
Aurel menatap Vyan dengan mata yang berkaca-kaca dan langsung meninggalkan Vyan dan Bagas begitu saja.
" Ayah apa Vyan ada salah sama Bunda? " tanya Vyan karena dia tidak mengerti mengapa Aurel menangis.
" Tidak sayang, mungkin Bunda sedang ada masalah. Biar Ayah yang bujuk Bunda nanti " ucap Bagas.
" Baiklah Ayah, Vyan ke kamar dulu Yah " ucap Vyan yang di anggukki Bagas.
Bagas membawa piring yang berisikan lauk makanan untuk Aurel. Dia menaiki tangga dan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu.
" Sayang " ucap Bagas, dia menghampiri Aurel yang sedang duduk dan menyandarkan tubuh di ranjang sambil memainkan ponselnya, terlihat sesekali air matanya menetes.
" Kamu kenapa hemm? " ucap Bagas dengan mengecup kening Aurel.
" Apa Vyan ga bahagia kalo Lia yang ngurusnya? Kenapa dia lebih seneng sama Mommy dan Daddy? Lia udah sering bilang sama dia kalo Lia gamau kehilangan dia. Lia kurang apalagi sama Vyan Kak hiks... " ucap Aurel dengan isakkannya.
" Sayang bukan gitu maksud Vyan. Mungkin Vyan mau jadi anak yang mandiri, mangkannya dia gamau tinggal sama kamu. Lagian kita masih bisa ketemu dia kalau kamu mau " ucap Bagas.
" Kenapa harus mandiri, sedangkan umurnya masih kecil. Di umur segitu harusnya dia nasih butuh bantuan Lia "
" Justru itu. Vyan mau mandiri dari kecil. Kalau Vyan tinggal sama kamu pasti Vyan selalu dimanja. Dia gabakal jadi mandiri sayang. Beda kalau sama Mom dan Dad, mereka mengajari Vyan buat mengurus dirinya sendiri walaupun masih dalam pantauan mereka "
" Jadi disini aku yang salah? Aku yang bikin Vyan jadi anak yang ga mandiri! "
Bagas merangkup Aurel ke dekapannya dan mencium puncak kepala milik Aurel untuk meredakan emosinya.
" Sayang, tidak ada yang salah sekarang ini. Yang pertama kamu sudah merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang. Dan yang kedua seperti yang aku katakan, Vyan mau jadi anak yang mandiri. Kamu tau sendiri bukan jika besar nanti dia akan membawa ibu kandungnya bersamanya. Dia mungkin khawatir kalau sama kamu terus bakal bikin dia ketergantungan sama bantuan yang kamu tawarkan. Kamu ngerti sekarang kan? "
Aurel mengangguk dan mempererat pelukkannya.
" Aku mau makan diluar. Kita beresin barang-barangnya biar abis makan kita langsung ke rumah itu " ucap Aurel.
" Apapun untuk istri kecilku ini, lets go "
Aurel merapikan barang-barangnya dan di bantu oleh Bagas. Setelah menyelesaikan pekerjaannya mereka pergi ke depan gedung karena pasti keluarganya sudah menunggu disana.
" Mau berangkat sekarang kak? " ucap Zahra.
" Iya Mom sekalian mau makan di luar " jawab Aurel.
" Loh kalian belum makan? "
" Belum Mom tadi ada acara ngambek-ngambekkan dulu ya ga sayang " ucap Bagas.
" Ahhhh " rengek Aurel.
" Kalian itu baru juga kemarin nikah kenapa udah ada acara ngambek talk show sih, tapi gaada yang ngeluarin parang kan? " ucap Raka.
" Gaada Dad cuma tadi dia bawa-bawa selang " ucap Bagas.
" Selang? mau ngapain bawa-bawa selang segala? "
" Nyebokkin kuda " ketus Aurel.
Mendengar Aurel membicarakan kuda membuat Aydan mengedikan bahunya, dia merinding jika membayangkan hewan itu.
" Kakak kenapa? " ucap Aurel.
" Kebelet pipis kamu kak? " ucap Raka.
" Kerasukan maung? " ucap Zahra.
" Ga mungkin kan kalo kakak ayan? " ucap Amel dengan serius yang membuat semua orang tertawa.
