Twins'

Twins'
76



Sebelum melanjutkan perjalannya Aurel meminta Raka untuk menghampiri keluarga Bara, setidaknya ia harus meminta izin pada Bu Sari karena ia sudah membantunya selama ini. Sebelumnya, Aurel pun sudah menceritakan siapa Bu Sari pada Raka.


"Assalamualaikum Buu" Ucap Aurel setelah sampai di depan rumah Bu Sari dan melihat Bu Sari sedang menyapu halaman rumahnya.


"Waalaikumsallam.. Eh neng Lia, ayo masuk dulu Neng" Ucap Bu Sari.


"Ah gak usah Bu. Lia kesini cuma mau izin, Lia mau pulang ke rumah Lia" Ucap Aurel.


"Neng mau pulang??" Tanya Bu Sari dengan ragu.


Aurel tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Daddy sudah berhasil menemukan Lia Bu, tidak ada alasan untuk tidak pulang lagi" Ucap Aurel.


Bu Sari menatap lelaki di samping Aurel. Mungkin umurnya dengan lelaki itu tidak terpaut jauh. Eh tapi tunggu-tunggu, rasanya wajah lelaki itu tidak asing tapi dimana Bu Sari pernah melihatnya?. Bu Sari terus menatap Raka dengan ekspresi bingung.


"Ehemmm.." Deheman Raka membuat Bu Sari tersadar dan langsung kembali menatap Aurel.


"Perkenalkan saya Ayah dari Aurel. Saya kesini untuk menjemputnya pulang, sebelumnya saya sangat berterima kasih pada Ibu yang telah merawat anak dan cucu saya dengan sangat baik" Ucap Raka.


"Eh bukan saya yang menolong Neng Lia, tapi anak saya. Nah itu dia anak saya" Ucap Bu Sari seraya menunjuk Bara yang berjalan mendekatinya.


"Assalamualaikum Bu. Ini ada apa?" Tanya Bara.


"Waalaikumsallam.." Jawab semuanya.


"Ini Bara, Neng Lia teh mau izin pulang. Dia udah di jemput sama Bapaknya yang itu" Bu Sari menunjuk Raka.


"Ibu gak usah tunjuk-tunjuk atuh, Bara juga liat bapak-bapak itu" Bisik Bara pada Bu Sari.


"Takutnya kamu gak bisa liat jelas A" Bisik Ibu Sari yang membuat Bara mendengus.


"Emm Bara,, sebelumnya aku berterimakasih banyak sama kamu karena kamu telah menolongku saat itu. Suatu saat aku akan mengganti semua pengorbananmu padaku, aku janji" Ucap Aurel.


"Tidak Aurel. Lagian saat itu hanya kebetulan saja. Apa kamu akan pergi saat ini juga?" Ucap Bara.


"Ya, karena ada seseorang yang sangat menantikanku" Aurel berbicara dengan senyumannya. Seseorang yang di maksud Aurel adalah Zahra sang Mommy, tapi Bara berfikir seseorang itu adalah suami Aurel.


"Ah ya, kenalkan ini Daddy" Aurel mengenalkan Raka pada Bara. Raka dan Bara saling berjabat tangan dan tersenyum.


"Terimakasih sudah membantu putriku saat itu. Apa yang bisa saya berikan untuk membalas semua kebaikan anda?" Ucap Raka.


Jika aku menginginkan anakmu apa kau akan memberikannya??.. Ah tidak-tidak, jangan konyol Bara, sudah jelas dia sudah menolakku beberapa menit yang lalu, Batin Bara seraya menatap lekat wajah Aurel.


"Bara kunaon!!" Tegur Bu Sari seraya menyenggol lengan Bara dan membuat Bara tersadar lalu kembali menatap Raka.


"Saya ikhlas menolong Aurel saat itu, dan saya tidam meminta apapun untuk itu" Ucap Bara.


Aurel mendekat ke arah Bu Sari dan memeluknya.


"Terimakasih Bu, Lia akan kembali kesini untuk bertemu Ibu dan Aisah" Ucap Aurel.


Bu Sari menatap Aurel dengan mata yang berkaca-kaca, padahal Bu Sari sangat ingin Aurel menjadi menantunya.


"Hati-hati Neng" Ucap Bu Sari.


"Terimakasih atas kebaikanmu selama ini" Ucap Aurel.


