Twins'

Twins'
16.



Bagas mengusap tengkuk lehernya dengan menampilkan senyum kecutnya " Hehe tadi kakak lagi nyari buku kuliah dek " ucapnya.


" Ishhhh, cepet beresin kak! Adek gamau tau!!. Mulai sekarang Vyan tidur ama adek! " tegas Aurel yang langsung meninggalkan Vyan.


" Hihh bisa berantakkan gini ya " gumam Bagas yang tidak sengaja di dengar oleh Aurel.


" Mangkannya nikah kak biar ada yang beresin hahahaha " ucap Aurel yang menyembulkan kepalanya di balik pintu.


Bagas melihat ke arah Aurel dan berniat menjahilinya


" Nanti nunggu kamu siap dek " jawab Bagas yang membuat Aurel membulatkan matanya


Aurel langsung berlari ke kamarnya untuk menghampiri Vyan, dia masuk kamar sambil memegang dadanya


" Bunda kenapa? " ucap Vyan yang melihat wajah Aurel.


" Ahh gapapa sayang, kenapa kamu yang beresin, sini biar bunda aja " ucap Aurel yang melihat Vyan sedang membereskan beberapa barangnya.


" Gapapa bunda lagian cuma sedikit doang kok barangnya " jawab Vyan yang masih membereskan barang Aurel.


Aurel tersenyum lalu menghampiri Vyan dan membantu membereskan barang-barangnya " Kamu selalu keras kepala sayang " ucap Aurel yang hanya di jawab dengan senyuman manis Vyan.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Aurel menuju dapur membuatkan susu untuk Vyan saat menuruni tangga dia melihat Neli yang keluar dari kamarnya.


" Neli " ucapnya.


Neli menoleh ke arah Aurel dan tersenyum " Haii " jawabnya.


" Kamu mau kemana Nel, ini udah malem banget loh " ucap Aurel yang sudah berada di hadapan Neli.


" Ohh ini aku mau bikin susu Rel " ucap Neli sambil menyodorkan susu sachet yang membuat Aurel mengernyitkan dahinya.


" Nelii.. Dirumah ini udah banyak susu, kamu gausah bawa susu ini lagi " ucap Aurel sambil mengambil susu di tangan Neli.


" Ahh maaf Rel, biasanya aku membuatnya dengan itu " ucap Neli.


" Gapapa, yuk " ajak Aurel.


Saat sampai dapur Neli memandang takjub pada seisi dapur itu yang menurutnya sangat lengkap seperti di drama-drama korea yang pernah dia tonton.


" Neli berhenti melamun, mari bikin susunya aku juga mau bikin buat Vyan " ucap Aurel yang menyadarkan Neli.


Setelah membuat susu, Aurel dan Neli kembali ke kamarnya masing-masing.


" Sayang " ucap Aurel saat sudah ada di dalam kamarnya dan melihat Vyan sedang memainkan laptop.


" Udah malem, berhenti maen laptop itu!! Gabaik buat mata kamu " tegas Aurel yang membuat Vyan segera mematikan laptop dan menyimpannya di atas nakas.


" Maaf bunda " lirih Vyan.


" Gapapa, minum ini dulu " ucap Aurel memberikan susu yang ada ditangannya.


" Thank you bundaa " jawab Vyan.


~


Pagi hari Zahra bangun lebih dulu untuk menyiapkan sarapan suaminya, dia melihat sudah banyak makanan yang tersedia di meja makan.


" Biii " ucap Zahra memanggil Bi Inah.


" Iya Nyonya " jawab Bi Inah.


" Ini kenapa banyak banget masaknya " ucap Zahra sambil menunjuk semua makanan yang ada di meja makan.


" Ah itu nyonya tu_ " ucapannya terpotong karena mendengar teriakkan dari seseorang, siapa lagi jika bukan Raka sang suaminya.


" Sayangg !!!! " teriak Raka.


" Kenapa sih dia, perasaan minggu-minggu ini dia udah ga ngidam lagi deh " gumam Zahra.


" Mommyyy!!!! " teriaknya lagi.


" Iya bentar dadddd!!! " ucap Zahra yang ikut teriak.


Mendengar teriakkan kedua orangtuanya itu Aydan dan Aurel membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk di balik gorden.


" Ada apasihh " ucap Aurel dengan suara khas bangun tidurnya.


Sedangkan di kamar Aydan dia langsung membersihkan dirinya dan menuju meja makan. Terlihat disana sudah banyak makanan yang tersedia.


" Pagi Bi " sapa Aydan pada Bi Inah.


" Pagi den " jawabnya.


" Mommy tadi udah turun bi? " tanya Aydan.


