
Waktu berjalan begitu cepat. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Udara yang tadinya sangat panas berubah menjadi udara dingin karena musim panas berganti menjadi musim hujan.
Kini sudah 1 bulan sejak Aurel melahirkan. Bayi yang tampan, berkulit putih dan bermata besar yang diberi nama Vano Andrean Putra Nugraha sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dan hari ini adalah hari dimana Amel dan Raka memutuskan untuk pindah dari negara ini dan pergi ke negara K. Aurel, Bagas, Vyan, Vano, Aydan dan Neli mengantarkan Raka dan Amel ke bandara. Setelah berbagai macam ritual yang dilakukan keluarganya sebelum Raka dan Amel pergi akhirnya pesawat yang mereka tumpangi sudah lepas landas dari bandara.
Vyan tak henti-hentinya menatap kepergian pesawat yang membawa gadis tercintanya. Sampai pesawat benar-benar sudah tidak terlihat akhirnya Vyan menjatuhkan setetes air mata yang langsung ia tepis. Bagas mengusap pundak Vyan lalu tersenyum.
"Gak akan lama kok Bang" Ucap Bagas yang dianggukki Vyan.
Aydan dan Aurel memutuskan untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Bagas membukakan pintu mobil untuk Aurel yang sedang mengais Vano. Selama perjalanan menuju rumah banyak diisi dengan perbincangan antara Aurel dan Bagas sedangkan Vyan hanya akan berbicara jika Aurel atau Bagas bertanya.
Hingga pada saat mobil Bagas terparkir di bagasi rumahnya Vyan langsung pamit pada Aurel untuk tidur siang. Aurel dan Bagas memaklumi sikap Vyan karena akhir-akhir ini Vyan benar-benar sangat dekat dengan Amel. Pastinya Vyan sangat merasa kehilangan.
Aurel membawa Vano kedalam kamarnya sedangkan Bagas masuk kedalam ruang kerjanya karena sudah satu Minggu terakhir ini banyak perusahaan yang mengajukan permohonan kerjasama pada perusahaan Bagas. Baik dibidang furniture, fashion, manufaktur, elektronik dan masih banyak lagi.
Setelah menidurkan Vano, Aurel beranjak dari tempat tidur lalu pergi ke dapur dan membuatkan teh untuk Bagas. Dilihatnya Bagas yang masih n fokus dengan laptopnya padahal ini hari minggu tapi Bagas tetap melakukan kewajibannya sebagai pemilik perusahaan.
Aurel mendekat dan duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Bagas "Mas" Panggil Aurel.
"Kenapa sayang?" Ucap Bagas tanpa menatap Aurel.
"Ini hari libur loh. Kamu masih aja kerja" Ucap Aurel.
"Sebentar sayang, ini nanggung banget" Ucap Bagas.
"Mas kita harus belanja bulanan. Bahan-bahan dapur udah pada habis" Ucap Aurel.
"Suruh Bi Ira atau Mang Tanu aja" Ucap Bagas.
"Tapi aku mau sendiri Mas. Sekalian beli keperluan Vano" Ucap Aurel.
"Nanti malem aja ya" Jawab Bagas.
Aurel langsung beranjak dari kursi dan meninggalkan Bagas sendiri. Dan tentunya Bagas tidak menyadari kepergian Aurel. Ia masih fokus pada laptop dan dokumen di hadapannya, halisnya hampir menyatu.
Hingga sudah 2jam kepergian Aurel, Bagas baru menyelesaikan pekerjaannya. Ia merentangkan tangannya lalu terkejut saat tidam melihat Aurel dihadapannya. Ia hanya melihat secangkir teh yang sudah tidak panas lagi. Bagas menghabiskan teh nya dan keluar dari ruang kerjanya. Ia tidak melihat Aurel di lantai dasar hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Saat membuka pintu kamar, ia melihat Aurel yang sedang tertidur dengan posisi miring menghadap Vano. Bagas menaiki tempat tidur dan memeluk Aurel dari belakang. Menghirup aroma tubuh Aurel dari lehernya. Lalu sedikit menciuminya.
Karena merasa terganggu oleh tangan Bagas yang sudah berkelana, Aurel membuka matanya dan menghentikan pergerakan tangan Bagas.
"Kenapa hemmm??" Bagas berbicara tepat di telinga Aurel. Biasanya Aurel tidak akan menghentikan aktivitasnya sampai Bagas lelah dengan sendirinya.
"Diem Mas aku ngantuk" Ucap Aurel sambil memeluk Vano.
Merasa ada yang tidak beres, Bagaspun membalikkan tubuh Aurel hingga ia bisa melihat wajah bantal Aurel yang baru bangun tidur "Ada apa sayang?" Tanya Bagas.
"Gak apa-apa Mas. Mas laper gak? mau aku masakin sesuatu?" Tanya Aurel.
"Aku maunya makan kamu" Bagas kembali memeluk Aurel dan menyembunyikan wajahnya di leher Aurel.
"Mas aku capek" Ucap Aurel.
"Sekali aja ya,, plisssss" Kali ini Bagas memohon dengan wajah yang sok menyedihkan.
Bagas terus mendusel-dusel kepalanya ke dada Aurel hingga membuat Vano terbangun karena gerakkan yang dihasilkan Bagas.
"Ouuuu kenapa Vano emm?? Ayahnya nakal ya, iya?" Ucap Aurel pada Vano.
