Twins'

Twins'
85 ༎ຶ‿༎ຶ



Masih lanjutan Flashback ya:)


_________________________________


Vyan mencoba menghubungi Bagas namun sama sekali tidak mendapat jawaban. Entah mungkin Bagas sedang sibuk.


"Abangg jahat!! aku bilang jangan mendekatt!!!" Amel terus memukul punggung Vyan dengan tangisan yang semakin kencang.


"Cucu Opa kenapa hemm?? sini sama Opa" Opa mulai menenangkan Amel namun sama sekali tidak mempan karena Amel terus memeluk Vyan.


Entah apa yang di lakukan di dalam kamar hingga tanpa terasa sudah ½jam berlalu, Amel masih menangis. Matanya sudah benar-benar bengkak, hidungnya merah bahkan wajahnya pun ikut memerah.


Vyan di kagetkan dengan Aydan yang membopong Aurel.


"Ada apa Aunty?" Vyan bertanya pada Neli yang akan mengikuti Aydan.


"Bundamu sepertinya akan melahirkan hari ini" Jawab Neli dengan singkat lalu kembali mengejar Aydan.


Tak lama ponsel Vyan berdering. Ia merogoh sakunya dan meraih ponsel yang bertuliskan Ayah di layarnya.


".........."


"Grandma sudah pergi Yah, Bunda saat ini masuk ruang perawatan"


"......"


Belum sempat berbicara lagi Bagas sudah mematikan sambungan telefonnya.


Flashback Off!!


"Tuan, Nona Aurel ingin bertemu dengan anda" Ucap perawat yang baru keluar dari kamar Aurel.


"Ayok masuk Bang" Vyan langsung mengangguk.


"Mass hikss" Bagas yang masih di ambang pintu langsung menghampiri Aurek yang menangis.


"Kenapa sayang?? sakit?" Tanya Bagas.


"Mommy Mas,,hiksss" Lirih Aurel.


Bagas mencium kening dan mengelus rambut Aurel "Mommy udah tenang disana, jangan nangis lagi ya. Kasian kalo Mom liat kamu kayak gini"


"Aku mau liat Mommy" Lirih Aurel.


"Masih belum bisa sayang, kamu baru saja melahirkan" Ucap Bagas.


"Gak Mas! aku mau liat Mommy!" Tegas Aurel.


"Yaudah aku tanya Dokter dulu, kamu disini tenang dan jangan nangis. Abang temani Bunda" Ucap Bagas.


"Ya Ayah" Jawab Vyan.


Bagas segera pergi ke resepsionis dan menanyakan ruangan Dokter yang membantu Aurel melahirkan. Setelah mendapatkan informasi dari Dokter Bagas segera kembali ke ruangan Aurel.


"Bagaimana Mas?" Aurel harap-harap cemas.


"Diizinkan, asal pakai kursi roda. Dan juga jangan terlalu lama diluar ruangan" Jelas Bagas yang di anggukki Aurel "Tapi apa kamu udah gak sakit lagi?" Sambung Bagas.


"Aku gak apa-apa Mas" Jawab Aurel.


Akhirnya Bagas mengalah pada Aurel, namun sebelum pergi ke kamar Zahra Aurel meminta untuk melihat anaknya terlebih dahulu.


"Heyy tampan, maafin Bunda karena Bunda kamu harus berada di dalam sana" Ucap Aurel sambil mengelus incubator tempat bayinya tertidur.


Beberapa menit kemudian Bagas mendorong kursi roda Aurel menuju kamar Zahra. Di luar kamar terlihat sangat sepi, mungkin sedang berduka di dalamnya. Bagas membuka pintu kamar dan melihat semua orang sedang menangis dan Zahra sudah siap untuk di pulangkan.


"Daddy.." Lirih Aurel.


Raka berbalik menatap Aurel dan menghampirinya "Kamu sudah melahirkan sayang?" Tanya Raka.


"Ya Dad, dia sangat tampan" Aurel mencoba untuk tersenyum walau hatinya begitu perih.


"Syukurlah kalau kalian sehat" Ucap Raka.


"Mommy akan di pulangkan sekarang" Sambung Raka.


"Aku ikut Dad" Ucap Aurel yang di anggukki Raka.


Setelah menyelesaikan urusan di rumah sakit, keluarga Arsenio membawa jenazah Zahra ke rumahnya. Kedatangan jenazah membuat para tetangga sangat terkejut, banyak yang berbelasungkawa, melontarkan kata-kata duka untuk keluarga. Semua keluarga sudah berkumpul di rumah ini. Farhan dengan kedua orangtuanya, Reina dengan kedua orangtuanya dan juga Kedua orangtua Neli.


Setelah memandikan, mengkafani dan menyolati jenazah akhirnya proses pemakaman berlangsung. Raka, Aydan dan Bagas menurunkan jenazah ke dalam liang lahat. Tidak lupa Raka mengazankannya untuk terakhir kalinya, Aurel menangis di atas kursi roda, begitu juga dengan Amel yang berada di pelukkan Vyan.


Raka kembali meneteskan air matanya saat ia menutupi tubuh Zahra dengan kayu. Dengan deraian air mata ia mencoba untuk tetap kuat hingga akhirnya ia menurunkan tanah ke di atas kayu.


