimpit pun membuka matanya.


"Huaaaaaaaa!!!!!" Amel menangis karena merasa pengap dan tidak menemukan oksigen sama sekali.


Aurel melerai pelukkannya dan menangkup wajah Amel.


"Eh eh adik kakak kenapa nangis hemm??" Tanya Aurel.


Amel terkejut saat melihat Aurel di hadapanya.


"Kak Lia hikss,,," Amel menangis dan langsung bangun dan memeluk Aurel.


"Kenapa nangis Dek??" Tanya Aurel seraya menepuk punggung Amel.


"Aku kangen sama kak Lia abang juga kangen sama kakak" Ucap Amel dengan tangisan yang mulai mereda.


"Kenapa kakak ninggalin Abang, aku sering loat Abang nangis sambil liatin foto kakak hiks,," Sambung Amel.


"Maafin kakak Dek" Aurel memeluk Amel dengan sangat erat.


"Abang.." Ucap Amel yang membuat Aurel mengerutkan dahinya.


"Bunda..." Lirih seseorang di belakang Aurel, siapa lagi jika bukan Vyan.


Aurel melerai pelukkannya dan berbalik kearah Vyan. Mereka saling menatap cukup lama. Perlahan Vyan mendekati Aurel dan langsung mencium tangannya.


"Bunda.." Lirih Vyan dengan air mata yang sudah benar-benar menggenang.


Baru 5 bulan di tinggalkan oleh Aurel, Vyan tumbuh tinggi dengan cepat. Saat ini bahkan tingginya sudah mencapai dada Aurel. Vyan memeluk Aurel dengan erat, menumpahkan semua kerinduannya di pelukkan itu.


"Maafkan Bunda sayang.." Ucap Aurel.


"Aku yang harusnya minta maaf Bunda" Ucap Vyan.


Vyan melepaskan pelukkannya dan menyentuh perut buncit Aurel.


"Apa adik Abang sehat Bunda??" Tanya Vyan dengan nada manjanya, selama ini hanya Aurel lah yang membuat Vyan menjadi anak yang manja, selain di hadapan Aurel Vyan tidak akan bersikap seperti itu.


"Sangat sehat Bang" Ucap Aurel.


"Syukurlah.." Ucap Vyan.


Tuttt tutt tutt


Semua di kejutkan oleh mesin di samping Zahra yang berbunyi dengan keras. Di lihatnya Zahra sudah memejamkan matanya.


"Daddy akan panggil dokter sekarang" Raka langsung berlari keluar untuk memanggil dokter.


Sedangkan Vyan menggendong Amel dan Aurel sibuk menekan tombol yang berada di samping kasur untuk menghubungi dokter.


"Mommy kumohon.." Aurel menciumi tangan Zahra.


Tak lama terlihat Dokter dan beberapa perawat berlarian ke kamar Zahra.


Vyan menggendong Amel yang terus saja menangis, dan Raka menuntun Aurel yang nampaknya sudah sangat lemah kondisinya.


"Mommy huaaaaa!!!!!" Teriak Amel.


"Ssstttt jangan nangis Dek.. Sini" Raka meraih Amel dan menggendongnya. Raka menciumi puncak kepala Amel dengan mata yang sudah berair dan menyembunyikan wajah Amel di dadanya.


Sayang kumohon jangan tinggalkan kami, Batin Raka.


"Mommyy!!! Mommyyy!! Mau mommyyy hikss,hiks,,," Amel masih terus menangis walau sudah di tenangkan oleh Raka.


Dari kejauhan terlihat seorang pria berlari ke arah mereka.


"Daddy ada apa dengan Mommy??" Tanya pria itu yang tak lain adalah Bagas. Bagas bisa tahu keadaan Zahra karena ia memang sengaja menempatkan 1 pengawal untuk melaporkan keadaan Zahra pada Bagas. Hanya Zahra! tidak lebih, maka dari itu dia tidak menerima kabar mengenai kepulangan Aurel.


"Bundaaa!!!" Ucap Vyan saat Aurel tidak sadarkan diri. Bagas tersentak saat mendengar ucapan Vyan, dan lebih tersentaknya lagi saat melihat wanita hamil di sisinya.


Tanpa menunggu lama Bagas membopong Aurel.


"Dokter tolong tangani istri saya!!" Tegas Bagas pada salah satu dokter yang tidak sengaja lewat di hadapannya.


"Baik, silahkan ikuti saya" Ucap Dokter.


Dokter langsung berlari dan diikuti oleh Bagas. Tak jauh dari kamar Zahra, dokter membukakan pintu kamar dan mempersilahkan Bagas untuk merebahkan Aurel di kasur kecil.


