
"Jangan berteriak pada anakku Dea!!!!" Teriak Bagas yang membuay Dea tersentak.
Dea berbalik arah dan menatap Bagas.
"Kakkk" Lirih Dea.
"Kemasi barang-barangmu dan pergi dari rumah ini" Ucap Bagas dengan nada dingin.
"Kakakk a--apa ssalahku??" Ucap Dea dengan gugup.
"Cepat kemasi barang-barangmu!" Ucap Bagas.
"Apa Kak Aurel kak?" Tanya Dea.
"Jangan pernah melibatkan istriku dalam drama konyolmu!! Aku salah karena membawamu kesini dan mejagamu dengan baik. Seharusnya aku membiarkan kamu di tempat asalmu!" Ucap Bagas.
"Kakak apa salahku? Mengapa aku yang di usir? Aku ini korban kak!!" Teriak Dea.
"Kau bukan korban!! Kau bahkan lebih kejam dari pelaku!!" Bentak Bagas.
"Cepat kemasi barang-barangmu atau aku akan mengusirmu secara kasar!" Ucap Vyan.
Dea masuk ke kamarnya, memasuki barang-barangnya ke dalam koper. Rahangnya mengeras, matanya benar-benar memerah karena menahan amarah. Setelah selesai ia menarik kopernya menuju halaman rumah, saat berpapasan dengan Bagas dia menatap wajah Bagas yang jauh lebih tinggi darinya.
"Kakak akan menyesal karena telah mengusirku!" Ucap Dea.
"Aku menyesalinya sekarang. Aku menyesal karena telah membawamu ke dalam surgaku, bukan menyesal karena mengusirmu saat ini" Ucap Bagas.
Bagas mendekati Dea dan meraih tangannya. Ia memberikan sebuah kunci mobil.
"Bawa ini. Walaupun aku membencimu tapi kau harus tetap hidup dan merubah sikapmu kelak" Ucap Bagas.
Sementara itu di kamar lain Neli sedang mengurusi bayi besarnya yang sedang tersulut emosi karena ia tidak menemukan titik terang tentang keberadaan saudari kembarnya itu.
"Ay tenanglah, aku yakin Lia pasti ditemukan kok" Neli mengusap rahang Aydan yang nampak mengeras itu.
"Gimana aku bisa tenang sayang, Lia itu perempuan loh dan juga dia lagi mengandung" Ucap Aydan.
"Lia anak yang kuat dia pasti bisa bertahan, mending kita doain aja ya agar Lia cepat ditemukan" Ucap Neli.
"Aku gak akan pernah memaafkan Bagas kalau terjadi sesuatu pada Lia" Geram Aydan.
"Menyimpan dendam itu tidak baik Ay" Ucap Neli.
"Ini bukan dendam, tapi ke khawatiranku sebagai seorang kakak" Ucap Aydan.
"Hahh sudahlah aku bingung harus bagaimana lagi" Neli menjauh dari Aydan dan merebahkan tubuhnya di atas kasur seraya memainkan ponselnya.
Saat melihat profil whatsapp Aurel, Neli seperti menemukan sesuatu.
"Ahhhh!!! Ayy sini" Ucap Neli.
"Kenapa?" Aydan menghampiri Neli dan duduk di sampingnya.
"Bukannya Daddy pernah memberikan perhiasan yang berisi gps?" Tanya Neli.
"Ya benar!!" Aydan berdiri dan meraih ponselnya di sofa.
Aydan tampak mengetik sesuatu di ponselnya lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.
"Lacak keberadaan Lia lewat perhiasan yang Dad berikan padanya" Ucap Aydan.
Aydan menyimpan kembali ponselnya di atas nakas dan menghampiri Neli yang sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran kasur. Aydan merebahkan dirinya di samping Neli dengan kepala yang di letakkan di paha Neli.
Aydan berbalik dan memeluk pinggang Neli hingga membuatnya mencium perut Neli. Dan tak lama ia tertidur karena sentuhan tangan Neli yang begitu lembut di kepalanya.
"Dasar suamiku. Daritadi marah-marah gak jelas sekarang udah tidur aja" Ucap Neli.