"Jangan tutup Mommyy!!!! Hwaaaaa!! Mommy bangun jangan tinggalkan aku Mommyyy hwaaa!!!!" Amel terus berteriak saat tanah sudah masuk setengahnya.


"Aku mau Mommyyyy!!! Mommy bilang Mommy mau temani aku sekolahh!!!! Mommy bangunn!!!!" Kali ini Amel melompat-lompat di gendongan Vyan, beruntung tenaga Vyaj kuat hingga bisa menahan tubuh Amel.


Kini ustadz sedang membaca do'a dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Setelah kepergian semua orang, kini hanya tinggal Raka, Aydan, Neli, Aurel, Bagas, Vyan dan juga Amel. Amel terduduk di samping kayu yang bertuliskan nama Zahra. Ia mengelus-elus kayu itu sambil menangis.


"Mommy kenapa pergi? Mommy kenapa bohong sama Amel? Hikss,,hikss,, Mommy bilang Mommy mau nemenin Amel ke sekolah.. Mommy bagaimana dengan Amel kalau Mommy gak ada? Amel sama siapa Mom?? hiksss,,,hiksss,, Mommy jahat!! Mommy bohong sama Amel!! Mommy bilang kita gak boleh bohong, kenapa sekarang Momny yang bohong sama Amel!! Hwaaaaaaa" Lama kelamaan tangisan Amel semakin kencang.


Raka menarik Amel ke pelukannya, ia menciumi kepala Amel dengan sangat lembut"Masih ada Daddy dek, Daddy akan selalu menemani kamu.. Daddy yang akan mengantar kamu ke sekolah" Ucap Raka.


Amel menatap wajah Raka, matanya mengeluarkan air mata dengan bibir yang melengkung ke bawah.


"Jangan menangis lagi sayang, kamu kuat kan" Ucap Raka dengan suara bergetar.


Amel kembali menatap makam Zahra "Mommy maafkan aku sempat marah-marah sama Mommy. hikss,, Mommy tenang disana ya. Aku disini dijaga sama Daddy, Daddy sayang sama aku.. Hikss,, Mommy aku sayang Mommy" Ucap Amel yang masih sesenggukan.


"Aku janji gak akan kecewain Daddy,, kalau udah besar aku akan jadi anak yang pintar dan berbakti pada Daddy.. Mommy tidak usah khawatir, disini juga ada Kak Ay, Kak Lia juga Abang" Sambung Amel.


Mom terimakasih sudah berjuang sejauh ini untuk kita. Aku, Lia dan Amel juga Daddy sangat-sangat menyayangi Mommy. Selamat jalan Mommy, tenanglah di alam sana, Batin Aydan.


Mommy, maafkan Lia karena Lia sudah menyia-nyiakan waktu bersama Mommy. Maafkan Lia karena Lia tidak ada saat Mommy kesakitan untuk memperjuangkan nyawa Mommy. Terimakasih untuk pengorbanan Mommy. Aku dan yang lainnya sangat menyayangi Mommy. Suatu hari nanti aku akan menceritakan pada anak-anakku bahwa mereka mempunyai Granny yang benar-benar hebat. Selamat jalan Mommy, Batin Aurel.


Mom terimakasih sudah melahirkan anak yang cantik juga baik seperti Lia. Tian janji, Tian tidak akan menyakiti dan mengecewakan Lia lagi. Terima kasih karena telah menjadi mertua sekaligus Ibu kandung untukku. Selamat jalan Mom, Batin Bagas.


Mom Zahra, aku sangat sedih karena kehilangan Mommy, tapi aku juga tidak bisa larut dalam kesedihanku, Aydan pasti sangat terpukul jika melihatku menangis. Mom aku berjanji akan menjadi istri sekaligus Ibu yang baik untuk Aydan. Terima kasih Mommy, selamat jalan, Batin Neli.


Grandma terimakasih telah terbuka kepadaku. Terima kasih karena telah menerima dengan baik anak sepertiku. Aku akan selalu mengingat kebaikan yang Grandma berikan. Aku akan menjaga Amel suatu hari nanti. Tenang di alam sana Grandma, Batin Vyan.


Hayy sayang, lihatlah begitu banyak yang mencintaimu. Tiada satupun yang bisa mengukur rasa cintaku padamu begitu juga rasa sakitku saat kehilanganmu. Melihat wajah Amel yang terus menangis sambil menyebut namamu membuat hatiku hancur. Dia masih kecil untuk hidup tanpa seorang Ibu. Tapi aku berjanji aku akan menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Amel. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya. Tenanglah disana sayang, aku mencintaimu. Selamat jalan, Batin Raka.


Setelah selesai berdoa, semua orang meninggalkan makam Zahra yang sudah bertaburan bunga-bunga yang indah. Bahkan sebelum pergi Amel menempatkan satu bunga melati di dekat kayu Zahra, ia berkata.


"Dengan ini Mommy akan terlihat sangat cantik"


________________________


Huhuu..Siapa nih yang nangis lagi:').


Thanks for 94k Reader's🍑