
"Bunda ceritakan pada aku apa yang terjadi" Tanya Vyan setelah Bagas pergi dari kamarnya.
"Sudah lah Bunda ngantuk" Aurel langsung menyelimuti tubuhnya dan memejamkan matanya.
Vyan menggelengkan kepalanya melihat sikap sang Bunda yang benar-benar seperti anak kecil.
Sedangkan di kamar lain, Bagas masih belum memejamkan matanya. Ia tidak biasa tidur tanpa memeluk istrinya.
Gimana ini, gabisa tidur begini jadinya, batin Bagas.
Sekuat apapun usaha Bagas mencoba untuk tidur tapi nyatanya tidak sesuai dengan ekspetasi. Dia keluar dari kamarnya dan kembali ke kamar Vyan untuk melihat istrinya.
"Ayah, kenapa?" Ucap Vyan dengan suara yang pelan saat melihat Bagas sedang mengintip.
"Suttttt, Bunda mu sudah tidur?" Tanya Bagas.
Vyan hanya mengangguk memberikan jawaban untuk Bagas. Bagas bernafas lega dan segera menghampiri istrinya. Ketika sudah dekat dengan Aurel, tiba-tiba saja Aurel melenguh dan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Karena terkejut Bagas langsung masuk ke kolong tempat tidur Vyan. Ia takut jika nanti Aurel bangun akan membuatnya marah lagi.
"Emhhhhh" lenguh Aurel.
Vyan menahan tawanya saat melihat Bagas masuk ke kolong kasur dengan buru-buru.
"Vyan" Ucap Aurel saat melihat Vyan belum tertidur.
"Iya Bunda?" Jawab Vyan.
"Kenapa belum tidur?"
"Ini baru mau tidur Bun" Vyan langsung memejamkan matanya namun senyum kecilnya belum hilang kala ia mengingat sang Ayah yang masih berada di kolong sana.
"Kamu kenapa senyum-senyum begitu Vyan?" Tanya Aurel.
Vyan membuka matanya dan malah tersenyum dengan lebar.
"Dibawah ada kucing garong Bun" Ucapnya.
"Hah?" Aurel langsung turun dari kasur dan melihat ke kolongnya. Aurel dan Bagas bertatapan saat itu.
"Ngapain Bay?" Ucap Aurel.
"Sini keluar ish, ngapain disitu" sambungnya.
Melihat istrinya tidak marah-marah membuat Bagas mengernyitkan dahinya. Walau seperti itu ia tetap keluar dari kolong kasur karena tidak ingin kejadian tadi terulang kembali.
"Kamu ngapain sih disitu, kayak anak kecil aja!" Omel Aurel saat Bagas sudah keluar dari kolong kasur.
"Emhh gapapa sayang. Tidur dikamar yuk, aku gabisa tidur kalo gaada kamu" Eluh Bagas.
Aurel tersenyum dan langsung mengangkat kedua tangannya "Gendong" ucapnya.
Yaampun ini benaran bundaku kan? Kurasa sikapnya berubah 360°, batin Vyan.
"Laksanakan Tuan Putri" Bagas langsung menggendong Aurel di punggungnya.
"Tidurlah sayang, selamat malam" Ucap Bagas pada Vyan.
"Selamat malam juga Ayah, Bunda" Jawab Vyan.
"Bay aku berat ya" Ucap Aurel.
"Enggak kok sayang, lagi pula mau seberat apapun tubuh kamu aku masih kuat buat gendongnya" Jawab Bagas.
Sebenernya ini bukan berat lagi sayang, malah berat banget. Tapi mau begimana lagi, aku takut mulut mereconmu itu kembali ke mode On, batin Bagas.
"Tapi tau gak Bay. Berat badan aku nambah 3 kilo minggu ini, badan aku gendutan ya?" Tanya Aurel setelah mereka sampai di kamarnya.
Ini namanya pertanyaan jebakkan. Dijawab jujur salah dijawab bohong salah, batin Bagas.
"Udah jangan banyak pikiran sayang, mending tidur lagi ya. Besok aku kan mau berangkat ke Surabaya" Ucap Bagas yang mengajak Aurel tertidur mengingat dirinya akan pergi ke Surabaya besok pagi untuk mengurus proyek pembangunan hotel di kota itu.
"Kamu jadi kesananya?" Tanya Aurel.
"Jadi sayang, aku harus ikut serta beberapa rapat disana" Jawab Bagas.
"Hahhh, tapi kamu janjikan cuma 1minggu disananya?" Ucap Aurel.
"Aku janji sayang, aku bakal pulang secepatnya setelah urusanku selesai" Ucap Bagas.
Aurel langsung masuk kedekapan Bagas dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bagas seperti biasanya.
***
Aurel membuka matanya saat alarm di ponselnya berdering. Hari sudah menunjukkan pukul 4.30 pagi. Aurel bangkit dari tidurnya dan segera membersihkan diri.
Setelah keluar dari kamar mandi ia membangunkan Bagas untuk sholat subuh berjamaah.
"Bayy,, udah pagi ini ayo bangun" Ucap Aurel dengan mengelus-elus wajah Bagas dengan lembut.
"Emhhhh" Lenguh Bagas.
Aurel langsung mengecup singkat bibir Bagas yang membuat empunya tersenyum.
"Selamat pagi suamiku" Ucap Aurel.
"Pagi juga my wife" Jawab Bagas dengan suara seraknya.
"Ayo mandi dulu, sholat subuh abis itu siap-siap berangkat. Pake pesawat pagi kan?" Ucap Aurel.
"He em" Bagas bangkit dari tidurnya dan memasuki kamar mandi.
Mereka segera melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah itu Aurel menyiapkan sarapan untuk Bagas dan kemudian merapikan pakaianya.