"Tidak usah berterimakasih, itu sudah kewajibanku. Semoga kau bahagia disana" Ucap Bara seraya tersenyum.


"Yasudah kalau seperti itu kami pamit. Assalamualaikum" Ucap Raka.


"Waalaikumsallam.." Jawab Bara dan Bu sari.


Aurel dan Raka kembali lagi ke mobilnya. Di tengah perjalanan Raka mengintrogasi Aurel mengenai kehidupannya selama beberapa bulan ini.


"Kamu kerja jadi guru TK?" Tanya Raka.


"Iya Dad.." Jawab Aurel.


"Apa kehidupan kamu selama ini sulit? Bagaimana dengan pola makanmu?" Ucap Raka dengan mata yang sudah berkaca-kaca lagi.


"Jika di bayangkan memang sulit, tapi karena cucu Daddy ini aku jadi lebih kuat menjalaninya" Ucap Aurel.


"Bagaimana keadaan cucu Daddy di dalam sana?" Ucap Raka.


"Dia sehat, kemarin aku memeriksanya. Jenis kelaminnya perempuan Dad" Ucap Aurel.


"Syukurlah jika sehat.." Ucap Raka.


"Emmm Dad, apa selama ini Kak Tian nyari Lia?" Ucap Aurel dengan ragu-ragu.


Raka menoleh sekejap pada Aurel lalu fokus lagi menyetir mobil.


"Menurutmu apa dia mencarimu atau tidak?" Tanya Raka.


"Entahlah.." Ucap Aurel dengan lesu.


"Dia mencarimu, dia benar-benar terlihat seperti orang gila setelah kamu pergi. Di tambah dengan Opa, Oma, Aydan dan Erik yang ikut membencinya saat mengetahui kelakuannya padamu. Mungkin jika bukan Daddy yang menyemangatinya dia tidak akan hidup lagi" Ucap Raka membuat Aurel terkejut saat mendengar kata terakhir yang di ucapkan Raka.


"Maksud Daddy?" Tanya Aurel.


"3 bulan setelah kepergianmu, dia jatuh sakit. Keadaannya saat itu benar-benar drop. Badannya sangat panas, dia sering muntah, dan yang lebih parahnya berat badannya sampai menurun drastis. Dokter mengatakan kalau dia terlalu bekerja sangat keras hingga sering melupakan tidur dan makannya. Ditambah saat-saat itu perusahaannya mengalami masalah yang benar-benar serius. Dia harus mengurus masalah perusahaannya dan mencarimu. Kamu bisa lihat nanti saat bertemu dengannya. Dia sangat beda saat terkahir kali kamu melihatnya" Ucapan Raka benar-benar membuat Aurel menangis. Di satu sisi dia menyesali apa yang telah ia lakukan pada Bagas karena sudah meninggalkannya, namun di sisi lain ia masih belum bisa melupakan kejadian saat itu.


"Bagaimana dengan Vyan??" Tanya Aurel.


"Dia anak yang kuat, selama ini dia juga membantu Tian mengurus perusahaannya. Namun, kehadiran keluarga aslinya kembali membuat Vyan agak beda, dia menjadi pendiam dan sering menyendiri di kamarnya. Jika bukan Amel yang menghiburnya, dia tidak akan bisa tersenyum.." Ucap Raka.


"Apa yang terjadi dengan keluarganya? Kenapa mereka datang?" Tanya Aurel.


"Dulu Amel sempat di culik oleh seseorang. Vyan mencarinya dan berhasil menemukannya hari itu juga. Ternyata yang menculik Amel adalah pamannya, adik dari Ayah kandungnya. Dia menginginkan Vyan untuk mengalihkan harta yang jatuh ke tangan Vyan menjadi miliknya. Memang semua itu tidak berhasil karena Tian datang dan membantunya. Namun setelah kejadian itu Vyan berubah. Daddy sempat mendengar Vyan bertelfon dengan Ayahnya, dia meminta Vyan untuk kembali padanya namum dengan keras Vyan menolaknya dengan alasan dia sudah mempunyai kami sebagai harta berharganya" Ucap Raka.


***


Sebenernya Author nulis itu seusai mood,, kemarin-kemarin mood Author benar-benar sedang kurang baik, jadi Author tidak up.


Tapi Author usahakan kedepannya tidak akan menyangkut pautkan masalah pribadi dengan novel ini.


Mianhae:(