Twins'

Twins'
73



Sayang, Batin Bagas dengan air mata yang sudah mengalir.


"Sayang aku butuh kamu sekarang" Gumam Bagas.


Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan ia tidak peduli dengan keselamatannya sendiri.


Tak berselang lama Bagas tiba di rumah sakit milik keluarga Arsenio. Dia memarkirkan mobilnya dan langsung berlari ke ruang IGD.


"Dadd" Bagas menghampiri Raka yang sedang duduk seraya menundukkan kepalanya.


Raka mendongakkan kepalanya menatap Bagas. Ia tersenyum namun senyuman itu bukan senyuman yang menandakan kebahagiaan melainkan kesedihan yang teramat dalam.


"Bagaimana keadaan Mommy??" Tanya Bagas.


"Masih ditangani dokter.." Ucap Raka dengan suara yang bergetar.


"Sebenarnya apa yang terjadi Dad?" Tanya Bagas.


"Dia menyembunyikan penyakitnya dari Daddy,, bahkan semua keluarga tidak ada yang mengetahuinya sama sekali" Ucap Raka.


Flashback On.


Pagi tadi Zahra sedang duduk di kursi yang tak jauh dari kolam berenang. Pandangannya memang kearah Amel dan Vyan yang sedang bermain air, namun tatapan matanya kosong. Tiba-tiba saja keluar air di pelupuk matanya. Zahra menghapusnya namun lagi-lagi air itu keluar. Dadanya terasa sesak saat mengingat perkataan Amel beberapa bulan yang lalu.


Aku ingin hidup selamanya dengan Mommy..


Rasanya kata-kata yang sempat Amel ucapkan selalu terngiang di telinganya.


"Bagaimana jika aku tidak bisa melihat Amel tumbuh menjadi anak remaja" Gumam Zahra dengan isakkannya.


"Sayang.." Zahra terkejut saat Raka tiba-tiba datang dan melingkarkan tangannya di leher Zahra dari belakang.


Zahra mendongakkan kepalanya menatap Raka.


"Mas.." Lirih Zahra.


Raka mengerutkan dahinya dan wajahnya sangat khawatir.


"Kamu kenapa sayang" Raka berjalan kedepan Zahra dan berjongkok di hadapannya seraya menatap lekat wajah Zahra.


"Aku takutt" Lirih Zahra.


"Apa yang kamu takutkan sayang?? Cerita sama Mas" Raka duduk di samping Zahra dan menarik Zahra kedalam pelukkannya.


"Aku takut tidak bisa menemui Lia untuk terakhir kalinya, aku takut tidak bisa menemani masa pertumbuhan Amel dan aku takut tidak bisa melihatmu lebih lama lagi" Lirih Zahra dengan bahunya yang semakin berguncang dengan cepat.


"Apa maksud kamu?" Tanya Raka dengan nada dinginnya.


"Aku takuttt mas hikss,," Zahra semakin mengeratkan pelukkannya.


Raka melerai pelukkannya dan menangkup wajah Zahra.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku??" Tanya Raka.


"Aku...akku.." Zahra menundukkan kepalanya seraya memejamkan mata.


"Bicara padakuu!!" Ucap Raka yang sedikit meninggikan suaranya.


"Aku menderita kanker otak" Lirih Zahra dengan sangat pelan namun masih terdengar oleh Raka.


Raka mendongakkan kepalanya menahan air mata agar tidak menetes.


Cobaan apa lagi ini Tuhannnn, Jerit Raka di dalam hatinya.


"Maafkan aku.." Ucap Zahra.


Raka menatap Zahra dan kembali memeluknya dengan erat.


"Seharusnya Mas yang minta maaf padamu. Maaf karena Mas tidak menyadarinya, Maaf karena kamu harus berjuang untuk melawan penyakit ini seorang diri" Ucap Raka.


Zahra melerai pelukkannya dan menatap Amel dengan air mata yang tidak terhenti.


"Mommyyy!!!!" Teriak Amel seraya melambaikan tangannya dengan senyum yang begitu ceria.


"Amelll!!!!" Zahra berteriak sambil berlari saat melihat Amel yang terpeleset saat akan menghampiri Zahra namun naas malah Zahra yang terjatuh dan dengan sigap Raka membantu Zahra sedangkan Amel telah di tangkap oleh Vyan yang bergerak lebih cepat.


Ternyata Zahra tidak sadarkan diri dan hidungnya mengeluarkan darah segar.


"Sayang bangunn.." Raka menepuk pelan pipi Zahra.


"Ada apa grandpa" Ucap Vyan sambil menggendong Amel.


"Grandpa akan membawa Grandma ke rumah sakit, kamu kabari Kak Ay" Ucap Raka.


