Twins'

Twins'
10.



Hari sudah larut malam, kini keluarga Raka sedang berbincang di ruang keluarga. Malam ini mereka memutuskan untuk mencari sekolah yang aman dan nyaman untuk Vyan. Raka dan Zahra bersikeras meminta agar Vyan bersekolah di Indonesia sedangkan Aurel tidak ingin jauh-jauh dari putranya itu karena dia harus melanjutkan lagi kuliahnya di luar negeri.


" Vyan biar sama grandpa aja ya " ucap Raka pada Vyan.


" Sebenarnya Vyan juga ingin selalu dekat dengan bunda, tapi Vyan tau kesibukkan orang dewasa itu sangat banyak. Vyan gamau ganggu kuliah bunda sama kak Ay, tapi itu pun kalau bunda mengizinkan Vyan " ucap Vyan pada Raka.


" Tuh dek udah ihh izinin ngapa. Lagian juga Vyan disana kasian kalo kamu sama aydan kuliah dia nanti sendiri, kan enak kalo disini bisa nemenin mommy sekalian " ucap Zahra.


" Kak Ay? " ucap Aurel pada Aydan " Gimana menurut kakak? " sambungnya.


" Yang dikatakan mommy ada benernya dek, dan juga pengamanan disini lebih ketat daripada tempat kita, jadi lebih baik Vyan disini aja sama mommy " jawab Aydan.


" Huffttt baiklah terserah saja " ucap Aurel yang langsung bangkit dan melangkahkan kaki ke kamarnya.


Bagas menghampiri Aurel yang ada dikamarnya, dia melihat Aurel sedang membaca novel di balkon menghadap ke arah luar.


" Dek " ucap Bagas yang membuat Aurel menghentikan aktifitasnya dan menyuruh Bagas untuk duduk.


" Apa kak " jawabnya.


" Kamu kenapa? " tanya Bagas.


" Gapapa kak " jawabnya.


" Dek, Vyan itu udah besar biarkan dia memilih jalannya sendiri. Dia berhak berpendapat, mungkin yang Vyan inginkan adalah kebaikan untuk kamu dan juga Vyan. Vyan gamau ganggu kamu kuliah, dan dia juga mau fokus dalam belajarnya " ucap Bagas.


" Kak Tian gaakan pernah tau, walaupun baru 5bulan Vyan tinggal sama adek tapi adek udah nganggep Vyan itu segalanya kak. Selama 5bulan juga adek gapernah jauh dari Vyan bahkan tidurpun bareng, masa sekarang harus ninggalin Vyan disini " ucapnya.


" Semakin hari Vyan semakin dewasa, apa kamu mau Vyan jadi anak yang selalu berada dalam lindungan kamu?. Biarkan dia disini, toh daddy juga gaakan ngebiarin Vyan kenapa-kenapa. Dan kakak tau pasti disini daddy bakal ngajarin Vyan beladiri, sama kayak kita dulu " ucap Bagas.


" Iya kak aku ngerti, udah ah sana adek mau tidur " ucap Aurel sambil melangkahkan kakinya ke kasur dan merebahkan tubuhnya.


Bagas tersenyum lalu dia melangkahkan kakinya ke luar kamar. Saat hendak menuruni tangga dia tak sengaja melihat Aydan yang sedang memagang foto seorang wanita cantik dengan tatapan sendu di dalam kamarnya yang berada tepat di pinggir kamar Aurel. Tentu saja Bagas tau siapa wanita itu, wanita yang selama ini Aydan idamkan.


Bagas menghampirinya dan langsung duduk di samping Aydan.


" Udah dapet kabar tentang dia Ay? " ucap Bagas.


" Huhh.. Udah " jawabnya.


" Samperin aja, bilang kalo lo cinta ama dia susah banget dah " ucap Bagas.


" Posisi kita sama bro " ucap Aydan sambil menyimpan foto wanita itu di dompetnya.


