Twins'

Twins'
90



Vyan yang melihat Amel dari pintu hanya bisa mematung dengan pikiran yang jauh menerawang. Bagaimana bisa anak berusia 5tahun tumbuh tanpa kehadiran Ibu kandungnya?.


Tanpa berniat untuk memasuki kamar Amel, Vyan lebih memilih untuk menemui Aurel.


"Assalamualaikum" Ucap Vyan saat sudah berada di dalam kamar Aurel.


"Waalaikumsallam bang, kenapa?" Tanya Aurel saat melihat wajah lesu Vyan.


"Bunda.." Vyan mendekati Aurel dan langsung memeluknya.


"Kenapa Abang?" Aurel bertanya lagi.


"Amel sakit Bund" Lirih Vyan yang membuat Aurel dan Bagas terkejut.


"Terus gimana keadaannya sekarang?" Tanya Bagas.


"Masuk rumah sakit ini Yah, tadi mau di infus tapi Amel nangis terus manggil-manggil Grandma" Ucap Vyan.


"Mas aku mau liat Amel" Aurel menatap Bagas dengan tatapan penuh harap. Bagas mengangguk dan langsung membantu Aurel berjalan walaupun Aurel sudah merasa baik-baik saja.


"Dadd.." Ucap Aurel setelah berada di dalam kamar Amel. Ia melihat Amel yang sedang tertidur dan Raka yang sedang mengusap-usap pipi Amel.


Mendengar Aurel memanggilnya, Raka membalikkan badannya menatap Aurel.


"Kak" Lirih Raka.


Aurel menghampiri Amel dan menempelkan telapak tangannya di kening Amel.


"Panas banget Dad" Ucap Aurel.


"Heemm" Rupanya Raka sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Mungkin karena lelah menangis..


Tak lama dokter Gerry datang "Permisi Tuan kita harus memasangkan jarum infus agar tubuh Nona mendapat cairan yang cukup" Ucap Dokter Gerry.


"Heem silahkan" Jawab Raka yang merasa sudah ada kesempatan untuk memasang jarum infusnya karena Amel sedang tertidur.


"Baik permisi Tuan" Dokter Gerry dan 1 perawat siap untuk menyuntikkan jarum ke tangan kiri Amel. Namun saat memegang tangannya Amel langsung membuka matanya dan langsung menangis.


"Huwaaaa gak mauu!!!" Teriak Amel.


"Amel hey, kamu harus diinfus biar cepat sembuh" Ucap Aurel.


"Gak mauu!! sakitt,, aku mau Mommy!!"


Aurel mendekati Amel dan memeluknya, Amel pun membalas pelukan Aurel dengan erat.


"Kakakk aku mau Mommy hikss,," Ucap Amel sambil sesenggukan.


"Amell.. Amel tau kan Mommy udah pergi?" Belum sempat Aurel melanjutkan ucapannya, Amel langsung menatap Aurel dengan tatapan sedih.


"Mommy kak hikss,, aku mau mommy hiks.." Tangis Amel kembali pecah.


"Amel dengerin kakak,, kamu harus sembuh biar mommy bahagia. Kamu harus tetap sehat sayang" Ucap Aurel.


Amel melepaskan pelukkannya dan menatap Aurel "AKU MAU MOMMY!!" Teriak Amel.


"Amel.." Aurel masih mencoba untuk membujuk Amel.


"Kalian jahat!! Aku mau mommy hwaaa"


Aurel yang sudah kesal dengan sikap Amel langsung mencengkeram tangan Amel dan menatapnya dengan tatapan marah.


"Mommy sudah pergi!! Mommy sudah meninggal Mel!! Jika kamu terus seperti ini kamu membuat Daddy tersiksa!! Liat daddy liatt!!!" Aurel memegang dagu Amel dan mengarahkannya ke arah Raka.


"Liat Daddy!! Selama ini Daddy merawat kamu sendirian! Kamu gak tau kalo Daddy tersiksa hah?! Disini yang merasa kehilangan Mommy bukan kamu saja! kita semua merasa kehilangan. Kita semua merasakan duka yang sama!. Jika kamu terus seperti ini kamu akan membuat Daddy lelah! Daddy harus bekerja dan menjagamu. Jika Daddy lelah dan memilih menyerah lalu menyusul Mommy disana apa kamu tidak akan sedih?!" Amarah Aurel pecah saat melihat sikap Amel.