Dokter segera memeriksa keadaan Aurel dengan sangat cermat sedangkan Bagas tidak ada hentinya menatap wajah dan perut Aurel.


Tuhan, tolong lindungi 2 wanita yang aku cintai, Batin Bagas.


"Bagaimana dok?" Tanya Bagas saat melihat dokter yang membereskan alat pemeriksaannya.


"Kondisi pasien lemah, begitupula dengan kandungannya. Kandungannya tidak memiliki nutrisi yang cukup. Alangkah lebih baiknya pasien di rawat jalan untuk beberapa hari kedepan" Ucap sang Dokter seraya memasangkan jarum infus ke tangan Aurel.


"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya" Ucap Bagas.


"Saya akan melakukan yang terbaik untuk pasien Tuan" Ucap Dokter lalu dia memasangkan selang infus pada tangan Aurel, setelah itu ia meninggalkan Bagas dan Aurel di kamarnya.


Bagas mendekati Aurel, ia menyentuh tangan kanan Aurel yang tidak terpasang jarum infus. Diciumny tangan Aurel berulang kali sampai tangan Aurel basah karena air matanya.


Benarkah ini kamu?? apakah ini akhir dari penantianku?, Batin Bagas.


Bagas beralih pada perut buncit Aurel. Ia mengusapnya lembut dan menciuminya.


"Maafkan Ayah sayang, maafkan Ayah karena Ayah sudah melukaimu dan Bundamu" Lirih Bagas di atas perut Aurel.


Bagas mendongak dan menatap wajah Aurel. Wajah wanita yang selama ini ia rindukan. Bagas mendekati wajah Aurel dna mengecup bibir ranumnya.


"Selamat datang kembali sayang,, maafkan Mas yang sudah menyakitimu" Lirih Bagas di telinga Aurel.


1 jam 2 jam 3 jam..


Ketika Bagas sedang sibuk dengan laptopnya yang dibawakan Aji satu jam yang lalu, terlihat Aurel sudah membuka matanya. Ia terkejut saat melihat Bagas yang berada di sofa, dan lebih terkejutnya saat melihat dirinya terbaring dengan tangan yang di pasang selang infus.


Aurel masih terus memandangi Bagas tanpa bergerak dan mengeluarkan suara sedikitpun. Tubuh Bagas terlihat agak kurus. Sepertinya Bagas mengalami masalah lagi, terlihat dari wajahnya yang benar-benar kusur, halisnya yang hampir menyatu dan berulang kali ia melihat Bagas mengusap wajah dan rambutnya dengan kasar.


"Dua hari lagi adakan rapat dengan para pemegang saham. Katakan pada mereka untuk ikut serta karena ini menyangkut keadaan perusahaan!!" Tegas Bagas pada seseorang di seberang telfon.


Ternyata aku memang masih mencintaimu Mas, rasanya bahagia saat melihatmu ada di hadapanku saat ini, Batin Aurel.


Keberadaan Bagas disana membuat Aurel menangis terisak. Dan tidak sengaja Bagas mendengar isakkan dari Aurel. Bagas mendongakkan kepalanya dan melihat Aurel sudah membuka mata dan sedang menangis. Ia segera menghampiri Aurel dan menangkup wajahnya.


"Suttt sayang, sayang ada apa hemm?? apa yang sakit, biar Mas panggil dokter sekarang ya" Ucap Bagas dengan cepat.


Aurel menggeleng dan menarik tangan Bagas yang otomatis Bagas semakin mendekat ke arah Aurel. Aurel langsung memeluk perut Bagas dengan erat.


"Aku kangen kamu Mas hikss,,," Lirih Aurel yang membuat tenggorokkan Bagas rasanya seperti tercekat.


"Sayang, Mas juga kangen sama kamu. Tapi sekarang kamu lepasin Mas dulu ya, liat ini darahnya udah naik" Bagas khawatir pada darah yang sudah naik hampir setengah dari selang infus Aurel karena tangan yang terpasang infusannya tertekan di tubuh Bagas.


Aurel menyadarinya dan langsung melepaskan pelukkannya. Ia menatap wajah Bagas dengan bibir yang mengerucut.


"Ada apa sayang hemm?" Tanya Bagas seraya memposisikan dirinya di bangku samping Aurel.


"Kangen" Ucap Aurel dengan manja yang membuat Bagas tertawa namun matanya berkaca-kaca, rasanya sudah hampir setengah tahun ia tidak mendengar nada manja sang istri tercintanya ini.