
Vyan menggandeng tangan Amel dan membawanya ke perempattan komplek tempat banyaknya penjual kaki lima.
"Wahhhh" Ucap Amel dengan mata yang berbinar.
"Abangggg" Amel menatap Vyan dengan senyum yang menunjukkan giginya.
Vyan mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" Tanya Vyan.
"Nohh" Amel menunjuk penjual permen kapas.
Vyan melihat ke arah yang di tunjuk Amel.
"Mau?" Tanya Vyan yang dianggukki Amel.
"Yaudah ayok" Vyan menggandeng tangan Amel menuju penjual permen itu. Setelah itu Amel memesan 2 bungkus permen berwarna pink.
"Udah?" Tanya Vyan.
"Udah, mau pulang" Ucap Amel.
Vyan kembali menggandeng tangan Amel dan berjalan ke arah rumahnya. Pandangannya teralihkan saat melihat seorang wanita di dalam mobil di sebrangnya yang Vyan percaya itu adalah Aurel.
"Kamu tunggu disini sebentar Nyil, Abang ada urusan" Ucap Vyan. Vyan langsung berlari dan menghampiri mobil di sebrangnya.
Tok
Tok
Tok
Vyan mengetuk kaca mobil disamping kemudi.
"Kenapa dek?" Ucap seorang pria di dalam mobil. Vyan melihat ke jok belakang. Hanya ada seorang wanita paruh baya yang sedang tertidur pulas.
"Ah maaf Om" Vyan membungkukan sedikit badannya sebagai tanda maaf.
Vyan menjauh dari mobil dan berada di pinggir jalan. Tak lama mobil di depannya melaju kearah yang berlawanan dengan Vyan.
Apa hanya halusinasi?, Batin Vyan yang terus melihat mobilnya.
"Abanggg!!!!!!" Teriakkan Amel membuat perhatian Vyan teralihkan. Ia berlari bahkan tanpa menengok ke kanan kiri saat melihat Amel yang dibawa paksa oleh seorang pria tinggi yang memakai masker.
"Siallll!!!!!" Geram Vyan saat ia kehilangan jejak pria yang membawa Amel.
Vyan berlari sambil merogoh saku celananya dan meraih ponsel di dalamnya.
"Amel diculik, bawa beberapa pengawal ke perempatan komplek" Ucap Vyan lalu memutuskan lagi sambungannya.
Vyan berhenti di pertigaan jalan. Ia bingung harus mengambil jalan mana. Tidak ada petunjuk apa-apa ditempat itu.
"Tuan muda" Ucap beberapa pengawal yang baru datang. Karena mereka sejak tadi berada di rumah Bagas, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk menghampiri Vyan.
Vyan menadahkan tangannya, dan salah satu pengawal yang berada di dekat Vyan memberikan sebuah pistol.
"Jalan bercagak, lebih baik berpencar" Vyan mengambil jalan yang berada di kanannya. Saat beberapa langkah Vyan mendengar teriakkan Amel di jalan yang berbeda.
"Abanggg!!!!!" Teriak Amel. Dengan cepat Vyan mencari sumber suara dengan diikuti oleh semua pengawalnya.
Lagi-lagi ia bertemu dengan jalan bercagak, hanya saja ini hanya ada 2 jalan. Vyan berhenti sejenak mencari sumber suara Amel yang sudah menghilang. Seketika matanya tertuju pada sebuah manik berwarna pink, Vyan ingat saat tadi Amel sedang memakai gelang bermanik yang dibuat oleh Vyan sewaktu dulu.
Vyan mengikuti jejak yang mungkin sengaja Amel berikan untuk memberi Vyan petunjuk. Hingga tiba di manik terakhir berwarna putih. Vyan ada di sebuah lapangan yang cukup luas. Ilalang-ilalang yang menjulang tinggi dan jauh dari pemukiman.
Vyan mencari ke kiri dan ke kanan, namun tidak menemukan hasil. Hingga saat akan berjalan ia di kejutkan oleh suara pria dewasa di depannya. Vyan memerintahkan para pengawal untuk bersembunyi dan tetap tenang agar tidak menimbulkan sedikitpun suara.
Tangan Vyan mengepal saat melihat siapa pemilik suara itu. Ya, pria berpakaian persis seperti seseorang yang membawa Amel. Pria itu tampak berbicara di telefon, setelah selesai ia berjalan ke tempatnya semula. Vyan mulai mengikuti langkahnya dengan sangat pelan.
Krekkkkkk
Salah satu pengawal tidak sengaja menginjak ranting pohon hingga membuat pria yang diikutinya menoleh ke arah mereka. Ia mendekat dengan pistol yang berada di tangannya.
