Twins'

Twins'
20.



" Kamu pikir kakak ngapain disini? " Bagas malah menanya balik pada Aurel.


" Ya mana aku tau, orang kakak tiba-tiba ada disitu " jawabnya.


" Hish dasar, kalo bukan karena oma mana mau gue disini dengerin lia telfonan sama Maheer " guman Bagas.


" Kakak ngomong apa baca mantra sih, mulutnya begerak tapi gada suaranya " ucap Aurel.


" Iya lagi baca mantra buat ngusir virus kebucinan kamu biar ga nular " jawab Bagas " Dah ah cepet turun, kita ditungguin yang lain buat makan malem " ucap Bagas yang langsung bangkit dari posisinya.


" Kakakkkk " rengek Aurel yang membuat Bagas mengernyitkan dahinya.


" Apaan? jangan minta yang aneh-aneh pliss " ucap Bagas.


Aurel merentangkan tangannya " Gendong " ucapnya dengan nada manja.


" Ga! Udah gede, gada gendong-gendongan. Cepet jalan " ucap Bagas dengan tegas.


Aurel malah merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil memainkan ponsel " Yaudah kalo gamau gendong, lia gabakal turun " ancam Aurel.


Bagas mengacak rambutnya dengan kasar. Dulu memang lia sering meminta gendong pada Bagas namun itu 2 tahun yang lalu, saat tubuhnya masih ringan.


" Liaa badan kamu itu udah ga langsing sekarang " ucap Bagas.


Aurel menoleh kearah Bagas dan menatapnya dengan tajam " Maksud kakak aku gendut? " ucapnya.


" Enggak " Bagas menjawab dengan singkat.


" Terus itu? " ucap Aurel.


" Maksud kakak badan kamu yang sekarang ga sekecil dulu. Dulu kakak fine fine aja kalo mau gendong kamu, lah sekarang badan kamu udah berisi bisa sesek nih nafas " jawab Bagas.


" Tau ah!! Gabakal turun aku " ucap Aurel.


Bagas menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menghampiri Aurel, dia berjongkok membelakangi Aurel


" Ayo naik " ucapnya.


Aurel tersenyum dan dengan cepat dia naik ke punggung Bagas dan mengalungkan tangannya di leher Bagas.


" Yukkk " Aurel sangat antusias saat sudah berada di gendongan Bagas.


Bagas membawa Aurel turun ke meja makan, itu sangat melelahkan karena kamar Aurel ada di lantai 2 dan anak tangganya lumayan banyak.


Semua orang menatap mereka dengan bingung namun senang karena melihat Aurel sangat bahagia.


Setelah sampai di meja makan, Bagas langsung menurunkan Aurel dan duduk di bangkunya dengan mengatur nafas.


" Capek kak? " ledek Raka.


" Nggak, ga kerasa malah " jawab Bagas dengan nafas yang tersengal.


" Itu jelas karena badanku sangat langsing " ucap Aurel dengan bangga.


" Berapa kilo kamu dek? " tanya Bagas.


" 47 kilo doang kak " jawab Aurel dengan santai.


Bagas membulatkan matanya saat mendengar jawaban Aurel " Seriusan? " ucapnya yang mendapat anggukkan dari Aurel " Perasaan berat banget dah. 47 rasa 67 " sambungnya.


" Kebanyakan dosa " timpal Aydan.


" Ehhh sembrono kamu kalo ngomong kak!! " ucap Aurel dengan sengit.


" Iyalah kebanyakan dosa, pacaran udah berapa taun itu nabung dosa namanya " jawab Aydan.


" Ya, maka dari itu aku pengen cepet nikah sama Maheer " jawab Aurel yang membuat Bagas tersedak karena memang dia sedang meminum air putih. Bagas memelototkan matanya ke arah Aurel dan memberi isyarat kalau disitu ada Vyan yang sedang mendengarkan perbincangan mereka.


