
Sudah satu minggu sejak pertengkaran Aurel dan Bagas, rumah ini terasa sangat sepi. Biasanya walaupun hanya ada Aurel dan Bagas di dalamnya, rumah ini ramai.
Dea sudah di pulangkan dari rumah sakit, dan ia memutuskan untuk membawa satu temannya ke rumah dengan alasan agar dia memiliki teman cerita sekaligus pelindungnya selain Bagas. Aurel tidak mengizinkan maupun melarang Dea dan temannya tinggal serumah dengannya, toh walaupun dia melarangnya Bagas tidak akan mendengarkan ucapannya itu.
"Sayang Mas berangkat, kamu hati-hati ya dirumah" Ucap Bagas saat hendak pergi ke kantor. Aurel menarik tangan Bagas dan menciumnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Bagas berkali-kali menghembuskan nafasnya. Lelah? Kesal? Marah? Ya, Bagas merasakan itu semua. Namun ia tidak mau terlalu dalam mengatur istrinya itu, biar bagaimana pun ia tau bagaimana Aurel saat dirinya sedang di liputi rasa nafsunya.
Setelah kepergian Bagas, Aurel duduk di balkon dengan membawa sebuah novel di tangannya. Matanya mulai fokus pada bacaan dalam novel itu, yang mana novel itu adalah sebuah novel yang bertema tentang rumah tangga.
Siang harinya Aurel memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan bersantai di ruang tengah dengan di temani Cesa. Asisten setianya.
"Cesa kamu rencana mau SMA dimana?" Tanya Aurel.
"Emmm kata Ibu, dimana aja asal Cesa sekolah dengan benar kak" Jawab Cesa.
"Kamu punya planning mau masuk sekolah mana?" Ucap Aurel.
Cesa hanya menggelengkan kepalanya.
"Cesa, kamu harusnya sudah punya planning jauh-jauh hari. Liburan semester bukannya tinggal 2 minggu lagi?" Ucap Aurel.
"Iya kak, Cesa juga bingung mau lanjut dimana. Sekolah disini bagus semua, Cesa gabisa milihnya. Emmm apa kakak bisa merekomendasikan sekolah untuk Cesa?" Tanya Cesa dengan ragu-ragu.
Aurel nampak berfikir.
"Mungkin di SMA yang sama dengan Abang. Kebetulan Abang juga mau masuk SMA tahun ini" Ucap Aurel yang membuat Cesa membelakakkan matanya.
"Kak?? Bukannya Abang masih berumur 11 tahun?" Tanya Cesa. Memang Cesa sudah terbiasa memanggil Vyan dengan sebuttan Abang, bukan lancang ataupun tidak sopan, semua itu atas perintah Aurel.
Aurel mengangguk "Kamu tau sendiri bukan gimana cerdasnya anak itu" Ucap Aurel.
"Tapi memang bisa kak?" Tanya Cesa.
"Bisa. Guru dari sekolahnya yang menawarkan itu" Ucap Aurel.
"Wahhh Abang keren kak" Ucap Cesa dengan antusias yang membuat Aurel menatap Cesa dengan senyumannya.
"Eh kakak kenapa?" Tanya Cesa.
"Enggak. Kamu suka kan sama Abang????" Goda Aurel.
"Ishh apasih kakak.. Aku tuh gasuka sama Abang, cuma kagum aja gitu. Usianya lebih muda dari aku tapi sikap dan pemikirannya luar biasa sekali" Ucap Cesa.
"Hemmm.. Memang" Jawab Aurel.
"Assalamualaikummmmmm mentemennnn!!!!" Teriak Amel yang tiba-tiba saja ada di belakang mereka membuat mereka terkejut.
"Astaghfirullah Adekkkk!!!!!!!" Teriak Aurel.
Amel menutup kedua telinganya.
"Aduhhhhh torek kuping aku ini" Ucap Amel.
"Lagian kamu ini kayak orang yang kurang seliter aja!!, masuk kerumah tuh ya baik-baik, kamu itu anak gadis, lembut sedikit napa Dek" Ucap Aurel.
"Hehe yamaap, lagian kalo deket kakak itu ya bawaannya ngegas mulu, gabisa di rem" Ucap Amel.
"Emang Adek laknat, gaada sopan-sopannya sama kakak sendiri" Cebik Aurel.
"Hehe maapin aku kakak cantikkkuuuu" Amel duduk di tengah-tengah Aurel dan Cesa.
"Anyeong,, eonnineun eottae? ( Hallo, apa kabar kakak?) " Tanya Amel karena ia tau jika Cesa pandai berbahasa korea dan memiliki cita-cita melanjutkan pendidikannya di negeri gingseng itu.
"Anyeong,, naneun jalhagoissda, dangsin eun-yo? ( Hallo, kabarku baik, bagaimana denganmu?) " Ucap Cesa.
