Twins'

Twins'
72



Tak terasa hari ini adalah tepat 5bulan kepergian Aurel. Sejak saat dimana Aurel pergi, Bagas tidak pernah pergi ke kantornya dan fokus untuk mencari keberadaan Aurel.


Hari ini Bagas memutuskan untuk pergi ke markas utama keluarga Arsenio. Ia berangkat pagi buta karena jaraknya cukup jauh.


"Apa ada kemajuan?" Tanya Bagas pada Leo (Kepala pengawal) setelah sampai di markas.


"Tidak ada Tuan, beberapa bulan yang lalu Tuan Aydan memerintahkan beberapa pengawal untuk melacak keberadaan Nona dengan perhiasan yang terpasang GPS namun ternyata Nona sudah menjualnya di toko perhiasan" Ucap Leo.


"Pasti ada rekaman cctv mengapa tidak di lacak dengan itu?" Tanya Bagas.


"Kita tidak beruntung Tuan, karena saat hari itu sedang ada perbaikan kamera cctv, jadi kita tidak bisa menangkap jejaknya" Ucap Leo.


Terlihat dari wajahnya Bagas benar-benar gusar. Ketakutan akan kehilangan Aurel selamanya semakin menghantui pikirannya saat ini.


"Nona Aurel cerdas Tuan, Nona pasti sudah tau cara kita melacak keberadaan seseorang. Mungkin Nona menghindari kita dengan sempurna" Ucap Leo.


"Teruskan pekerjaanmu, kabari aku jika ada kemajuan" Bagas bangkit dari kursinya dan kembali ke mobilnya lagi lalu melajukan mobilnya.


Haruskah kamu menghukumku lebih dalam lagi sayang?, Batin Bagas dengan mata yang berkaca-kaca.


***


Sementara di sebuah perkampungan yang benar-benar jauh dari polusi udara, ada seorang wanita yang tengah duduk di kursi di depan rumahnya seraya mengelus perutnya yang sudah benar-benar membuncit karena usia kandungannya sudah memasuki umur ke 7bulan.


"Selamat pagi sayang" Ucapnya seraya tersenyum dan memandangi perutnya namun seketika senyum di bibirnya hilang dan tergantikan dengan air mata yang mengalir.


"Assalamualaikum kak Lia..." Ucap seorang wanita yang berbalut hijab berwarna putih. Ya, wanita hamil itu adalah Aurel dan wanita yang memanggilnya tak lain adalah Aisah. 3 bulan yang lalu Aurel memilih untuk tinggal sendiri di kontrakkan kecil dan membayar menggunakan gajinya sebagai guru di sekolah anak-anak di kampung itu. Walaupun gajinya tidak seberapa, setidaknya itu bisa membuat dia dan bayinya bertahan. Bahkan sejak pergi dari rumahnya Aurel tidak pernah meminum susu ibu hamil karena masalah ekonomi. Bara dan keluarganya sering memaksa Aurel untuk mencukupi kebutuhannya dengan uang milik mereka namun dengan tegas Aurel menolaknya, menurutnya dia sangat berhutang nyawa pada Bara yang sempat menolongnya dulu.


"Waalaikumsallam Aish.." Ucapnya Aurel dengan senyum manisnya.


"Kak, ini dari Ibu" Aisah memberikan rantang yang bersusun 3 pada Aurel.


"Apa ini??" Tanya Aurel.


"Rendang, Ibu bikin banyak kak. Oiya ini dari A Bara" Aisah memberikan lagi paperbag berwarna coklat.


"Ini apa lagi??" Tanya Aurel dengan dahi berkerut.


"Kalo itu Aish gatau kak.. Kemarin waktu A Bara pulang dia nitipin ini buat Kaka" Ucap Aisah.


"Kalo gitu Aish izin pulang ya kak, cuma mau nganterin itu aja" Sambungnya.


"Iya, hati-hati Aish" Ucap Aurel.


"Iya kak, Assalamualaikum Kak" Salam Aisah.


"Waalaikumsallam" Jawab Aurel.


Setelah kepergian Aisah, Aurel masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di kasur lipat dan membuka paperbag pemberian dari Bara. Aurel tersenyum saat melihat baju berwarna pink di dalam paperbag, namun seketika senyum itu lenyap dan tergantikan dengan linangan air mata.


Mengapa harus laki-laki lain yang memberikan hadiah pertama untuk putriku, Batin Aurel.


Aurel kembali memasukkan bajunya dan membawa rantang pemberian Bu Sari ke dapur. ia melahap rendang yang ada di dalamnya hingga habis, kemudian ia bersiap untuk pergi mengajar karena hari ini memang hari kerjanya.