Bagas memegang tangan Aurel untuk menenangkannya namun Aurel selalu menepisnya.


"Sekarang pilihan ada ditanganmu!! Jika kamu tidak menuruti apa kata dokter maka kamu membiarkan Daddy menyusul Mommy disana!!Buat keputusannya sekarang!!", Aurel berteriak di hadapan Amel.


Amel meringis kesakitan dan menatap Raka.


"Daddy hikss,," Lirih Amel seakan meminta pertolongan pada Rama.


Raka yang sudah tidak kuat lagi melihat wajah Amel akhirnya melepaskan cengkraman tangan Aurel di tangan Amel lalu memeluk Amel dengan erat.


"Daddy maafin Amell hikss,,, Daddy jangan pergi. Kalo Daddy pergi nanti Amel sama siapa disini hikss,, Amel gak mau tinggal sendiri Dadd hikss.." Ucap Amel.


Raka terus menciumi puncak kepala Amel "Daddy tidak akan meninggalkan Amel sendiri. Sekarang Amel ikuti perintah dokter ya" Ucap Raka. Amel menganggukkan kepalanya lalu menyodorkan tangan kirinya pada Dokter dengan masih memeluk Raka dan meyembunyikan wajahnya di perut Raka.


Raka mengisyaratkan pada Dokter untuk segera memasang jarum infusnya. Dengan hati-hati Dokter memasangkan jarumnya. Amel sedikit mencengkeram baju Raka saat jarum infus mendarat di tangannya.


"Anak pintar. Sudah selesai Tuan. Saya akan mengecek keadaan Nona nanti malam. Selamat sore Tuan" Dokter dan perawat membungkukkan badannya lalu melenggang keluar kamar setelah Raka menjawab ucapannya.


Kini Amel sudah kembali berbaring di tempat tidur. Ia memperhatikan tangannya yang terpasang jarum infus. Ini baru pertama kalinya Amel menjalani perawatan di rumah sakit.


Amel menatap Aurel lalu tersenyum walau masih sesenggukan "Kakak gak salah. Amel yang salah" Ucapnya.


Aurel tersenyum lalu mencium kening Amel "Cepet sembuh, biar Daddy gak sedih lagi" Bisik Aurel yang dianggukki Amel.


"Makasih kak" Lirih Amel.


"Udah makan Mel?" Tanya Aurel yang dijawab dengan gelengan kepala Amel.


"Daddy disini aja jagain Amel, biar Lia sama Kak Tian yang beli bubur di luar" Ucap Aurel saat melihat Raka yang hendak meraih kunci mobilnya.


"Ayok Mas" Aurel menarik tangan Bagas.


Setelah berada di luar kamar Amel, bukannya membeli bubur untuk Amel tapi Aurel malah terduduk di kursi dan menundukkan pandangannya. Terlihat air mata yang jatuh bergiliran. Biar bagaimanapun, Aurel juga merasakan apa yang dirasakan oleh Amel. Ia mencoba menguatkan hatinya dihadapan Amel, namun tidak saat ia sendiri atau bersama suaminya.


Bagas hanya bisa mengusap punggung Aurel dengan lembut tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Apa aku salah Mas?" Aurel tiba-tiba bertanya sambil menatap Bagas.


"Gak sayang, kamu gak salah sama sekali. Buktinya dengan cara kamu, Amel jadi mau menuruti kata Daddy" Ucap Bagas sambil mengelus puncak kepala Aurel.


Aurel memeluk Bagas dengan erat.


Mommy hikss.. kita butuh Mommy, Batin Aurel.


"Lebih baik kita cari bubur buat Amel ya, kasian Amel belum makan" Bagas mencoba untuk menghentikan tangisan Aurel.


Sepersekian menit Aurel mengatur nafasnya, menghapus air matanya lalu beranjak dari tempat duduknya. Aurel dan Bagas memilih untuk berjalan kaki karena jarak penjual bubur dengan rumah sakit sangat dekat setelah Bagas bertanya pada satpam rumah sakit.