"Na yeogsi gwaenchanh-a (kabarku juga baik)" Ucap Amel sambil menunjukkan wajah sedihnya dan bersandar di pundak Cesa karena mereka sudah sangat akrab, yang membuat Aurel dan Cesa saling memandang.
"Kenapa?" Tanya Aurel.
Amel menjauhkan kepalanya dari pundak Cesa, dia melipat tangannya di perut seraya mengerucutkan bibirnya.
"Kakak tau ga? aku ya sengaja minta Mom and Dad liburan ke rumah Oma dan Opa itu untuk bertemu sama Abang. Tapi disana Abang jarang dirumah, paginya Abang pergi ke perusahaan bareng Opa, pulangnya larut saat aku sudah tidur" Ucap Amel.
Aurel mengacak rambut Amel.
"Kamu tau sendiri kan niatnya opa bawa Abang kesana buat apa??" Ucap Aurel.
"Iya tau, tapi itu sangat menyebalkan kak" Ucap Amel.
"Jadi ceritanya adik cantik ini cemburu pada pekerjaan Abangnya toh?" Goda Aurel.
"Ishhh kakakkkkk" Ucap Amel.
"Yaudah bentar" Aurel meraih ponselnya yang ada di meja dan terlihat mengetik sesuatu disana, dan tak lama dia menempatkan ponselnya di telinganya.
"Assalamualaikum Abang" Ucap Aurel. Ya, siapa lagi jika bukan Vyan yang dihubunginya.
Amel menatap Aurel dengan tatapan tajam, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ngapain nelpon Abang sih kak" Gumam Amel.
"Abang tau disini ada siapa???" Tanya Aurel.
"Ayah sama Kak Cesa kah?" Ucap Vyan di sebrang sana.
"Iya Cesa samaaaaaaa,, bidadarimu" Ucap Aurel dengan kekehannya.
"Maksud Bunda?" Tanya Vyan.
Aurel mengalihkan telfonnya menjadi sambungan video, ia mengarahkan ponselnya ke wajah Amel yang sedang murung itu.
"Lohh Unyil udah balik Bun?? Kok Abang gatau sih Bun" Ucap Vyan.
"Ya mana Abang tau, orang Abang sibuk terus!!!" Ketus Amel.
"Jadi ceritanya si bontot ini kangen sama Abangnya tapi Abangnya malah sibuk sama kerjaan" Kekeh Aurel.
Vyan tersenyum sambil menatap wajah Amel yang sedang murung itu.
"Ngapain senyum-senyum begitu Bang!" Ketus Amel.
"Menggemaskan" Ucap Vyan dengan senyum yang semakin lebar.
"Aku tau emang aku lucu!!" Cebik Amel.
"Emmm maafin Abang ya unyill,, Abang gabisa ngelawan perintah Opa, Unyil tau sendiri bukan?" Ucap Vyan.
"Tapi Abang gabisa ngertiin aku banget sihm Aku tuh udah kangen sama Abang. Aku semingguan serumah sama Abang ketemunya cuma beberapa kali doanh itu pun gaakan lama. Aku bela-belain bilang ke Mom and Dad buat nyamperin Abang eh Abangnya begitu. Tau ah Aku benci Abang!!!" Setelah berceloteh panjang lebar, Amel meninggalkan Aurel dan memasuki kamar yang biasanya ia pakai.
"Bunnn bantuinn" Ucap Vyan.
"Lahlah Bunda gaikut-ikutan ya,, mangkannya cepet pulang, biar ga kabur bidadarimu itu Bang" Ucap Aurel.
"Aihhh Bundaaa" Rengek Vyan.
"Udah ya, Bunda ngantuk mau istirahat. Kamu jangan lupain kesehatan kamu Bang. Assalamualaikum" Ucap Aurel.
****
"Kak,, uget-uget itu masih disini?" Tanya Amel saat melihat Dea dan temannya lewat di hadapannya. Sepertinya akan pergi, karena pakaian mereka berdua benar-benar rapi.
"Hemm" Jawab Aurel dengan malas. Rasanya ia benar-benar membenci Dea, karena ulah yang sok polosnya membuat Bagas berani bermain kasar padanya.
Tiinggg
Aurel tidak sengaja menjatuhkan sendok ke lantai karena memang ia dan Amel sedang makan malam, sedangkan Bagas belum pulang dari kantor karena ada rapat para pemegang saham.
"Kakak kenapa?" Tanya Amel.
"Emmm gapapa" Jawab Aurel seraya mengambil kembali sendoknya.
"Assalamualaikum sayang,, eh ada Unyil juga toh" Ucap Bagas baru datang.
"Waalaikumsallam" Jawab Aurel dan Amel.
Aurel meraih tangan Bagas dan mencium punggung tangannya dan tak lupa Bagas mencium kening istrinya itu. Aurel meraih tas di tangan Bagas.