"Meowwwww!!!" Vyan bernafas lega saat seekor kucing melompat kearah laki-laki itu. Setidaknya saat ini ia aman, fikirnya.
Vyan dan para pengawalnya bersembunyi di sebuah batu besar yang tak jauh dari gubuk itu. Vyan nampak berfikir bagaimana cara mengeluarkan Amel di dalam sana.
"Aaaaaaaaa!!!!!!" Teriakkan Amel membuat fikiran Vyan kacau. Vyan menarik pelatuk pistol, dan tanpa aba-aba ia mendekat ke gubuk dengan tangan yang sudah memegang pistol dengan sempurna. Para pengawal yang melihat Vyan berjalan langsung mengikutinya, karena mereka harus melindungi Tuannya.
Melihat kedatangan Vyan dan bawahannya membuat pengawal yang menjaga gubuk segera bersiap. Tak lama terdengar suara tembakkan yang saling bersautan dari arah manapun. Pengawal yang bersama Vyan sama sekali tidak mendapat luka tembak karena mereka sudah di latih dengan sangat keras.
Setelah keadaan cukup tenang, Vyan berlari ke dalam gubuk. Ia menendang pintu dengan sangat keras dan melihat Amel yang sedang diikat di kursi dengan mulut yang diperban.
"Nyilll kamu gak apa-apa kan?" Tanya Vyan dengan nada dan raut wajah yang khawatir.
Amel hanya menangis dan menggelengkan kepalanya. Seketika mata Amel membulat dengan sempurna membuat Vyan mengerutkan keningnya.
"Ada apa Nyil?" Tanya Vyan seraya mencoba membuka tali yang mengikat kakinya.
BUGHHH!!!
Seseorang memukul bagian belakang kepala Vyan menggunakan balok hingga membuat Vyan terjatuh dan kepalanya mengeluarkan darah segar.
Pria bermasker lagi pelakunya, pria itu segera menarik kursi Amel, membuka ikatan pada kaki dan tangan Amel dan juga membuka perban di mulutnya lalu menodong kepalanya dengan pistol.
Vyan mencoba bangkit dari posisinya, rahangnya mengeras saat melihat keadaan Amel saat ini. Walaupun pandangannya buram ia masih bisa melihat bagaimana wajah Amel saat ini.
"Turunkan senjatamu anak kecil!!" Ucap pria yang menyandra Amel.
Dengan perlahan Vyan berdiri dan menyimpan pistolnya di dekat kakinya.
"Jangan sakiti dia" Ucap Vyan.
"Awwwwww abangggg!!!!" Jerit Amel saat pria di dekatnya menyekik lehernya dengan keras.
Vyan sudah sangat murka ia neraih pistolnya dan mengarahkan ke pria itu.
"Jangan pernah mencoba bermain-main denganku apa akan aku ledakkan kepala anak ini" Ucapnya.
Vyan menurunkan kembali senjatanya, namun masih dalam cekalannya. Ia menatap Amel lalu menganggukkan kepalanya dengan sangat perlahan. Seketika Amel tidak jatuh dan tidak sadarkan diri. Saat pria itu menoleh ke arah Amel dengan cepat Vyan menembaknya.
Dorrr
Dorrr
Dorrr
Bukan hanya sekali, tapi tiga kali Vyan menembak di bagian perut pria itu. Vyan menghampiri Amel lalu menendang pistol milik penyandra.
"Nyilll bangun nyill" Vyan menepuk-nepuk pelan pipi Amel.
"Shittt!!!!" Umpat Vyan. Vyan mengira Amel hanya berpura-pura tidak sadarkan diri, tapi ternyata itu nyata adanya. Vyan membopong Amel dan membawanya ke luar gubuk, sudah banyak pengawal yang berjajar di luar gubuk.
"Bawa pria yang di dalam gubuk, obati dia jangan sampai dia mati. Setidaknya bawa 1 untuk mencari dalang dari semua ini" Ucap Vyan.
"Baik Tuan Muda"
Vyan berjalan dengan sangat cepat. Di belakangnya terdapat banyak pengawal, bahkan lebih banyak dari tadi saat ia datang kesini. Mungkin salah satu pengawal mengetahui keadaan darurat yang terjadi pada Vyan.
Di tengah-tengah ilalang Vyan di kejutkan dengan kehadiran seorang lelaki paruh baya dengan membawa pistol di tangannya.
Prok
Prok
Prok
"Hallo Rangga!!!" Ucapnya dengan senyum devil.
"Kauuu!!!!" Geram Vyan.
___________
Up 2 dulu ya:')