Twins'

Twins'
55



***


Siang harinya...


Bagas terus mengekori Aurel kemanapun Aurel pergi, bahkan saat Aurel mengambil minum pun Bagas mengikutinya karena sejak dari kamar Dea, Aurel jadi mogok bicara pada Bagas padahal dia sudah beberapa kali mengajaknya berbicara namun Aurel tidak menanggapinya sama sekali.


"Sayang, udah dong marahnya" Ucap Bagas yang sama sekali tidak disauti oleh Aurel.


"Sayang lebih baik kamu pukul aku daripada kamu diemin aku kayak gini, aku gakuat yang"


Yaallah. Nak tolong ayahmu yang tampan ini, Batin Bagas.


Aurel merasakan dirinya sangat mual dan pastinya akan muntah. Dia segera berlari ke kamar mandi dengan menutup mulutnya.


Hoek hoek hoek...


Bagas dengan telaten mengusap tengkuk leher Aurel untuk mengurangi rasa mualnya.


Nak, Bunda mohon untuk kali ini saja kamu bantu Bunda buat ngasih pelajaran ke Ayah kamu yang kecentilan sama bocah itu ya, Batin Aurel.


"Sayang kita ke dokter ya, muka kamu pucet banget" Ucap Bagas khawatir.


"Sayang pleasee!!! Kali ini jangan mikirin ego kamu dulu, fikirin anak kita. Aku takut dia kenapa-kenapa sayang!!" Ucap Bagas dengan penuh penekanan.


Aurel tidak menjawab pertanyaan Bagas, dia memilih untuk kembali ke balkon di kamarnya dan duduk dikursi.


"Sayang aku mohon, kita harus ke dokter sekarang juga" Ucap Bagas yang tidak menyerah.


Sudah beberapa bujukan yang Bagas keluarkan namun tidak mampu membuat Aurel gentar dengan pendiriannya. Dia tetap diam dan tak menjawab satu pun pertanyaan Bagas. Dengan terpaksa Bagas menelfon dokter keluarga dan menyuruhnya datang memeriksa Aurel di rumah.


Tak lama setelah ia menelfon, dokter wanita datang dengan alat-alat pemeriksaannya.


"Sayang ada dokter, kita periksa dulu ya" Ucap Bagas.


Aurel melihat ke arah dokter cantik yang ada di dalam kamarnya. Dia bangkit dari kursi dan menghampiri dokter.


"Nona bisa berbaring" Ucap Dokter.


Aurel langsung menuruti perintah dokter. Dan dokter memeriksa perutnya.


"Apa ada keluhan Nona?" Tanya Dokter.


"Gaada dok.. Mual juga hanya beberapa kali, ga sering" Ucap Aurel.


"Syukurlah.. Dalam usia kandungan Nona saat ini akan terjadi hal-hal yang tidak biasanya. Untuk Tuan Bagas anda harus lebih ekstra sabar menghadapi sikap dan sifat Nona yang sering berubah. Usahakan agar perasaan Nona selalu baik dan tidak tertekan atau stres. Nona juga harus menjaga pola makan dan mengatur waktu istirahatnya dengan baik. Saya bawakan obat untuk menguatkan kandungan Nona dan meredakan mual, saya harap obat ini diminum secara rutin" Ucap Dokter dengan memberikan beberapa bungkus obat.


"Baik dok" Ucap Bagas.


"Kalau begitu saya pamit Tuan Nona. Jika ada keluhan lain bisa segera menghubungi saya" Ucap Dokter.


"Baik, terimakasih Dok"


"Sayang" Bagas menghampiri Aurel.


Aurel lebih memilih untuk memejamkan matanya dan berbalik membelakangi Bagas.


Nak, bilang pada Bundamu kalau Ayah sangat mencintainya dan tidak mungkin berpaling darinya, Batin Bagas.


Nak, kalo Ayahmu bicara jangan dengarkan oke, Batin Aurel.


"Aku mau jemput Vyan pulang yang, kamu mau ikut apa dirumah aja?" Ucap Bagas.


Aurel hanya menggeleng dengan posisi yang tidak dirubah.


"Hahhh, baiklah. Aku pergi sayang, hati-hati dirumah. Assalamualaikum" Ucap Bagas seraya mencium kening Aurel.


"Waalaikumsallam" Gumam Aurel di dalam hati.


