
" Mommy takut kalian ninggali Mom sendiri "
Zahra terisak karena merasakan setiap mimpinya seperti benar-benar akan terjadi suatu saat nanti..
" Mommy sayang, gaada yang mau ninggalin Mom. Daddy dan anak-anak akan selalu ada disisi Mommy. Tenanglah sayang " Raka menepuk pelan punggung Zahra.
" I love you, I love you and our children. I love all of them. Forever, even until I closed my last eyes "
" I love you Too, tidurlah sudah terlalu larut. Berhenti menangis sayang "
Raka mengecup kening Zahra dengan sangat lembut, bukan hanya Zahra, Raka pun merasakan seperti akan terjadi hal buruk pada istrinya.
" Good Night sayang, have a nice dream " bisiknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di dalam kamar, Vyan sedang membaca dongeng pengantar tidur untuk Amel. Akhir-akhir ini Amel sering meminta Vyan untuk tidur bersamanya.
Setelah menyelesaikan bacaannya Vyan menghela nafas saat melihat Amel sama sekali belum juga menutup matanya.
" Kenapa belum tidur hemm? Ini sudah larut, besok abang harus sekolah dek " ucap Vyan dengan mengelus rambut Amel.
" Entahlah, malam ini aku sama sekali tidak mengantuk, aku ingin bersama abang "
" Abang takut besok mengantuk di kelas dek "
" Aku tidur tapi abang tunggu disini sebentar aja "
" Iya, Abang akan disini sampai kau tertidur "
Setelah memastikan Amel benar-benae tertidur, Vyan langsung melenggang meninggalkan Amel dan masuk ke kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain, Aurel dan Bagas tengah menikmati sejuknya angin malam di balkon kamar mereka. Sampai kegiatannya terhenti saat mendengar suara pesan masuk dari ponsel Aurel.
Bagas meraih ponsel istrinya dan langsung membuka.
Siapa yang mengirim pesan pada Aurel tengah malam seperti ini, batin Bagas.
* Hey Lia.. Kau sedang apa? Sudah tertidur kah? Ku harap belum.
Malam ini aku mengingat tentangmu, tentang kita. Kau ingat? 4tahun yang lalu kita pernah duduk di taman dengan memakai pakaian tebal karena malam itu sungguh sangat dingin cuacanya. Saat ini cuaca pun sangat dingin, aku mengingat kembali senyum yang terukir di bibir manismu saat aku menghangatkanmu *
Bagas mengernyitkan dahinya saat membaca pesan tersebut, dan ada satu pesan lagi yang masuk.
* Aku menyesali semuanya, kembalilah padaku. Mari hidup dengan bahagia seperti apa yang kita rencanakan dulu. Bukankah dulu kau sangat ingin menikah dneganku? Menjadi ibu dari anak-anakku kelak? Kau juga pernah bilang jika kau hanya akan mencintaiku, bahkan jika kita sudah tidak bersama lagi. Apakah sekarang kau masih mencintaiku Lia? Ayolah Lia, kita bisa memperbaiki semuanya *
Dengan rasa yang sudah tidak karuan, Bagas segera memblokir nomor itu dan menghempaskan ponselnya ke sembarang arah.
Aurel yang melihat Bagas dengan wajah kesal pun mengernyitkan dahinya. Dia bangkit dari kursi dan langsung menghampiri suaminya.
" Hubby, kamu kenapa? " Aurel duduk di samping Bagas.
" Gapapa sayang, kamu tidur aja aku mau ke ruang kerja sebentar " Bagas menjawab dengan nada dan tatapan yang begitu dingin tanpa menoleh sedikitpun ke arah Aurel. Dia langsung melenggang meninggalkan kamar dan masuk ke ruang kerjanya.
Aurel yang tidak mengerti apa-apa pun langsung meraih ponsel yang tergeletak di lantai dan mengecek siapa yang mengirimkannya pesan tadi.
Matanya membulat sempurna saat melihat pesan yang dikirimkan seseorang, dan yang pasti Aurel berpikir itu adalah Maheer, mantan kekasihnya.
" Aku kan udah ganti nomor handphone, kenapa dia bisa tau nomor ku? " gumamnya.
Di ruang kerja, Bagas menyibukkan dirinya dengan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ada di kantornya, padahal dia sudah berniat tidak akan mengerjakannya semingguan ini. Dengan pikiran yang kacau dia membolak-balikkan beberapa dokumen di hadapannya.
Walaupun sudah mencoba untuk fokus pada pekerjaan, tapi tidak dapat di pungkiri jika saat ini pikirannya masih pada seseorang yang mengirimi pesan pada istrinya. Sebenarnya dia tidak ingin marah pada Aurel namun kata-kata yang menyebutkan bahwa Surel akan tetap mencintai Maheer selalu saja terngiang di otaknya.
" Arghhhhh!!! " pekik Bagas dengan mengacak rambutnya.
" Bawakan aku green tea ke ruang kerja " Bagas memerintahkan pelayannya melaluo telpon yang ada diruangan itu.
Saat keluar dari kamarnya Aurel tidak sengaja bepapasan dengan pelayan yang membawa nampan serta gelas diatasnya menuju ruang kerja suaminya yang berada tepat di samping kamarnya.
" Apa itu untuk suamiku? "
" Iya Nyonya, Tuan memesan ini dan dia bilang untuk mengantarkannya ke ruang kerja "
" Berikan padaku, biar aku yang membawanya "
" Tapi Nya— "
" Tidak usah khawatir, suamiku tidak akan marah. Kau istirahatlah "
" Baik Nyonya. Saya permisi "
Aurel langsung melangkahkan kakinya ke ruang kerja suaminya.
