
Sore harinya Aurel terbangun saat Vyan menggoyangkan tanganny "Kenapa Bang?" Tanya Aurel.
"Bunda kenapa tidur disini? emang kamar Bunda kenapa?" Tanya Vyan.
"Ah enggak, tadi Bunda ketiduran. Vano seneng tidur disini kayaknya" Ucap Aurel seraya melirik Vano yang sudah membuka matanya ternyata.
Aurel beranjak dari tempat tidur Vyan "Abang udah makan?" Tanya Aurel.
"Belum Bun. Aku baru selesai mandi" Vyan merebahkan tubuhnya disamping Vano dan menciumi wajah Vano.
"Bunda buatin makan ya, Abang jaga Vano sebentar" Ucap Aurel yang dianggukki Vyan.
Aurel menyiapkan makan untuk Vyan. Ia tidak perlu membuatnya karena ternyata Bi Ira sudah memasak untuk sore ini. Aurel mengambil piring dan menuangkan nasi dengan lauknya, tak lupa membawa air putih lalu kembali ke kamar Vyan.
"Bang.. Makan dulu" Ucap Aurel.
"Iya Bun" Vyan segera duduk di sofa dan memakan makanan yang dibawa Aurel.
"Bunda sakit??" Tanya Vyan saat melihat wajah Aurel yang pucat.
"Abang, kalo lagi makan diem!" Tegas Aurel yang dianggukki Vyan. Dengan cepat Vyan menghabiskan makanannya.
"Bunda sakit?" Kini Vyan bertanya setelah makanannya habis.
Aurel menatap Vyan dengan Vano yang sudah digendongnya "Enggak Bang. Mungkin kecapean doang, Bunda baru istirahat" Jawab Aurel.
"Kamu bawa piringannya sendiri ya. Bunda mau mandiin Vano" Ucap Aurel.
"Ya Bund"
Dengan terpaksa Aurel memasuki kamarnya dan kembali meneteskan air matanya saat melihat wajah Bagas di foto pernikahan mereka. Aurel segera membawa Vano ke kamar mandi dan mulai memandikannya.
***
Malam hari Aurel tidak bisa tidur karena Bagas belum juga pulang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam namun Bagas benar-benar tidak mengirimkan pesan untuk Aurel. Kali ini Aurel menunggu Bagas di ruang tengah. Ia terus menatap pintu rumahnya, menunggu suaminya pulang.
Hal yang paling ia takutkan yaitu tentang pesan yang dikirimkan seseorang untuk Bagas. Apa Bagas benar-benar menghabiskan malamnya dengan wanita lain?. Aurel mencoba menepis pikiran negatifnya. Walaupun tadi siang ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Bagas sedang bersama wanita lain, tapi Aurel tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya.
Sampai tanpa sadar ia tertidur di sofa dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya.
Sampai pada cahaya silau yang menembus kelopak matanya membuat Aurel terbangun. Ia melihat pintu terbuka dan penampakan gagah yang sedang ia tunggu. Senyuman manis terbentuk di bibirnya. Aurel menghampiri Bagas dengan wajah bahagia namun seketika langkahnya terhenti saat melihat bekas lipstik di leher jenjang milik suaminya.
"Heyy sayang, kamu kenapa?" Bagas terlihat khawatir lalu menghampiri Aurel dan menangkup wajahnya.
"Kenapa hemm?" Tanya Bagas.
Aurel menggeleng dan langsung memeluk Bagas. Tidak ada alasan lain selain ingin mencium aroma tubuh suaminya. Benar saja apa yang Aurel pikirkan. Aurel kembali mencium aroma parfum yang sama saat berada di ruangan kerja Bagas di baju Bagas. Aurel ingin sekali mencaci maki suaminya saat ini juga namun itu tidak mungkin. Aurel menarik nafasnya lalu melepaskan pelukannya.
"Ayo masuk" Ajak Aurel yang dianggukki Bagas.
Setelah masuk kedalam kamarnya Bagas langsung membersihkan tubuh dan Aurel menyiapkan bajunya. Aurel menyandarkan tubuhnya di sandaran kasur, ia melirik jam dinding dikamarnya. Jarum pendek dan jarum panjangnya tepat berada di tempat yang sama. Menujukkan pukul 3 dini hari. Tak lama Bagas keluar dari kamar mandi dan memakai baju yang sudah disiapkan oleh Aurel.
"Mau makan Mas?" Tanya Aurel.
Bagas menggelengkan kepalanya "Tadi udah makan diluar yang" Jawabnya. Setelah memakai bajunya Bagas segera naik ke tempat tidur dan memeluk perut Aurel.
"Tidur sayang. Maaf udah buat kamu nunggu" Lirih Bagas. Rupanya Bagaspun seperti kelelahan.
