
Aurel mengerjapkan matanya dan melihat jam dinding yang terpajang di dalam kamar. Aurel masih berada di pelukkan Bagas karena merasa nyaman di posisi itu.
" Hemmm tempat ternyamanku " gumamnya.
Terlihat Bagas membuka matanya karena Aurel bergerak-gerak di dada bidangnya.
" Sayang? " Lirih Bagas.
Aurel mendongak dan menatap Bagas lalu tersenyum.
" Aku lapar "
" Kalau lapar ya bangun jangan minta di peluk mulu istriku "
" Tapi ini nyaman Hubby "
" Sepertinya aku harus belajar sama Mak Jarot "
Aurel mengernyitkan dahinya " Hah mau ngapain? "
" Biar bisa ngambil makan tanpa merubah posisi "
" Menyebalkan! Aku hanya becanda " Aurel bangun dari posisinya dan duduk di tepi ranjang.
" Hubby aku mau makan bubur ayam "
" Nanti kita nyari di perempatan komplek, biasanya disana ada banyak tukang jualan. Sekarang kamu mandi dulu " titah Bagas.
" Okeee "
Aurel berlari kecil dan memasuki kamar mandi. Setelah Aurel memasuki kamar mandinya Bagas segera meraih ponsel di atas nakas dan menghubungi sekertarisnya sekaligus teman kecilnya saat di kampung.
Paggilan telefon..
Aji : Weyyy pengantin baru nelpon nih. Ada apa bro?
Bagas : Gimana perusahaan? Aman kan?
Aji : Aman, lo tenang aja selagi masih ada gue semuanya aman terkendali
Bagas : Syukurlah, gue percaya sama lo. Gue izin ga masuk sekitar seminggu. Lo bisa handle semuanya kan?
Aji : Tenang aja percaya sama gue. Lo seneng-seneng sama istri lo, jangan lupa kasih gue ponakan
Bagas : gue percaya sama lo. Oiya gimana perusahaan x masih mau bermain-main kah?
Bagas membicarakan masalah perusahaannya sampai dia tidak menyadari jika Aurel sudah keluar dari kamar mandi, dan bahkan sudah memakai bajunya.
" Hubby " ucap Aurel yang sudah duduk di samping Bagas.
" Udah dulu, nanti gue telpon lagi " Bagas mengakhiri telponnya.
" Sayang maaf, aku ga liat kamu disini "
" Gapapa Hubby. Sana mandi takut keburu maghrib nanti "
Bagas memasuki kamar mandinya. Beberapa menit akhirnya dia selesai dengan ritual nya. Saat keluar kamar mandi dia melihat Aurel sedang membereskan pakaian mereka.
" Hubby? Nih aku udah siapin bajunya " Aurel memberikan setelan baju casual yang berwarna sama dengannya.
Bagas mengelus kepala Aurel " Terimakasih istriku "
Hal itu lah yang membuat Aurel senang, karena dia merasa sangat di sayangi oleh suaminya itu. Setelah menyelesaikan pekerjaannya Aurel menghampiri Bagas dna membantu merapikan rambutnya.
" Pakai topi ya " Aurel memakaikan topi berwarna hitam.
" Kenapa? "
" Gapapa, biar lebih tampan aja "
" Hahaha gombal kamu. Ayok " Bagas menarik tangan Aurel dan keluar dari kamarnya.
Aurel mengernyitkan dahinya saat melihat sudah banyak pelayan di rumah itu.
" Mereka pelayan Hubby? "
" Iya, kenapa? Kurang banyak kah? "
Aurel menatap Bagas dengan kesal.
" Justru ini kebanyakkan, kalau semua kerjaan ada pelayan yang ngurus gimana sama tugas aku "
" Sayang justru aku gamau kamu lelah. Kamu hanya perlu mengurus keperluanku "
" Hahh baiklah. Tapi jangan pernah ngelarang kalau aku mau mengerjakan pekerjaan rumah "
" Terserah, asal kamu ga terlalu keras bekerja nya aku akan mengizinkanmu "
****
" Rame bangetttt Hubby " Aurel sangat senang dengan keadaan kompleknya saat ini, banyak kaki lima yang berjejer di pinggir jalan.
" Iya, kamu suka? "
" Bangettt.. Makasih " Aurel memeluk Bagas dengan senyum kegirangannya.
" Makasih buat apa "
" Makasih buat semuanya. Tempat tinggal yang aku impikan, cinta, dan kasih sayang kamu "
" Hahaha sama-sama my wife " Bagas mengelus lembut pipi Aurel.
" Mas Mba baru pindah ke sini ya? " Ucap Ibu-ibu yang sedang mendorong sepedah anak nya yang berusia sekitar 2 tahunan.
" Iya bu, kita baru pindah tadi siang " jawab Aurel.
