Twins'

Twins'
92



Keesokkan harinya Aurel mengawali hari seperti biasanya. Membangunkan Bagas, melaksanakan shalat subuh, membangunkan Vyan, menyiapkan sarapan untuk Bagas dan Vyan, lalu memandikan Vano. Begitulah kegiatannya sehari-hari.


Tetapi hari ini ada yang beda. Sejak pagi setelah shalat subuh berjamaah, Bagas pergi ke kantornya karena mempunyai urusan yang harus segera ia selesaikan. Alhasil, Aurel hanya menyiapkan sarapan dan bekal untuk Vyan saja.


"Ayah kemana Bun?" Tanya Vyan setelah duduk di kursi meja makan.


"Ayah masuk kantor pagi Bang. Ada urusan katanya" Jawab Aurel yang masih menata makanan di atas meja.


"Abang mau bawa bekal apa?" Tanya Aurel.


"Yang ada aja Bun. Oh iya Bun, Abang izin pulang telat ya. Pulang sekolah Abang mau ngerjain tugas di rumah Rian" Ucap Vyan.


"Jangan terlalu malem Bang pulangnya" Ucap Aurel yang dianggukki Vyan.


Aurel dan Vyan memakan sarapannya tanpa suara seperti biasanya. Setelah bersarapan Vyan mengambil tas gendongnya di sofa lalu menyalimi Aurel.


Setelah kepergian 2lelaki di hidupnya saat ini. Aurel kembali ke kamar untuk melihat Vano yang tadi masih terlelap.


"Alooo anak Bundaaa" Ucap Aurel pada Vano. Vano tersenyum sambil menggerakkan kedua tangannya seakan mengerti apa yang diucapkan Aurel. Aurel memandikan Vano lalu membawa Vano ke teras rumah untuk menjemurnya.


Siang harinya Vano terus merengek bahkan menangis. Sudah berbagai cara Aurel lakukan untuk mendiamkan Vano namun Vano tidak berhenti menangis. Aurel memutuskan untuk menelfon Bagas.


"Ishhh kemana sih kamu Mas. Ini anaknya rewel bangett" Gumam Aurel saat panggilannya sama sekali tidak mendapat jawaban.


Sampai akhirnya Aurel berinisiatif untuk membawa Vano ke kantor Bagas.


"Mang bisa anter Lia ke kantor Mas Tian?" Tanya Aurel pada Mang Tanu yang sedang menyeruput kopi.


"Ohh hayu Non. Bentar Mang Tanu keluarin dulu mobilnya" Ucap Mang Tanu yang dianggukki Aurel.


Karena Aurel sudah bersiap diri akhirnya mereka langsung menuju kantor Bagas. Anehnya, selama diperjalanan Vano tidak menangis bahkan merengek.


Tak lama Aurel sampai di lobby kantor.


"Mang pulang aja, biar Lia pulang sama Mas Tian" Ucap Aurel.


"Baik Non" Mang Tanu segera melajukan mobilnya.


Aurel berjalan anggun memasuki kantor Bagas. Banyak yang iri karena penampilannya yang sangat elegan walaupun hanya memakai rok dan atasan polos.


Aurel segera menaiki lift khusus CEO dan orang-orang penting di perusahaan. Lift terhenti di lantai 10, yang mana lantai paling atas. Saat pintu lift terbuka, terlihat ruang kerja Aji yang terhubung dengan ruang kerja Bagas.


"Ji.." Panggil Aurel pada Aji yang sedang sibuk membuka-buka kertas dihadapannya.


"Astaghfirullah Bu. Kaget saya" Ucap Aji sambil mengelus dadanya.


"Hehe maaf Ji. Mas Tian ada?" Tanya Aurel.


"Gak ada Bu. Bapak baru aja pergi katanya ada urusan" Jawab Aji.


"Kamu gak ikut?"


"Enggak Bu. Soalnya Bapak udah ada yang nemenin" Setelah mengucapkan kalimat itu Aji langsung membungkam mulutnya.


Aurel mengerutkan keningnya "Siapa tang nemenin?" Tanya Aurel.


"Emm itu anu Bu.." Jawab Aji dengan gugup.


"Kenapa sih Ji?"


"Saya juga kurang tau Bu. Tadi Bapak cuma bilang mau pergi sama temennya" Jawab Aji.


"Ohh yaudah aku nunggu di ruangannya aja. Terimakasih Ji" Ucap Aurel yang akan memasuki ruangan Bagas namun ditahan oleh Aji.


"Jangan Bu" Ucap Aji dengan cepat.


Aurel menatap Aji dengan kerutan di keningnya "Kenapa?"


"Emm itu.. Lebih baik Ibu tunggu dirumah saja. Takutnya Bapak lama kasian Vano Bu" Ucap Aji.