Diluar, Vyan menghampiri Amel yang sedang berada di kursi dekat taman.
"Nyil" Ucap Vyan.
Amel menoleh ke sumber suara.
"Abang" Lirih Amel. Matanya sudah berkaca-kaca.
Vyan menghampiri Amel dan ikut duduk di sampingnya. Ia menarik Amel ke dalam pelukkannya.
"Sstt sssttt jangan nangis ya sayang" Ucap Vyan.
"Mommy Bang hiks,,hikss,," Ucap Amel.
"Aku takut bang" Ucap Amel.
"Gausah takut Nyil, yang terpenting kamu harus terus doain Mom biar mom nya sembuh. Lagian Mom cuma kecapean kan?" Ucap Vyan yang di anggukki Amel.
"Nyil" Vyan menatap Amel.
"Hemm" Jawab Amel.
"Mau jalan?" Ucap Vyan.
Amel menatap balik Vyan.
"Kemana?" Ucap Amel.
"Kemana aja, sekalian refreshing" Ucap Vyan dengan senyum manisnya yang membuat Amek terkesima.
"Abang jangan senyum gitu ishh" Gumam Amel yang membuat Vyan mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" Ucap Vyan.
"Gak apa-apa,, Ayo jalan" Amel menarik tangan Vyan.
"Tapi jalan kaki ya, kita ke perempatan taman aja. Abang gak diizinin bawa mobil sendiri" Ucap Vyan.
"Iya Abang, ayo" Ucap Amel.
***
"Semuanya sudah siap Bu?" Tanya Bara pada Bu Sari.
Ya, karena perubahan jadwal yang mengharuskan Aisyah untuk hadir di rumah sakit pada esok hari, Bu Sari memutuskan untuk segera pulang ke kampung halamannya. Mereka di antar Bara menuju kampungnya.
"Kira-kira udah A,, kamu teh bener gak mau diem di kampung sama Ibu?" Tanya Bu Sari.
"Ibu, kerjaan Bara disini semua. Bara gak mungkin tinggal di kampung dan bulak-balik ke jakarta" Ucap Bara.
"Hemm iya juga. Yaudah kamu hati-hati disini A, tetep jaga kesehatan kamu jangan lupain makan" Ucap Bu Sari.
"Iya Ibuuuu" Ucap Bara seraya tersenyum karena selalu mendengar kembali petuah-petuah Ibunya ketika mereka berjauhan.
Aurel yang sudah rapi menghampiri mobil yang akan di bawa Bara.
"Bara terimakasih karena sudah menolongku kemarin" Ucap Aurel.
Bara tersenyum mendengar ucapan Aurel.
"Sebagai manusia kita harus saling menolong bukan?" Ucap Bara.
"Semoga disana kamu mendapat kehidupan yang lebih baik" Sambung Bara.
Kehidupanku sebelumnya jauh lebih baik sebelum kedatangan wanita itu, batin Aurel dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Yuk A nantinya keburu sore" Teriak Aisyah di dalam mobil.
Bara membukakan pintu mobil belakang tempat Aurel duduk dengan Ibunya.
"Silahkan" Ucap Bara.
"Terimakasih" Ucap Aurel.
***
"Massss" Lirih Zahra saat pertama kali ia membuka matanya.
Raka yang sedang berada di sofa dengan laptopnya, menoleh ke arah Zahra. Ia tersenyum dan menghampiri istrinya itu.
"Udah mendingan sayang?" Tanya Raka.
Zahra tersenyum kecil dan mengangguk. Ia beralih menatap tangannya yang terpasang jarum infus.
"Mas??" Tanya Zahra.
"Kamu gak apa-apa sayang, hanya kondisi kamu lemah karena banyak pikiran. Ada apa sih sebenarnya hemm?? Apa yang kamu pikirin?" Ucap Raka.
"Tidak ada Mas, hany Lia" Lirih Zahra.
"Lia pasti ditemukan sayang, Mas janji jika Mas sudah bertemu dengan Lia Mas akan membawanya langsung ke hadapanmu" Ucap Raka yang membuat Zahra tersenyum karena meyakini Aurel akan ditemukan oleh suaminya.
***