
Tuan Lee semakin dibuat tidak mengerti saat melihat Mii Ran yang tiba-tiba ingin menyerang Aurel. Terlihat jelas di pergerakannnya jika Mii Ran membenci Aurel. Tapi kenapa?
"Mii Ran apa yangang kamu lakukan" Ucap Tuan Lee dengan mencoba menahan tangan Mii Ran agar tidak menyakiti Aurel. Biar bagaimanapun keluarga Arsenio jauh tingkatannya dengan keluarganya.
"Appa!! dia merebut priaku!!" Teriak Mii Ran.
"Apa yang kamu lakukan Mii Ran, dia pria yang sudah beristri. Sudah lebih baik kita pergi saja, kamu akan mempermalukan Appa jika bersikap seperti ini" Ucap Tuan Lee sambil menarik tangan Mii Ran.
"Aku bersumpah tidak akan melepaskanmu!" Ancam Mii Ran seraya meninggalkan ruangan Bagas.
"Tuan, Nyonya saya minta maaf atas keributan yang putri saya lakukan" Ucap Tuan Lee dengan sopan "Kalau begitu saya izin pamit Tuan, Nyonya" Lanjut Tuan Lee.
"Silahkan" Jawab Bagas.
Setelah kepergian Lee Seung dan Mii Ran, Aurel menatap Bagas dengan tajam.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, gak mungkin Mas ngecewain kamu lagi" Bagas mengerti arti tatapan Aurel lalu mengelus pipinya.
"Kenapa gak minta bantuan Daddy?" Tanya Aurel.
"Mas bisa ngatasin masalah ini sendiri sayang" Ucap Bagas seraya menggiring Aurel menuju sofa untuk kembali duduk.
"Gimana caranya? cara satu-satunya hanya menikahi wanita itu. Apa emang Mas mau?" Sengit Aurel.
"Yaampun sayang, gak lah. Jangan khawatir, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Dan satu hal yang harus kamu tau! Mas gak akan bagi cinta Mas untuk wanita lain lagi, camkan itu" Ucap Bagas.
"Yayaya." Jawab Aurel.
"Kamu sama siapa kesininya?" Tanya Bagas.
"Naik taxi" Jawab Aurel membuat Bagas menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kenapa gak minta anter supir sih?" Tanya Bagas.
"Gak sempet Mas. Tadi buru-buru kan" Jawab Aurel.
"Buru-buru kenapa?" Tanya Bagas.
"Ya buru-buru pengen kesini. Niatnya mau kasih kejutan eh malah akunya yang terkejut" Jawab Aurel dengan kekehannya.
"Oiya Mas kenapa anak itu ganti nama jadi Mii Ran?" Tanya Aurel.
"Entahlah mungkin namanya Miirandea" Jawab Bagas dengan polosnya.
"Miranda maksud Mas? hahaha, buat semir rambut dong" Ucap Aurel.
"Terus kenapa bisa jadi anak orang korea?" Tanya Aurel.
Bagas mengangkat kedua bahunya "Mana saya tau, saya kan suami anda" Jawab Bagas.
"Cih" Aurel hanya berdecih saja.
"Kenapa kamu disini? dokter udah kasih izin? emang itunya udah gak perih lagi?" Tanya Bagas.
"Perih sih mangkanya jalannya harus hati-hati, tapi aku gak apa-apa kok" Jawab Aurel.
"Kamu itu ya nekat banget. Kalo ada apa-apa gimana coba. Udah mah kamu pake taxi kesininya, emang kamu gak takut ka____"Ucapannya terpotong saat Aurel membungkam mulut Bagas dengan mulutnya. Saat Aurel akan menjauhkan wajahnya, tiba-tiba Bagas menahan tengkuk leher Aurel dan memperdalam ciumannya.
"Pak ada banyak perusahaan yang mer___" Aji tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia membelalakkan matanya saat melihat pemandangan dihadapannya.
Bagas dengan cepat melepaskan ciumannya.
"Maafkan saya Pak. Silahkan lanjutkan" Ucap Aji sambil berlalu meninggalkan ruangan Bagas.
"Ampunnn emakkk!!! mata anakmu ini ternodaii" Gumam Aji sambil menutup matanya dengan rapat.
Setelah kepergian Aji, Aurel menatap Bagas dengan tajam dan memukuli bahu Bagas.
"Kamu itu gila Mas!?" Ucap Aurel.