Saat ini Aurel sedang merengek pada Bagas karena ia ingin ikut mengantarkannya ke bandara namun Bagas melarangnya.
"Ini masih pagi banget sayang, gabaik buat kamu. Lebih baik kamu dirumah aja ya, biar aku dianter pak supir aja. Lagian nanti bareng Aji juga kok" Ucap Bagas.
"Emmm baiklah Bay. Kamu hati-hati ya. Kabari aku kalau udah nyampe" Ucap Aurel yang langsung menyalimi Bagas karena saat ini mereka sedang berada di depan mansion dengan mobil hitam yang sudah menunggu Bagas.
"Siap Sayang. Kamu masuk dulu sana" Titah Bagas.
"Iya, hati-hati Bay"
"Waalaikumsallam" Aurel langsung masuk ke dalam mansion.
Gue yang ngucapin salam, dia yang ninggalin duluan, batin Bagas dengan kekehannya.
"Lia" Panggil Zahra yang melihat Aurel akan memasuki kamarnya.
"Iya Mom?" Aurel mendekat kearah Zahra.
"Tian udah berangkat?"
"Udah Mom, baru aja berangkat"
"Kamu jadi kan nginep disini?"
"Jadi kok Mom, lagian disuruh nginep juga sama suamiku"
"Syukurlah"
"Masak apa Mom pagi ini?" Tanya Aurel.
"Mom mau masak nasi goreng aja Kak, yang gampang soalnya Daddy juga harus ke kantor pagi-pagi" Jawab Zahra.
"Biar Lia bantu Mom"
***
Siang harinya Aurel, Neli dan Rere berencana untuk pergi ke Mall sesuai janjinya kemarin. Aurel memakai gamis berwarna biru laut dengan hijabnya yang senada, sedangkan Neli dan Rere memakai celana dan baju panjang. Meskipun tidak mengenakan hijab, namun mereka mencoba untuk menyesuaikan dengan memakai baju tertutup.
"Eh kita mau kemana dulu ini?" Tanya Rere saat mereka sudah sampai di dalam Mall.
"Emmm aku pengen beli baju deh" Ucap Aurel.
"Boleh, ayok" Ajak Rere.
Mereka bertiga sampai di sebuat butiq di dalam Mall tersebut. Butiq itu menjual berbagai macam pakaian.
"Ini bagus gak?" Tanya Aurel.
Rere dan Neli saling pandang karena melihat warna baju yang Aurel pakai.
"Rel kamu gasalah? Perasaan kamu paling gasuka deh pake baju warna itu" Ucap Neli.
"Iya Rel, dari dulu lo gasuka pake yang warna ngejreng gitu kan?" Ucap Rere.
"Engga tau, pengen beli aja. Gimana bagus gak?" Tanya Aurel untuk kedua kalinya.
Neli dan Rere hanya mengangguk saja. Setelah memilih beberapa baju mereka memutuskan untuk makan siang.
"Makan siang dulu yok laper nih diriku" Ucap Rere yang dianggukki Neli.
"Rel mau makan ga kamu?" Tanya Neli.
"Mau, tapi gamau disini" Jawab Aurel.
"Terus?" Ucap Rere.
"Aku mau makan maranggi di samping sekolahnya Vyan kayaknya enak" Aurel mengelus perutnya berulang kali dan hal itu tertangkap oleh mata kedua sahabatnya.
"Yaampun Rel itu jauh banget, kita bisa telat makan siang nantinya" Ucap Rere.
"Yaudah kalian disini aja makannya! Aku mau kesana!!" Ucap Aurel dengan sensi.
"Neli? Adik ipar lo sehat kan?" Ucap Rere yang masih memandangi punggung Aurel.
"Aku ga yakin juga sih kalo dia sehat. Udah ah ayok ikutin dia daripada dia kenapa-napa bisa gaswat" Neli dan Rere langsung mengikuti Aurel.
Mereka memakan waktu 1jam di perjalanan untuk menuju tempat yang Aurel inginkan.
"Jam 1siang, fiks ini bukan jadwal makan siang namanya" Ucap Rere.
"Udahlah ikutin dulu aja. Lagian kamu juga laper kan?" Ucap Neli yang dianggukki Rere.
Aurel sudah duduk di kursi warung sate tersebut.
"Bu aku mau marangginya 3porsi ya" Ucap Aurel.
"Rel gue gasuka maranggi kenapa dipesenin?" Ucap Rere.
"Iya sama aku juga" Timpal Neli.
"Kalian itu geer banget, lagian siapa yang mesenin buat kalian" Ucap Aurel.
"Terus itu tiga buat,,?" Tanya Neli.
"Aku lah" Jawab Aurel dengan santainya.
Lagi-lagi Neli dan Rere saling pandang dan sama-sama mengangkat kedua bahunya.
"Rel kayaknya lo mesti di periksa deh" Ucap Rere.
"Maksud lo? Gue gasakit Rere markonah!!" Ucap Aurel.
Yaampun nama sebagus-bagus di bilang markonah, batin Rere.
"Lo harus periksa Rel. Mungkin cacing di perut lo udah pada gede jadi makan lo banyak" Ucap Rere.
"Ngaco! Gue sering minum obat cacing ya!" Ucap Aurel.
"Eh bentar deh,,, " Rere mengamati tubuh Aurel dari atas sampai bawah.
"Kenapa sih Re?" Ucap Aurel.
"Badan lo sedikit berisi, makan lo banyak, lo ngelakuin hal yang jarang banget lo lakuin. Apa lo?,,," Rere dan Neli saling pandang.
"Hamil!??" Ucap keduanya.
"Oh hamill" Jawab Aurel.
Sepersekian detik "Hah HAMIL!!!?"