Tok
Tok
Tok
Aurel masuk ke dalam ruangannya dan menyimpan gelas di meja kerja Bagas. Terlihat Bagas yang sedang menyandarkan tubuhnya di kursi kerja dengan memejamkan matanya dan dalam kondisi yang tidak baik.
" Ehemmm " Aurel berdehem untuk menyadarkan Bagas bahwa dia lah yang sedang ada dihadapannya itu.
Bagas membuka matanya dan langsung menatap Aurel dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Aku sudah bilang, tidurlah. Ini sudah larut, tidak baik untuk kesehatanmu! " Bagas masih saja berbicara dengan nada dingin.
Inilah suamiku, walaupun ngambek tapi tetep aja mikirin kesehatan istrinya, batin Aurel dengan kekehannya.
" Lalu bagaimana denganmu? " Aurel membalas ucapan suaminya dengan kata-kata yang formal, menandakan jika mereka sedang dalam situasi yang serius.
" Tidak usah memikirkanku. Cepat kembali ke kamar, dan tidurlah! "
" Kalau begitu, kau juga tidak usah memikirkanku " Aurel menarik kursi di hadapan Bagas dan langsung menduduki kursi itu.
" Aku ingin disini, bersamamu. Sampai kau menyelesaikan pekerjaanmu itu " sambung Aurel.
" Jangan keras kepala! Kubilang istirahat, nanti kamu bisa sakit "
" Tidak apa-apa. Jika aku sakit, itu berarti kau akan memanjakanku "
" Aku taakan membiarkanmu sakit! " Bagas langsung melenggang meninggalkan Aurel dan masuk ke dalam kamarnya.
Cara itu membuat Aurel mengikuti langkah Bagas dengan gerutuannya yang tiada henti.
" Dasar beruang kutub! Seharusnya di bilang gini ' Ah istriku ayo tidur, ini sudah larut. Tidak baik untuk kesehatanmu '. Gaada manis-manisnya emang " gerutu Aurel.
Saat memasuki kamar, Bagas sudah membaringkan tubuhnya di ranjang dengan membelakangi tempat yang akan ditiduri Aurel.
Beruang kutubku sedang cemburu, batin Aurel.
Aurel langsung membaringakan tubuhnya di samping Bagas dan memeluknya dari belakang.
" Saat ini aku sudah menjadi milikmu. Tidak ada yang bisa mangambil hatiku darimu. Kau satu-satunya bukan salah satunya " bisik Aurel.
Bagas sama sekali tidak merespon ucapan istrinya itu. Dia malah mencari posisi nyaman untuk tidurnya. Aurel terus saja memeluk Bagas dengan semakin erat.
" Mendapatkanmu saja sudah membuat hidupku sempurna, bagaimana mungkin aku membagi cinta pada orang lain " Aurel menggunakan kata-kata Bagas yang tadi siang diucapkan padanya.
" Night My cold hubby " bisiknya.
Setelah memastikan istrinya tertidur, Bagas segera melepaskan pelukkannya dan kembali ke ruang kerja dengan membawa ponselnya. Saat sampai di ruang kerja ponselnya berdering dan menampilkan nama 'Ayah' di layarnya.
Panggilan Telefon..
Bagas : Assalamualaikum Yah, ada apa?
Ayah : Waalaikumsallam Nak. Syukurlah kau belum tertidur, Ayah ingin meminta bantuanmu Nak
Bagas : Bantuan apa Yah?
Ayah : Ayah ingin meminta identitas perusahaan x, kebetualan dia bekerja sama dengan perusahaanmu.
Bagas : Ada masalah apa Yah?
Ayah : Nanti Ayah ceritakan jika masalah itu sudah selesai. Ayah hanya ingin meminta bantuan itu Nak. Apa kau keberatan?
Bagas : Baik Yah, besok Bagas kirimkan file nya, karena berkas itu ada di kantor Bagas.
Ayah : Iya Nak. Terimakasih sudah mau membantu Ayah.
Bagas : Sama-sama Ayah, ini tidak sebanding dengan perjuangan Ayah untukku.
Ayah : Suaramu berat, kau sedang ada masalah Nak?
Bagas : Hanya goncangan kecil di dalam rumah tangga Yah. Yah? apa Ayah dulu pernah cemburu pada Ibu?
Ayah : Tentu saja, Ayah selalu cemburu pada Ibumu. Kau juga tau bukan? Ibumu adalah kembang desa, tak sedikir pria yang mendambakannya. Untuk itu Ayah selalu berjuang dengan keras menutupi rasa cemburu Ayah pada Ibumu. Dan Ayah selalu menutup rasa cemburu itu dengan rasa cinta yang begitu besar, hingga Ayah mampu mempertahankan kepercayaan Ayah pada Ibumu
Bagas : Apa Ayah marah pada Ibu?
Ayah : Awalnya Ayah marah, tapi setelah di pikir-pikir itu semua bukan kesalahan Ibumu, Ibumu tidak pernah merespon laki-laki lain selain Ayah. Jadi setelah kejadian itu, Ayah lebih menganggap para lelaki yang mengejar Ibumu itu seperti angin, dan dari situ Ayah menemukan kebahagiaan tanpa rasa takut kehilangan Ibumu. Ayah tau masalahmu saat ini. Nak, biarkan orang lain mau berkata apapunm Kau tidak perlu mendengarkannya selagi itu tidak baik. Kau harus menghargai istrimu yang sudah menjaga kepercayaanmu.
Setelah beberapa menit berbincang dengan Ayahnya, Bagas merasa sedikit lebih tenang walaupun belum sepenuhnya.
________________________
Haihaihai Readers♥️
🍅♥️