Awas aja kalo ketauan lagi berduaan sama bocah ingusan itu, tak gantung dia di pohon kesemek!!!, Geram Aurel di dalam hati.


****


"Ayahhhh" Vyan berlari ke arah Bagas saat mengetahui Bagas sudah ada di depan gerbang sekolahnya. Sedewasa apapun sikap Vyan pada orang lain, ia tetap menjadi anak kecil berusia 11 tahun di lingkungan keluarganya.


"Selamat siang boy" Ucap Bagas.


"Siang Ayah, kok tumben Ayah yang jemput?" Tanya Vyan seraya memasuki mobil dengan Bagas.


"Boy kamu tau? Bundamu itu lagi marah-marah sama Ayah" Ucap Bagas.


"Marah? Kenapa? Ayah pasti bikin Bunda kesel kan?" Ucap Vyan menatap Bagas dengan tatapan mengintimidasi.


"Ayah gaada niatan buat bikin Bunda kesel loh. Tadi Bunda liat Ayah bareng kak Dea" Ucap Bagas.


Vyan membelalakkan matanya kehadapan Bagas.


"Pantas saja Bunda marah sama Ayah" Ketus Vyan.


"Tapi kan Ayah cuma nenangin Dea.." Bagas menceritakan semua kejadian pada Vyan.


Vyan berulang kali menggelengkan kepalanya mendengar semua ucapan Bagas.


"Udah ya Yah, jangan libatin aku dalam masalah ini. Aku gabisa deh beneran, aku gamau Bunda ikut marah sama aku" Ucap Vyan sambil mengangkat kedua tangannya.


"Boyy Ayah mohon kamu bujuk Bunda ya biar ga marah lagi sama Ayah, Bunda pasti dengerin ucapan kamu kok" Pinta Bagas.


"Ayah ku tersayang. Aku gaberani, kenapa ga Ayah aja yang usaha sendiri?" Ucap Vyan.


"Yaallah Boy, Ayah udah usaha sekuat tenaga bahkan sekuat hati" Ucap Bagas.


"Aku gabisa bantu banyak, tapi mungkin Bunda bakal senang kalo Ayah beliin hadiah kesukaannya" Ucap Vyan.


"Ahhhhh!!!! Smartt!!! Thank you Boy, oke kita mampir ke toko kue" Ucap Bagas dengan senyum mengembangnya.


"Toko kue?" Tanya Vyan.


"Iya, akhir-akhir ini Bunda mu itu suka banget makan. Dan yang paling sering di makan ya aneka kue, kayak kue bolu, kue kukus, donat juga pantesan badannya semakin hari semakin berisi kayak karung beras" Ucap Bagas.


"Gendut juga Ayah tetep cinta kan?" Goda Vyan.


"Tentu lah" Ucap Bagas.


Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di toko kue yang berada di pinggir jalan. Bagas membeli banyak kue kesukaan Aurel. Bahkan dia menulis "I'm sorry My Angel" di salah satu kue berwarna pink. Selesai membeli kue mereka langsung menuju kerumahnya.


"Assalamualaikum Bunda" Ucap Vyan saat melihat Aurel sedang menonton tv di ruang tengah.


"Waalaikumsallam sayang, sini" Aurel menciumi wajah Vyan setelah Vyan ada di hadapannya.


"Mana Ayahmu?" Tanya Aurel saat dia tidak melihat Bagas.


"Ayah lagi ngambil sesuatu di mobil Bun. Vyan mandi dulu ya Bun panas" Ucap Vyan.


"Oke" Jawab Aurel.


"Assalamualaikum Bundaaaaaa!!!" Teriak Bagas yang baru masuk ke dalam rumahnya.


"Waalaikumsallam. Gausah teriak-teriak napa aku ga budek!!" Ketus Aurel tanpa melihat Bagas.


Bagas mencium pipi kanan Aurel yang masih fokus ke hadapan tv.


"Sayang liat aku bawa apa" Ucap Bagas.


"Tadaaa!!!!! Kesukaaan anak Ayah ini kan?" Bagas berjongkok di hadapan Aurel, menyodorkan kue dengan tangan kanan dan mengelus perut Aurel dengan tangan kirinya.


Tidak-tidak, kamu gaboleh tergoda sama kue itu Nak. Jangan luluh jangan pleasee!!!, Batin Aurel.


