Twins'

Twins'
27.



Pagi hari Aurel mengerjapkan matanya menyesuaikam cahaya yang masuk dari balik jendela. Hari ini adalah hari terakhir dia kuliah karena 3 hari lagi dia akan mengakhiri kuliahnya.


Dia bangkit dari tempat tidur dan segera membersihkan tubuhnya, setelah selesai dengan ritual mandinya dia langsung menuju dapur untuk mengambil air.


Saat sudah sampai dapur dia melihat Aydan yang sedang duduk di meja makan dengan memainkan ponselnya.


" Lia " ucap Aydan.


Aurel sama sekali tidak menggubris ucapan Aydan, dia lebih memilih untuk membuka kulkas dan meraih botol minum lalu kembali ke kamarnya. Saat akan masuk kamar dia melihat Bagas yang sudah rapi dengan menggunakan pakaian casualnya.


" Selamat pagi Lia " ucap Bagas yang langsung mengacak rambut Aurel.


Aurel tersenyum " Pagi juga kak, mau kemana kak udah rapi banget jam segini " ucap Aurel.


" Ouh itu, mau ketemu Ayah " jawab Bagas.


" Seriusan? " ucap Aurel dengan antusias.


" Serius, kenapa? " tanya Bagas sambil mengerutkan keningnya.


" Kak " Aurel menghampiri Bagas dan langsung menggandeng tangan kanan Bagas.


" Ikut " ucap Aurel dengan mengedipkan matanya.


" Cih. Bukannya kamu mau kuliah? " tanya Bagas.


" Kuliah, tapi cuma nganterin berkas buat wisuda. Sebentar doang ga sampe 20 menit kok. Aku ikut ya ya ya " ucap Aurel.


" Aku juga udah rindu sama uncle " sambungnya.


" Baiklah, cepat bersiap. Kita sarapan diluar " ucap Bagas.


" Okeyyy " Aurel langsung berlari ke kamarnya dan Bagas langsung menuju dapur untuk meminta izin pada Aydan.


" Gimana kondisi lo? " ucap Bagas sambil menuangkan air minum di gelas.


" Mendingan, cuma masih pusing " jawab Aydan dengan menyandarkan tubuhnya di kursi.


" Lagian so banget lo, anak kemaren sore udah mau nyoba minum gituan " ledek Bagas.


" Pikiran gue lagi gak karuan kemaren " ucap Aydan sambil memejamkan matanya.


" Oiya, Lia masih marah sama gue? " Aydan langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Bagas.


" Menurut lo? " tanya Bagas.


" Masih " jawan Aydan dengan anggukkan pelan dan tatapam sendu nya.


" Itu lo tau. Lo juga tau kan Lia kalo marah ga nanggung-nanggung. Siap-siap aja lo jadi kambing conge beberapa bulan kedepan " ledek Bagas dengan senyum kecilnya.


" Gue harus gimana Gas " lirih Aydan.


" Gaada yang bisa bujuk Lia selain Mommy. Tapi dalam kondisi kayak gini lo gabakal bisa minta bantuan Mommy kan? Yang ada Mommy malah ikut marah sama lo " ucap Bagas.


" Ke Daddy pun sama. Kalo lo ngadu ya siap-siap aja kepala lo di penggal " ledek Bagas.


" Dah ah, gue mau ngajak Lia ketemu si Ayah " ucap Bagas yang langsung bangkit dan meninggalkan Aydan di dapur.


Bagas langsung keluar dari apartement nya dan menuju mobil untuk menunggu Aurel. Tak lama Aurel datang dengan membawa laptop dan tas kecilnya.


" Udah gaada yang ketinggalan lagi? " ucap Bagas saat Aurel sudah ada di dalam mobil.


" Gaada kak, siap meluncur " jawab Aurel.


" Lia " ucap Bagas yang masih fokus menyetir.


" Hemm "


" Masih marah sama Kak Ay? " tanya Bagas.