"Aku mau ikutt Mommyyyy huaaaa!!!!" Teriakkan Amel membuat seluruh pelayan dan pengawal di mansion berlarian menghampiri Vyan.


"Kak Ay, Grandma tadi pingsan dan Grandpa membawanya ke rumah sakit.. Amel menangis ingin ikut dengan Grandma" Ucap Vyan.


"Apa?!" Ucap Aydan dengan mata membelalak.


"Apa yang terjadi??" Sambung Aydan.


"Lebih baik kita pergi menyusul Grandpa dulu Kak, Abang bisa ceritain nanti di mobil" Ucap Vyan yang di anggukki Aydan.


Aydan segera bersiap begitu juga dengan Vyan, Amel di bantu oleh pengasuhnya untuk membersihkan badan serta berganti baju.


Flashback off.


Sayang seharusnya kamu ada disini, seharusnya kamu bisa menghibur daddy yang sedang bersedih, Batin Bagas yang mengingat Aurel.


Bagas juga melihat Vyan yang sedang menenangkan Amel, juga ada Aydan dan Neli yang sedari tadi tidak bisa diam di depan ruang IGD.


Bagas menghampiri Vyan dan membawa Amel ke pelukkannya.


"Suttt jangan nangis sayang,, Mom pasti sehat lagi" Ucap Bagas.


Amel melingkarkan tangannya ke leher Bagas dan menyembunyikan wajahnya disana. Hanya terdengar isakkan dari mulut Amel yang membuat Bagas benar-benar mengingat Aurel ketika sedang menangis. Sikapnya sama persis dengan Amel.


Tak lama terlihat dokter sudah keluar dari ruangan IGD.


"Bagaimana keadaan istri saya dok" Ucap Raka.


"Nyonya tidak apa-apa Tuan. Syukurlah Tuan membawa Nyonya tepat waktu, karena jika tidak bisa menyebabkan dalam bahaya" Ucap Dokter.


"Nyonya akan di pindahkan ke ruang rawat inap,, Tuan bisa menjenguknya disana" Sambung Dokter.


"Baiklah,, terimakasih Dokter" Ucap Raka.


Setelah Zahra di masukkan ke kamar rawat, Raka dan Aydan masuk kedalamnya karena saat ini Zahra hanya bisa di jenguk oleh 2 orang saja.


Raka duduk di kursi samping ranjang Zahra. Ia menarik tangan Zahra dan menempatkannya ke pipi Raka.


"Sayang.." Lirih Raka.


Aydan menatap wajah Zahra yang terlihat pucat.


Bagaimana bisa Mom menyembunyikan hal sepenting ini dari kita, Batin Aydan.


Aydan memutuskan untuk keluar dari ruangan itu karena tidak ingin menatap wajah Mommy nya yang sangat memilukan hati. Setelah Aydan keluar, Bagas membawa Amel masuk ke dalam kamar. Ketika mereka masuk ternyata Zahra sudah membuka matanya.


"Mommyyy!!!" Ucap Amel seraya membuka kedua tangannya.


Bagas memberikan Amel pada Raka karena ia mengerti kondisi Zahra masih sangat lemah.


"Daddy aku ingin memeluk Mommyyy hiksss,," Ucap Amel.


"Mell Mommynya lagi sakit,, kasian dong. Mending kamu sama Dad aja ya, kan bisa liat Mommy juga disini" Ucap Raka.


"Tapi aku ingin Daddy!!" Teriak Amel dengan lantang.


Zahra yang melihat putrinya bersikeras ingin bersamanya akhirnya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Biar sama aku Mas" Ucap Zahra.


"Mom kondisi Mom masih lemah" Ucap Raka.


"Gak apa-apa Mas,, sini sayang" Zahra merentangkan tangannya.


Raka menidurkan Amel di samping Zahra, dengan cepat Amel memeluknya dari samping dengan sangat erat.


"Mommy kenapa Mom sering sakit hikss,," Ucap Amel.


"Mom hanya kelelahan sayang" Ucap Zahra.


"Apa Mom lelah karena mengurusku??" Tanya Amel.


"Tidak sama sekali. Mom tidak akan lelah walaupun harus mengurus adek selamanya" Ucap Zahra.


"Mommy semalam aku bermimpi buruk tentang Mommy" Ucap Amel seraya mendongakkan kepalanya menatap Zahra.


"Mimpii??" Ucap Zahra.


"Aku bermimpi Mommy pergi dengan nenek-nenek yang berpakaian putih" Ucap Amel dengan wajah polosnya yang membuat hati Zahra berdesir dan terasa sakit.


Apakah ini pertanda darimu Tuhan?, Batin Zahra seraya menciumi puncak kepala Amel..


_______________


Oke 2 kan??