
Aurel memasuki mobil sport merah dan langsung menancap gas, di tengah perjalanan tiba-tiba Aurel ingin menghubungi Bagas, dia langsung mencari nomor Bagas dan langsung menelfonnya, dengan cepat telefon itu tersambung.
Panggilan telefon
Bagas : Assalamualaikum, ada apa dek?
Aurel : Waalaikumsallam kakak.. Engga hehe pengen nelfon aja
Bagas : Gausah basa basi dek, bilang aja rindu
Aurel : Hih mau banget kak dirinduin aku?
Bagas : Kemaren-kemaren juga bilang rindu kamu dek
Aurel : Itu khilaf ya kak
Bagas : Terserah dirimu saja,, udah dulu ya kakak lagi di bengkel ini
Aurel : Ga kuliah emang kak?
Bagas : Kuliah bentar lagi
Aurel : Yauda lanjutin kak, semangat kak Tiannnnn
Bagas : Cih, makasih liaaaaa
Aurel memutuskan sambungan telefon nya dan melanjutkan perjalanannya. Beberapa menit akhirnya dia sampai di apartementnya, terlihat ada sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di depan apartement. Mobil siapa lagi jika bukan mobil Farhan, sepupunya itu.
" Assalamualaikummm temen-temennn yuhuuuuu bidadari yang cantikkk datenggg mana nih kapret merahnyaaaaa " teriak Aurel saat membuka pintu kamar Aydan " Aaaaaaaaaaaaa kalian ngapainn ga pake bajuu!!!!! " teriaknya lagi saat melihat Aydan dan Farhan sedang tidak memakai baju karena ac diruangan itu mati dan saat ini sedang di perbaiki.
" Waalaikumsallam " jawab Aydan.
" Ehhh cunguk berisik banget sih lu dek!!! " ucap Farhan yang juga ikut berteriak.
Aydan melempar bantal ke arah Farhan dengan keras dan tepat mengenai kepalanya " Awuhhhhh gila lu Ay, sakit beneran se*an " ucap Farhan sambil mengelus kepalanya.
" Hellowwwww anda juga berisik Tuannn!!! " teriak Aurel.
" Ssutttttttt.. Pada dikecilin suaranya bisa kagak sihhhh... Kalian lagi pada jualan tahu bulat?? " ucap Aydan dengan geram.
" Kalian belom nyadar juga apa gimana sih. Cepet ish pake baju dulu napa " kesal Aurel.
Aydan dan Farhan memakai kaos pendek yang tadi mereka pakai.
" Ada apa sih dek tumben masuk kamar kakak dulu " ucap Aydan sambil menghampiri Aurel yang sedang duduk di sofa.
" Nihhh aku bawa makanan khas Indonesia, dapet dari ibu Neliii " ucap Aurel sambil menyodorkan kotak makannya.
Saat mendengar nama Neli, Farhan langsung beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Aurel " Neli? temen kamu yang tadi ikut kan? " ucap Farhan antusias.
" Iya, kenapa? " ucap Aurel dengan mengerutkan keningnya.
" Ohhh nggak, ini makanan apa. Kakak mau ya laper banget belom makan dari esdehhh " ucap Farhan yang langsung merebut kotak makan itu. Dia langsung membukanya dan mengambil sendok yang ada di dapur apartement.
" Emmmm ini sih enak banget, tapi rasanya kok mirip sama masakkan mommy Zahra ya??? " ucap Farhan sambil masih mengunyah makanannya. " Cobain deh " sambungnya sambil menyodorkan sendok ke mulut Aurel dan Aydan bergantian.
Aurel dan Aydan saling pandang, mereka saling mengangguk seolah mengerti apa yang mereka bicarakan dalam hati mereka. Farhan melongo saat melihat sikap kedua sepupunya itu, dia tidak mengerti apa yang mereka maksud.