Bagas menghadap Aydan karena tak mengerti dengan maksud ucapannya itu " Maksud lo? "


" Posisi gue sama lo itu sama, menyukai seseorang yang sudah dimiliki orang lain " jawab Aydan merebahkan tubuhnya.


" Jadi dia udah punya pacar? " tanya Bagas.


" Lebih tepatnya calon suami " jawab Aydan " Dia udah tunangan ama yang lain, gue tau kalo itu perjodohan orangtua nya semata-mata karena bisnis. Gue bisa aja rebut dia dengan kekuasaan keluarga kita, cuma gue gamau pake cara yang begitu. Gue mau dia jatuh ke tangan gue karena cinta bukan harta " sambungnya.


" Huh emang susah juga kalo mencintai seseorang yang dicintai orang lain " ucap Bagas sambil ikut merebahkan tubuhnya di samping Aydan.


" Gimana sama lo? " tanya Aydan.


" Maksud lo? Gimana apanya " jawab Bagas.


" Gimana hubungan lo ama Aurel? " ucap Aydan.


" Masih sama, belum ada perubahan. Gue juga gamau gegabah tentang hal ini, gue takut nyakitin hati Aurel " jawab Bagas, membicarakan tentang Aurel mengingatkannya pada satu kejadian tadi saat mereka di Mall " Ay " sambungnya.


" Hemm? " jawab Aydan.


" Tadi gue ketemu Maheer di Mall pas lagi jalan sama Aurel juga Vyan " ucap Bagas.


" Lalu? " ucap Aydan.


" Gue liat dia gandeng tangan cewek " ucap Bagas yang mampu membuat Aydan bangkit dari tidurnya dan menatap Bagas.


" Lia liat itu? " tanya Aydan.


" Kagak lah, gue meluk dia pas dia mau liat ke arah cowok itu " jawab Bagas.


" Syukurlah " ucap Aydan.


" Tapi yang bikin gue penasaran itu gue kayak kenal ama tu cewek, tapi sayangnya cewek itu pake masker " ucap Bagas " Gue juga udah nyuruh kak Rendra ( pengawal yang diberikan Raka untuk Bagas ) buat nyelidikin ini " sambungnya.


" Sialan!!! Berani-beraninya dia nyakitin adek gue!! " geram Aydan.


" Santai aja lu gausah ikut campur, biar gue yang turun tangan lagian juga gue gabakalan biarin lia di sakitin. Gue mau liat lia bahagia sekalipun itu sama Maheer dan ngebuat gue sedih " ucap Bagas.


Hari ini adalah hari kepulangan Aurel dan Aydan untuk menyelesaikan beberapa tugas mata kuliahnya karena bulan depan mereka harus cuti kelahiran mommy nya, mereka hanya pergi berdua karena Vyan memutuskan untuk tinggal bersama Raka di Indonesia.


Raka, Zahra, Vyan termasuk Bagas mengantarkan Aydan dan Aurel ke bandara, seperti biasanya mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di bandara. Tentu saja menjadi pusat perhatian, Raka dan Zahra adalah raja bisnis yang terkenal. Tetapi Aydan, Aurel, Bagas dan Vyan memakai masker dan kacamata hitamnya untuk melindungi mereka.


Tak lama jet pribadi milik keluarganya sudah terparkir di sana dan membuat Aurel menghela nafasnya. Ada rasa tidak tenang ketika meninggalkan Vyan walaupun dengan daddy nya.


" Tenang aja dek, kita bakal jaga Vyan kok " ucap Zahra sambil memeluk Aurel.


" Hemmm mom, lia titip Vyan ya. Vyan kamu harus jaga diri sayang, inget jangan ikut dengan siapapun yang tidak kamu kenal " ucap Aurel.


" Baik bundaa " jawab Vyan sambil hormat layaknya tentara yang memberi laporan pada atasannya.


