Twins'

Twins'
17.



Aurel mengusap rambut Bagas dengan sangat lembut, dia tidak tau masalah apa yang sedang Bagas hadapi karena sekian lama dia mengenal Bagas, baru hari ini melihatnya dengan kondisi seperti ini.


" Kak " ucap Aurel.


" Hem " jawab Bagas. Aurel bisa merasakan nafas Bagas yang sangat panas menembus bajunya, dia tau sekarang Bagas sedang tidak baik-baik saja.


" Makan yuk kak " ucap Aurel namun dijawab dengan gelengan kepala.


Aurel bingung dia harus melakukan apa, ingin mengambilkannya makanan namun dia tidak mau menganggu posisi saat ini yang membuat Bagas nyaman.


Hingga suara langkah kaki memasuki kamar itu, dilihatnya Aydan membawa nampan berisi makanan.


" Makanlah, kakak tau dia sedang terpuruk " bisik Aydan pada Aurel.


Aydan menaruh nampannya di atas nakas dan segera meninggalkan kamar itu.


" Mengapa takdir sekejam ini padaku? " lirih Bagas.


" Takdir itu tidak kejam, Tuhan itu maha adil. Tuhan memanggil ibu karena Dia sangat mencintai ibu. Dan ibu juga pastinya sudah merindukan Tuhan. Kakak tau, dulu aku pernah beripikir mengapa aku terlahir dari keluarga ini, keluarga yang serba berkecukupan. Aku merasa dikekang oleh mommy dan daddy karena setiap aku keluar dari rumah ini aku selalu diikuti oleh para pengawal. Aku sering menyalahkan takdir karena bagiku Tuhan tidak adil, saat diusia kecilku yang seharunya bisa bermain dengan teman sebaya tapi aku malah diharuskan untuk diam dirumah. Tapi takdir ini pun yang membawaku bertemu dengan orang-orang yang sangat berharga di hidupku saat ini. Mommy, Daddy, Kak Ay, Kak Tian dan Vyan. Kalian adalah harta yang paling berharga untukku " ucap Aurel sambil masih mengelus kepala Bagas.


" Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk membuat kalian bahagia. Tapi saat melihat kondisi kakak yang seperti ini, rasanya aku telah melanggar janji itu " sambungnya dengan meneteskan air mata.


Bagas tersadar saat mendengar ucapan Aurel, dia menatap Aurel yang ternyata sudah ikut menangis


" Maaf " lirih Bagas.


Aurel menghapus air matanya dan tersenyum, lalu dia melepaskan pelukkannya dan meraih nampan yang ada di atas nakas.


" Kak, kau harus makan. Ade juga belum makan gara-gara nungguin kakak " ucap Aurel yang langsung menyuapi Bagas.


Aurel merasa sangat lega saat Bagas menerima suapannya itu. Bagas meraih piring di tangan Aurel dan sekarang Bagas yang menyuapinya Aurel.


" Maafin kakak, gara-gara kakak kamu jadi telat makan " ucapnya.


Aurel tersenyum mendengar ucapan Bagas " Gapapa kak, ini lah yang harusnya dilakukan seorang keluarga " ucapnya.


* Dan semoga kita menjadi keluarga kecil de * batin Bagas dengan menatap wajah Aurel.


" Kak, sekarang ga kuliah kan? " tanya Aurel.


" Ngga de, kenapa? " jawab Bagas.


" Kita ziarah ke makam ibu " ucap Aurel dengan kembali menyuapi Bagas.


Bagas hanya mengangguk saja menyetujui ajakkan Aurel.


Setelah menghabiskan makanannya Aurel keluar dari kamar dan berniat mengambil obat untuk Bagas.


" Kak minum ini " ucap Aurel yang sudah membawakan obat dan air putih untuk Bagas.


Bagas menerimanya dan langsung meminumnya. Bagas mengernyitkan dahinya saat melihat Aurel yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi.


