
Keesokan harinya Aurel sedang mengikuti pengajian rutin yang di adakan oleh ibu-ibu di tempat tinggal salah satu warga disana. Aurel menggunakan gamis berwarna hijau botol dengan dipadukan hijab instan berwarna abu-abu. Pesona cantik ibu hamil memang berbeda. Pakaiannya yang sederhana dan jauh dari kata mewah justru membuat semua warga berdecak kagum dengan penampilannya.
"Assalamualaikum semuanya.. Maaf saya baru datang dan gak ikut mempersiapkan acaranya" Ucap Aurel yang merasa tidak enak karena ia baru datang.
"Nak Aurel, gak apa-apa lagian kan gak ada yang nyuruh Nak Aurel ikut bantu kita. Lebih baik kamu duduk aja, pasti kamu lelah karena perut kamu sudah membesar" Ucap Ibu yang punya rumah.
"Iya Nak lebih baik kamu duduk saja" Ucap Ibu yang lainnya.
"Ah saya gak enak Bu,, saya kan baru saja datang" Ucap Aurel.
"Gak apa-apa Nak, ayo duduk" Salah satu Ibu-ibu menuntun Aurel untuk duduk di ruang tamu dan bergabung bersama Ibu-ibu yang lainnya.
"Assalamualaikum" Ucap seorang lelaki yang berada di ambang pintu.
Setelah menjawab salam Aurel mendongak dan melihat siapa yang mengucapkan salam. Aurel mengerutkan keningnya.
"Bara?" Gumam Aurel.
"Ehhh Nak Bara udah datang ya, silahkan duduk Nak sebentar lagi acaranya di mulai" Ucap salah satu Ibu-ibu yang ada di samping Aurel.
Bara melirik Aurel dan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya seolah ia memberikan salam pada Aurel, Aurel pun menjawab salamnya dengan ikut menganggukkan kepalanya.
Tak lama Ibu-ibu yang tadi berada di dapur sudah membawa banyak makanan ringan di atas piring yang berarti acara rutinan sudah akan dimulai. Aurel semakin terkejut saat Bara yang membuka acara. Ia baru tahu maksud kedatangan Bara kesana adalah untuk menjadi penceramah di rutinan ini.
Bara membawakan ceramah yang bertema 'Suami yang mendapat ridho Allah'. Sepanjang ceramah Bara terus mencuri pandang pada Aurel. Ceramah yang di bawakan oleh Bara seakan khusus untuk Aurel. Aurel mendengarkan dengan khidmat. Ia menundukkan kepalanya karena ia pun sangat merindukan suaminya. Aurel meremas kedua tangannya seolah ia menyemangati diri sendiri.
Beberapa menit akhirnya acara di tutup dengan do'a dari tiap-tiap warga yang datang. Biasanya seusai acara Aurel akan berkumpul dengan Ibu-ibu yang lain walaupun hanya sekedar berbincang ringan, namun saat ini Aurel langsung meminta izin untuk pulang dengan alasan tidak enak badan karena memang dia merasakan pusing di kepalanya.
"Assalamualaikum Bumil" Ucap Bara di tengah perjalanan pulang Aurel.
"Waalaikumsallam Ustad Bara" Ucap Aurel.
"Bagaimana kabar putri cantiknya??" Tanya Bara. Putri cantik yang ia maksud tak lain adalah putri di dalam kandungannya.
"Sehat dong Pak Ustad" Ucap Aurel.
"Syukurlah.. Emm Rell" Bara menghentikan langkahnya yang membuat Aurel pun ikut menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Bara.
"Kenapa Bar?" Tanya Aurel.
"Ada yang harus aku sampaikan" Ucap Bara.
"Emm??" Aurel mengerutkan keningnya karena Bara tidak pernah berbicara hal serius dengan Aurel.
"Bisakah kita mencari ridho Allah bersama?" Tanya Bara yang membuat Aurel mengerutkan keningnya.
"Bisakah aku menjadi laki-laki pertama yang di cintai putrimu?" Sambung Bara.
Aurel semakin mengerutkan keningnya.
"Bisakah aku menjadi Imammu? Dan menjadi pelindung saat kamu merasa takut?" Ucapan Bara kali ini membuat Aurel paham.
"Maksud kamu?.." Ucapan Aurel menggantung.
"Ya, aku ingin menjadi seseorang yang pertama kamu lihat saat membuka mata dan menutup mata" Ucap Bara.
"Maaf Bar, tapi kamu tau sendiri bukan kalau aku masih berstatus sebagai istri sah suamiku? Aku tidak mungkin menikah denganmu" Ucap Aurel.
"Kita bisa mengurusnya nanti setelah kamu menyetujui apa yang aku katakan" Ucap Bara.
"Sekali lagi aku minta maaf.. Biarkan Allah yang menentukan takdir umatnya. Jikapun nanti aku dan kamu tidak ditakdirkan untuk menjadi kita, aku harap kamu masih menjadi pria yang akan mencintai putriku kelak" Ucap Aurel.
"Aku permisi, Assalamualaikum" Aurel langsung meninggalkan Bara yang masih termenung di tempatnya.
Maaf, aku sama sekali tidak bisa melupakan dan menghianati suamiku, Batin Aurel.
