Twins'

Twins'
24.



Setelah beberapa menit di perjalanan, mereka sampai di sebuah taman di pinggir danau. A0ydan turun begitu saja tanpa menunggu Aurel seperti biasanya.


Aydan menghentikan langkahnya di sebuah kursi persis di pinggir danau dan menatap Aurel.


" Kau tunggu disini sebentar, kakak ada urusan. Jangan pergi kemana-mana " titah Aydan yang langsung meninggalkan Aurel.


Walaupun hatinya sedikit waswas akhirnya Aurel menuruti perintah Aydan untuk duduk kursi. Cukup lama Aurel menunggu namun belum ada tanda-tanda kedatangan kakaknya itu.


Hingga tanpa sadar ada seorang lelaki yang menemaninya dari tadi di belakang kursi.


Karena tidak menyadari adanya seseorang di belakangnya, Aurel berjalan mendekati tepi danau dan duduk di tanah. Dia berbicara sendiri, melepaskan semua beban yang dia pikul hari ini pada ikan-ikan yang ada di danau.


" Kalian sangat cantik sama sepertiku. Ah tidak-tidak, kalian bahkan lebih cantik dariku. Hidup kalian begitu tenang, di temani banyaknya teman. Kalian tau akupun mempunyai teman sejenis kalian. Aku selalu ingin menggantinya dengan yang lebih cantik namun aku selalu menahannya karena aku tau rasanya ditinggalkan karena tergantikan " Aurel berceloteh panjang lebar pada ikan-ikan dihadapannya.


" Kau masih mempunyai banyak orang disekelilingmu, tapi mengapa kau memilih menceritakan masalahmu pada ikan-ikan itu? " ucap lelaki di sampingnya.


" Karena aku tau mereka memiliki masalahnya masing-masing, dan aku tidak ingin menjadi wanita egois yang menceritakan semua keluh kesahku pada orang lain tanpa memikirkan seberapa banyak beban yang dia pikul saat itu " jawab Aurel tanpa sadar.


" Do you need me? Do you need my hug? " ucap lelaki itu.


Aurel tersadar dari lamunannya dan membelalakkan mata. Suara yang ia kenal, parfum yang ia kenal. Dia menoleh ke samping dan ternyata benar, itu adalah lelaki yang sangat ia kenali.


" Kak Tian " lirih Aurel. Ya, lelaki disampingnya adalah Bagas.


" Do you need me? " tanyanya lagi.


Aurel mengangguk cepat dan langsung merentangkan tangannya. Bagas menarik Aurel kepelukannya dan mengelus rambut panjangnya itu.


" Kak hiks.. " ucap Aurel dengan isakannya.


" Aku sudah mengetahui semuanya " ucap Bagas.


" Lia mohon jangan menyakitinya " ucap Aurel.


" Kakak sudah berjanji pada diri sendiri. Dan kau tau bukan apa janji kakak saat itu " ucap Bagas " Kakak tidak akan membiarkan mereka begitu saja, apalagi wanita yang telah berani memperlakukanmu dengan kasar " sambungnya.


Aurel tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini, dia tahu betul jika kedua kakaknya itu sangat menyayanginya lebih dari apapun.


Setelah cukup lama menuangkan kesedihannya dalam pelukkan Bagas, mereka memutuskan untuk pulang ke apartement karena hari sudah mulai malam.


Selama di perjalanan Aurel tertidur dengan menggenggam erat tangan kanan Bagas.


" Lia, andai kamu tau jika kakak sangat mencintaimu lebih dari nyawa kakak sendiri " lirih Bagas dengan menatap Aurel yang masih tertidur di dalam mobil.


Saat sudah di depan apartement Bagas tidak tega untuk membangunkan Aurel hingga akhirnya dia harus membopong Aurel dan memasuki kamar apartement.


Setelah selesai mengurus Aurel, Bagas pergi ke kamar Aydan karena ada suatu hal penting yang harus mereka bicarakan.


" Ay " ucap Bagas yang sudah memasuki kamar Aydan.


" Hah " jawab Aydan sambil tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


" Gue mau ngomong sama lu " ucap Bagas yang langsung duduk di tepi ranjang.


" Daritadi juga lu ngomong " jawab Aydan yang membuat Bagas menatapnya dengan kesal.


