Twins'

Twins'
74



"Permisi Tuan Raka, bisakah kita bicara berdua?" Ucap Dokter yang memasuki kamar Zahra.


"Hemm" Ucap Raka.


"Mari Tuan, ke ruangan saya" Ucap Dokter.


"Kak titip Mom dulu ya" Ucap Raka pada Bagas yang dianggukki Bagas.


"Silahkan duduk Tuan" Ucap Dokter setelah mereka sampai di ruangannya.


"Apa ada hal penting yang ingin anda sampaikan?" Tanya Raka.


"Benar Tuan.. Kanker yang di alami Nyonya Zahra sudah hampir memasuki stadium 4...."


"Apa ada pengobatan yang benar-benar ampuh untuk menyembuhkan istri saya?" Potong Raka yang langsung to the point.


"Umumnya pada pasien penderita kanker otak yang pertama di lakukan adalah operasi pada tengkorak kepala untuk mengangkat tumor ganas yang bersarang di otak, setelah operasi ada tahapan-tahapan selanjutnya seperti Radioterapi, Kemoterapi dan Terapi target. Tak banyak pasien berhasil melawan penyakit ini, tapi tidak sedikit pula yang berhasil sembuh dari penyakit ini. Semua hanya atas kehendak Tuhan saja" Jelas dokter.


"Berapa persen istri saya bisa sembuh?" Tanya Raka.


"Untuk kasus Nyonya ini, saya tidak bisa memperkirakan. Namun, kami akan melakukan perawat yang benar-benar intensif pada Nyonya" Ucap Dokter.


"Baiklah lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya" Ucap Raka yang langsung keluar dari ruang dokter.


Sementara di kamar Zahra, Amel terus berceloteh menceritakan apa yang ia tonton semalam bersama Vyan. Bagas menatap Zahra dengan tatapan sendu.


"Mom.." Lirih Bagas.


"Mom tau apa yang akan kau katakan. Sebaiknya kamu pulang dan melanjutkan pencarianmu, biarkan Vyan yang menjaga Amel" Ucap Zahra.


"Baik Mom,, Assalamualaikum" Ucap Bagas sesudah menyalimi Zahra.


Setelah Bagas meninggalkan kamar Zahra, tak lama Vyan masuk dengan membawa kantong keresek bergambar lebah.


"Bang" Ucap Zahra.


"Grandma" Vyan menyalimi Zahra.


"Makan dulu yu Nyil. Abang bawain roti kesukaan kamu, kamu belum makan siang loh" Ucap Vyan pada Amel.


"Gamau Abang, aku belum laper" Ucap Amel.


"Tapi kamu belum makan,, nanti kalo sakit gimana" Ucap Vyan.


"Tapi akunya gak mau Abang!!" Teriak Amel.


"Nyil!" Tegas Vyan yang membuat Amel mengerucutkan bibirnya,, menurut Amel sikap Vyan yang tegas benar-benar mirip dengan sang Daddy, dan ketika Daddy ataupun Vyan berkata seperti itu maka mau tidak mau Amel harus menurutinya.


Amel duduk di samping Zahra seraya memasang wajah kesal.


"Sini" Ketus Amel seraya mengadahkan tangannya.


"Duduk di sofa aja jangan disitu ayo" Vyan mendekati Amel dan menggendongnya. Dia membawa Amel ke sofa dan mendudukkannya di sampingnya.


"Jangan cemberut gitu Nyil, jelekk" Ledek Vyan dengan kekehannya saat melihat Amel memakan roti dengan mulut yang menggerutu tiada henti.


Amel menatap Vyan sinis dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Vyan yang melihat wajah Amel yang menggemaskan pun mencubit kedua pipi Amel.


"Gemessss" Ucap Vyan.


"Abangg!!!!!" Amel berteriak seraya melemparkan rotinya ke meja.


Vyan tertawa saat melihat Amel yang benar-benae sudah marah padanya.


"Ututututu jangan marah dong" Vyan memeluk Amel dan menggerakkan ke kanan dan ke kiri.


"Abang aku gak bisa napas!!!" Teriak Amel karena wajahnya tertekan di dada Vyan.


"Hahaha maaf-maaf nyil" Vyan melepaskan pelukkannya dan meraih roti yang tergeletak di atas meja.


"Aaaaaa..." Vyan menyodorkan roti ke mulut Amel.