" Bunda mau nikah sama yang lain? Kenapa engga sama ayah? " tanya Vyan dengan polos.


" Ahh engga sayang, ayah pasti akan menikah dengan bunda nanti " jawab Bagas " Doakan saja " bisiknya pada Vyan.


" Nikah-nikah aja, kuliah dulu beresin baru bisa nikah kalian " ucap Zahra yang baru datang bersama Rima dan Vita.


" Eh mommy " ucap Aurel menampilkan deretan giginya.


" Udah-udah ini ada di meja makan. Mari makan jangan ngobrol terus " tegas Opa yang membuat semua orang terdiam dan patuh akan perintahnya.


Setelah selesai menghabiskan makanannya semua orang berkumpul di ruang tengah sambil menonton tv kecuali Zahra, karena dia sangat lelah dan sedang beristirahat juga Aydan dan Vyan karena mereka sedang membeli cemilan.


Saat tengah asik berbincang, semua orang di kagetkan dengan suara teriakkan dari kamar Raka. Itu adalah teriakkan Zahra, sang istri. Dengan cepat Raka berlari ke arah kamarnya dan membuka pintu dengan sangat keras. Dilihatnya Zahra sedang terduduk di lantai seraya memegangi perutnya.


" Sayang kamu kenapa " ucap Raka dengan wajah khawatirnya. Dia membantu istrinya untuk duduk kembali di ranjang, saat sudah duduk Raka melihat ada cairan putih dan tak lama Zahra tidak sadarkan diri.


Dengan cepat Raka membopong tubuh istrinya untuk membawa ke rumah sakit.


" Mommy kenapa dad " ucap Aurel dengan tetesan air matanya.


" Kamu siapin perlengkapan buat lahiran aja, kayaknya mom udah mau lahiran " ucap Raka dengan terburu-buru membawa Zahra ke mobilnya.


Aurel dengan cepat masuk kedalam kamar orangtuanya dan membawa perlengkapan yang memang sudah disiapkan sebelumnya.


" Biar kakak anter de " ucap Bagas karena Aydan sedang keluar untuk membeli makanan.


Aurel mengangguk dan terburu-buru jalan ke mobil Bagas.


" Lia kamu tenang aja dulu, disana ada daddy " jawab Bagas.


" Gimana aku bisa tenang kak, tadi mommy pinsan " ucap Aurel dengan sedikit meninggikan suaranya.


Bagas mengerti kecemasan Aurel saat ini. Dia tidak boleh terpancing emosi menghadapi wanita yang di cintainya itu. Bagas menggenggam tangan Aurel yang ada di sampingnya dan mengelusnya.


" Tenang de, kalo kita ngebut kakak khawatir nanti malah kita yang masuk rumah sakitnya " ucap Bagas dan berhasil membuat Aurel tenang dan tidak panik lagi " Sekarang lebih baik kamu banyakkin doa biar mom gapapa dan adek kecilnya baik-baik aja " sambungnya.


Aurel mengangguk dan memejamkan matanya. Tak lama mobil itu sampai di depan rumah sakit, dengan cepat Aurel turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah sakit. Bagas ikut berlari dengan membawa tas perlengkapan Zahra.


" Liaaa !!! " teriak Bagas.


Aurel menghentikan larinya dan berbalik ke arah Bagas, dia melihat Bagas membuka jaketnya " Kenapa sih kak " ucap Aurel.


Bagas menghampiri Aurel dan memakaikan jaket miliknya


" Lain kali liat-liat dulu baju apa yang kamu pake " ucap Bagas.


Aurel baru menyadari bahwa dia hanya memakai baju pendek yang ketat dan membuat lekukan di tubuhnya terlihat " Lupa kak lagian lagi buru-buru juga " ucap Aurel.


Bagas menggenggam tangan Aurel dan membawanya ke tempat khusus keluarga Arsenio. Disana sudah terlihat Aydan dan Vyan, karena memang saat Raka akan membawa Zahra ke rumah sakit dia berpapasan dengan Aydan yang baru datang.