"Pak, bubur 2 porsi yang satu tidak pakai kacang ya" Ucap Bagas pada penjual bubur.


"Siap Kang. Silahkan duduk dulu" Penjual bubur mengambilkan 2 kursi untuk diduduki Aurel dan Bagas.


"Satunya buat siapa?" Tanya Aurel.


"Kamu lah sayang", Jawab Bagas.


"Tapi aku gak mau bubur Mas" Keluh Aurel.


"Sayang, tadi aku udah nanya sama dokter berbagai makanan yang boleh dikonsumsi wanita yang baru melahirkan. Karena hanya ada bubur disini jadi kamu harus makan bubur. Lagipula kamu belum makan siang kan?" Ucap Bagas.


"Kan masih banyak makanan yang bisa aku makan Mas" Ucap Aurel.


"Iya tapi kan disini cuma ada bubur. Nanti sore Mas beli makanan sehat lainnya ya, sekarang makan bubur dulu" Ucap Bagas dna dengan malas Aurel menyetujui usul Bagas.


Aurel dan Bagas kembali ke dalam rumah sakit setelah buburnya sudah siap. Hingga saat berada di lobby rumah sakit ada seseorang yang memanggil Aurel. Aurel mengedarkan pandangannya mencari sumber suara hingga menangkap sosok pria yang memakai baju dokter.


"Bara" Ucap Aurel. Ya, siapa lagi jika bukan Bara. Seseorang yang pernah membantunya dulu.


"Heyy apa kabar?" Tanya Bara sambil mengulurkan tangannya namun dengan cepat Bagas berdehem dan membuat Bara kembali menarik tangannya.


"Alhamdulillah baik. Gimana Bu Sari dan Aisyah?" Tanya Aurel.


"Alhamdulillah mereka juga baik-baik saja" Bara bingung melihat perut Aurel yang sudah rata, karena sejak pertemuan terakhirnya dengan Aurel, perutnya masih buncit.


Aurel yang mengerti arti tatapan Bara hanya tersenyum "Aku sudah melahirkan. Bayiku terlahir prematur. Tapi semuanya baik-baik saja" Ucap Aurel.


"Ahh iya.. Maaf baru tau sekarang. Nanti kapan-kapan aku akan menjenguk bayimu" Ucap Bara.


"Iya makasih. Pintu rumah kita selalu terbuka lebar" Ucap Aurel.


"Oh iya, aku ada jadwal operasi. Nanti aku akan menemuimu lagi. Dan jangan lupa pakai hadiah yang aku berikan untuk anakmu nanti oke" Setelah mengucapkan kalimat itu Bara langsung bergegas meninggalkan Aurel.


"Hadiah??" Tanya Bagas.


"Iya, beberapa waktu lalu Bara ngasih hadiah baju buat anakku" Jawab Aurel. Bagas hanya terdiam seraya menahan amarahnya. Terlihat ia mengepalkan tangan kanannya yang memegang plastik berisikan bubur.


Aurel yang merasakan perubahan sikap Bagas pun langsung mengerti. Ia menggandeng tangan Bagas "Tenang aja Mas. Aku gak bakal pake hadiahnya kok" Ucap Aurel.


"Gak boleh gitu. Kita harus menghargai pemberian orang lain" Jawab Bagas.


"Percaya deh, gak akan sama sekali aku pakein baju itu ke Vano. Aku janji" Ucap Aurel.


Bagas menatap Aurel dengan lekat "Kenapa?" Tanya Bagas.


"Ada 2 alasan untuk itu. Yang pertama karena suamiku ini cemburu dan yang kedua itu karena baju yang diberikan Bara adalah baju perempuan. Aku gak mungkinlah pakein Vano baju itu udah mah warna pink lagi" Ucap Aurel sambil terkekeh geli


Bagas ikut tersenyum lalu merangkul pundak Aurel "Jangan biarkan orang lain masuk ke dalam rumah tangga kita sayang" Ucap Bagas.


"Akan aku usahakan Baginda raja" Jawab Aurel yang membuat keduanya tertawa.


•••


Hayy pakabar???