
AUTHOR POV
Bagas menyambar kunci motor lalu segera menemui Aji setelah mendapat pesan jika Ani ingin bertemu langsung dengan Bagas. Karena tempat pertemuannya tidak teelalu jauh, Bagas bisa tiba 10 menit setelah ia pergi dari rumahnya. Setelah masuk kedalam Cafe dia mencari keberadaan Aji, ah nampaknya Aji sedang fokus memainkan ponselnya di tempat duduk paling pojok.
Bagas menghampiri Aji dan duduk di kursi yang bersebrangan dengan Aji.
"Ada apa? tumben pengen ketemu gue privat begini. Biasanya nunggu masuk kantor" Ucap Bagas.
"Ada yang mesti gue omongin sama lo, ini menyangkut kerjasama kita dengan perusahaan di Korea" Ucap Aji.
"Kenapa? ada masalah apa lagi?" Bagas memijit pelipisnya yang terasa nyeri.
"Mending lo pesen minum dulu" Ucap Aji.
"Ga. Gue udah ke resto Jepang tadi" Jawab Bagas.
"Hah baiklah. Perusahaan elektrik di Korea mau menjalin kerjasama dengan perusahaan kita. Dia menjamin keberuntungan yang akan kita dapat" Ucap Aji.
"Selagi perusahaan itu resmi dan bukan perusahaan ilegal kenapa kita harus menolaknya, bahkan ini peluang bagus untuk memperbaiki keadaan perusahaan kita" Ucap Bagas.
"Gue setuju soal kerjasamanya, tapi enggak dengan syaratnya" Ucap Aji.
"Pake syarat segala?" Tanya Bagas.
"Yaiyalah, mana mungkin dia menjamin keberhasilan kalo gak ada maunya" Ucap Aji.
"Apa syaratnya?" Tanya Bagas.
"Setelah kerjasama ini terjalin, dia bakal ngasih anak perempuannya ke lo" Ucapan Aji membuat Bagas mebelalak.
"Lo gila?!! ga! gue gak mau" Ucap Bagas dengan cepat.
"Gue cinta sama istri gue. Gak mungkin lah gue ngurus perempuan lagi" Sambung Bagas.
"Nah itu gue juga gak setuju, tapi dia ngancem bro" Ucap Aji.
"Ngancem gimana maksud lo?" Dahi Bagas sudah berkerut.
"Kalo kita gak mau jalin kerjasama dengan perusahaannya dia mengancam tidak akan membiarkan kita hidup tenang. Dia mohon-mohon sama gue biar anaknya bisa nikah sama Lo" Ucap Aji.
"Gila kali ya tu bapaknya. Dikira anaknya anak ayam apa" Dengus Bagas.
"Gue takut dia gak maen-maen sama ucapannya" Ucap Aji.
"Jadi lo lebih milih gue nikah sama dia gitu?!" Sengit Bagas.
"Ya enggak juga. Maksud gue gimana caranya biar dia kagak nekat" Ucap Aji.
"Lo selidiki perusahaanya, cari titik kelemahannya. Mungkin aja dia selama ini bermain curang. Kalo kita punya satu bukti kuat yang bisa bikin dia terperangkap di sel gue yakin dia gak akan maen-maen sama kita" Ucap Bagas.
"Tapi masalahnya perusahaanya bener-bener ketat penjagaannya. Gue udah coba nerobos sistem keamanannya tapi gak bisa" Ucap Aji.
"Biar gue yang urus, udah maghrib gue mesti pulang sekarang" Ucap Bagas.
"Gue duluan" Bagas bangkit dari kursinya dan bersiap meninggalkan Aji.
"Yo, hati-hati" Ucap Aji.
Sedangkan di rumah Aurel sudah membuka matanya ia terkejut saat dirinya yang ternyata sudah berada di dalam kamar. Kamarnya nampak asing. Ini bukan kamar yang dulu ia tempati. Perlahan Aurel turun dari kasurnya, ia manatap sekeliling. Matanya tertuju pada lukisan besar yang terpajang di dinding.