Aurel menghampiri Vyan dan membuka maskernya karena posisi dia ditutupi para pengawal yang ikut menjaga keluarga Raka.


Aurel mencium wajah Vyan bertubi-tubi sampai membuat Vyan tertawa geli.


" Bundaaa maluuuuuuu " ucap Vyan dengan melipatkan tangannya di atas perut dan itu menbuat Aurel terkekeh.


" Hati-hati sayang, ingat pesan bunda ya!. Kamu harus baik-baik saja sampai bunda datang lagi menemuimu " ucap Aurel.


" Bunda, yang seharusnya bilang hati-hati itu aku. Kan bunda yang mau pergi bukan aku " ucapnya polos.


" Iyaiya tapi nyatanya kau tidak mengucapkannya " ucap Aurel sambil memalingkan wajahnya seolah sedang merajuk.


" Cih bunda baperan deh " ucap Vyan yang membuat Aurel menatapnya dengan intens.


" Di ajarin siapa kamu Vyan? " ucap Aurel. Vyan menunjuk ke arah Bagas dan membuat Bagas panik.


" Kak Tian? " ucap Aurel sambil menatap Bagas.


" Euh?? " jawabnya dengan ekspresi tanpa dosa.


" Kak Tian apain ihh anak akuuu!!!! " ucap Aurel dengan sedikit berteriak.


" Ngga dek, mana ada begitu " jawab Bagas.


" Terus maksud kakak, Vyan boong gitu ama aku? Vyan ga berani boong kak " ketus Aurel.


" Aihhh bukan gitu dek. Maksud kakak itu, emmm.. Ah kakak keceplosan kemarin " jawab Bagas dengan


gugup.


" Sudahlah berhenti bertengkar, ayo lia " ajak Aydan.


" Kalo Ayahmu itu meracunimu dengan kata-kata yang tidak masuk akal, kau harus lapor pada bunda " ucap Aurel pada Vyan.


" Ayah takut sama bunda? " tanya Vyan pada Bagas dengan wajah polosnya.


" Ahh tidak, masa seorang laki-laki takut sama wanita. Itu tidak mungkin sayang " ucap Bagas.


" Sudahlah, bunda berangkat sayang " ucap Aurel lalu mencium kening Vyan.


" Hati-hati bunda kabari aku jika sudah sampai. I love you more. Jaga kesehatan ya bunda " ucap Vyan kemudian mencium punggung tangan Aurel.


Vyan menghampiri Aydan dan menarik tangannya kemudian menciumnya " Kak Ay hati-hati ya, Vyan titip bunda ke kak Ay. Kak Ay juga harus jaga kesehatan " ucapnya.


" Siap komandan " jawab Aydan sambil tersenyum.


" Mom dad kita berangkat ya. Kalian jangan terlalu capek " ucap Aydan dan Aurek serempak.


* Jaga diri baik-baik sayang * batin Bagas, tak terasa ia menitikan air matanya. Hal itu terlihat oleh Vyan yang tangannya sedang di genggam oleh Bagas.


" Ayah kenapa nangis? Ayah mau ikut bunda? " ucap Vyan.


" Ahh?? Tidak sayang, ayah hanya sedikit sedih melepas bunda dan kak Ay " jawabnya.


" Ayah jangan sedih, disini ada Vyan, Grandpa, Grandma dan juga Amel " ucap Vyan yang membuat semua orang mengerutkan keningnya.


" Amel? Siapa sayang? " tanya Zahra.


Vyan mendekati Zahra dan mengelus perutnya yang sudah buncit itu " Ini, bolehkah jika Vyan menamainya Amel? " ucap Vyan.


Raka, Zahra dan Bagas tersenyum melihat itu semua karena sepertinya Vyan sudah sangat menunggu kehadiran adiknya di dunia ini.


" Tentu saja sayang " ucap Zahra.


" Thank you Grandma " jawab Vyan lalu memeluk Zahra.