Twins'

Twins'
23.



Aurel sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, ia menangis tersedu-sedu dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Neli yang melihat itu pun langsung menarik Aurel ke dalam pelukannya.


" Jangan terlihat lemah dihadapannya Rel. Dia adalah musuhmu, bukankah prinsipmu itu tidak akan menangis di depan musuhmu? " ucap Neli menenangkan Aurel.


Tak lama Maheer kembali melanjutkan kata-katanya.


" Mau kah kau menerimaku kembali dan menjaga anak kita bersama-sama? " ucap Maheer dengan berlutut dihadapan seorang wanita.


* Apa maksudnya, menerimanya kembali? anaknya? * batin Aurel.


Dengan segala keberanian Aurel berjalan menghampiri Maheer yang sedang berjongkok dan memberikan setangkai mawar pada seorang wanita.


Saat sudah sangat dekat, Aurel begitu terkejut melihat siapa wanita yang dicintai kekasihnya itu.


" Angel? " ucap Aurel. Ya, wanita dihadapannya itu Angel, seorang wanita yang dulu pernah dia dan Maheer bantu.


Maheer dan Angel menoleh ke sumber suara. Mereka terkejut bukan main saat melihat wanita di hadapannya.


" A..aurel " ucap Maheer dengan gugup.


" Jadi ini yang kau katakan dengan masalah di kantormu " ucap Aurel dengan menahan tangisnya.


" Bu..bukan seperti ii..tu Rel " ucap Maheer.


Aurel menghela nafas dan menghembuskan nafasnya kasar.


" Apa kalian saling mencintai? " ucapnya.


Maheer terdiam tidak mengeluarkan sepatah katapun begitu juga dengan Angel. " Baiklah, diamnya kalian ku anggap sebagai jawaban bahwa kalian memang saling mencintai " ucap Aurel.


Aurel berjalan kedepan Maheer dan menatapnya dengan lekat


" Mata itu, mata yang dulu sangat aku sukai. Mata yang indah, memancarkan setiap ketenangan saat ku menatapnya. Mata itu yang membuatku jatuh cinta padamu " Aurel mengatur nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya


" Entah aku yang terlalu bodoh atau kau yang sama sekali tidak memiliki perasaan. Aku disini berjuang mati-matian untuk menjaga hubungan kita, tapi aku tidak menyangka ternyata ini hadiah dari perjuanganku. Perselingkuhan, heh. Segala masalah akan aku maafkan kecuali perselingkuhan. Kau tau seberapa banyak kerinduan yang ku rasakan selama ini? Seberapa banyak namamu ku sebut disetiap malamku?. Cih. Mungkin hanya aku yang merindukanmu, meneteskan air mataku dan berharap agar bisa berjumpa denganmu secepatnya. Kau mengucapkan janji seolah kau yang terbaik. Dan dengan bodohnya aku percaya dengan semua janji itu, janjimu yang akan menjadikan aku sebagai wanita satu-satunya kelak " sambungnya.


Maheer menggenggam tangan Aurel, dan sama sekali tidak ada penolakkan darinya. Aurel memejamkan matanya menahan agar air mata tidak terjun saat itu.


" Jika aku memperlakukanmu dengan caramu memperlakukanku, akan kupastikan kamu sangat membenciku saat itu juga. Hentikan semua sandiwaramu saat ini juga, berhenti menjadi lelaki pengecut yang menggunakan sikap lembutmu agar memikat banyak wanita lalu dengan mudahnya kau membuang wanita-wanita itu " Aurel melepaskan genggaman tangannya


" Kita pernah sedekat nadi bukan? tapi sayangnya saat ini kita sejauh matahari dan bumi. Kita berpijak di bumi yang sama namun dengan jalan hidup yang berbeda. Kita pun sama saling mencintai, aku mencintaimu tapi kamu mencintainya. Kisah kita sudah berakhir. Tidak ada lagi ucapan manis di setiap paginya. Aku berharap dialah wanita yang kau cari selama ini, wanita yang terbaik untukmu. Terimakasih telah hadir di kehidupanku saat ini, jika kelak aku dilahirkan lagi di kehidupan kedua. Aku akan meminta pada Tuhan untuk tidak menghadirkanmu lagi di hidupku "


Maheer memeluk Aurel sangat erat dengan meneteskan air matanya " Maaf.. Maafkan aku.. Aku mohon jangan pergi " ucapnya.


" Aku berharap kau tidak menjadi lelaki yang serakah, yang ingin memiliki 2 wanita sekaligus di hidupmu. Aku percaya kau lelaki yang baik, hanya saja saat itu tameng kesetiaanmu sedang goyah " ucap Aurel.


" Tidak. Tidak.. Aku mencintaimu Lia.. jangan tinggalkan aku " ucap Maheer yang semakin erat memeluk Aurel.


" Papa "


Deg..


Jantung Aurel semakin berdegup saat mendengar seorang anak memanggil Maheer dengan sebutan Papa


" Papa kenapa nangis " sambungnya dengan memeluk kaki Maheer.


