
Raka dan Amel sudah di perjalanan menuju tempat tinggalnya setelah tadi sudah membeli macaron, lalu pergi ke rumah sakit melihat bayi Aurel dan menyampaikan niatnya untuk pergi ke negara K.
Amel sedang tertidur di dalam mobil rupanya dia kelelahan karena dia begitu antusias melihat ponakan barunya. Setelah sampai di halaman mansion, Raka menggendong Amel menuju kamarnya. Ia merebahkan Amel di kasur dan menatapnya dengan sendu.
"Daddy akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu sayang" Raka mencium kening Amel, menyelimuti Amel dan menyalakan AC lalu keluar dari dalam kamar.
Raka kembali ke kamarnya sendiri lalu bersandar di sandaran kasur. Menatap lurus tanpa arti. Sekelebat bayangan Zahra muncul di depannya. Bayangan saat Zahra sedang merias diri di meja rias, membersihkan kamar, dan menyiapkan pakaian untuk Raka.
Tak terasa air matanya mengalir begitu saja. Raka meraih foto Zahra yang berada di atas nakas, ia mengelus wajah Zahra dengan lembut. Tanpa berkata apa-apa Raka berbaring di kasur dan menutup matanya.
***
Pagi harinya Raka membuka nata karena merasakan beban berat yang menindih tubuhnya. Ia tersenyum saat melihat Amel yang sedang memeluknya dengan mata terpejam. Foto Zahra pun sudah ada di atas nakas, kemungkinan besar Amel yang menyimpannya.
Raka mengelus punggung Amel dengan lembut dan membuat Amel membuka matanya.
"Morning Daddy" Amel kembali menutup matanya setelah mengucapkan selamat pagi.
Raka tersenyum lalu mendudukkan dirinya dengan Amel yang masih memeluknya erat.
"Gak sekolah sayang? udah siang loh" Ucap Raka.
"Aku ngantuk Daddy, aku izin bolos 1 hari aja ya" Pinta Amel.
"Sayang,, sekolah itu perlu. Jangan malas pergi ke sekolah. Ayok bangun" Raka mulai melepaskan pelukkan Amel.
Amel menggeleng lalu kembali memeluk Raka.
"Daddy yang antar jemput gimana?" Tanya Raka.
Amel menatap Raka dengan senyum mengembang "Promise?" Amel mengacungkan jari kelingkingnya.
"Promise" Ucap Raka seraya menautkan jari kelingking keduanya.
"Oke Daddy udah janji. Aku mau mandi bayy Dad" Amel melangkah keluar kamar seraya melambaikan tangannya.
Raka tersenyum lalu segera membersihkan dirinya. Di sisi lain Amel yang tadinya tersenyum mendengar ucapan Raka, kembali lagi menurunkan garis bibirnya saat memasuki kamar. Ia mengunci kamarnya lalu pergi ke kamar mandi. Bukannya membersihkan diri, Amel malah terduduk di lantai seraya memeluk lututnya.
"Mommy, aku akan selalu dekat dengan Daddy seperti ucapan Mommy kemarin lusa,, hikss.. " Sudah agak lama Amel menangis di dalam kamar mandi, ia segera membersihkan dirinya khawatir Raka akan menghampirinya ke kamar.
Selesai membersihkan dirinya, Amel segera memakai seragam sekolah. Sudah sejak lama ia diajarkan untuk mandiri oleh Raka dan Zahra. Saat ini ia sudah berpakaian rapih tapi seperti biasanya, rambutnya masih tergerai karena ia belum bisa menguncir rambut sendiri.
Amel keluar kamar dengan membawa tas digendongnya, juga sisir dan 2 karet Jepang. Ia menghampiri Raka yang sedang menghisap kopinya di meja makan. Tanpa berkata apapun Amel mendekati Raka dan duduk di pangkuannya ia memberikan sisir dan kunciran, Raka pun sudah mengerti maksud Amel, ia langsung menguncir rambut Amel seperti biasanya.
"Non ini bekalnya" pelayan menghampiri Amel dan memberikan kotak bekal berwarna biru muda.
"Makasih Bi" Ucap Raka yang di anggukki pelayan itu.
"Sarapan dulu sayang" Raka menuangkan nasi dan lauknya ke piring Amel setelah menguncir rambut Amel.
Amel turun dari pangkuan Raka dan duduk di kursi yang berada tepat di samping Raka. Raka dan Amel menghabiskan sarapannya berdua karena Aydan dan Neli biasa bersarapan lebih siang dari Raka dan Amel.
Setelah bersarapan Raka menuntun Amel menuju mobilnya di depan mansion ia melihat Vyan sedang memainkan ponselnya dengan serius.