" Owalah, semoga betah ya Mba di komplek ini. Oiya dimana Mba rumahnya? "
" Itu Bu dekat taman "
" Waahh lokasi yang strategis banget Mba. Kalau begitu saya permisi Mba "
" Ouh iya bu hati-hati "
Aurel menatap Bagas dengan senyum yang masih mengembangnya.
" Kenapa hemm? "
" Seneng banget Hubby. Seneng bisa punya tetangga "
" Dasar, ayok katanya mau bubur "
" Ayok "
Aurel dan Bagas menghampiri tukang bubur dengan gerbokanya yang bertuliskan " Tukang Bubur Belum Jadi Haji ".
" Kayak judul lagu " Aurel terkekeh membaca tulisannya.
" Judul film sayang "
" Haha iya "
Bagas mendekati pedagangnya yang sudah berumur.
" Pak mau 2 ya, di bungkus "
" Bubur pak? Bapak jualan bubur kan? "
" Ouh iya mas, tapi disini juga ada soto sama usus goreng "
" Bentar pak " Bagas menoleh ke arah Aurel yang sedang duduk di kursi.
" Sayang " panggil Bagas.
Aurel langsung menghampiri Bagas.
" Kenapa? "
" Kata bapaknya ada bubur, soto sama usus goreng, kamu mau apa? "
Aurel mendekati dan berdiri di samping tukang buburnya.
" Saya mau usus nya juga pak "
Tukang bubur itu menoleh ke arah Aurel dan tersenyum.
" Maaf neng usus nya habis "
" Kalau soto? "
" Soto juga habis neng "
Aurel dan Bagas saling tatap dan langsung menepuk dahinya.
" Yaudah bubur aja 2 bungkus pak " ucap Aurel.
Aurel langsung duduk lagi di kursinya tadi.
" Kalau habis kenapa nawarin? " Gerutu Aurel.
Setelah beberapa menit akhirnya bubur yang di pesan sudah selesai di buat.
" Neng ini buburnya " Tukang bubur memberikan kantong kresek berwarna putih pada Aurel.
" Hubby uangnya? "
Bagas merogoh kantong celananya dan langsung memberikan uang 50ribu.
" Aduh Mas, belum ada kembalian ini. Bapak baru keluar "
" Gapapa pak ambil aja kembaliannya "
" Yaallah makasih Mas Neng, semoga panjang umur dan sehat selalu "
" Aamiin, makasih pak " ucap keduanya.
Aurel dan Bagas langsung melangkahkan kakinya.
" Ehhh Mas tunggu dulu " teriak tukang bubur tadi.
" Kenapa pak? "
" Disana ada anjing galak hati-hati ya Mas "
" Ohh iya pak makasih infonya. Istri saya pawang gogok kok " Aurel langsung memelototkan matanya ke arah Bagas
" Wahhh benarkah? Kalau begitu apa bapak bisa minta bantuan? Soalnya ayam bapak sering kabur "
Bagas mengerutkan dahinya.
" Apa hubungannya ayam kabur sama pawang gogok pak? "
" Iya, soalnya ayam bapak takut sama anjing tetangga. Anjingnya genit, suka nyamper ke rumah ayam bapak. Jadi kalau anjing nya dateng, ayam bapak langsung terbang "
" Terbang? "
" Iya terbang, naik ke atas pohon "
" Hahaha tenang saja pak nanti istri saya bantu "
Aurel memukul lengan Bagas dan menatapnya dengan tajam.
" Itu ga bener pak. Saya bukan pawang gogok, tapi pawang singa. Kami permisi pak " ucap Aurel yang langsung menarik tangan Bagas.
" Kamu itu ada-ada aja, kenapa bilang aku pawang gogok " gerutu Aurel.
" Sayang aku cuma becanda kok, jangan marah lah "
" Siapa yang marah lagian " Aurel melihat ada gerobak bertulisan bakso bakar.
" Hubby, bakso bakar itu apa? "
" Ya bakso di bakar sayang "
" Emang bisa? "
" Bisa, mau coba? "
Aurel menganggukkan kepalanya dengan mantap. Mereka langsung menghampiri tukang bakso bakar dan memesan 10 tusuk.
" Disini banyak makanan aneh ya " ucap Aurel sambil memutar kepalanya melihat banyak pedagang di tempat itu.
" Bukan aneh sayang, kamunya aja yang belum tau. Nanti minggu depan kita kesini lagi, jajan disini "
Aurel menatap wajah Bagas.
" Kenapa minggu depan? Besok kan bisa "
" Engga sayang, makanan disini tidak baik untuk kesehatan kalau di makan setiap hari "
" Hemm baiklah "
Resiko punya suami yang ngerti kesehatan ya gini, sabarlah wahai diri. Kita bisa jajan tanpa sepengetahuannya, kan besok di kerja, batin Aurel.
" Mas baksonya "
Bagas langsung menghampiri dan membayar pesanannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like comment an Vote nya Readers🍅♥️