Nyatanya apa yang di katakan Bagas benar, saat ini rumahnya sudah sangat berubah. Setiap sudut di kamar ini banyak terpanjang foto. Baik foto Bagas, Aurel, Vyan dan ketiganya. Aurel mendekati lemari baju.
"Ah nyatanya Mas Tian tidak membuang baju-bajuku" Ucap Aurel saat melihat bajunya yang masih tersusun dengan rapi. Aromanya masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan.
Aurel beralih pada meja rias, make up nya masih utuh, tidak ada yang kurang satupun. Tak lama adzan maghrib di kumandangkan. Aurel sengaja mengganti bajunya dengan daster yang pernah di berikan oleh Neli dan Aydan juga tidak lupa menjepit tinggi rambutnya dan segera keluar kamar. Dia menatap sekeliling ternyata kamarnya sekarang ada di lantai 2. Yang paling mengejutkan adalah ruang tengah yang terdapat foto pernikahan nya yang sangat besar. Aurel tersenyum lalu menuruni anak tangga. Ia mencari keberadaan orang rumah, nampaknya sangat sepi sekali.
Saat keluar rumah ia melihat Bi Ira yang sedang menyapu halaman rumah. Aurel mendekati Bi Ira dan memegang pundaknya.
"Bi pamali maghrib-maghrib nyapu" Ucap Aurel.
Bi Ira terkejut saat mendengar suara Aurel, ia berbalik dan menatap Aurel dengan tatapan tidak percaya.
"Non Lia?" Lirih Bi Ira.
Aurel tersenyum lalu memeluk Bi Ira dengan erat.
"Aku kangen Bi" Ucap Aurel.
"Non Lia Yaallah.. Bibi juga kangen sama Non. Alhamdulillah Non udah pulang" Ucap Bi Ira.
Aurel melerai pelukannya.
"Mas Tian mana Bi?" Tanya Aurel.
Mendengar nama Bagas, Bi Ira langsung tersentak. Ia mengingat perempuan yang dibawa Bagas tadi.
"Eh.. itu katanya mau keluar sebentar Non" Jawab Bi Ira.
"Oh ya udah, Ayok Bi masuk udah maghrib gabaik" Aurel mendahului Bi Ira masuk kedalam rumah.
Aurel yang akan melangkahkan kakinya menuju kamar langsung di tarik oleh Bi Ira.
"Kenapa Bi?" Tanya Aurel.
"I..itu aaa..nu Non" Ucap Bi Ira dengan gugup.
"Kenapa Biii??" Tanya Aurel lagi.
"Itu lebih baik Non masuk kamar yang di atas saja" Ucap Bi Ira.
"Loh emang kenapa? aku mau sholat Bi, mukenanya kan ada di kamar" Ucap Aurel.
"Aduhh itu di kamar ada perempuan lain Non" Bi Ira menjawab sambil menundukkan kepalanya.
"Perempuan lain?" Aurel mengeritkan dahinya.
"Iya tadi sore Aden bawa perempuan ke rumah ini" Ucap Bi Ira.
"Gak ada perempuan lain Bi. Bibi suka ngarang deh" Ucap Bagas yang tiba-tiba muncul di belakang.
"Tapi yang tadi?" Tanya Bi Ira dengan gugup.
"Bukan perempuan lain, tapi ini istri tercinta" Bagas memeluk pundak Aurel sambil tersenyum manis.
"Tapi tadi pakaiannya bukan ini" Ucap Bi Ira.
Bagas langsung tersadar saat Bi Ira membicarakan pakaian. Ia melihat pakaia yang dikenakan oleh Aurel, memang berbeda.
"Sayang, kamu pake baju siapa??" Tanya Bagas.
"Ahhh iyaiya" Jawab Bagas.
"Yaallah syukurlah kalo tadi teh Non Lia. Bibi gak engeuh soalnya gak keliatan mukananya Non. Kalo gitu Bibi pamit sholat dulu Non Den permisi" Bi Ira langsung meninggalkan Bagas dan Aurel.