"Gak sekolah bang?" Tanya Raka yang mengejutkan Vyan.
"Kaget aku Grandpa" Vyan mengelus dadanya "Hari ini belajar online Dad karena sekolah sedang mengadakan rapat besar" lanjut Vyan.
"Yaudah, Grandpa pergi dulu ya. Semangat belajarnya Bang" Raka mengelus puncak kepala Vyan.
"Siapp" Vyan memberi hormat kepada Raka.
"Abang aku pergi ya, dadah" Amel melambai-lambaikan tangannya.
"Dah. Hati-hati Grandpa, Nyil" Ucap Vyan yang di anggukki Raka.
Raka melajukan mobilnya menuju sekolah Amel. Di dalam mobil Raka sempat bertanya bagaimana keseharian Amel di sekolah, siapa yang menjadi temannya, hal yang membuatnya bahagia, sedih, dan banyak lagi. Raka ingin benar-benar mengenal Amel lebih dalam lagi.
Kini mereka sudah sampai di depan sekolah Amel, Raka turun dari mobilnya dan mengantarkan Amel sampai ke depan kelas.
"Belajar yang rajin oke" Raka berjongkok lalu membenarkan pakaian Amel yang sedikit berantakan.
"Siap Daddy" Amel tersenyum lalu mengecup pipi kanan Raka "Semangat kerjanya Daddy hehehe" Lanjut Amel.
Raka tersenyum lalu mengusap puncak kepala Amel "Sana masuk, Nanti pulangnya akan Daddy jemput oke" Ucap Raka.
"Okee" Amel langsung masuk ke dalam kelasnya.
Raka memperhatikan Amel sampai benar-benar nyaman disana lalu melenggang meninggalkan kelas Amel. Raka meneruskan perjalanannya menuju kantor.
Hanya beberapa menit saja Raka sampai di halaman kantor. Ia menghembuskan nafas panjang, lalu turun dari mobil. Tak lupa membawa tas hitam yang berisi dokumen-dokumen penting. Selama memasuki kantor banyak yang berbelasungkawa pada Raka dan hanya dijawab dengan senyuman saja.
Diki yang melihat Raka memasuki ruangannya pun langsung menghampirinya. Ia melihat Raka yang sedang bersandar di kursi seraya mendongakkan kepalanya dan menutup mata.
Tok Tok Tok
Diki mengetuk pintu di sampingnya walaupun ia sudah berada di dalam ruangan Raka. Raka membuka matanya dan menatap Diki.
"Hemm?" Raka hanya berdehem seraya merapikan beberapa dokumen di mejanya.
"Boss saya turut berdukacita atas kepergian Nyonya, dan saya minta maaf karena tidak bisa datang kemarin" Ucap Diki.
"Terimakasih. Tidak apa-apa" Jawab Raka dengan singkat "Apa ada jadwal lagi hari ini?" Lanjut Raka.
"Tidak ada Boss, silahkan istirahat saja. Saya yang akan meng-handle pekerjaan Boss" Ucap Diki.
"Hemm baiklah" Jawab Raka.
"Boss saya mendapat kabar tentang kondisi perusahaan Nugraha Grouph" Ucap Diki membuat Raka kembali menatapnya. Yang mana Nugraha Grouph adalah perusahaan pemberian Raka pada Bagas dan 3bulan yang lalu nama perusahaan itu baru saja diganti.
"Ada apa?" Tanya Raka.
"Sepertinya perusahaan itu sedang dalam masalah. Harga saham tiba-tiba turun drastis, dan beberapa kali mereka harus kehilangan tender besar. Dalam arti lain perusahaan itu sedang membutuhkan suntikan dana yang tidak sedikit untuk menutupi kerugian mereka" Ucap Diki.
"Kenapa Tian diam saja" Gumam Raka.
"Apa kita harus membantunya Boss?" Tanya Diki.
"Tidak, biarkan saja dulu. Tian tidak berbicara apapun padaku itu artinya dia masih bisa mengatasi masalah ini sendiri" Ucap Raka yang dianggukki Diki.
"Baik Boss.. Apa ada yang bisa saya bantu Boss?" Ucap Diki.
"Tidak, silahkan keluar" Ucap Raka.
***
"Nanti siang aku pergi ke kantor. Kamu disini di temenin Neli gak apa-apa kan?" Ucap Bagas.
"Gak apa-apa Mas jangan khawatir" Jawab Aurel.
"Mas" Panggil Aurel.
"Hemm??" Jawab Bagas.
"Apa ada masalah di kantor Mas?" Tanya Aurel.