Amel melipatkan tangannya di atas perut lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seolah mengatakan ia tak mau memakan rotinya.


"Makan atau Abang pulang sekarang dan gak akan kesini lagi??" Ancam Vyan.


Amel menatap Vyan dengan tajam, lalu meraih roti yang ada di tangan Vyan. Ia melahapnya dengan wajahnya yang masih terlihat suram.


Zahra yang melihat kedekatan Vyan dengan Amel hanya bisa tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


Semoga kelak kamu menjadi anak yang di sayangi banyak orang Dek, Batin Zahra.


Sementara di salah satu restoran Bagas sedang berbicang setelah menghabiskan makan siang dengan di temani oleh Aji.


"Gimana istri lo?" Tanya Aji.


"Sama sekali?" Tanya Aji.


"Hemm.." Ucap Bagas.


"Nyesel lo?" Tanya Aji dengan senyum sinisnya.


"Kalo gue gak nyesel gue gabakal nyari dia selama ini" Sengit Bagas.


"Syukurlah kalo lo nyesel, berarti lo masih waras" Ucap Aji yang mendapatkan tatapan tajam dari Bagas.


Ditengah perbincangan Aji dan Bagas, ada seorang wanita yang menghampiri meja mereka dengan membawa paperbag di tangannya.


"Hai kak Bagas" Ucap wanita itu.


Aji menatap Bagas seolah menanyakan siapa wanita di hadapannya. Bagas meminum sisa minumannya dan meraih jaz yang ia simpan di bangku.


"Mantan kakak anak gue" Ucap Bagas yang langsung meninggalkan Aji dan wanita tadi yang tak lain adalah Virly.


Mau tidak mau Aji mengikuti Bagas tapi tidak lupa menyimpan beberapa lembar uang di atas meja.


"Permisi" Ucap Aji pada Virly.


Virly menatap kepergian Bagas dan Aji dengan tatapan kesalnya. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Aku akan membuatmu jadi milikku seutuhnya!!" Batin Virly.


***


Malam harinya Zahra hanya di temani oleh Amel karena Raka dan yang lainnya termasuk Vyan mempunyai urusan pribadi . Amel masih memeluk Zahra dari samping menenggelamkan wajahnya di dada Zahra.


"Mom.." Ucap Amel.


"Hem?" Ucap Zahra.


"Usia Abang berapa?" Ucap Amel.


"Emmm,, tepat satu bulan yang lalu Abang berusia 12 tahun.. Kenapa hemm?" Tanya Zahra.


"Tidak Mom, berarti aku sama abang selisih 7 tahun?" Ucap Amel.


"Iya benar" Ucap Zahra.


"Mom and Dad selisih berapa tahun?" Tanya Amel.


"Saat menikah dulu usia Mom masih 19 tahun dan Daddy 24 tahun" Ucap Zahra.


"Bagaimana bisa Mom menikah dengan usia yang masih 19 tahun??" Tanya Amel.


"Tentu saja bisa, karena Mom mencintai Daddy" Bukan Zahra yang menjawabnya melainkan Raka yang baru saja tiba di kamar istrinya.


"Daddy.." Ucap Zahra dan Amel.


Raka tersenyum seraya mendekati Zahra. Ia mencium kening Zahra.


"Karena Mom di takdirkan hanya untuk Daddy seorang" Ucap Raka.


"Ishh aku bertanya pada Mommy bukan Daddy!" Ketus Amel.


"Apa salahnya jika Daddy yang menjawab hemm??" Tanya Raka.


"Tentu salah karena aku bukan bertanya pada Daddy" Ucap Amel.


"Daddy kan hanya mewakili Mommy" Ucap Raka.


"Tetap saja tidak boleh! Itu namanya tidak sopan" Ucap Amel.


"Heyy kamu juga tidak sopan pada Daddy" Keluh Raka.


"Dih Daddy baperan" Ucap Amel yang membuat Raka dan Zahra saling pandang.


"Bukan aku yang ngajarin Mas" Zahra menggelengkan kepalanya.


Salah bikinnya ini mah, Batin Raka seraya menepuk keningnya sendiri.


*****


Aku suka bingung ama kalian.. Kemarin-kemarin mau Aurel cepet-cepet pergi eh sekarang mau Aurel balik lagi😄


Mau nya apa nih??


bisa di bicarakan baik-baik😂