"Kirain aku Mas emang bawa perempuan lain kesini" Sinis Aurel.
"Gak mungkin sayang, aku gak akan jadi lelaki bodoh untuk kedua kalinya" Ucap Bagas.
"Syukurlah. Ayok sholat" Aurel menarik tangan Aurel dan menaiki tangga.
"Hati-hati sayang" Ucap Bagas.
Setelah masuk kamar Bagas dan Aurel langsung melaksanakan sholat berjamaah. Rasanya mereka sangat merindukan momen ini.
Setelah sholat Aurel memilih merebahkan tubuhnya di kasur sambil mendengarkan Bagas yang sedang mengaji. Aurel tersenyum sambil mengelus perutnya.
Tak lama Bagas menyelesaikan mengajinya. Ia menghampiri Aurel dengan masih menggunakan sarung.
"Jangan tidur, bentar lagi Isya" Ucap Bagas sambil mengelus kepala Aurel.
"Enggak tidur, cuma rebahan aja. Capek kan ini perutnya udah segede gaban" Ucap Aurel.
"Awwww.." Aurel tiba-tiba meringis sambil memegang perutnya.
"Sayang kenapa?" Tanya Bagas dengan khawatir.
Aurel menuntun tangan Bagas ke perutnya.
"Adeknya mau maen sama Ayah" Ucap Aurel sambil tersenyum.
Bagas merasakan pergerakan di dalam perut Aurel. Bagas mendekatkan wajahnya ke perut Aurel dan mengelus perutnya.
"Hayy boyy,, ini Ayah.. Kamu belum tidur? ini udah malam loh, tidur ya biar Ayah bacain sholawat buat kamu" Ucap Bagas.
Bagas melantunkan shalawat dengan khidmat. Matanya berkaca-kaca merasakan pergerakan dari calon bayinya.
"Awwww" Aurel kembali meringis saat tendangan dari dalam perutnya semakin keras.
"Sayang tidur ya, Bunda nya kesakitan loh" Ucap Bagas.
Memang benar tak lama tendangan semakin berkurang dan hilang begitu saja.
"Sayang mau makan lagi?" Tanya Bagas pada Aurel.
"Mau tapi nanti setelah shalat Isya, biar tenang makannya" Jawab Aurel.
"Okee,, mau makan apa hemm?" Ucap Bagas.
"Apa saja yang ada" Ucap Aurel.
"Abis sholat aku izin keluar ya" Ucap Bagas.
"Mau kemana?" Tanya Aurel.
"Beli susu sama pakaian kamu" Ucap Bagas.
"Aku ikut ya" Aurel menatap Bagas dengan mata yang berkedip-kedip lucu.
"Kamu di rumah aja ya, udaranya lagi dingin banget, gak baik buat bumil" Ucap Bagas.
"Hemmm??" Aurel cemberut dan menatap Bagas dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa?? kamu di rumah aja ya, dengerin kata aku" Ucap Bagas.
"Iya" Jawab Aurel dengan pasrah.
Setelah melaksanakan shalat Isya, Bagas meraih jaketnya dan memakai celana santai lalu berjalan ke luar rumah. Aurel dengan setia menunggu Bagas di depan rumah.
Sewaktu akan menaiki mobil, Bagas melihat Aurel yang menatapnya dengan tatapan sedih, seperti anak kecil yang akan di tinggalkan orangtuanya. Bagas tersenyum lalu kembali menghampiri Aurel.
"Ada yang ketinggalan Mas?" Tanya Aurel.
"Iya" Jawab Bagas.
"Apa? biar aku yang ambil" Ucap Aurel.
"Yang ketinggalannya disini. Ayok mau ikut?" Ucap Bagas.
"Seriusan??" Mata Aurel langsung berbinar.
"Hahaha iya ayok, tunggu disini biar aku ambil kerudung di kamar" Ucap Bagas yang langsung berlalu meninggalkan Aurel.
__________
Happy 90.000 Views💜
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lagi semangat-semangatnya nulis eh kehilangan komentatornya, sedih akutuh༎ຶ‿༎ຶ