Twins'

Twins'
94



Setelah mendapatkan pesan foto dari nomor tidak dikenal, Aurel melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Hatinya begitu sakit. Pertahanannya benar-benar hancur. Ia tidak bisa terus seperti ini. Hingga tak lama kemudian pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Bagas. Ya, yang membuka pintu kamarnya adalah Bagas. Suami yang berkhianat. Bagas berjalan ke arah Aurel. Ia duduk di sebelah Aurel dan menatapnya dengan dalam.


"Kenapa sayang?" rasanya Aurel ingin mencekik Bagas saat ini juga. Nadanya yang begitu lembut saat berbicara padanya membuat Aurel muak. Aurel lebih memilih diam lalu memalingkan wajahnya.


"Sayang heyy, kenapa? Apa Mas buat kesalahan?" kali ini Bagas memegang tangan Aurel.


Aurel menepisnya "Nangan menyetuhku dengan tangan kotormu itu Mas" lirih Aurel.


"Apa maksudnya? jika Mas salah Mas minta maaf. Tapi ceritakan pada Mas apa yang membuat kamu jadi seperti ini" tanya Bagas.


Mendengar pernyataan Bagas yang menurut Aurel gila membuatnya langsung menatap Bagas dengan tajam "Apa kamu gila mas?!" ucap Aurel.


"Mas gak ngerti apa yang terjadi" ucap Bagas.


Aurel meraih ponselnya yang ada di lantai lalu melemparkannya ke Bagas. Bagas langsung membuka ponsel Aurel dan timbullah foto dimana dirinya berada didalam kamar dengan bertelanjang dada. Bagas menatap Aurel.


"Ini?" ucap Bagas.


"Kamu gila Mas?! untuk apa kamu membuat aku kembali kalau ternyata kamu sudah mempunyai penggantiku selama ini?" ucap Aurel dengan lantang.


"Mas tidak pernah melakukan hal melewati batas sayang" ucap Bagas.


"Berpegangan tangan dengan wanita lain dan wanita itu mencium leher Mas hingga meninggalkan bekas lipstik disana, apa itu yang dikatakan tidak melewati batas hah!!" kali ini Aurel berteriak. Ia tidak peduli dengan semua orang yang mendengar teriakannya. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah mengeluarkan semua keluhan di hatinya terhadap Bagas.


"Kecilkan suara kamu sayang, nanti Vano bangun" Bagas melirik Vano yang mulai tidak nyaman dengan tidurnya.


"Kapan Mas melakukan hal seperti itu?" tanya Bagas.


Aurel mendelik Bagas dengan tajam "Arghhhh!!! kamu emang bren*sek Mas!!" teriakan Aurel kali ini sukses membuat Vano menangis.


Bagas dengan segera mendekati Vano namun terhenti saat mendengar ucapan Aurel.


"Jangan pernah menyentuh anakku mulai hari ini. Aku tidak ingin anakku memiliki ayah seorang baj*ngan!" tegas Aurel.


"Dia juga anakku!" geram Bagas.


"Tidak! dia bukan anakmu!!" Aurel meraih Vano ke gendongannya. "Urus saja wanitamu. Bahkan mungkin janin yang sudah tumbuh di rahimnya" Aurel segera beranjak dari tempat tidur namun tangannya dicekal Bagas yang membuatnya kembali terduduk di ranjang.


"Sudah ku katakan. Akau tidak pernah selingkuh!" ucap Bagas.


"Dan aku katakan sekali lagi jika aku tidak akan percaya dengan ucapanmu Mas!" ucap Aurel.


"Apa Mas belum puas hidup tanpa aku? apa 5bulan terakhir belum bisa menyadarkan Mas? jika memang seperti itu biarkan aku pergi lagi Mas"


"Cukup Lia! jangan pernah berniat untuk pergi dariku lagi!" tegas Bagas.


"Lalu untuk apa aku disini Mas? untuk menyaksikan bagaimana keromantisanmu dengan wanita lain? Oh apa aku harus menyetujui pernikahan Mas dengan wanita lain? silahkan menikah! aku sudah tidan peduli tentang itu. Tapi sebelumnya tolong ceraikan aku dan biarkan aku membesarkan anak-anakku sendiri tanpa bantuanmu" ucap Aurel diiringi isakkannya.


"Jangan pernah berkata seperti itu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu" ucap Bagas.


"Kamu benar-benar gila Mas!!. Biarkan aku pergi!" ucap Aurel.


Aurel berlari kearah pintu dengan membawa Vano namun ia kalah cepat, Bagas segera menghalangi pintunya.


