
" Makasih " lirih Bagas sambil memegang tangan Aurel yang ada dipipinya.
Aurel tersenyum dan mengangguk. " Udah yuk kak " ucap Aurel.
Akhirnya mereka bangkit dari posisinya dan meninggalkan pemakaman. Saat sudah sampai mobil Bagas berbicara bahwa dia akan membawa Aurel dan Vyan jalan-jalan di kota ini.
Pertama Bagas membawa Aurel dan Vyan ke salah satu taman yang sedang mengadakan pameran rutin setiap bulannya. Karena Bagas mengetahui jika Aurel sangat menyukai keramaian.
Aurel dan Vyan sangat menikmati pameran itu yang tentunya membuat Bagas sangat bahagia.
" Permisi, apa kalian mau menggunakan jasaku untuk foto bersama? " ucap salah satu fotografer yang mengahampiri Bagas.
" Ah iya silahkan " jawab Bagas. Sebenarnya dia tidak berniat untuk foto bersama namun dia berpikir mungkin dengan cara ini dia bisa membantu orang lain.
" Yuk, gapapa kan " ucap Bagas pada Aurel dan Vyan.
Aurel dan Vyan pun menyetujui permintaan Bagas untuk berfoto. Semua mata memandang pada ketiganya. Keluarga bahagia, itu lah yang ada di dalam pikiran semuanya. Mereka menganggap ketiganya itu memang keluarga kecil yang bahagia.
Setelah selesai berfoto, Vyan menghampiri fotografernya dan memberikan sedikit uang jajannya.
" Terimakasih nak " ucap lelaki itu dan dianggukki oleh Vyan.
Melihat sikap Vyan membuat Bagas dan Aurel sangat bangga padanya yang selalu memikirkan perasaan orang lain.
" Bunda aku mau itu " ucap Vyan menunjuk salah satu penjual yang belum memiliki pembeli sama sekali. Bahkan penjual itu sudah sangat berumur dan dia berjualan di pinggir jalan tanpa alas.
Bagas dan Aurel menngikuti kemanapun Vyan pergi, mulai dari membeli banyak makanan, barang-barang dan menaiki wahana.
Aurel mengernyitkan dahinya saat melihat Vyan membeli semua dengan uangnya sendiri.
" Sayang, kamu gapernah membeli sesuatu selama ini? Kenapa uangmu masih banyak? " tanya Aurel.
" Ngga bunda, Vyan ga pernah beli apa-apa. Lagipula apa yang harus Vyan beli. Dirumah semuanya sangat lengkap, dan setiap hari Ayah selalu membawakan mainan walaupun Vyan sudah melarangnya " ucap Vyan.
" Kakak " ucap Aurel pada Bagas " Sudah ku bilang jangan terlalu memanjakan Vyan, dia udah besar " sambungnya.
" Sesekali gapapa kali dek " jawab Bagas dengan santai.
" Sesekali apanya, orang kata Vyan tiap hari kakak bawain mainan kok " ketus Aurel.
" Biarin napa dek, belajar biar nanti pas punya anak udah terbiasa " jawabnya.
" Kuliah dulu yang bener baru mikirin anak!! " ucap Aurel yang langsung menuntun Vyan meninggalkan Bagas.
Setelah cukup lama mengelilingi pameran, Bagas mengajak ke danau yang ada di pinggir kota.
Mereka memutuskan untuk duduk di tepi danau dengan beralaskan tikar lipat. Terlihat sesekali Vyan memotret pemandangan danau itu sampai memotret kebersamaan mereka. Menurutnya fotolah yang bisa menjadi sebuah kenang-kenangan saat merindukan seseorang.
Setelah puas menikmati pemandangan danau, mereka memutuskan untuk pergi ke restoran karena sudah memasuki jam makan siang.
Seperti biasa sebelum makanan yang di pesan datang, mereka berbincang banyak hal sampai Aurel melihat seorang perempuan yang dia kenal sedang duduk sendiri seperti menunggu seseorang.
Aurel meminta izin pada Bagas untuk menghampiri temannya dan tentunya Bagas mengizinkan.
" Hayy, kamu Angel kan? " ucap Aurel saat berada di hadapan wanita itu.
Wanita itu menoleh ke arah Aurel " Ohh hayy, Aurel? " ucap wanita itu dengan senyumannya.
" Emmm aku ganyangka banget bisa ketemu lagi. Gimana kondisi kamu? Baik-baik aja kan? Perutmu? " ucap Aurel dia mengernyitkan dahinya saat melihat perut Angel yang sedikit buncit.
" Iya sama akupun ganyangka. Aku baik-baik aja. Aku udah nikah, dijodohin sama papa tapi kamu tenang aja, pria ini pria baik. Aku juga mencintainya sejak lama. Oiya kamu sama siapa? " tanya Angel.
Aurel menunjuk ke arah Bagas dan Vyan yang saat ini posisinya membelakangi Aurel " Bareng mereka " ucapnya.
" Keluargamu? " tanya Angel.
" Ya, mereka keluargaku " jawab Aurel. " Oiya, kamu sama siapa? aku liat kayaknya kamu lagi nunggu seseorang? " sambungnya.
Angel melihat ke sekelilingnya, dan dia menangkap seorang pria yang sudah ia tunggu. " Iya aku lagi nunggu suamiku, dia udah ada di parkiran. Aku duluan Rel " ucap Angel dengan terburu-buru.
Aurel kembali ke meja menghampiri Bagas dan Vyan.
" Siapa dek? " tanya Bagas.
" Temen kak, sebenernya baru ketemu beberapa kali waktu itu pas dia sakit " jawab Aurel.