" Sudah den, nyonya masuk lagi ke kamar saat mendengar teriakkan tuan " jelas Bi Inah yang hanya dianggukki oleh Aydan.


Setelah Bi Inah pamit, tak lama Aurel dan Vyan keluar dari kamarnya dan menghampiri Aydan di meja makan.


" Morning kak Ay " ucap Aurel dengan mencium pipi kanan dan kiri Aydan. Aydan tidak merasa risih atau apapun, malah jika dia bertemu dengan Aurel tanpa menyiumnya terasa ada yang aneh.


" Morning too lia " jawab Aydan yang membalas dengan mencium pipi Aurel. " Morning my Boyy " sambung Aydan yang juga mencium pipi Vyan namun membuat Vyan dengan cepat menjauhkan dirinya.


" Kak Ayy ishhhhh " ucap Vyan dengan menghapus bekas ciuman Aydan. Ia memang tidak suka di cium orang lain selain Aurel saja.


" Cih. Kau selalu saja begitu " kesal Aydan.


" Kak Ay, yang boleh nyium aku tuh cuma bunda aja. Galebih ya " ucap Vyan yang penuh penekanan.


" Hihhh dasar " gumam Aydan.


" Dah lah ngapain pada ribut gini sih yaampun. Kak aku mau ke kamar Neli dulu " ucap Aurel yang langsung meninggalkan Aydan dan Vyan.


Saat sampai di depan kamar Neli, Aurel langsung mengetuk pintunya karena ia tidak berani langsung masuk. Karena ia takut Neli sedang melakuman sesuatu yang privat.


Mendengar suara ketukkan di pintunya, Neli langsung berjalan dan membuka pintu. Dia melihat Aurel dengan wajah fresh nya.


" Hai " sapa Neli.


" Neli, ayok sarapan " ajak Aurel.


Aurel duduk di sisi ranjang, melihat Neli yang sedang menyisir rambutnya. Tak lama akhirnya Neli selesai dengan kegiatannya dan mereka keluar menuju meja makan, disana sudah terlihat kedua orangtua Neli.


" Pagi om tante " ucap Aurel.


" Pagii nak " ucap keduanya karena mereka sudah menganggap Aurel seperti putrinya sendiri.


" Pagii Aunty " ucap Vyan yang melihat Neli.


" Hayy,, pagi Vyan " jawab Neli sambil mengelus pipi Vyan.


" Aunty cantik, sama kayak bunda " ucap Vyan.


" Kau ini " ucap Aydan sambil memukul pelan lengan Vyan


" Masih kecil udah bisa menggoda perempuan " sambungnya.


" Kak Ay ini bukan menggoda, tapi memberi pujian " ketus Vyan.


" Sama aja kali " ucap Aydan yang membuat Aurel memelototkan mata ke arahnya.


" Mommy sama daddy belum turun kak? " ucap Aurel.


" Belum dek daritadi " jawab Aydan.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Zahra dan Raja keluar dari kamarnya.


" Mom dad " ucap Aydan dan Aurel sambil menghampiri kedua orangtuanya.


Zahran dan Raka sangat terkejut melihat kehadiran kedua anaknya itu " Kebiasaan kalian nih, pulang ga bilang-bilang " ketus Zahra.


" Sorry mom dad " ucap Aydan dan Aurel yang langsung memeluk keduanya.


" Udah nanti lagi sesi tanya jawabnya, sekarang mending sarapan dulu " ucap Raka.


Akhirnya mereka menuju ke meja makan, terlihat Neli dan kedua orangtuanya menundukkan kepalanya. Mereka takut jika keluarga Aurel tidak menerima kehadirannya.


" Mereka siapa dek " bisik Zahra pada Aurel.


Aurel hanya tersenyum saja, setelah semuanya sudah duduk Aurel memperkenalkan Neli pada kedua orangtuanya.


" Mom kenalkan ini Neli dan keluarganya, dia sahabatku di negara x " ucap Aurel. " Neli tegakkan kepalamu " sambung Aurel sambil memegang tangan Neli yang berada tepat di sampingnya.


Neli menegakkan kepalanya dan menatap kedua orangtua Aurel " Ha..ai Tante " ucap Neli dengan gugup.


Zahra hanya tersenyum dan mengelus rambut Neli, dia melihat kearah kedua orangtua Neli yang masih tetap menundukkan kepalanya." Bu, pak tegakkan kepala kalian. Jangan sungkan dengan kami " ucap Zahra.


* Suara ini * batin ibu Neli.


Dengan cepat ibu Neli menegakkan kepalanya dan melihat seseorang yang menyapanya.