Bagas menahan tangan Aurel yang sedang memukulinya lalu kemudian memeluknya erat "Hahaha maafin Mas, lagian kamu sendiri yang mulai loh bukan Mas. Mana bisa Mas nolak" Kekeh Bagas.
Bagas melepaskan pelukannya dan mengusap tepi bibir Aurel "Ayok ke rumah sakit lagi. Gak baik lama-lama diluar kamu tuh" Ucap Bagas.
"Bosen akutuh Mas" Keluh Aurel. "Mana Vano belum bisa keluar dari Incubator lagi" Lanjutnya.
"Tapi kamu harus rehat dulu sayang. Lebih lama kamu istirahat, lebih cepat sembuhnya" Ucap Bagas.
"Aku gak sakit Mas" Ucap Aurel.
"Udah ayok jangan banyak omong. Sekalian Mas mau liat Vano, tadi pagi Mas gak sempet nengok" Ucap Bagas seraya mengambil jas di kursinya.Aurel masih bersandari di sofa dengan memainkan ponsel Bagas.
"Sayang ayok" Ucap Bagas.
"Iyaiya" Dengan malas Aurel berdiri dan mengikuti Bagas.
Saat keluar dari ruangannya otomatis melewati ruang kerja Aji. Aji hanya menundukkan kepalanya.
"Lain kali ketuk pintu dulu baru masuk" Tegas Bagas.
"Maafkan saya Pak, saya tidak tau" Jawab Aji.
Aurel menarik tangan Bagas untuk segera pergi dari tempat itu, bagaimanapun juga Aurel pasti malu mengingat adegannya dilihat oleh orang lain.
"Kamu juga salah Mas!" Ketus Aurel.
"Salah apa coba, kamu yang mulai juga" Ucap Bagas.
"Yayaya" Aurel memilih untuk jalan mendahului Bagas.
Sepanjang perjalanan banyak yang menyapa Bagas dan Aurel, tidak semua tau jika Bagas sudah menikah, tapi tidak sedikit pula yang sudah mengetahuinya.
Setelah sampai di rumah sakit, Bagas dan Aurel memutuskan untuk langsung menemui Vano. Mereka melihat Vano yang masih menutup matanya. Aurel menempelkan tangannya ke kaca tempat Vano terlelap. Air matanya terjatuh tanpa disadari, ia ingin seperti ibu-ibu diluaran sana, yang mana sudah bisa memeluk dan memberi ASI untuk anaknya.
Bagas mengerti apa yang dirasakan oleh Aurel, merangkul pundak Aurel dan mengusapnya dengan lembut.
"Sabar sayang, nanti akan ada waktunya" Ucap Bagas.
Aurel mengangguk lalu memeluk Bagas "Berapa lama lagi?" Tanya Aurel.
"28 hari lagi sayang, sabar ya" Ucap Bagas.
Aurel semakin terisak dalam pelukan Bagas. Bagas hanya bisa menenangkan Aurel dengan kata-katanya padahal dia sendiripun ingin seperti Ayah di luaran sana.
"Ayo ke kamar lagi" Bagas membawa Aurel kembali ke kamar inapnya. Aurel memang sudah tidak di infus namun tetap harus beristirahat disana.
***
Siang harinya,
Di tempat lain Vyan sedang berada di kantin sekolah bersama Rian. Rian adalah murid baru di kelasnya. Sikapnya sama dengan Vyan. Cuek dan tidak peduli pada keadaan di sekitarnya. Tapi entah mengapa jika sedang berdua mereka terlihat seperti dua orang yang berkepribadian ceria. Dari saling ledek, dan tertawa bersama. Semua murid di kelasnya sempat bingung pada Rian, bagaimana dia bisa meluluhkan sikap dingin Vyan hanya karena kehadirannya?.
"Oiya denger-denger Bunda Lo udah lahiran?" Tanya Rian.
Vyan memicingkan matanya kearah Rian "Tau dari mana Lo?" Tanya Vyan.
"Lo pikun? bokap gue dokter di rumah sakit milik keluarga Lo kali" Ketus Rian.
Vyan hanya mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh Rian. Memang benar, kedua orangtua Rian merupakan pekerja di rumah sakit. Ibunya sebagai resepsionis dan Ayahnya sebagai dokter umum.
"Lo pulangnya mau ke Bunda Lo?" Tanya Rian.
"Hemm, kenapa?" Ucap Vyan.
"Mobil gue di bengkel, gue nebeng ya. Arah bengkel sama rumah sakit sama kok" Ucap Rian.