Saat membuka pintu Aurel mengerutkan keningnya saat mencium parfum wanita di dalam ruang kerja Bagas. Ia tau ini bukan aroma parfum miliknya. Tapi siapa?. Ah, mungkin rekan kerjanya. Aurel mencoba berfikir positif. Ia masuk ke dalam ruangan Bagas dan duduk di sofa. Aurel melihat ke sekeliling ruangan itu, tidak ada yang berubah semenjak terakhir kali ia datang ke kantor ini.


Sampai 30menit Bagas belum terlihat batang hidungnya. Vanopun sudah tertidur di sofa dengan tas Aurel yang dijadikan penahan agar tidak jatuh. Aurel beranjak dari kursinya dan mendekati meja kerja Bagas. Ia sedikit membaca-baca dokumen diatas meja. Banyak yang ia mengerti namun banyak pula yang tidak dimengerti. Aurel kembali menyimpan dokumen ditempat semula lalu pandangannya teralihkan pada laptop yang masih menyala. Aurel memutari meja kerja dan duduk di kursi Bagas. Ia melihat halaman email yang belum Bagas tutup. Ia membaca satu persatu hingga pada email di barisan ke3 matanya terbelalak saat membacanya.


'Aku tunggu di restoran A saat jam makan siang, aku rindu kamu, aku harap kamu menepati janji yang kamu berikan dulu ❤️Aku juga ingin menghabiskan malamku denganmu seperti dulu lagi '


Deg!


Rasanya seperti dihantam batu besar di bagian dadanya saat melihat pesan yang dikirimkan seseorang. Dan dengan bre*gseknya Bagas menjawab.


'Siap, aku tidak akan melupakan janjiku. Akupun merindukanmu ❤️ Tunggu aku' Jawab Bagas.


Aurel mengepalkan tangannya dengan kesal. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia beranjak dari kursi dan menggendong Vano yang masih terlelap.


"Bu ada apa?" Tanya Aji saat melihat Aurel keluar dari ruangan Bagas dengan deraian air mata. Namun, Aurel mengacuhkan ucapan Aji. Ia terus berjalan cepat memasuki lift dan dengan cepat juga memencet tombol lift agar segera tertutup.


Di luar kantor Aurel melambaikan tangannya saat satu taxi melintas di hadapannya. Saat taxi terhenti, Aurel cepat memasuki taxi tersebut.


"Mau kemana Bu?" Tanya supir taxi.


"Restoran A" Ucap Aurel. Ia ingin melihat siapa wanita yang mengirimkan pesan kepada suaminya itu. Dan yang kebih parahnya ia bilang jika ia merindukan menghabiskan malamnya dengan Bagas.


Selama perjalanan Aurel menatap Vano dengan sendu, ia megelus-elus pipi Vano yang masih terlihat nyaman dari tidurnya. Tak lama taxi terhenti di depan restoran yang Aurel tuju. Aurel tidak turun dari mobil, ia hanya melihat ke sekeliling lalu menangkap orang yang dicarinya. Tangannya terkepal saat melihat suaminya sedang tertawa bersama wanita lain dan wanita dihadapannya seperti sudah tidak sungkan lagi. Ia mengelus-elus pipi Bagas sambil tersenyum.


Aurel merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel didalamnya. Ia menelfon Bagas, namun 1 2 3 telefonnya sama sekali tidak dijawab. Ia melihat jika Bagas hanya mengangkat ponselnya lalu menyimpannya lagi seakan tak mempedulikan panggilan Aurel.


Aurel tidak akan menyerah, ia terus menelfon Bagas hingga pada panggilan yang entah keberapa kali akhirnya Bagas mengangkat telfonnya. Aurel melihat Bagas keluar dari restoran dan menjawab telfon Aurel dengan tangan yang sedikit menutup mulutnya.


Aurel mengatur nafasnya "Lagi dimana Mas?" Tanya Aurel.


'Dikantor. Lagi ada rapat, bisa gak kamu nelefonnya nanti lagi. Aku gabisa ninggalin rapatnya terlalu lama. Nanti kalau udah selesai aku telefon balik ya. Dah'. Dengan mudahnya Bagas memutuskan panggilan telefonnya.


Aurel melempar ponselnya ke jok yang ada di sampingnya "Maju pak" Ucap Aurel yang sudah mengalihkan pandangannya dari 2orang yang ia benci hari ini.


"Kemana ya Bu?" Tanya Supir taxi.


"Kompleks X nomor 13" Ucap Aurel yang dianggukki supirnya.


Setelah sampai di rumahnya Aurel memilih untuk mengurung dirinya di kamar Vyan dengan membawa Vano. Ia tidak berselera untuk beristirahat di kamar milik Bagas.


Aurel terus menatap Vano dengan tatapan sedihnya. Berulang kali ia menepis air matanya agar tidak mengenai wajah Vano. Aurel kembali mengingat pada saat Bagas mematikan tv saat ia menonton film pelakor.


Jadi ini alasan kenapa Mas gak mau aku nonton siara itu? ternyata Mas juga melakukan hal yang sama?, Batin Aurel.


•••


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sabar ya, lelaki mah emang gitu:')