"Kamu tidak usah pergi. Ini rumahmu! jika kamu ingin berpisah dariku akan aku kabulkan. Aku yang akan pergi dari sini. Kumohon jangan pernah meninggalkan rumah ini. Dan jaga anak-anak kita dengan baik. Aku harap kamu akan selalu mengizinkan jika aku ingin bertemu dengan mereka. Aku pergi, selamat tingga" Bagas membuka pintu kamarnya dan keluar dari sana. Sebelum menuruni anak tangga, ia kembali menatap pintu kamarnya.


Maafkan aku sayang, untuk kali ini saja, batin Bagas.


Aurel terduduk di dekat pintu. Ia mendekap Vano dengan erat.


"Mommy maafkan Lia yang tidak bisa menjaga amanah dari Mom. Lia capek Mom hikss,,,"


Aurel memutuskan untuk tidak pergi dari rumahnya. Ia berjalan menuju kamar tamu dengan langkah yang gontai. Jika bukan Vano dan Vyan yang menjadi alasannya untuk tetap kuat mungkin Aurel lebih memilih meninggalkan dunia ini dan menyusul mendiang Zahra.


Saat akan memejamkan matanya, terdengar ketukan di pintu kamarnya yang membuat Aurel harus beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan Vano yang sedang memainkan tangannya sendiri. Ia membuka pintu dan melihat Mang Tanu berdiri tegak disana.


"Anu Non. Amang, Bi Ira sama Cesa mau pamit ke kampung, ada hal penting yang harus kami hadiri" ucap Mang Tanu dengan ragu-ragu.


Aurel menghela nafasnya, jika mereka pergi otomatis Aurel akan sendiri di rumah ini hanya ditemani Vyan dan Vano. Hanya ada para pengawal yang menjaga gerbang utama di depan.


"Berapa hari Mang?" tanya Aurel.


"Kurang tau Non. Tapi Inshaallah gak sampai semingguan" jawab Mang Tanu.


"Baiklah gak apa-apa Mang. Maaf Lia gak bisa nganterin. Apa Mang Tanu butuh uang?" ucap Aurel.


"Eh tidak Non, kemarin kan baru gajian jadi uangnya masih utuh. Amang cuma minta izin dari Non aja" ucap Mang Tanu.


"Iya gak apa-apa Mang. Hati-hati dijalannya, sampaikan pada Bi Ira dan Cesa maaf gak bisa nganter" ucap Aurel.


"Baik Non. Terimakasih atas izinnya. Amang pamit Non, Assalamualaikum" ucap Mang Tanu yang langsung pergi setelah Aurel menjawab salamnya.


Aurel kembali menutup pintunya dan berjalan menuju Vano. Rasa kesalnya musnah saat melihat Vano yang tersenyum ke arahnya. Anak ini memang selalu menjadi obat untuk Aurel.


Mendengar adzan berkumandang membuat Aurel mengunci pintu kamarnya karena harus mengambil air wudhu dan meninggalkan Vano di kasur. Aurel segera melaksanakan shalat isya. Setelahnya ia kembali mencurahkan isi hatinya pada Sang Pencipta. Sampai pada akhirnya ia menyelesaikan doanya saat mendengar ketukan pintu kamarnya. Ia melipat mukena dan sajadah lalu membuka pintu kamar. Tenyata Vyan si pengetuk pintu kamar itu.


"Bunda Abang mau pamit pergi ya" ucap Vyan.


"Pergi kemana Bang" Aurel mengerutkan keningnya.


Vyan menepuk keningnya "Yaampun Bunda lupa? hari ini Abang harus menyelesaikan tugas di rumah Rian. Tadi Abang kirim pesan ke Bunda dan Bunda bales 'iya'" ucap Vyan.


"Kapan Bang?" tanya Aurel.


Vyan merogoh sakunya dan meraih ponsel didalamnya "Ini Bundakuuu" Vyan menunjukkan chat yang dikirim Aurel padanya.


Ah mungkin aku tidak sadar saat membalasnya, batin Aurel.


"Tapi Mang Tanunya gak ada Bang. Biar Bunda anter ya"


"Gak usah Bun. Abang udah dijemput ayahnya Rian. Udah ada di depan lagi"jawab Vyan.


"Yaudah hati-hati Bang" jawab Aurel.


Vyan menyalimi Aurel dan mengecup pipinya "Assalamualaikum Bunda"


"Waalaikumsallam" jawab Aurel.


.


.


.


.


.


.


.


.


Up segini dulu ya, biar gak gantung-gantung amet hhe..


Kalian tim mana nih? Tim Aurel bersatu dengan Bagas atau Tim Aurel berpisah dengan Bagas???


Yuk comment