"Hemm, tapi gue mau pulang dulu. Bawa banu ganti Bunda gue" Jawab Vyan.
"No problem" Jawab Rian.
Ketika sedang berbincang datang seorang wanita dengan rambut tergerai, ia langsung duduk di samping Vyan. Siapa lagi kalau bukan Tya! seorang murid yang mengagumi ketampanan Vyan.
"Hai" Ucapnya.
Vyan dan Rian saling pandang dan mengangkat kedua bahunya masing-masing. Mereka tidak menjawab sapaan Tya. Bahkan yang tadinya Vyan dan Rian sedang berceloteh mereka langsung memasang kembali mode hemat kata.
"Boleh gabung?" Tanya Tya.
"Gak dikasih izin juga udah duduk" Ketus Rian.
Terdengar dengusan pelan Tya "Kalian ini kenapa sih? gak bisa apa sedikit menghargai perempuan?" Ucap Tya.
"Terus mau lo?" Vyan mendekatkan wajahnya ke wajah Tya, tidak terlalu dekat tapi!.
"Ck. Males banget" Ketus Vyan yang langsung meninggalkan Tya, begitu juga dengan Rian yang ikut mengikuti Vyan.
"Gila!!" Gumam Tya sambil memegangi dadanya.
***
Di sisi lain Raka sedang bersiap untuk menjemput Amel, karena sejak tadi ia di telefon oleh wali kelas Amel.
"Mau kemana?" Tanya Diki.
"Jemput Amel, gue lupa udah lebih dari 10 menit" Raka langsung menyambar jas dan kunci mobil di atas meja.
"Balik lagi gak?" Teriak Diki.
"Nanti gue kabarin" Raka ikut berteriak karena jaraknya dengan Diki sudah agak jauh.
Raka langsung melajukan mobilnya menuju sekolah Amel, sebelumnya ia sudah mengabari wali kelasnya agar Amel tetap bersamanya.
Kini Raka sudah berada di halaman sekolah, ia melihat Amel yang sedang menunggunya di koridor kelas bersama wali kelasnya. Melihat kehadiran Raka, Amel tersenyum senang. Ia menyalimi wali kelasnya dan langsung berlari ke arah Raka.
"Daddyyy" Teriak Amel.
"Heyy,, maaf ya lama" Ucap Raka. Raka melihat ke arah wali kelas Amel dan membungkuk tanda ia berterimakasih padanya kerena telah menjaga Amel.
"Gak lama Dad. Aku juga baru keluar kelas. Daddy tau tadi aku menggambar" Ucap Amel.
"Iyakah? wahh hebat. Ayok ke mobil dulu, biar Dad liat gambarnya di mobil" Ucap Raka yang di anggukki Amel.
Setelah berada di dalam mobil, Amel mengambil buku gambar di dalam tas nya, dan kemudian menaruh tas nya di jok belakang. Amel membuka beberapa lembaran di buku gambarnya.
Sampai pada sebuah gambar yang membuat Amel tersenyum "Daddy lihat" Amel menunjukkan hasil gambarnya pada Raka.
"Ini Daddy, aku dan Mommy. Baguskan?" Tanya Amel.
"Mengapa Mommy pakai sayap?" Tanya Raka saat melihat gambar Zahra yang menggunakan sayap.
"Ibu guru bilang, Mommy akan jadi bidadari disana. Dan bidadari itu punya sayap, jadi aku bikin gini cantik kan?" Tanya Amel yang di anggukki Raka.
"Aku juga dapat bintang 5 Dad. Liat" Amel menunjuk kelima bintang yang dibuat oleh gurunya "Kata Bu Guru, gambar aku yang paling bagus" Lanjutnya.
"Pintarr" Raka mengecup pipi Amel.
"Mau makan dimana sayang?" Tanya Raka.
"Di rumah Dad, mau langsung tidur siang" Jawab Amel.
"Daddy enggak ke kantor lagi?" Tanya Amel.
"Enggak, kerjaan Dad udah selesai. Daddy juga ingin istirahat" Ucap Raka.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang karena ada kecelakaan tunggal yang membuat jalanan menjadi macet, akhirnya mereka sampai di mansion Raka. Raka menoleh ke arah Amel yang ternyata sudah memejamkan matanya. Raka turun dari mobil dan membukakan pintu, namun saat akan menggendong Amel, Raka merasakan tubuh Amel yang benar-benar panas.
Raka membenarkan lagi posisi Amel di dalam mobil, ia mengelus pipi Amel dengan lembut "Sayang,," Ucap Raka.