"Sayang kamu gamau ini?" Tanya Bagas.


"Ga!" Ketus Aurel.


"Bener nihhhh" Goda Bagas.


"Apaan sii!! Awas coba lagi nonton tv juga!!" Ucap Aurel yang masih saja ketus.


"Yah padahal aku udah bawa kue ini, kue kukus rasa pandan kesukaanmu, donat dengan toping keju juga. Yauda kalo kamu gamau aku kasih Dea aja, sayang kalo di buang" Bagas sengaja memanas-manasi Aurel.


Aurel membelalakkan matanya mendengar ucapan Bagas.


"Hehhh!!! Enak aja, kamu niat beli itu buat siapa hah!!" Ucap Aurel.


"Buat kamu, tapi kan kamunya gamau yang, daripada mubazir mending kasih Dea aja" Ucap Bagas.


"Sembarangan!!! Sini kasih ke aku!!" Aurel mengadahkan kedua tangannya.


"Katanya gamau yang?" Goda Bagas.


"Kasih ke aku apa tidur diluar!!" Ancam Aurel.


"Iya,, iya sayangku.. Ini khusus buat Bunda tersayang, tapi ada satu syarat" Ucap Bagas.


Apaansih pake syarat-syaratan segala, batin Aurel.


"Kamu harus maafin aku" Ucap Bagas.


"Hemmm, udah sini" Ucap Aurel.


"Senyum dulu dong yang" Ucap Bagas.


"Kamu beneran mau tidur diluar hah!!!" Sinis Aurel.


Buseng, galak banget Bundamu Nak, batin Bagas.


"Iya ini" Bagas memberikan kue di tangannya dan memberikan garpu beserta pisaunya.


"Mana yang lainnya?" Tanya Aurel.


"Siapa?" Ucap Bagas.


"Kue yang lainnya!! Yang kamu beli" Ucap Aurel.


"Ada kok, tuh liat" Bagas menunjuk beberapa paperbag besar di dekat kursi.


"Makasih!" Ketus Aurel.


"Sayang" Ucap Bagas seraya mengelus-elus leher jenjang Aurel yang tidak menggunakan hijab.


"Hemm" Ucap Aurel.


"Aku kangen kamu" Lirih Bagas tepat di telinga Aurel.


"Tiap hari ketemu" Ucap Aurel.


"Kangen ini yang" Bagas meletakkan tangannya di dada Aurel. Aurel hanya diam dan masih fokus pada makanan di depannya. Lama kelamaan tangan Bagas mulai memainkan sesuatu yang ada di dekat dada Aurel.


"Bayy ihh!!!" Geram Aurel seraya menepis tangan Bagas.


"Sayang" Lirih Bagas dengan suara yang sedang menahan hasratnya.


Aurel menyimpan kuenya di sofa lalu menatap Bagas, dia tersenyum kemudian mengalungkan tangannya di leher Bagas.


"Aku gamau kamu berpaling Bay. Kamu cuma milik aku!. Aku gamau dibagi apalagi terbagi" Ucap Aurel.


Cupp


Bagas mengecup singkat bibir Aurel.


"Sayangku, kamu satu-satunya bidadari yang bertahta di hati ini. Aku berani bersumpah kamu akan menjadi yang terakhir di hidupku" Ucap Bagas.


"Promise?" Ucap Aurel.


"Promise sayang. Demi kamu dan anak-anak kita" Ucap Bagas.


"Bayyy!!!!!" Teriak Aurel saat tiba-tiba Bagas menggendongnya.


"Kita bersenang-senang oke" Ucap Bagas dengan santainya.


______________________________


Permisi ya:v.


Aurellia Zhafira Putri Arsenio.. (Potret didalam rumah ya;))



Bagas Septian Nugraha



Vyan Andrena.. Abang Vyan udah gede aja ya:(



Amellia Zhahira Putri Arsenio.. Yang katanya mau jadi masa depan babang Vyan nih:v



Aydan Zayyan Putra Arsenio.. Bang mundur bang gantengnya kelewatan:"



Neli Rahelia Putri.. Kakak iparku adalah sahabatku:v



Farhan Jonathan Putra Arsenio.. Blasteran Korea-Indo, si playboy yang udah taubat karena di tinggal nikah sama cinta sejatinya:v



Reina Rezafa Putri.. Masa depan Farhan:')