" Ini serius Ay!! Tentang dia! " ucap Bagas sedikit meninggikan suaranya.


" Siapa " ucap Aydan dengan sangat singkat.


" Wanita selingkuhan Maheer " ucap Bagas dengan nada dinginnya.


" Gue udah nyuruh orang gue buat ngancurin keluarga cewek itu " jawab Aydan.


" Lu tau dia siapa? lu tau mukanya gimana? " ucap Bagas.


" Gue gatau. Gapenting buat gue ! Yang terpenting gue bisa bales semua sakit hatinya Lia " jawab Aydan lalu menutup laptopnya dan berbalik ke arah Bagas.


Bagas melemparkan beberapa foto wanita ke hadapan Aydan. Aydan menangkapnya dan mengambil beberapa foto yang berserakkan di lantai.


Deg..


Tangan Aydan bergetar saat melihat siapa wanita yang menyakiti adik kesayangannya itu.


" Hahah!! Lu gausah bercanda sama masalah ini Gas! " ucap Aydan.


" Sumpah Ay gaada niatan gue buat bercanda menyangkut hal kayak gini. Lu bisa liat sendiri video ini " Bagas memberikan Ipadnya pada Aydan dan menampilkan cctv kejadian yang menimpa Aurel.


Kali ini penglihatannya tidak salah lagi. Clarissa!! Wanita yang selama ini Aydan cintai, wanita yang menjadi cinta pertamanya!!!.


" Arghhhh!!!!!! " teriak Aydan dengan melemparkan Ipad ke lantai.


Aydan langsung meraih jaket dan kunci mobilnya. Dia meninggalkan apartement begitu saja. Bagas ingin sekali menyusul Aydan namun ia tidak tega meninggalkan Aurel sendiri di kamarnya karena dia tau jika kondisi Aurel sangat tidak baik.


Dengan pikiran kacaunya Bagas masuk ke dalam kamar Aurel dan melihat wanita yang dicintainya itu masih memejamkan mata. Tenang, itulah yang Bagas rasakan saat berada disisi Aurel.


Ketika sedang memandangi wajah Aurel ia di kagetkan oleh Aurel yang tiba-tiba membuka matanya.


" Euhhhhh " lenguh Aurel dengan meregangkan tangannya.


" Kak " lirih Aurel dengan merentangkan tangannya.


Aurel mengangguk dengan tersenyum. Bagas dengan cepat menarik Aurel kedalam dekapannya. Aurel menggesek-gesekkan kepalanya di dada bidang Bagas.


" Sangat nyaman " gumamnya.


" Apa kau sangat menyukai pelukanku? " tanya Bagas.


" Hemm.. Ini sangat nyaman dan membuatku sangat tenang " jawab Aurel sambil terus menggesekkan kepalanya.


" Jangan lakukan itu Lia. Apa kamu tidak takut kalau kakak khilaf? " ucap Bagas.


" Nggak, aku yakin kakak ga mungkin lakuin hal itu ke lia " jawabnya.


" Cih. Kakak juga pria normal Lia " jawab Bagas.


Namun ucapan itu tidak di hiraukan oleh Aurel. Bagas memajukan tubuhnya dan membuat Aurel tertidur di kasur dan Bagas ada di atasnya. Aurel membelalakkan matanya saat sadar posisinya sekarang, dia memberontak tapi sayang tenaganya kalah kuat oleh Bagas. Bagas mendekatkan bibirnya dan mencium pipi milik Aurel.


" Apa kau akan terus menggodaku? " ucap Bagas dengan membisikkan sesuatu di telinga Aurel.


" Bangunlah, mari makan malam " sambung Bagas lalu meninggalkan Aurel dan menuju ke dapur.


" Kak Tiannn!!!!!! " teriak Aurel yang membuat Bagas tersenyum senang.


Aurel menghampiri Bagas di dapur dengan menghemtak hentakkan kakinya.


" Kamu gapernah masak de? " tanya Bagas saat melihat dapurnya tidak ada sedikitpun bahan makanan.


" Enggak. Biasanya kita makan di luar " jawab Aurel.


" Jangan terlalu sering makan diluar, makanan itu belum tentu higenis dan halal. Kau harus belajar memasak " ucap Bagas.