" Jangan bilang kakak disuru kak Ay biar Lia maafin dia " ucap Aurel dengan tatapan sengitnya.


" Engga, kakak cuma nanya aja Lia " ucap Bagas.


" Kakak tau kan Lia paling benci sama pemabuk. Bahkan Daddy sudah tidak minum waktu Lia tau Daddy suka minum minuman itu " ucap Aurel.


" Lia, kakak tau kamu gasuka sama pemabuk. Tapi pikirin deh sama kamu, sebelumnya apa Aydan pernah minum minuman haram itu? " ucap Bagas yang di sambut dengan gelengan kepala Aurel.


" Aydan lagi banyak pikiran, masalahnya terlalu besar buat dia dan bikin dia ga bisa cerita sama siapapun. Mungkin dia lelah karena masalahnya hanya dia yang tau "


" Tapi tetep aja Kak. Dia udah janji sama Lia. Bahkan dia janji dengan menyebut nama Tuhan " lirih Aurel.


" Ya kakak akui Aydan memang salah bahkan dia membawa-bawa nama Tuhan di janjinya itu. Tapi coba kamu pikir dari sisi Aydan. Sekarang dia lagi banyak masalah dan gaada sipapun yang bisa jadi sandaran buat dia. Walaupun dia gabisa cerita sama kamu tapi bukankah seharusnya kamu bisa hibur dia?. Mungkin dia hanya perlu teman untuk membuat masalahnya perlahan-lahan menghilang " ucap Bagas.


" Dia bentak Lia kak! " ucap Aurel dengan sedikit meninggikan suaranya.


" Itu efek dari minuman dek. Orang yang udah mabuk gabakal bisa ngendaliin emosinya sendiri. Kamu tau semalem dia ga tenang tidurnya. Mungkin dia mikirin kamu " ucap Bagas.


" Biar Lia yang pikirin gimana nantinya " ucap Aurel.


" Hemm baiklah " jawab Bagas.


Tak lama mereka sampai di univ tempat Aurel mendamba ilmunya. Bagas tidak ikut turun karena Aurel khawatir jika mereka akan menjadi sorotan di kampusnya. Ya, Bagas seorang lelaki yang tampan dan Aurel seorang wanita yang bahkan primadona kampus. Bagaimana jadinya jika mereka jalan beriringan di dalam kampus itu.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Aurel terlihat sudah keluar dari kampus dan menuju mobil Bagas. Namun ternyata saat itu ada Maheer yang sengaja menunggu Aurel, saat melihat Aurel datang Maheer dengan cepat memeluk Aurel dari belakang dan membuat Aurel terkejut.


" Maheer apa-apaan sih lo " ucap Aurel dengan mencoba melepaskan pelukannya.


Maheer terkejut saat mendengar ucapan Aurel, karen pasalnya ini adalah pertama kalinya Aurel memanggil Maheer dengan sebutan 'Lo'.


" Lia " lirih Maheer di telinga Aurel " Kembalilah padaku kumohon " sambungnya yang lebih mendekatkan bibirnya di telinga Aurel.


Bukk..


Maheer langsung tersungkur saat seseorang memukul wajahnya dengan keras. Ya, siapa lagi jika bukan seorang lelaki yang dari tadi menunggu Aurel di mobil, Bagas.


" Gapunya otak lo! " bentak Bagas pada Maheer.


Aurel langsung bersembunyi di punggung Bagas dan memegangi ujung baju Bagas. " Usir dia kak " lirih Aurel.


" Lia, aku mohon dengarkan dulu penjelasanku " ucap Maheer.


" Gaada yang bisa dijelasin Maheer! Semuanya udah jelas! Lo udah bagi cinta lo dan bahkan lo bikin anak orang hamil diluar nikah! Apalagi yang mau lo jelasin ke gue!!. Lo mau bilang kalo lo ga sengaja bikin dia hamil?!! " teriak Aurel yang masih berada di balik tubuh Bagas.


---------------------------------------------------------------------------------


Vyan



Babang Bagas:v