" Woyy elah, kalian kenapa ngangguk-ngangguk begitu? " ucap Farhan. " Ohhh gue tau, kalian pasti lagi ngomong dari hati ke hati kan. Welehhhh beda wae yang kembar mah bisa ngomong lewat telepatyy " sambungnya.
" Bener loh ini bahkan mirip banget sama masakkan mommy " ucap Aydan.
" Bener kak, kok bisa gitu ya " sambung Aurel.
" Mungkin mommy Zahra sama ibunya Neli nyari resep di google abis itu ga sengaja samaan resepnya " jawab Farhan yang masih fokus menghabiskan makanannya.
" Kak Farhan kalo makan jangan ngomong!! " ucap Aurel.
" Hihh iya diriku lupa " ucap Farhan tak lama dia menatap Aydan dan Aurel " Haihhh bukannya kalian juga tadi ngomong ya?? " sambungnya.
Aydan dan Aurel saling pandang, dengan serempak mereka menepuk jidatnya masing-masing.
" Tadi ga sengaja, khilaf " ucap keduanya yang langsung mengambil minum.
°°°°°°°
~ Indonesia ~
Hari sudah larut malam, jam dinding menunjukkan pukul 23.00. Bagas baru selesai mengurus pekerjaannya, dia langsung pulang ke rumah Raka karena memang setelah Vyan tinggal di rumah itu Bagas juga tinggal disana sesuai permintaan Vyan.
Saat Bagas memasuki kamar Vyan dia melihat Vyan yang resah dalam tidurnya. Keringat dingin mulai keluar tubuhnya, badannya bergerak-gerak tak tentu arah namun matanya masih terpejam.
Bagas berlari ke arah Vyan dan langsung memegang dahinya
" Astaghfirullah kamu demam sayang " ucap Bagas.
Bagas mencoba untuk membangunkan Vyan " Vyann sayang, heyy bangun nak " ucap Bagas yang menepuk pelan pipi Vyan.
" Sayang bangun, ayah disini " bisik Bagas pada telinga Vyan.
Dengan cepat Bagas memeluknya agar Vyan merasa lebih tenang.
" Ada apa sayang, kamu kenapa " ucap Bagas.
" Ayah hikss.. Vyan mohon jangan tinggalin Vyna hikss " ucap Vyan sambil terisak.
" Tidak. Tidak akan, Ayah tidak akan meninggalkanmu sayang kamu jangan memikirkan yang aneh-aneh " ucap Bagas sambil mempererat pelukannya.
" Vyan kamu kenapa sayang " ucap Zahra yang tiba-tiba muncul di balik pintu dengan Raka.
" Grandma, grandpa jangan tinggalin Vyan hikss..hikss " ucap Vyan yang masih dalam pelukkan Bagas.
" Apa yang kau katakan sayang, kami tidak akan meninggalkanmu " ucap Raka.
" Vyan sayang, cerita sama ayah ada apa? Kamu bermimpi? " ucap Bagas.
Vyan mengangguk dan langsung menangis lagi.
" Vyan ingin bicara dengan bunda ayahh " ucap Vyan.
Bagas langsung mengambil ponsel dari saku kemejanya dan langsung menghubungi Aurel. Dia melakukan vidcall seperti yang Vyan inginkan. Tak lama telefon itu pun akhirnya tersambung.
Vidcall
Aurel terkejut saat melihat mata Vyan yang sembab dan penuh air mata.
Aurel : Sayang ada apa denganmu. Kau kenapaa??