"Mas aku boleh tanya?" Ucap Aurel.
"Gak bisa besok yang? aku ngantuk banget" Jawab Bagas.
"Satu pertanyaan aja" Ucap Aurel yang dijawab dengan deheman Bagas.
"Kenapa Mas pulang selarut ini? selama ini Mas gak pernah kayak gini. Paling malem Mas pulang jam 12" Ucap Aurel.
"Tadi ada pertemuan mendadak yang" Ucap Bagas.
"Gak ada alasan yang lain kan?" Tanya Aurel.
"Maksud kamu?" Ucap Bagas.
Aurel menggelengkan kepalanya "Gak apa-apa. Tidur Mas, maaf ganggu waktu istirahat Mas. Night Hubby" Aurel merebahkan tubuhnya di samping Bagas namun ia membelakangi Bagas. Beberapa menit berlalu bantal Aurel sudah dibasahi oleh air matanya. Ia mengatupkan mulutnya agar tidak menimbulkan suara tangis yang bisa saja membangunkan Bagas.
Apa wanita itu sudah merebut posisiku dihatimu Mas?, Rasanya ia ingin menjerit saat ini juga.
Hingga akhirnya ia ikut tertidur disamping Bagas.
Pagi ini Aurel bangun kesiangan, mungkin karena waktu istirahatnya terganggu jadi ia merasa lelah dan pusing saat bangun dari tidurnya. Aurel melirik kesampingnya dan tidak menemukan Bagas. Ia mengecek kamar mandi tapi Bagas tidak ada disana. Akhirnya Aurel membersihkan dirinya lalu turun ke dapur. Ternyata di meja makan sudah tersedia makanan untuknya. Vyan sudah tidak ada di kamarnya, mungkin sudah berangkat beberapa menit yang lalu.
"Bi liat Mas Tian?" Tanya Aurel pada Bi Ira yang sedang membersihkan ruang tengah.
"Eh itu Non tadi Den Bagas berangkat buru-buru. Katanya ada urusan mendadak" Ucap Bi Ira.
Aurel hanya mengangguk "Vyan udah berangkat?"
"Baru aja berangkat Non. Tadinya mau bangunin Non tapi gak tega pas liat Non kayak yang kelelahan" Ucap Bi Ira.
"Makasih Bi" Ucap Aurel yang dianggukki Bi Ira.
Ketika sedang bersarapan Aurel terkejut saat mendengar suara tangisan Vano yang begitu kencang. Tanpa pikir panjang, Aurel langsung berlari ke kamarnya dan melihat Vano.
"Suttt sayang kenapa. Ini bunda emmm" Aurel mengais Vano dsn menimang-nimang namun tangisannya tak kunjung reda. Ia berfikiran untuk menemui Bagas namun kemudian ia menggelengkan kepalanya.
Aku gak mau nemuin lagi bukti bahwa Mas Tian selingkuh. Cukup sampai tadi malam untuk yang terakhir kalinya. Biarkan aku pura-pura tidak mengetahui hal itu, Batin Aurel.
Aurel pergi keluar rumah untuk menjemur Vano. Karena tangisan Vano semakin kencang akhirnya Aurel memutuskan untuk membawa Vano keluar rumah. Saat mengelilingi kompleks banyak warga yang menyapanya. Menatap takjub pada Vano yang memiliki wajah yang tampan.
Hingga saat matahari mulai menyemburkan cahaya panasnya, Aurel kembali ke rumahnya. Aurel masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Menatap wajah polos Vano mengingatkannya pada Bagas.
"Seburuk apapun sikapnya, dia tetap suamiku dan Ayah dari anak-anakku" Gumam Aurel.
Aurel tersenyum getir saat mengingat kejadian semalam. Apa Tuhan sedang menguji kekuatan rumah tangganya? tapi kenapa sesakit ini Tuhan?, pikir Aurel. Berulangkali Aurel mengusap air matanya yang terus mengalir di pipinya. Ia menciumi wajah Vano dengan deraian air mata. Aurel meraih ponselnya di atas nakas, ia mencari nomor seseorang di ponselnya dan langsung menghubunginya.
'Hallo kak, kenapa?' Tanya Raka di seberang sana.
"Daddy sehat?"
'Alhamdulillah sehat kak'
"Emm Dad,, ada yang mau Lia bicarain" Setelah tadi berpikir panjang Aurel memutuskan untuk menceritakan masalahnya pada Raka.
'Kamu kenapa kak?'
'Daddyy ayok aku udah siap' Terdengar suara Amel di seberang sana.