Bagas menengok ke arah Aurel lalu menghampirinya "Enggak kok. Kamu tenang aja sayang" Ucap Bagas.
Aurel menatap manik mata Bagas
Matamu tidak membenarkan ucapanmu tadi Mas, Batin Bagas.
"Kenapa emang?" Tanya Bagas yang di jawab dengan gelengan kepala Aurel lalu disusul dengan senyuman manisnya.
"Mas mandi dulu ya sebentar" Ucap Bagas yang di anggukki Aurel.
Aurel menatap punggung Bagas yang mulai memasuki kamar mandi. Tak lama setelahnya pintu kamar mandi tertutup, Aurel turun dari kasur dengan membawa tiang infus dan mengambil ponsel Bagas yang ada di atas meja.
Aurel membuka ponsel Bagas dan terdapat banyak panggilan tak terjawab dari Aji. Aurel membuka aplikasi WhatsApp dan membaca pesan yang dikirimkan Aji untuknya. Sudah ada 16 pesan yang belum dibaca oleh Bagas, mungkin dari kemarin ia belum membuka ponselnya.
*Beberapa kutipan pesan
***Keadaan perusahaan semakin buruk, kita tidak punya jalan keluar selain..
Selain menerima ajakan perusahaan korea!
Tapi gue juga gak setuju sama syaratnya. Gila aja kalo lo nerima kerjasama lo dan nikah sama cewek yang sama sekali gak lo kenal.
Cepet datang ke perusahaan, sehari gak ada lo disini keadaan makin buruk. Gue udah coba berbagai cara tapi gak nemu jalan keluarnya.
Lo dimana? perlu gue jemput sekarang? Kita harus meeting hari ini***.
Aurel membaca sambil mengerutkan keningnya. Namun ia tidak bisa lama-lama membuka ponsel Bagas karena Bagas akan segera keluar kamar mandi. Saat akan menaruh ponselnya lagi tidak sengaja ia melihat sebuah pesan yang dikirim oleh nomor yang tidak disimpan oleh Bagas. Aurel nekat membuka dan membaca pesannya.
***Kurasa hanya aku yang bisa membantumu. Serahkanlah dirimu padaku, setelah itu kamu akan hidup dengan bergelimang harta. Aku memberimu waktu yang panjang, jika sudah membuat keputusan aku harap kamu menemuiku di perusahaan Papahku.
Salam hangat,
Mii Ran***
Aurel kembali mengerutkan dahinya. Ia segera menyimpan ponselnya dan berbaring di kasur setelah tidak mendengar suara air di kamar mandi.
Pikirannya kacau. Ia bingung harus berbuat apa. Apakah ia harus meminta bantuan pada Daddynya?. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja menemani pandangan kosong yang menghadap langit-langit kamar. Dan tanpa disadari Bagas melihat ia menangis.
"Heyy sayang kenapa?" Terlihat raut khawatir di wajah Bagas.
Aurel terkejut lalu menghapus air matanya, ia menatap Bagas dengan tatapan sendu lalu memeluknya "Maafin aku hiks,," Ucap Aurel sambil terisak.
"Kamu kenapa? ada yang sakit? biar aku panggil dokter ya" Ucap Bagas.
Aurel menggeleng lalu mengeratkan pelukannya. Bagas melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Aurel.
"Cerita sama Mas,, ada apa??" Tanya Bagas.
"Maaf karena aku baru datang sekarang, maaf karena aku gak ada saat Mas sedang tidam baik-baik saja" Ucap Aurel.
"Kamu bicara apa sih. Sudah jangan minta maaf lagi. Apa Mas jangan ke kantor dan temenin kamu disini aja?" Tanya Bagas.
"Gak, Mas pergi aja lagipula kantor lebih memerlukan Mas" Ucap Aurel yang membuat Bagas mengerutkan keningnya.
Tok Tok Tok
Tak lama terdengar suara ketukan pintu dengan diikuti suara Neli.
"Masuk Nel" Ucap Aurel.
"Udah cepet berangkat, nanti kesiangan Mas" Lanjut Aurel.
"Aku Bosnya sayang, gak ada yang bakal marahin aku lagian kalo telat juga" Jawab Bagas dengan kekehannya.
"Justru karena Mas itu Bos harusnya Mas mencontohkan yang baik untuk bawahannya" Ucap Aurel.
"Siap sayang" Bagas mengecup kening Aurel.
"Aku pergi, kamu hati-hati disini. Kabarin aku kalo ada apa-apa" Lanjut Bagas.
"Iya bawel" Jawab Aurel.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf baru up:(. Kemarin-kemarin lagi gak enak badan dan gak punya inspirasi buat nulis😫😫😫