" Lepaskan pelukanmu, anakmu pasti sangat sedih melihatmu seperti ini " ucap Aurel dengan melepaskan pelukannya.


Aurel berjalan mendekati Angel dan menatapnya dengan senyuman " Terimakasih. Karenamu aku bisa mengetahui sikap orang yang aku cintai hari ini. Terimakasih karena sudah masuk ke kehidupannya. Aku titipkan dia padamu. Aku mempercayakanmu untuk menjaga dia. Aku tidak akan menyebutmu sebagai wanita penggoda ataupun pel*cur karena aku sadar jika dia hanya kekasihku bukan suamiku. Jaga dia baik-baik, jangan sampai saat kau lengah dia akan berpaling lagi darimu " ucap Aurel.


Namun siapa sangka, Angel bangkit dari posisinya dan menghampiri Aurel.


Plak


Angel menampar Aurel dengan sangat keras sampai membuat pipi Aurel lebam. Neli dengan cepat menarik tubuh Aurel untuk menjauh dari Angel.


" Kau telah mempermalukanku Aurel!!!! " teriaknya.


" Dan kau!!, Apa kau tau Aurel sangat mencintaimu? Apa kau tau Aurel selalu menceritakan tentang kebahagiaan dia denganmu padaku?. Tidak pernahkah kau memikirkan bagaimana Aurel berjuang mati-matian untuk menjaga hatinya demi kau?. Bahkan jika sedikit saja Aurel membuka hatinya pada orang lain, aku pastikan sudah beribu-ribu pria yang mengantri agar bisa menjadi pasangannya!!. Kau bodoh! Membuang sebuah berlian hanya untuk sampah sepertinya!! " ucap Neli dengan sengit.


" Tante tidak boleh bicara seperti itu pada Mama! Mama adalah orang yang sangat baik!! " teriak anak di gendongan Maheer.


" Kau benar! Mamamu memang sangat baik, sampai dia buta dan tidak tau caranya berterimakasih! " jawab Neli.


Neli langsung menarik tangan Aurel untuk keluar dari tempat itu.


Flashback Off..


Aydan semakin mengepalakan tangannya saat mendengar cerita dari Aurel.


" Kumohon jangan menyakitinya kak " lirih Aurel.


" Aku tidak yakin untuk tidak menyakitinya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakitimu " ucap Aydan.


" Kumohon kak, dia memang bersalah. Tapi ya memang seperti ini takdirku " ucap Aurel.


" Walaupun bukan kakak yang menghancurkannya, kamu pasti tau siapa yang akan lebih awal bertindak " ucap Aydan yang langsung meninggalkan Aurel.


" Kak Tian, aku yakin dia sudah mengetahui ini. Apa yang harus aku lakukan " ucap Aurel mengingat Bagas memerintahkan beberapa orang suruhannya untuk mengikuti Aurel tanpa sepengetahuan orang lain.


Dengan cepat Aurel menghubungi Bagas, sialnya nomor Bagas tidak aktif dan dia terpaksa menelfon orang rumah untuk menanyakan keberadaan Bagas.


Paggilan telefon..


Aurel : Hallo Mom


Zahra : Apa kak


Aurel : Kak Tian ada dirumah kan?


Zahra : Loh kok malah nanya sih, bukannya Tian udah berangkat buat nemuin kamu disana?


Aurel : Mommy ga bohong kan?


Zahra : Sejak kapan mom boong, seriusan beberapa jam yang lalu Bagas izin katanya mau nemuin kamu


Aurel : Yaudah makasih mom


Aurel langsung memutuskan panggilannya begitu saja, ia takut jika Bagas berbuat nekat pada Maheer dan Angel. Biar bagaimanapun Maheer adalah lelaki yang masih Aurel cintai.


Aurel berniat untuk pergi ke kamar Aydan. Saat sudah membuka pintu kamar dia melihat Aydan sedang duduk dibalkon kamarnya dengan melakukan telefon.


" Kak " ucap Aurel.


Aydan menoleh dan langsung mematikan telfonnya.


" Kenapa " ucap Aydan.


Aurel menghampirinya dan duduk di kursi yang ada di samping Aydan " Lia mohon jangan lakukan apapun pada Maheer dan wanita itu " lirihnya.


" Lia, kamu adalah tanggung jawab kakak. Mana mungkin kakak bisa membiarkan begitu saja orang yang membuatmu seperti ini. Bersiaplah, 5 menit lagi kakak akan mengajakmu ke suatu tempat " ucap Aydan yang langsung bangkit dari posisinya dan memasuki kamar mandi.


Tanpa menunggu perintah yang kedua, Aurel bersiap untuk ikut dengan kakaknya walaupun dia tidak tau tempat apa yang akan ia kunjungi.


Setelah beberapa menit bersiap akhirnya Aydan dan Aurel sudah memasuki mobil. Aydan melajukan mobil tanpa bicara sepatah katapun dan membuat Aurel semakin bersalah.


" Kak " ucap Aurel.


" Hem " jawab Aydan.


" Kita mau pergi kemana " tanya Aurel. Aydan hanya mengangkat kedua bahunya tanpa ekspresi.