" Aku sudah bisa memasak kak " ucap Aurel.


" Benarkah? memasak apa? " tanya Bagas.


" Telur, mie, nasi goreng, sosis goreng, mie telur " jawab Aurel yang membuat Bagas menatapnya dengan tatapan tajam " Jangan menatapku seperti itu kak! Aku khawatir matamu akan berpindah posisi " sambungnya.


Bagas tidak mendengarkan kata Aurel, dia meraih kunci mobilnya dan melangkahkan kaki keluar dari kamar Aurel. Aurel yang melihat Bagas akan pergi pun segera memeluknya dari belakang.


" Kak jangan tinggalin Lia, Lia janji akan belajar masak saat ini juga. Tapi Lia mohon kakak jangan pergi dari sini, lia takut " ucapnya.


Bagas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya " Apa yang kau lakukan, biarkan aku pergi!! " ucap Bagas.


" Tidak tidak.. Kakak tidak bisa pergi dari sini " jawab Aurel dengan mempererat pelukannya " Aku mohon kak hikss " lirihnya.


Bagas mengelus tangan halus yang ada di perutnya.


" Bersiaplah, kita akan membeli bahan untuk memasak malam ini " ucap Bagas sambil melepaskan pelukan Aurel.


--------


Di sisi lain Aydan sedang meneguk beberapa bir di sebuah club malam. Dia ditemani Farhan sang sepupu. Aydan terus saja meminum bir itu sampai kesadarannya tinggal setengah. Farhan sudah melakukan berbagai cara agar Aydan berhenti minum namun tak ada satu carapun yang bisa memberhentikannya. Farhan tidak mengetahui masalah apa yang ada di pikiran Aydan, karena setau Farhan Aydan bukanlah lelaki yang sering minum saat memiliki masalah.


Entah kebetulan atau bagaimana ternyata club itu adalah tempat Neli bekerja. Neli yang melihat Aydan sudah kehilangan kesadarannya, dengan langkah yang berat dia menghampiri Aydan dan Farhan.


" Farhan " ucap Neli.


Farhan menoleh ke sumber suara dan sangat terkejut saat melihat Neli disana, walaupun penampilannya sepertu nerd tapi Farhan masih bisa mengenalinya.


" Neli, kau sedang apa disini! " ucap Farhan dengan tegas.


" Jangan salah paham! Aku bekerja disini sebagai waiters. Ada apa dengan Aydan? Mengapa kondisinya bisa seperti ini? " ucap Neli.


" Gue gatau, kayaknya lagi banyak masalah. Mau gue bawa pulang tapi dia nolak mulu. Gue juga bingung harus gimana sekarang " jawab Farhan.


" Paksa lah!! " ucap Neli.


" Gila lu ya! Lu gatau gimana murka nya Aydan kalo keputusannya di ganggu gugat!! " ucap Farhan.


" Terus lo mau biarin dia disini semaleman? " ucap Neli.


" Ya mau gimana lagi " jawab Farhan.


Tiba-tiba Aydan menarik tangan Neli dan membuat Neli duduk di pangkuannya " Heyy mengapa kau berpenampilan seperti ini lagi. Kau itu sangat cantik " ucap Aydan.


" Ay lu gila!! Lepasin dia Ay!! " ucap Farhan.


" Pergi brengsek!!!! " teriak Aydan pada Farhan yang membuat Neli sangat terkejut " Gue mau sama dia malem ini!! " sambungnya dengan menatap Neli.


Aydan memajukan bibirnya ke bibir Neli, jaraknya sudah sangat dekat bahkan nafas mereka sudah beradu.


Plak..


Neli menampar Aydan dengan sangat keras dan membuat Aydan melepaskan cekalannya. Dengan sigap Neli berdiri dan menjauh dari Aydan, walau bagaimanapun Neli adalah seorang wanita dia pasti sangat takut saat berhadapan dengab lelaki yang sedang mabuk.


" Kau berani menamparku Neli!! " geram Aydan.


Saat tangan Aydan akan mencekal Neli namun kesadarannya sudah benar-benar hilang. Pandangannya mulai buram dan tubuhnya langsung ambruk di atas sofa.


" Aishhh bisa gila gue ngadepin dia!! " gumam Farhan.