Twins'

Twins'
52



Bagas bangkit dari tidurnya dan merebahkan tubuhnya di samping Aurel sambil memeluknya. Sebenarnya ia ingin melakukan tugasnya sebagai suami yang baik tapi karena kondisinya benar-benar lelah dia memilih untuk kembali terlelap.


Sore harinya Bagas membuka matanya dan tidak menemukan Aurel disampingnya.


"Sayangg" Panggil Bagas yang masih duduk di kasur mengumpulkan nyawanya yang masih berterbangan.


Hoek hoek..


Terdengar suara seseorang di kamar mandi. Bagas segera berlari ke sumber suara dan melihat Aurel yang sedang memuntahkan semua isi perutnya.


"Sayang kamu kenapa?" Ucap Bagas dengan mengelus-elus punggung Aurel.


Aurel menatap Bagas dan tersenyum.


"Gapapa Bay, mungkin masuk angin doang" Ucap Aurel. Dia memeluk tubuh Bagas dengan erat, hal itu berhasil membuat mual nya langsung mereda.


"Aku mau pulang Bay" Ucap Aurel.


"Kita udah dirumah sayang" Jawab Bagas.


"Pulang ke rumah kita Bay, aku bosan disini terus. Aku kangen rumah" Ucap Aurel.


"Iya kita pulang sekarang sayang, tapi kamu bener gapapa kan?" Ucap Bagas.


"Gapapa Bay, ayo pulang" Aurel langsung menarik tangan Bagas dan keluar dari kamar mandi.


Aurel segera membereskan barang-barang yang ia bawa selama satu minggu ini dengan bantuan Bagas. Setelah selesai mereka langsung menuruni anak tangga.


"Loh Kak, kalian mau kemana" Tanya Raka.


"Lia minta pulang Dad" Jawab Bagas.


"Kenapa emang kak?" Tanya Raka.


"Gapapa Dad, kangen aku sama rumah sendiri" Ucap Aurel.


"Pamit dulu sama Mommy kak" Ucap Raka.


"Iya Dad ini mau, dimana Mom?" Ucap Aurel.


"Lagi di taman belakang biasa sama Amel dan Vyan" Jawab Raka.


"Oke aku kesana Dad" Ucap Aurel.


"Sayang, aku beresin barang-barang Vyan dulu ya" Ucap Bagas yang dianggukki Aurel.


"Mom" Ucap Aurel setelah melihat Zahra di taman belakang.


"Lia, kenapa. Kamu mau kemana? Rapi banget" Ucap Zahra saat melihat Aurel sudah mengenakan gamis dan hijabnya.


"Lia mau pulang Mom" Ucap Aurel.


"Loh gamau nginep semalem lagi gitu kak" Ucap Amel.


"Kakak udah lama nginep disini Mel, nanti kakak kesini lagi ok" Ucap Aurel.


"Vyan kamu siap-siap dulu nak" Sambung Aurel.


"Baik Bunda" Jawab Vyan.


"Tanggung loh Kak, bentar lagi kan malem" Ucap Zahra.


"Mom ada yang mau Lia kasih tau" Aurel mengambil sesuatu di tas kecilnya dan menunjukkan pada Zahra.


"Kak kamu? Ini bener?" Ucap Zahra dengan linangan air mata setelah mengetahui hasil usg yang di berikan Aurel.


"Iya Mom, Lia hamil" Ucap Aurel.


"Selamat sayang" Zahra langsung memeluk Aurel dengan erat.


"Makasih Mom. Lia ingin pulang karena Lia mau ngasih kado ini nanti malem buat suami Lia, kan besok dia ulang tahun" Ucap Aurel.


"Jadi suami kamu belum tau?" Ucap Zahra.


Aurel menggeleng "Belum Mom, Lia sengaja ga ngasih tau kak Tian" Ucapnya.


"Baiklah, kamu harus jaga cucu pertama Mommy oke" Ucap Zahra dengan mengelus perut Aurel.


"Siap Mom" Ucap Aurel.


"Jadi sebentar lagi aku mau jadi Aunty dong?" Ucap Amel yang disambut dengan tawa Zahra dan Aurel.


"Bagaimana bisa aku yang masih berumur 4 tahun sudah akan menjadi Aunty" Lirih Amel.


"Lucu jadi kamu ga keliatan tua banget de nantinya" Ucap Zahra.


"Iya emang" Ketus Amel.


"Mom" Ucap Bagas yang baru saja tiba di hadapan Aurel. Membuat Aurel dengan cepat meraih hasil usg di tangan Zahra dan menyimpannya di dalam tas.


"Tian" Ucap Zahra.


"Tian pamit pulang ya Mom" Bagas mencium punggung tangan Zahra.


"Lia juga Mom" Aurel ikut mencium punggung tangan Zahra.


"Girl kakak pulang ya" Ucap Bagas pada Amel.


"Hati-hati kak, jagain ponakan aku ya" Celoteh Amel yang membuat Aurel membelalakkan matanya.


"Abang Vyan maksud aku" Ucap Amel yang mencairkan ketegangan.


"Ouhh" Ucap Bagas.