" Ara !!! "


" Ima !!! "


ucap Ibu Neli dan Zahra berbarengan, mereka sangat terkejut bukan main saat melihat siapa yang ada dihadapannya. Kemudian mereka berdiri dan saling memeluk membuat semua yang ada disitu bingung kecuali Raka dan ayah Neli.


" Aku sungguh merindukanmu " ucap Zahra pada Rima.


Ya yang ada dihadapan Zahra adalah Rima, sahabatnya. Mereka berpisah saat Rima pergi dari Indonesia dan menetap di negara x.


" Akupun merindukanmu " jawab Rima.


" Ehemmm " dehem Raka yang membuat dua wanita yang sedang berpelukkan itu melepaskan pelukkannya dan menatap Raka. " Kau tidak merindukanku? " sambungnya pada Rima.


" Tentu saja aku merindukan playboy sepertimu ini " jawab Rima.


Raka langsung menghampiri dan memeluk Rima sekilas karena dia menghormati suami Rima.


" Ehemm " sekarang giliran Aydan, Aurel dan Neli yang berdehem karena mereka bingung tentang hubungan orangtuanya itu.


Akhirnya Raka menyuruh semua yang ada disitu untuk makan dan akan melanjutkan perbincangannya setelah makan selesai. Tapi saat akan makan Aurel baru menyadari jika Bagas tidak ada di meja makan.


" Dad lia mau liat kak Tian dulu di kamarnya ya " bisik Aurel pada Raka yang dibalas dengan anggukkan saja.


Aurel langsung membuka kamar Bagas yang ada di lantai dasar, saat membuka pintu dia sama sekali tidak melihat Bagas di tempat tidurnya.


Aurel masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan Bagas tanpa suara, dia mendengar suara isak tangis dari arah balkon. Dengan cepat Aurel melihatnya, dan benar saja ternyata Bagas sedang duduk di balkon seraya memandang foto mendiang ibunya.


Aurel mengerti perasaan Bagas saat ini, dia berniat dalam hati untuk menemani Bagas berziarah ke makam ibunya hari ini.


" Kak Tian " ucap Aurel sambil memeluk Bagas dari belakang dan kepalanya disimpan di bahu Bagas.


" Hal yang paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang sudah dipanggil Tuhan " sambungnya.


Tangis Bagas semakin pecah saat kehadiran Aurel dan mendengar ucapan Aurel yang menurutnya sangat mewakili perasaannya saat ini.


" Adek tau kakak rindu sama ibu, tapi kakak gaboleh gini. Ibu udah tenang di alam sana, ibu pasti sedih kalo liat kakak nangis gini. Kakak dibesarkan oleh ibu agar menjadi sosok lelaki yang kuat seperti ayah. Fighting kak, kakak pasti kuat " ucap Aurel yang juga meneteskan air matanya.


Bagas tidak mengeluarkan sepatah katapun, dia hanya terisak dalam tangisnya. Merindukan sosok yang sudah Tuhan panggil memang sangat menyakitkan, pikir Bagas.


Aurel memutar bangku yang di pakai Bagas dan menyamakan posisinya. Dia menghapus air mata yang terjatuh di pipi Bagas.


" Kau tidak tidur kak? " ucap Aurel yang melihat mata Bagas membengkak seperti habis menangis semalaman.


Bagas tidak merespon pertanyaan Aurel, dia masih sibuk memandang foto ibunya hingga dengan terpaksa Aurel merampas foto itu. " Kakak aku tau kakak merindukan ibu! Tapi setidaknya kakak jangan menyakiti diri kakak sendiri. Kau harus tetap sehat agar cita-cita ibu terwujud !. Dengarkan aku kak! kakak boleh merindukan ibu tapi tidak dengan cara ini! Apa kakak pikir ibu akan senang melihat kakak dengan kondisi seperti ini?. Berhenti bersikap bodoh kak!. Masih ada orang yang membutuhkan kakak! Termasuk aku!! " ucap Aurel dengan sedikit meninggikan suaranya.


Bagas menatap Aurel ketika mendengar ucapan terakhirnya.


* Apa benar dia membutuhkanku? * batin Bagas.


Aurel bangkit dari posisinya dan berniat untuk meninggalkan Bagas namun suara Bagas menghentikan langkahnya.


" Kumohon temani aku sekarang, aku sangat membutuhkan seseorang " lirih Bagas.


Aurel menatap Bagas dan kembali ke hadapan Bagas. Saat sudah dihadapannya, dengan cepat Bagas memeluk Aurel hinggak posisi kepala Bagas berada di perut Aurel.


Dia memeluk Aurel sangat erat seolah tidak ingin kehilangan sosok wanita dihadapannya itu.