Vyan : Bundaaa hiksss
Aurel : Ada apa sayang, cerita pada bunda. Ada yang menyakitimu? Siapa? bilang pada bunda
Vyan : Bundaa jangan tinggalin Vyan hiksss
Aurel : Tidak sayang, bunda sama sekali tidak akan meninggalkanmu
Vyan : Hikss Bundaa Vyan takutt hikss hikss
Aurel : Takut apa sayang, cerita pada bunda ayo
Vyan : Bunda Vyan bermimpi hiks.. Papa datang dan memberitahu Vyan kalian bukan keluarga asli Vyan, kalian ga benar-benar sayang sama Vyan. Kalian pasti akan ninggalin Vyan hikss... Bunda Vyan takutt
Aurel : Vyan sayang, heyy dengerin Bunda. Sampai kapanpun kamu tetap putra bunda, putra kesayangan bunda. Bunda gaakan ninggalin kamu, bunda janji bunda akan belajar dengan giat agar cepat menyelesaikan kuliah bunda. Sekarang kau tenang saja, kita semua sayang sama kamu, Vyan gausah mikir yang macem-macem. Di dekat Vyan masih ada Bunda, Kak ay, Ayah, Grandpa dan Grandma. Kamu ngerti sayang?.
Vyan hanya mengangguk mengerti, tangisnya mulai reda. Setelah beberapa menit akhirnya Vyan memutuskan telefonnya.
* Sebegitu takutnya kamu kehilangan kami nak? * batin Zahra sambil meneteskan air matanya, entah karena ia sedang hamil apa memang ia merasa kasihan pada Vyan.
Vyan yang melihat Zahra menangispun langsung mendekati dan memeluk Zahra.
" Grandma maafin Vyan udah bikin grandma nangis " lirihnya.
Zahra mengelus punggung Vyan dengan lembut " Tidak apa sayang, sudahlah sekarang kamu tidur . Besok kamu izin tidak sekolah karena badanmu sedang demam. " ucap Zahra yang diangguki Vyan.
Zahra dan Raka pamit untuk pergi ke kamarnya lagi. Saat ini Vyan akan tidur dengan Bagas seperti biasanya. Bagas membawakan handuk dengan air hangat untuk mengompres dahi Vyan.
* Ayah janji nak sampai kapanpun kau akan tetap menjadi putra Ayah * batin Bagas sambil melihat wajah damai Vyan yang sudah memejamkan matanya lagi.
Pagi hari Bagas terbangun dan melihat Vyan yang masih terlelap di sampingnya dengan handuk yang masih tertempel di dahi putihnya itu.
Bagas meraih handuk itu dan memegang dahi Vyan.
" Yaallah kenapa demamnya semakin tinggi " ucap Bagas. Dia langsung menggendong Vyan di lengannya dan keluar dari kamar, dia berniat untuk membawa Vyan ke rumah sakit saat itu juga.
Di meja makan Zahra dan Raka sangat terkejut saat melihat Bagas yang sedang berlari sambil menggendong Vyan.
" Vyan kenapa kak? " ucap Zahra dengan wajah paniknya.
" Mom dad, Bagas harus bawa Vyan kerumah sakit. Demamnya semakin tinggi dari semalam, Bagas takut Vyan kenapa-napa " ucap Bagas.
" Bawa kerumah sakit milik keluarga kita, daddy akan menelpon dokter Mia untuk menanganinya " ucap Raka.
" Baik dad terimakasih " ucap Bagas yang langsung menuju mobilnya.
" Biar mommy ikut " ucap Zahra.
" Mommy sarapan saja dulu, nanti mommy bisa menyusul dengan daddy " ucap Bagas.
" Baiklah, hati-hati kak " jawabnya.
Bagas menidurkan Vyan di samping kemudi, dia langsung melajukan mobilnya ke arah rumah sakit yang tak jauh dari mansion itu.
Saat sudah sampai terlihat beberapa perawat yang sudah menunggunya, melihat mobil Bagas di depan rumah sakit para perawat langsung menghampiri dan membawa tandu beroda .
Vyan di masukkan ke ruang pemeriksaan, terlihat Bagas yang sejak tadi mondar mandir di depan pintu ruang pemeriksaan Vyan. Tak lama terlihat Mia ( dokter kepercayaan keluarga Arsenio ) keluar dari ruangan itu.