"Kita pulang Mom,. Assalamualaikum" Ucap Bagas dan Aurel.


"Waalaikumsallam, hati-hati nak" Ucap Zahra yang dianggukki Aurel dan Bagas.


***


"Bay" Ucap Aurel saat mereka masih dalam perjalanan.


"Kenapa sayang?" Ucap Bagas.


"Dea siapa?" Tanya Aurel.


"Oh.. Dea itu adik kelas sekaligus tetangga aku di kampung. 2 hari yang lalu Bapaknya meninggal, dan dia nitipin Dea ke aku. Maaf aku ga minta persetujuan kamu dulu sayang" Ucap Bagas.


"Jadi mulai sekarang Dea bakal tinggal di rumah kita?" Ucap Aurel yang dianggukki Bagas.


"Kamu ga nyaman?" Tanya Bagas.


"Bukan gitu. Aku takut dia rebut kamu dari aku Bay" Lirih Aurel.


Bagas tersenyum dan menggenggam tangan Aurel dengan tangan kirinya.


"Sayang, apa yang kamu pikirin. Dia itu udah aku anggap kayak adik aku sendiri" Ucap Bagas.


"Ga menutup kemungkinan kalo dia tertarik sama kamu Bay" Ucap Aurel.


"Sayang percaya sama aku ya, walaupun emang dia tertarik sama aku, aku janji gaakan membagi cinta kita" Ucap Bagas.


Aurel menyenderkan kepalanya di bahu Bagas dengan menggandeng tangan Bagas.


Setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah.


"Hahhhh rasanya aku sangat rindu rumah ini" Aurel menarik nafas dengan mata terpejam.


"Kak Bagas" Dea berlari menghampiri Bagas dan sudah siap untuk memeluknya namun dengan cepat Aurel menarik tangan Bagas.


"Tolong hormati istri yang ada di sampingnya ya" Ucap Aurel dengan penuh penekanan. Entah mengapa dia sangat tidak menyukai Dea padahal Aurel bukanlah perempuan yang suka memilih-milih untuk berteman.


"Sayang" Ucap Bagas yang merasa tidak enak pada Dea.


Aurel menatap Bagas dengan linangan air di pelupuk matanya, tanpa berbicara sepatah katapun Aurel langsung berlari kearah lift dan menuju kamarnya.


"Dea kakak harap kamu sedikit lebih dewasa ya. Kakak udah nikah, dan kakak gamau buat istri kakak sedih" Ucap Bagas.


"Aku mau cerita sesuatu kak, aku gapunya temen curhat selain kakak" Ucap Dea dengan nada sendu.


"Kakak akan jadi teman curhat kamu tapi ga sekarang ya, kakak harus nemuin istri kakak dulu. Kamu masuk kamar, istirahat aja" Bagas langsung menyusul Aurel.


Saat memasuki kamar dia melihat Aurel sedang berdiri di balkon dengan memandangi pekarangan rumahnya.


"Sayang" Bagas memeluk Aurel dari belakang dan menghirup aroma leher Aurel yang sudah tidak terbungkus hijab.


"Sayang maafin Dea ya" Ucap Bagas.


Aurel melepaskan pelukkannya dan langsung duduk di kursi.


Apa yang terjadi sama aku sebenarnya?, Ini bukan aku yang dulu, batin Aurel yang juga merasa dirinya aneh.


Bagas berjongkok di hadapan dan menggenggam tangan Aurel di hadapannya.


"Sayang, kenapa tadi kamu nangis hemm?" Ucao Bagas.


"Gapapa kak" Lirih Aurel.


"Kak? Ga biasanya kamu manggil aku Kakak lagi?" Tanya Bagas.


"Gapapa pengen aja" Jawab Aurel.


Bagas yang melihat wajah murung istrinya pun langsung menggendong Aurel dan membawanya ke tempat tidur. Dia merebahkan Aurel lalu mencium bibirnya yang sudah sangat dirindukan selama satu minggu ini.


"Bay ihh!!!" Aurel memukul lengan punggung Bagas saat hampir saja kehabisan nafas karena Bagas tidak melepaskan ciumannya.


"Aku kangen sayang" Ucap Bagas dengan tangan yang mengusap bibir Aurel yang masih basah.


"Kasih aba-aba dulu napa Bay jangan main nyosor aja, kaget akunya" Cebik Aurel.


"Hahahha maaf sayang, lagian muka kamu itu ya kalo cemberut lucu banget" Ucap Bagas.


"Sayang" Lirih Bagas seraya menatap dalam mata Aurel.


Aurel sudah sangat mengerti dengan kemauan Bagas saat ini. Tapi mengingat dia masih hamil muda, dia harus mencari alasan untuk menghindari permainan itu.


"Bay, aku laper" Ucap Aurel.


"Sekaliii saja sayang, ya" Pinta Bagas.


"Bayyy..."


"Hahh, yaudah ayo makan" Bagas berdiri dan meraih tangan Aurel dan membawanya ke meja makan.


Hahhh kamu selamat baby, batin Aurel mengingat bayi yang ada di perutnya.