Dari kejauhan Aurel melihat ada seorang laki-laki yang sedang memandangi kontrakkannya. Aurel mengerutkan keningnya dan berfikir siapa laki-laki itu. Semakin dekat Aurel semakin mengira-ngiranya.
Deg!
Aurel tau siapa dia, dia tidak pernah melupakan lelaki di hadapannya saat ini.
"Da...ddy?" Lirih Aurel.
Laki-laki itu berbalik dan menatap Aurel. Aurel tidak pernah salah tentang keluarganya. Laki-laki di hadapannya memanglah laki-laki yang sudah sangat ia rindukan.
"Daddyy.." Aurel berlari dan langsung memeluk Raka dengan erat.
"Daddy maafkan Lia hikss.." Ucap Aurel.
"Tidak sayang, kamu tidak salah. Daddy yang salah karena telah lengah memperhatikanmu, maafkan Daddy karena Daddy tidak mengerti ketakutanmu saat itu" Begitulah Raka, ia tidak ingin keluarganya menyalahkan dirinya sendiri, menurutnya semua keluarganya adalah tanggung jawab Raka maka dari itu jika terjadi sesuatu pada keluarganya ia lah yang harus bertanggung jawab.
Raka menuntun Aurel untuk duduk di kursi yang ada di depan kontrakan Aurel. Raka menatap perut Aurel yang telah membuncit.
Aku kehilangan kesempatan untuk melihat cucuku tumbuh di dalam perutnya, Batin Raka.
"Lia, mari ikut Daddy pulang" Ucap Raka.
Aurel menatap Raka dengan wajah yang tidak bisa di tebak.
"Apa kamu takut pada suamimu?" Tanya Raka.
Aurel mengangguk pelan.
"Tapi aku masih mencintainya" Lirih Aurel.
"Maka pulanglah. Daddy berjanji Daddy tidak akan membiarkan kamu terluka untuk yang kesekian kalinya" Ucap Raka.
"Bukan seperti itu Daddy aku hanya.. Ak_" Ucapannya terpotong saat Raka menyelanya.
"Mom masuk rumah sakit" Sela Raka yang membuat Aurel terkejut.
"Apa maksud Daddy?" Tanya Aurel.
"Mommy menderita penyakit kanker otak dan baru di ketahui kemarin, saat ini Mom sedang dirawat di rumah sakit" Ucap Raka.
"Lia akan pulang tapi Lia mohon pada Daddy, jangan beritahu keberadaan Lia pada Kak Tian, Lia akan pulang pada Kak Tian jika dia sendiri yang menemukan Lia" Ucap Aurel.
"Tidak masalah" Ucap Raka.
"Lia akan membereskan barang-barang Lia" Aurel hendak berdiri namun Raka mencekal tangannya.
"Apa kamu lupa siapa kamu sebenarnya?? Biarkan para pengawal yang membereskan barangmu, kita bisa langsung pergi" Ucap Raka.
"Baik Dad" Ucap Raka.
Saat akan menuju ke mobil, ada seorang Ibu yang menghampiri Aurel.
"Loh Bu Guru mau kemana? Dan ini siapa?" Tanya Ibu Ina yang tak lain adalah Ibu pemilik kontrakan yang Aurel tempati.
"Assalamualaikum Bu Ina.. Kenalin Bu ini Ayah saya, dan saya akan kembali ke rumah saya" Ucap Aurel.
"Waalaikumsallam. Owalah nanti gak ada mengajar anak-anak dong Bu" Ucap Bu Ina.
"Ibu tenang saja, saya akan mengirimkan orang untuk menggantikan anak saya di sekolah" Ucap Raka.
"Syukurlah kalau seperti itu pak. Soalnya di kampung ini hanya ada 2 orang wanita muda dan pintar, Aisah dan Aurel saja. Karena Aisah sudah menjadi dokter itu artinya Aisah tidak bisa mengajar anak-anak lagi" Ucap Bu Ina.
"Ibu tenang saja, biar kami yang mengurusnya" Ucap Raka.
"Yasudah kalau seperti itu saya permisi Pak Bu" Ucap Bu Ina.
"Eh Bu Ina tunggi sebentar" Aurel merogoh saku gamisnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Ini untuk bayar kontrakkan bulan ini" Ucap Aurel seraya memberikan uangnya.
"Gak usah Bu Guru. Lagi pula ini baru tanggal 3 dan bulan kemarin Ibu sudah membayar kontrakkannya" Ucap Bu Ina.
"Gak apa-apa Bu, ini terima" Aurel meraih tangan Bu Ina dan meletakkan uangnya disana.
"Yasudah kalau seperti itu makasih banyak Bu, semoga Allah membalas kebaikan Ibu" Ucap Bu Ina.
"Aamiin.." Ucap Aurel.
Bu Ina lebih dulu meninggalkan Raka dan Aurel. Aurel berjalan dengan menggandeng tangan Raka.
"Kau siap sayang?" Tanya Raka sebelum mereka memasuki mobil.
"Emm.. Lia siap Dad" Ucap Aurel seraya menampilkan senyum manis yang selama ini di rindukan oleh Raka.
_______
Jangan lupa bayar aku bund😄