'Bentar sayang ini kak Lia lagi telefon'
"Daddy pergi aja sama Amel. Nanti Lia bicaranya kapan-kapan saja"
'Maaf kak, nanti setelah makan dengan Amel, Daddy telfon lagi ya. Assalamualaikum'
"Waalaikumsallam" Aurel langsung mematikan ponselnya. Ia menghela nafas panjang. Mengatur irama memburu yang berasal dari dadanya. Menahan perih dan sakit sekaligus. Matanya terpejam, tangannya bergerak tak tentu arah. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan turun menemui Bi Ira yang sedang bersantai di teras rumah bersama Mang Tanu.
"Bii" Panggil Aurel yang membuat Bi Ira dan Mang Tanu terlonjak kaget. Tadi samar-samar aku mendengar perbincangan hangat antara keduanya. Mereka membicarakan tentang keinginan Cesa untuk melanjutkan pendidikannya di Korea.
"Non. Ada yang bisa bibi bantu?" Tanya Bi Ira.
"Enggak Bi. Lia cuma mau ngobrol santai sama Bibi" Ucap Aurel.
"Yaudah kalau gitu Amang pamit dulu Non, permisi" Mang Tanu langsung peka dan meninggalkan Aurel dan Bi Ira.
"Ada apa Non?" Tanya Bi Ira. Kini keduanya sudah duduk di kursi kayu yang tidak berjauhan.
"Emm.. Lia mau nanya yang sedikit private Bi, boleh?" Tanya Aurel.
"Silahkan Non, Bibi akan jawab dengan sejujur-jujurnya" Jawab Bi Ira.
"Bibi udah berapa tahun menikah?" Tanya Aurel.
"Sekitar 18 tahun, kenapa Non?" Tanya Bi Ira.
"Pasti Bibi udah ngerasain naik turunnya kondisi rumah tangga kan?"
"Tentu Non"
Aurel sedikit mendekatkan dirinya ke Bi Ira "Apa Mang Tanu pernah selingkuh Bi?" tanya Aurel yang membuat mata Bi Ira terbelalak.
"Sejauh ini Alhamdulillah gak pernah Non. Lagian siapa yang mau sama Mang Tanu yang jelek itu" Jawab Bi Ira yang menimbulkan gelak tawa keduanya.
Bi Ira menatap Aurel "Apa aden selingkuh Non?" Bi Ira bertanya dengan ragu.
Pass!!. Ternyata Bi Ira memahami arti dari pertanyaan Aurel. Aurel mengalihkan pandangannya keluar rumah. Rasanya lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan Bi Ira.
"Kalau dilihat-lihat Aden itu gak mungkin selingkuh Non. Soalnya Aden udah bener-bener cinta sama Non. Tapi itu dari pandangan Bibi, Bibi gak tau juga aslinya gimana" Ucap Bi Ira memecah keheningan.
Aurel kembali menatap Bi Ira "Apa yang harus Lia lakuin kalau Mas Tian bener-bener selingkuh Bi" Lirihnya.
"Non harus kuat. Non harus buktiin kalau hanya Non yang pantas untuk Aden. Non juga coba berpikir positif. Jangan membuat hal kecil menjadi masalah dalam rumah tangga. Hubungan rumah tangga itu bukan hanya sah dimata negara, tapi juga agama. Saat ijab qobul bukan hanya disaksikan para hadirin saja tapi Allah juga menyaksikan" Ucap Bi Ira.
Jleb!
Mata Aurel berkaca-kaca, bukan mengingat suaminya melainkan mendiang ibunya. Ia masih merekam jelas bagaimana cara Zahra yang menginginkan dia untuk menjadi istri sekaligus ibu untuk Bagas. Tapi apakah ia harus terus bersabar dalam rasa sakitnya ini?.
"Lebih baik tenangkan pikiran Non. Bicarakan baik-baik dengan Aden. Jangan lupa berdoa sama Allah biar hal-hal buruk tidak menghampiri rumah tangga Non" Ucap Bi Ira yang di anggukki Aurel.
Malam hari seusai shalat Maghrib. Aurel meraih ponselnya untuk menghubungi Bagas. Setelah bercurhat pada Allah, ia merasakan ketenangan dalam hatinya. Ia berpikir untuk menghapus hal-hal negatif tentang Bagas yang ada di benaknya. Beberapa kali ia menelfon tapi sama sekali tidak mendapat jawaban. Tak lama sebuah pesan masuk ke ponselnya. Nomor tidak dikenal. Aurel membuka pesannya dan ternyata pengirim pesan mengirimkan sebuah foto.
Deg!!
Apalagi ini Yaallah, aku sudah berniat untuk melupakan kesalahannya tapi mengapa ada sesuatu yang menggoyahkan hatiku untuk tidak melupakan hal jijik ini, Batin Aurel dengan deraian air mata.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kau yang berjanji kau yang mengingkari ☺️
.
.
.
Happy 100k reader's 🍑
Thx💜