Amel sedikit membuka matanya. Matanya memerah, mungkin ia pusing.
"Kamu pusing sayang?" Tanya Raka yang di anggukki Amel. Lalu tak lama Amel menangis terisak. Raka tidak begitu terkejut dengan tangisan Amel, karena setiap Amel sedang tidak sehat ia selalu menangis bahkan bisa sampai seharian.
"Amel kenapa grandpa?" Tanya Vyan yang tiba-tiba ada di belakang Raka.
"Badan Amel panas,, kelihatannya pusing banget, grandpa akan membawanya ke rumah sakit" Ucap Raka.
"Abang ikut" Ucap Vyan yang dianggukki Raka.
"Eh gue gimana nasibnya?" Tanya Rian.
"Grandpa kita ke rumah sakit AS'Health kan?" Tanya Vyan pada Raka.
"Iya, tidak ada waktu lagi Bang. Kasian Amel" Ucap Raka.
"Ikut aja Yan, sekalian" Ucap Vyan. Rian mengangguk dan langsung duduk di belakang kemudi.
Vyan menggendong Amel dan menyandarkan kepala Amel di dadanya lalu ia duduk di samping Raka.
"Suttt, jangan nangis Nyil" Vyan mengusap-usap punggung Amel. Terasa basah karena keringat yang mengalir di dalam tubuhnya. Nafas panasnya menembus seragam yang dikenakan oleh Vyan.
"Grandpa ini panas banget. Gak biasanya Amel kayak gini" Ucap Vyan.
"Heem" Jawab Raka.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit. Raka langsung mengambil alih Amel yang ada di gendongan Vyan. Amel masih menangis dan mengeluarkan keringat di dahinya. Tanpa menunggu lama, Raka masuk ke dalam rumah sakit dan beruntungnya ia bertemu dengan Dokter Gerry yang juga Ayah dari Rian.
"Amel sakit, cepat periksa" Ucap Raka.
"Silahkan ikut saya Tuan" Dokter Gerry menunjukkan ruang periksa pasien. Raka membaringkan tubuh Amel di kasur kecil.
Dengan cekatan Gerry segera memeriksanya.
"Suhu tubuhnya sangat tinggi. Nona mengeluarkan keringat dingin. Sepertinya Nona terkena DBD Tuan" Ucap Dokter Gerry.
"Apa harus di rawat inap?" Tanya Raka.
"Benar Tuan, karena untuk pasien DBD harus memerlukan pengecekan trombosit setiap harinya" Jawab Dokter Gerry yang di anggukki Raka.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Raka, Dokter Gerry segera memanggil suster untuk membawa Amel ke ruangan khusus. Saat akan dipasangkan jarum infus, Amel menjerit dan terus memberontak.
"Sayang,, gak sakit kok. Ada Daddy disini" Ucap Raka.
"Gak mauu Daddyyy sakittt!!!!" Teriak Amel.
"Enggak sakit sama sekali sayang. Supaya kamu cepat sembuh" Ucap Raka.
"Gakk!!! hwaaaa!! Mommy, Amel takutt hwaaa!!!", Mendengar jeritan Amel yang memanggil nama Zahra membuat Raka meneteskan air matanya. Ia memeluk Amek dan menciumi kepalanya.
"Mau Mommyy hikss,, Mommy pulang hiks,," Kini Amel tidak menjerit, hanya saja ia terus menyembunyikan tangannya di balik bajunya.
Raka terus mengeluarkan air mata "Suttt,, udah-udah kalo gak mau gak apa-apa, maafin Daddy sayang" Lirih Raka.
Raka menoleh ke arah Gerry dan memberi isyarat untuk pergi dari ruangan itu, ia sendiri yang akan menangani Amel.
"Mommy hikss,, mommy pulang.. Amel sakit Momm.." Lirih Amel.
"Udah-udah ya, maafin Daddy sayang, maaf" Raka terus meminta maaf pada Amel.
"Daddy aku mau Mommy hikss.. Mommy.." Ucap Amel sambil terisak.
Raka terus menciumi puncak kepala Amel dan mengelus rambut Amel. Hingga tak lama sudah tidak terdengar suara Amel. Rakan membaringkan Amel lalu membenarkan rambut Amel yang berantakan. Ia mengelus pipi Amel.
"Maafkan Daddy sayang" Lirih Raka.
"Mo__mmy" Isakan Amel kembali terdengar namun matanya masih tertutup.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gak nangis lagi kan kalian?