" Aku udah nyiapin air hangat buat kakak, mandinya jangan lama-lama. Adek nunggu di teras ya " ucap Aurel yang langsung keluar dari kamar.


Saat keluar kamar Aurel melihat semua orang sedang berkumpul diruang tengah.


" Hayyyy " sapa Aurel yang ikut duduk di samping Zahra.


" Bunda " Vyan berlari ke arah Aurel dan duduk di pangkuannya.


" Katanya mau jadi kakak, tapi tetep aja manja sama bundanya " ketus Aydan.


" Kak Ay no comment please! " ucap Vyan dengan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri.


" Hishhh " dengus Aydan.


Aurel melihat Zahra dan Rima sedang berbicang layaknya seseorang yang saling mengenal satu sama lain.


" Mom? mommy kenal sama tante Rima? " ucap Aurel.


" Tentu saja. Dulu mommy, daddy sama tante Rima bersahabat sejak kita smp. Sampai akhirnya Rima meninggalkan negara ini dan mom and dad ga bisa nemuin keberadaannya. Tapi memang dunia itu sangat sempit ya " ucap Zahra dengan tersenyum.


" Udah siap kak? " ucap Aurel pada Bagas. Bagas hanya tersenyum dan mengangguk saja. " Baiklah, tunggu adek kak. Mau ambil tas dulu " sambungnya yang langsung bangkit dari posisinya.


Vyan mencekal tangan Aurel " Bunda mau kemana " tanyanya.


" Bunda mau nganter ayah nak " jawab Aurel.


" Ikut " ucap Vyan sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Aurel menatap Bagas seolah meminta persetujuan dan Bagas hanya mengangguk pelan saja.


" Baiklah, ayo siap-siap dulu " ucap Aurel.


" Semuanya maaf ya lia gabisa ikut ngobrol, soalnya mau anter kak Tian dulu. Bolehkan mom " ucap Aurel.


" Ya sayang, jangan terlalu larut pulangnya " ucap Zahra.


" Baik mom " jawab Aurel yang langsung meninggalkan ruang tengah dan menuju kamarnya.


" Bunda apa Vyan harus pake baju yang sama kaya ayah? " tanya Vyan yang membuat Aurel mengernyitkan dahinya. " Aku dan Ayah membeli beberapa baju yang sama dan salah satunya yang tadi ayah pakai " sambungnya.


" Terserah kau sayang " jawab Aurel.


Akhirnya Vyan memutuskan untuk memakai baju yang sama dengan Bagas namun dia menggunakan jaketnya agar tidak terlalu terlihat seperti para pengawal hahaha.


Aurel pun mengenakan baju panjang berwarna hitam dengan rok panjang berwarna armi.


Setelah selesai mereka langsung menghampiri Bagas yang sudah menunggu di depan rumah.


Saat sudah menghampiri Bagas, tiba-tiba Raka memanggilnya dan membuat Bagas Aurel dan Vyan menoleh ke arahnya.


Raka merogoh ponsel miliknya dan langsung memotret mereka bertiga.


" Perfect!!! " ucap Raka sambil tersenyum.


Bagas hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mereka langsung memasuki mobil, Aurel duduk di depan bersama Bagas sedangkan Vyan duduk di belakang dengan ponselnya.


Setelah menempuh perjalanan 1 jam akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah perkampungan di kota yang sangat terpencil. Bahkan mereka harus turun dari mobil karena jalannya tidak memungkinkan untuk menggunakan mobil.


Saat mereka turun, semua warga menatap dengan takjub. Bagaimana tidak, di kampung yang kecil dan lusuh ini didatangi oleh 2pria tampan dan 1 wanita cantik nan baik hati. Aurel menyapa dan tersenyum pada setiap warga yang berpapasan dengannya, hal itu membuat Bagas sangat bangga pada Aurel.


* Kau memang istimewa, meskipun kau dari keluarga terpandang tapi kau tidak pernah membeda-bedakan derajat orang lain. Laki-laki yang mendapatkanmu kelak pasti akan sangat beruntung * batin Bagas.