Aurel menimang-nimang Vano namun Vano tetap saja menangis. Hingga akhirnya Aurel membuka kancing di dasternya dan menyusui Vano. Terlihat Bagas yang langsung menangkupkan wajahnya di bantal dengan bibirnya yang mencebik. Setelah kehadiran Vano, Bagas merasa punya saingan baru. Kasih sayang Aurel pada Vano terlihat lebih besar dibandingkan pada Bagas. Tapi itu bukan berarti Bagas tidak menginginkan kehadiran Vano, justru ia sangat bersyukur.
Setelah berhasil menidurkan kembali Vano. Aurel menempatkan Vano di box bayi yang berada di kamarnya. Lalu Aurel menghampiri Bagas yang ternyata sudah tertidur. Aurel mendekati Bagas dan mengelus rambutnya. Ia menyusuri wajah Bagas dengan jari-jari tangannya. Wajah Vano sangat dominan dengan Bagas. Dari bibirnya yang imut, matanya yang besar dan bentuk wajahnya yang oval. Tak lama Aurel ikut tidur dengan tangannya yang masih memegang pipi Bagas.
Sekitar pukul 3 lewat 10menit Aurel terbangun karena mendengar suara tangisan Vano. Aurel menghampiri box bayi dan meraih Vano ke gendongannya. Ia melihat bayinya itu sudah membuka matanya lebar-lebar.
"Vano bangun mau sholat heemm??" Ucap Aurel. Vano bagaikan alarm untuknya karena ia akan menangis jika kedua orangtuanya masih terlelap saat waktu sholat.
"Kita bangunin Ayah ya" Aurel membawa Vano ke tempat tidur dan menyimpan Vano di dada Bagas. Seperti yang sudah mengerti, Vano memegang wajah Bagas dengan jari-jari kecilnya.
Karena merasa terganggu akhirnya Bagas membuka matanya, yang tadinya halisnya hampir menyatu berubah menjadi renggang dengan senyuman manis yang terbentuk di bibirnya saat melihat Vano yang mengganggunya.
"Bangunn Ayah, sholat asar dulu" Ucap Aurel menirukan suara bayi.
"Emmmhhh" Bagas melenguh lalu meregangkan otot-otot tangannya.
"Udah bangun kamu hemm??" Ucap Bagas pada Vano. Kali ini Bagas memeluk Vano lalu membaringkannya di sisinya. Saat Bagas menutup matanya, Vano mulai menyentuh lagi wajah Bagas yang membuat Bagas gemas. Ia langsung menciumi pipi Vano hingga membuat Vano menangis kencang. Sebelum istrinya mengomel akhirnya Bagas berlari ke kamar mandi.
"Masss!!! jail banget kamu isss" Geram Aurel sambil menenangkan Vano.
Setelah Vano kembali diam, Aurel dan Bagas segera melaksanakan shalat Asar dengan Vano yang disimpan diatas tempat tidur.
Setelah selesai melaksanakan shalat, Aurel menghampiri Vano, membuka bajunya dan bersiap untuk memandikan Vano.
Malam harinya Aurel ingin sekali menagih janji Bagas untuk mengantarnya pergi ke pusat perbelanjaan, namun lagi-lagi setelah makan malam Bagas kembali ke ruang kerjanya dan mengabdikan dirinya disana. Karena tidak mau egois akhirnya Aurel lebih memilih untuk bermain bersama Vano dan Vyan di ruang tengah. Vyan mengajak Vano bercanda sedangkan Aurel menonton acara TV di Indosiar. Biasalah udah jadi ibu-ibu mah beda:v.
"Nyebelin banget itu suaminya" Geram Aurel saat melihat adegan tidak mengenakan yang dilakukan sang suami pada istrinya di film.
"Kenapa sayang" Tanya Bagas. Tadi Bagas berniat untuk mengambil minuman dingin di dapur namun saat melewati ruang tengah ia mendengar suara Aurel yang menuntunnya untuk menghampiri Aurel.
"Itu suaminya nyebelin banget. Istrinya udah cantik, baik, sholehah masih aja selingkuh. Emang ya kalo laki-laki itu gak pernah cukup sama satu cewek doang. Maunya berkelana kesana kemari, enak banget!!" Jawab Aurel dengan cepat.
Bagas mengambil remot di atas sofa lalu langsung mematikan televisinya.
"Mass ihhh lagi seru" Rengek Aurel.
"Kamu itu jangan kebanyakan nonton drama kayak gitu. Jadi nanti pikiran kamu ke orang lain selalu negatif" Ucap Bagas.
"Apaan sih Mas kamu itu. Apa jangan-jangan kamu juga sama kayak dia?" Ucap Aurel.
"Tuh belum semenit aku ngomong eh kejadian beneran kan. Kamu jadi herpikiran yang aneh-aneh ke Mas" Ucap Bagas.
"Bukan aneh, tapi emang gitu kenyataannya. Laki-laki gak pernah cukup sama satu perempuan" Cebik Aurel.
"Hati-hati kalo ngomong sayang. Anak-anak kamu semuanya laki-laki loh" Ucap Bagas yang membuat Aurel melengos menatap Vyan yang hanya terkekeh mendengar perdebatan kedua orangtuanya.
•••
Nih kuganti buat kemarin karena gak up hehe..