"Mau langsung mandi?" Tanya Aurel.
"Iya, gerah sayang" Ucap Bagas.
"Yaudah.. Mel makan sendiri ya, kakak mau anter kak Bagas dulu" Ucap Aurel yang dianggukki Amel.
"Sekalian langsung pulang ya Kak, di depan udah ada supir yang jemput" Ucap Amel.
"Yauda kamu hati-hati ya, maaf kakak gabisa anter kamu kedepannya" Ucap Aurel.
"Iya kakak" Ucap Amel. Tak lama ia menyelesaikan makannya dan segera pulang ke tempat asalnya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Bagas memeluk Aurel dari belakang dan menyandarkan kepalanya di leher Aurel.
"Sayang Mas kangen kamu" Lirih Bagas mengecupi lehernya dengan lembut.
"Hemm" Ucap Aurel.
"Sayang" Bagas membalikkan tubuh Aurel hingga mereka berhadapan.
"Pliss jangan diemin Mas kayak gini,, Mas ga sanggup sayang, Mas capek" Ucap Bagas.
Aurel melepaskan pelukkan Bagas, ia meraih tangan Bagas dan menaruh di dadanya.
"Luka disini masih terasa, dan ini" Aurel mengarahkan tangan Bagas ke pipinya.
"Rasanya bekas tanganmu ini masih terasa juga disini" Ucap Aurel dengan mata yang sudah berair.
"Sayang maafin Mas,, Mas harus gimana biar sayang maafin Mas?" Ucap Bagas.
"Biarkan Dea pergi dari sini" Aurel menjauh dari Bagas dan mengambilkannya pakaian ganti.
"Sayang pliss jangan sangkut pautin orang lain saat ini" Ucap Bagas.
"Bukankah orang lain seharusnya tidak tinggal satu rumah?" Ucap Aurel.
"Sayang.." Ucap Bagas.
"Aku tau Mas gabakal bisa buat wanita murahan itu pergi dari sini.. Aku tau Mas gabisa milih antara aku atau wanita itu" Ucap Aurel.
"Sayang jaga ucapanmu.. Mas pasti memilih kamu sayang" Ucap Bagas.
"Kalau seperti itu biarkan wanita murahan itu peegi dari sini!!!" Tegas Aurel.
"Aurell!!!" Tegas Bagas.
"Apa??!! Mas mau bilang kalo dia bukan wanita murahan? Mas mau bilang kalo dia cuma gadis kecil polos yang membutuhkan kasih sayang orangtuanya?!!!" Ucap Aurel.
"Sayang plissss buang semua rasa bencimu itu" Ucap Bagas.
"Heuhh" Aurel menyunggingkan senyum sinisnya.
"Buang?? ga semudah itu" Ucapnya.
"Tapi Mas yakin kamu bisa Sayang" Ucap Bagas.
"Gabisa Mas!!! Aku gabisa!! Aku gabisa lupain gimana sikap sok polosnya itu yang buayt Mas jadi lelaki pertama yang tega nampar aku!!!" Teriak Aurel.
Aurel keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan sangat keras, tanpa di ketahuinya Dea dan temannya sedang ada di pinggir kamarnya, mungkin dia mendengar semua perbincangan Aurel dengan Bagas karena memang pintu tidak tertutup dengan rapat.
Dea melipat tangannya dan bersandari di dinding tepat di samping pintu kamar Aurel.
"Heuhh,, belum puas juga debat sama suami lo?? kalo gue jadi lo, gue lebih memilih mengakhiri hidup gue" Ucap Dea.
Aurel yang sedang diliputi rasa marahnya itu mendekati Dea dan menarik rambut panjang Dea hingga membuat kepalanya mendongak.
"Aaaaaaaaaa sakitttttt!!!!" Teriak Dea.
"Udah gue bilang berkali-kali jangan pernah ngurusin rumah tangga gueee!!!!" Teriak Aurel.
"Lepasin gue J****G!!!!!!!!" Teriak Dea.
"Lo yang J****g!!!!" Teriak Aurel.
Teman Dea yang sudah bingung harus berbuat apa akhirnya mendorong Aurel hingga terjatuh tak jauh dari sana. Aurel memegangi perutnya yang terasa kram, ia mendongak menatap orang yang mendorongnya lalu kemudian ia bangkit dan menarik rambut teman Dea.
"Looo gatau apa-apa,, ga seharusnya lo disini!!!!" Ucap Aurel.
"Lepasin temen gueeee!!!" Teriak Dea yang mencoba melepaskan tangan Aurel namun dengan keras Aurel mendorongnya hingga terpental dan menabrak ujung tangga.
"Kalian semua sama-sama rendahan, murahan, J****g!!!!" Teriak Aurel.
"AUREL STOPPPPPPPP!!!!!" Teriak Bagas.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next part akan mengandung bawang ya guys☺️
Borahae💜