" Nama dia Angel, 2 tahun yang lalu aku sama Maheer pergi jalan-jalan ke negara x. Hari kedua kita di negara itu tiba-tiba kita ngeliat Angel pinsan di depan mobil kita. Kita nolongin dia dan bawa dia ke rumah sakit dan ternyata dia punya penyakit yang cukup serius, dia cerita kalo dia pergi dari rumah karena keluarganya selalu memaksa dia untuk menikahi pria yang suka bermain perempuan. Sejak saat itu aku dan Maheer merawatnya, aku rawat dia sampe bener-bener sembuh. Aku gapernah lagi jenguk dia waktu aku sibuk mempersiapkan kuliah dan dapet kabar kalo dia udah sembuh dari penyakitnya dan dia memutuskan untuk tinggal sendiri tanpa bantuan dariku lagi. Dan ganyangka nya, dia lagi hamil saat ini. Udah nikah katanya " jelas Aurel.
" Sama siapa? " tanya Bagas.
" Gatau, lia ga ngobrol banyak tadi sama dia " jawabnya.
Bagas hanya mengangguk dan tak lama makanan pun datang. Mereka segera menghabiskan makanannya.
Setelah beberapa menit menghabiskan makanannya mereka memasuki mobil dan berniat untuk pulang ke rumahnya.
Saat di tengah perjalanan Aurel melihat mobil Maheer terparkir di pinggir jalan, dia menyuruh Bagas untuk menepi. Aurel turun dari mobil saat melihat Bagas akan memasuki mobilnya dengan membawa kantong kresek berwarna hitam.
" Maheer " ucap Aurel saat sudah berada di dekat Maheer.
Maheer menoleh ke sumber suara dan langsung tersenyum
" Sayang, kau ada disini? " ucapnya dengan memeluk Aurel.
Aurel mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma parfum Maheer yang sangat ia rindukan. Setelah beberapa bulan ini baru sekarang ia berjumpa lagi dengan kekasihnya itu. " Aku sungguh merindukanmu " ucap Aurel.
Maheer melepaskan pelukannya dan mencium kening Aurel dengan sangat lembut " Aku juga sangat merindukanmu sayang, maafkan aku karena akhir-akhir ini aku sibuk. Karena papa ku pensiun jadi aku yang menggantikan posisinya " ucapnya sambil memeluk pinggang Aurel dan mendekatkan tubuhnya.
" Gapapa aku ngerti kok " jawab Aurel. Aurel melihat ke arah kantong kresek yang di bawa Maheer " Kau beli apa? " tanyanya.
" Ohh ini soto. Sepupuku baru datang dari luar negeri dan dia tiba-tiba ingin soto " jawab Maheer.
* Gabiasanya Maherr mau beli di tempat kayak gini * batin Aurel.
" Sayang, aku harus kembali secepatnya. Jika tidak, sepupuku akan memberiku kuliah di siang hari " ucap Maherr.
" Kau mau pergi lagi? bukankah kau merindukanku? lalu mengapa kau tidak bisa bermain bersamaku sehari saja. Aku sangat merindukanmu " ucap Aurel dengan mata berkaca-kaca.
Maheer membelai pipi Aurel dengan sangat lembut.
" Sayang maafkan aku. Tapi aku janji setelah urusanku selesai, aku akan menemanimu kapanpun kamu mau. Dan kamu harus percaya kalau aku mencintaimu, kamu adalah masa depanku. Ibu dari anak-anakku kelak " ucapnya.
" Humm baiklah. Aku akan menunggumu sayang " ucap Aurel dengan mencubit kedua pipi Maheer.
" Kiss? " ucap Maheer sambil mendekatkan pipinya ke arah Aurel.
Cup.
Aurel menciumnya sekilas dan tersenyum " Fighting sayang " ucapnya " Kamu juga masa depanku, ayah dari anak-anakku kelak " sambungnya.
" Pinter gombal ya sekarang " ucap Maheer dengan mengacak rambut Aurel " Kalau gitu aku pamit ya, kamu hati-hati. Sama Bagas kan? " sambunya.
" Kamu tau? " ucap Aurel dengan mengernyitkan dahinya.
Maheer menunjuk ke arah Bagaa yang tak jauh dari keberadaannya " Tuh udah nungguin kamu " ucapnya sambil tersenyum.
" Hemm baiklah, kau hati-hati. Ponselku selalu aktif dan aku akan selalu menunggu telfon darimu " ucap Aurel lalu meninggalkan Maheer.
Bagas yang melihat itu semua hanya terdiam dan mengepalkan tangannya. Hatinya sedang panas karena tersulut api cemburu. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil sebelum Aurel datang di hadapannya.
Setelah Aurel masuk, Bagas langsung melajukan mobilnya tanpa bicara sepatah katapun. Tatapannya kosong hanya menatap ke arah depan, untungnya Vyan sudah tertidur di kursi belakang. Karena sampai saat ini Aurel tidak pernah menceritakan tentang hubungannya dengan Maheer pada Vyan.
" Kak " ucap Aurel memecahkan keheningan.
" Hem " jawab Bagas dengan tatapan masih mengarah ke depan.
" Kakak tadi nguping pembicaraan aku sama Maheer? " tanya Aurel.
" Ga lah ngapain ! " ketus Bagas.
" Terus kakak ga nanya gitu tadi lia ngapain aja sama dia? " ucap Aurel.
Bagas menoleh ke arah Aurel dan mengernyitkan dahinya
" Buat apa? " jawab Bagas.
" Ah enggak " ucap Aurel dengan memalingkan wajahnya dan menatap ke luar jendela.