" Kakk " ucap Aurel yang langsung memeluk Aydan.


Aydan mengelus rambut panjang milik adiknya itu dan mencium puncak kepalanya " Tenanglah, mom gapapa. Dokter sudah menanganinya tadi " ucapnya.


Aurel hanya mengangguk di dalam dekapan Aydan. Tak lama terdengar suara tangisan sang bayi yang membuat Aurel melepaskan pelukannya.


Aurel tersenyum ke arah Aydan dengan sisa air mata yang masih menetes, tentu saja itu adalah air mata kebahagiaan.


Setelah beberapa menit menunggu di luar terlihat dokter keluar dari ruangan itu. " Dok bagaimana kondisi mommy? " ucap Aurel.


" Mommy mu baik-baik saja, adikmu juga sangat cantik. Kalian mau masuk? " ucap Dokter.


Aurel mengangguk dengan cepat.


" Masuklah, asal jangan berisik karena mommy mu belum sadarkan diri " ucap Dokter.


" Baik dok, terimakasih "


Aurel dan yang lainnya langsung memasuki ruangan itu. Terlihat Raka sedang mengadzani bayi kecil yang sangat imut itu.


Aurel menghampiri Zahra dan mengecup keningnya


" Terimakasih mommy " ucap Aurel.


Aurel menghampiri Raka yang telah selesai mengadzani adiknya. Dia tersenyum saat melihat adiknya sangat mirio dengan wajahnya.


" Dia benar-benar mirip sama kamu de " ucap Raka pada Aurel.


" Iya dad sangat mirip, padahal kan yang bikin kalian berdua kenapa bisa miripnya sama lia " ucap Aurel dengan polos.


Raka menatapnya tajam " Kamu itu! Anak kamu masih disini liat!! " ucap Raka sambil menunjuk ke arah Vyan.


" Dad mau gendong dong " ucap Aurel.


Raka memberikan anak bungsunya itu pada Aurel dengan sangat hati-hati. Aurel tersenyum saat melihat adiknya sedang tertidur dengan sangat lucu. Wajahnya benar-benar mirip dengannya hanya saja yang membedakan adalah adiknya memiliki lesung pipi yang bahkan walaupun tidak tersenyum lesungnya masih terlihat walau sedikit.


" Hay adik kecil kenapa kau mirip sekali denganku? " ucap Aurel.


" Karena kamu kakaknya lah, sini gantian " ucap Aydan yang langsung mau mengambil adik bungsunya di gendongan Aurel.


" Hati-hati dong kak!! Nanti bangun ish " ketus Aurel.


Aydan tidak memperdulikan ucapan Aurel, dia masih mencari posisi nyaman untuk adiknya itu.


" Daddy udah nyiapin namanya? " tanya Aurel.


" Udah, tapi bukan daddy sama mommy yang nyiapin nama itu " jawab Raka.


" Terus? " ucap Aurel dengan mengernyitkan dahinya.


Raka menunjuk kearah Vyan yang sedang mengelus pipi adiknya di gendongan Aydan " Dia " ucap Raka.


" Vyan? " tanya Aurel memastikan.


" Hemm " jawab Raka sambil melangkahkan kakinya ke bangku sebelah istrinya.


" Siapa namanya dad? " tanyanya.


" Tanya aja sih sama Vyan Lia " jawab Raka yang sedang menggenggam erat tangan Zahra.


" Ish dasar daddy laknat " gumam Aurel.


Aurel menghampiri Vyan dan duduk disampingnya


" Vyan " ucapnya.


" Hemm " jawab Vyan namun pandangannya masih pada bayi mungil di depannya.


" Liat bunda dulu! " ucap Aurel.


Vyan menoleh ke arah Aurel dan menatapnya " Apa bundaku tercinta " ucapnya.