Saat ini mereka sedang berada di rumah yang dulu pernah Bagas tempati. Mereka memasuki rumah tua itu, tempatnya masih terawat dan sangat bersih karena memang Bagas mengirimkan orang untuk merawat rumah itu.


Aurel melihat banyak sekali foto masa kecil Bagas yang terpampang di dinding ruang tengah. Dia melihat foto seorang wanita yang menjadi cinta pertama Bagas, yang selalu Bagas rindukan. Aurel memegang fotonya dan mengelusnya.


* Bu lihatlah sekarang anakmu sudah tumbuh menjadi lelaki yang sangat hebat. Dia tampan, kuat dan mandiri. Dia tidak ingin mengandalkan orang lain dalam setiap masalahnya. Aku sangat beruntung karena bertemu dengannya. Dia menjadi kakak dan sahabatku yang sangat ku sayangi. Dia sudah ku anggap sebagai keluarga saat pertama kali dia menampakkan diri di hadapanku. Aku selalu berdoa semoga Tuhan mempertemukan dia dengan wanita yang benar-benar baik, wanita yang bisa memberi kasih sayangnya seperti ibu. Dan aku berpikir siapapun yang menjadi pendampingnya kelak pasti dia sangat beruntung. Kak Tian bukan hanya tampan, dia sangat baik hati dan selalu menyayangi kami, Aku dan kak Ay. Aku berjanji pada diriku sendiri walaupun nanti setelah dia menikah, aku akan tetap menjadi pendengar yang baik untuknya * batin Aurel.


" Bunda " ucap Vyan yang tiba-tiba ada di hadapan Aurel.


Aurel menyimpan figura yang ia pegang ke tempat asalnya lalu berjongkok mensejajari Vyan.


" Ya sayang? " ucapnya.


" Ayah nunggu bunda di luar " ucap Vyan.


Aurel dan Vyan langsung keluar rumah itu dan mengikuti langkah Bagas. Mereka memasuki pemakaman umum di kampung itu. Langkahnya terhenti di depan kuburan dengan nama Mira yang tertulis di batu nisan. Ya, itu adalah tempat peristirahatan terkahir Mira, ibunda Bagas.


Mereka langsung berjongkok dengan menatap batu nisan itu. Saat ini Bagas sama sekali tidak meneteskan air matanya, Aurel mengerti mungkin Bagas tidak ingin menangis di hadapan Vyan. Namun Vyan bukanlah seorang anak seperti yang lainnya, dia mengerti perasaan Bagas saat ini. Vyan memeluk lengan kanan Bagas, menempatkan kepalanya di lengan kekar Bagas dan menutup matanya.


" Ayah menangislah, Vyan gaakan liat ayah nangis " ucapnya yang membuat Bagas mengelus rambut Vyan.


Hanya beberapa tetes air mata saja yang terjatuh di pipinya.


* Ibu Bagas datang, maafin Bagas karena baru bisa datang hari ini. Bu Bagas sangat merindukan ibu, Bagas rindu saat ibu membangunkan Bagas dengan sedikit omelan. Bagas rindu dengan masakan ibu yang masih terasa di lidah ini. Bagas rindu senyuman ibu, Bagas merindukan semuanya bu. Benar kata Aurel bu, merindukan seseorang yang sudah di panggil Tuhan itu sangat menyakitkan. Bukan tentang jarak lagi, melainkan dunia. Dunia kita sudah berbeda tapi aku yakin Ibu masih mengingatku. Putra satu-satunya ibu yang diharapkan menjadi seorang lelaki yang luar biasa, yang dapat membuat ayah dan ibu bangga. Bagas janji bu Bagas akan membuat keinginan ibu tercapai. Doakan Bagas bu * batin Bagas.


Aurel menghapus air mata yang terjatuh di pipi Bagas dan kemudian tersenyum.


" Kau sudah menjadi yang terbaik kak " ucap Aurel.