Di dekat sekolah terlihat seorang anak yang menggunakan seragam serang memeluk lututnya sendiri, bahunya tampak mengguncang menandakan anak itu sedang menangis. Aurel mendekatinya dan langsung memegang bahunya.


"Heyy kamu kenapa sayang??" Tanya Aurel.


Anak itu mendongak menatap Aurel, matanya sudah bengkak dan hidungnya memerah.


"Bu Guru" Lirihnya yang langsung memeluk Aurel.


"Ola kamu kenapa sayang?" Tanya Aurel seraya mengelus punggung Aurel.


"Ola gak mau sekolah Bu" Ucapnya.


"Loh kenapa??" Ucap Aurel.


"Bimo galak Bu" Ucapnya.


"Galak kenapa hemm?" Ucap Aurel.


"Udah udah kamu gak boleh takut ya kan ada Bu Guru. Kamu harus sekolah biar pintar sayang" Ucap Aurel.


"Tapi Ola takut Bu" Ucap Ola.


"Jangan takut sayang, ayok masuk kelas" Aurel menarik tangan Ola dan memasuki kelas. Memang terlihat tatapan Bimo pada Ola sangat tidak enak di pandang. Aurel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena dia berfikir mungkin Ola dan Bimo bertengkar karena salah faham antara anak kecil.


Aurel mulai mengajar dengan baik, bahkan sabar karena muridnya masih belum mengerti apa-apa. Setelag beberapa jam mengajar akhirnya ia bel berakhirnya pelajaran berbunyi. Aurel membubarkan anak muridnya dan ia juga ikut keluar dari kelas.


"Aurelll!!" Teriak seseorang yang membuat Aurel menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.


"Bara??" Ucap Aurel menjawab panggilan seseorang yang ternyata adalah Bara.


Bara berjalan menghampiri Aurel.


"Udah selesai mengajar?" Tanya Bara.


"Iya, kenapa?" Tanya Aurel.


"Bukannya hari ini jadwal kontrol kandunganmu??" Ucap Bara.


Aurel mengerutkan dahinya dan mengingat tanggal hari ini.


"Aiihhhh,, aku lupa" Aurel menepuk dahinya.


"Dasarrr" Bara mengelus kepala Aurel layaknya anak kecil.


"Yaudah, aku permisi ya. Mau ke rs" Ucap Aurel seraya melenggang meninggalkan Bara namun tangannya ditarik Bara.


"Biar aku antar" Ucap Bara.


"Ah gak usah Bar" Ucap Aurel.


"Gak apa-apa Rel, ayok. Mobilku disana" Bara mempersilahkan Aurel jalan di depannya.


Aurel hanya mengangguk dan mendekati mobil Bara. Tanpa aba-aba Bara membukakan pintu mobilnya untuk Aurel.


"Silahkan Nyonya" Ucap Bara seraya tersenyum lembut.


Aurel membalas senyuman Bara "Terimakasih" Ucap Aurel


Apa aku bisa meluluhkan hatimu yang sangat keras itu?, Batin Bara.


"Oiya hari ini ada pameran di lapangan desa, mau liat kesana?" Tanya Bara setelah duduk di samping Aurel.


"Ahh mungkin tidak.. Aku lelah dan ingin istirahat" Ucap Aurel.


Bara tersenyum seraya menggerakkan kepalanya ke kanan.


"Baiklah" Ucap Bara.


Ternyata susah untuk meminta waktu berdua denganmu, Batin Bara.


***


Sedangkan di tempat lain, Bagas sedang duduk di taman kota seraya menghisap sebatang rokok. Semenjak kepergian Aurel, ia lebih sering merokok untuk menenangkan fikirannya.


Harus kemana lagi aku mencarimu? Rasanya aku sudah lelah harus seperti ini, Batin Bagas.


Drrtt drtt drtt


Ponsel di dalam saku celananya bergetar. Bagas meraih ponselnya dan melihat nama Vyan lah yang ada di layar ponselnya.


"Hallo bang kenapa?" Tanya Bagas. Setelah mendengar jawaban Vyan di sebrang sana, raut wajah Bagas berubah. Tatapannya kosong dan membuang rokoknya begitu saja.


"Ayah kesana sekarang" Ucap Bagas dengan nada datar.


Bagas berlari ke arah mobilnya. Di dalam mobil ia menundukkan kepalana ke stir.


Sayang, Batin Bagas dengan air mata yang sudah mengalir.