" Sue banget punya adek satu ini. Mana ada ganteng-ganteng gini ayan " gerutu Aydan.
" Lagian ngapain begituan. Kayak cacingan aja " ucap Amel dengan memperagakan gerakan Aydan barusan.
" Heh gagitu juga ya, kamu berlebihan " dengus Aydan.
" Gaada berlebihan, emang gitu tadi. Dengan ekspresi gini nih " Amel kembali memperagakkan gerakan tadi ditambah ekspresi ketika seseorang merasa jijik.
" Bener-bener bukan adek gue itu "ucap Aydan.
" Ish lagian siapa juga yang mau jadi adek Kakak. Kakak aku cuma satu, Kak Lia doang " dengus Amel.
" Udah-udah, ngeliatin kalian debat gini gabakal ada habisnya. Ayok jalan " ucap Raka.
" Jalan Dad ga pake mobil? " ucap Aydan yang mencoba untuk membuat candanya lagi.
Sebelum memasuki mobilnya Aurel menghampiri Zahra dan Raka.
" Mom Dad, Lia pergi ya " ucap Lia dengan tetasan air matanya.
Zahra merentangkan tangannya agar Aurel memeluknya.
" Sayangi suamimu sebagaimana kamu menyayangi Daddy. Dia sekarang yang memegang tanggung jawab Daddy untuk melindungimu, maka kamu harus menerima tanggung jawab mertua mu untuk mengurusnya " bisik Zahra di pelukan Aurel dan dianggukki oleh Aurel.
Aurel melepaskan pelukkannya dan beralih memeluk Raka.
" Daddy terimakasih karena sudah menjaga Lia selama ini " bisik Aurel.
Raka mengelus punggung Aurel dan tanpa terasa dia ikut meneteskan air matanya.
" Berbaktilah pada suamimu sayang, lihatlah bagaimana cara Mommy mu berbakti pada Daddy. Daddy yakin sikap Mom pasti turun padamu. Dan jika dia menyakitimu, cepatlah datang pada Daddy, Dad akan selalu ada untukmu. Karena kamu masih menjadi gadis kecil yang selalu manja pada Daddy. Kamu paham sayang? " bisik Raka yang dianggukki Aurel.
Aurel melepaskan pelukannya dan menatap Aydan yang juga tengah menatapnya.
" Kak Ay " Aurel merentangkan tangannya.
" Terimakasih karena telah membantu Daddy menjaga Lia selama ini " bisik Aurel.
" Kau adik ku, tentu saja aku harus menjaganya. Aku akan menjagamu dan Amel layaknya menjaga Mommy " bisik Aydan.
Dan setelah memeluk Aydan, Aurel langsung mensejajarkan posisinya dengan Vyan, dia menangkup wajah Vyan dan mengelus lembut pipinya.
" Bunda izinkan kamu tinggal dengan Grandma dan Grandpa. Tapi kamu harus janji jika Bunda merindukanmu, kamu harus mendatangi Bunda " ucap Aurel.
Vyan tersenyum dan mengecup pipi Aurel dengan lembut.
" Bunda adalah hal terpenting di hidupku. Kapanpun dan dimana pun aku akan selalu ada untuk Bunda jika Bunda merindukanku " ucap Vyan.
" Kak Lia ga mau peluk Aku? " ucap Amel yang sudah meneteskan air matanya, entah karena apa.
" Sini sayang " Aurel merentangkan tangannya.
" Amel, kakak titip Mom and Dad, kabari kakak jika sesuatu terjadi pada kalian. Kamu tau kan harus berbuat apa "
" Iya Kak, Amel akan menjalankan tugas kakak " Amel mencium pipi kiri Aurel dengan sangat lembut dan sedikit lama.
Setelah berpamitan akhirnya mereka memasuki mobilnya masing-masing. Raka dengan Zahra, Aurel dengan Bagas, dan Aydan dengan Amel dan Vyan.
Di dalam mobil terlihat Aurel selalu memandangi keluar jendela dengan tatapan sendunya..
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
***I'm comebackš¤§
Waiting for your Vote this story ā„ļø
.
.
.
.
Salam tomatoš ā„ļø***