Twins'

Twins'
70



2 orang pengawal yang tadi mengantar Amel saat ini sedang menjelaskan kejadian yang menimpa Vyan dan Amel pada Bagas. Bagas mendengarkannya dengan baik, raut wajahnya berubah seperti akan membunuh mangsanya saat ini juga. Dia tidak banyak bicara, ia hanya mendengarkan dan nenyimpulkan cerita itu.


"Tuan maaf,, Tuan Muda Vyan mengirim sinyal darurat" Ucap salah satu pengawal seraya menunjukkan Ipad nya.


"Kita pergi sekarang" Bagas langsung berdiri, ia memasuki kamar pribadinya dan membawa jaket serta memasukkan pena berwarna gold ke dalam sakunya. Yang tentunya itu bukan pena sembarangan.


Bagas tidak membawa mobilnya. Ia memilih untuk ikut dengan salah satu pengawal yang membawa mobil sendiri. Bagas duduk di belakang kemudi. Berkali-kali ia mengusap wajahnya dan mendongakkan kepalanya keatas. Rasanya masalah dalam hidupnya saat ini benar-benar rumit.


Tak lama mobil terhenti tak jauh dari titik yang di berikkan oleh Vyan.


"Tuan, penjagaannya benar-benar ketat. Tidak mudah masuk kedalam sana" Ucap pengawal.


Bagas diam seperti sedang memikirkan sesuatu, ia melihat ke kaca spion yang ada di mobil. Matanya menangkap seorang pengacara yang tidak terlalu tua baru keluar dari dalam mobilnya. Bagas segera turun dari mobil dan menghampiri pria itu.


"Selamat siang Tuan, maaf saya mengganggu" Ucap Bagas.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu Tuan?" Ucap pengacara dengan lembut.


"Ya. Bisakah kita bekerja sama hari ini?" Tanya Bagas.


"Saya tidak mengerti apa yang Tuan maksud" Ucap pengacara.


Bagas menceritakan tentang Vyan yang sedang di sekap di dalam sana. Pengacaranya sangat baik, ia tidak terlihat seperti penjilat. Dia mendengarkannya dengan cukup baik.


"Jadi apa bisa Tuan membantu saya?" Ucap Bagas.


"Saya bisa saja membantu Tuan, tapi jika terjadi sesuatu pada Tuan, saya tidak akan ikut campur dalam hal itu" Ucap pengacara.


"Baiklah, saya pastikan tidak akan terjadi sesuatu nantinya" Ucap Bagas. Bagas membawa pengacara ke dalam mobilnya, ia meminta bertukar jaz pengacara dengan jaketnya. Tak lupa ia meminta identitas pengacara agar ia tidak di curigai nantinya.


"30 menit setelah saya masuk, kalian bisa menyusul" Ucap Bagas pada pengawalnya.


"Baik Tuan"


Bagas keluar dari mobilnya, ia memakai jaz berwarna hitam, kacamata dan tas yang di jinjingnya.


"Maaf apa anda sudah memiliki janji?" Ucap pengawal yang menjaga gerbang.


"Ya, saya sudah memiliki janji dengan Tuan Anton untuk mengurus perpindahan kuasa" Ucap Bagas.


"Bisa anda perlihatkan bukti kerjasama kalian?"


Bagas mengeluarkan ponsel di dalam tas yang ia bawa, yang tentunya itu bukan ponsel miliknya. Ia menunjukkan pesan yang dikirim Anton pada ponsel itu.


"Baiklah silahkan masuk, ruangan Tuan Anton ada di lantai 2 tepat sebelah kanan tangga" Ucap pengawal.


"Baik terimakasih" Bagas melanjutkan jalannya. Baru beberapa langkah ia membalikkan badannya, melihat para pengawal yang sudah membelakanginya Bagas segera merogoh sakunya dan mengeluarkan pena di dalamnya.


"Aaaaaa" Teriak 2 pengawal saat kakinya terkena jarum yang sama sekali tidak ia ketahui siapa pemiliknya. Akhirnya tak lama mereka tergelatak di tanah.


Bagas tersenyum sinis dan segera melanjutkan langkahnya. Tidak ada yang menghentikannya sama sekali, mungkin karena Bagas memakai pakaian yang rapi dan bersikap biasa saja membuat para pengawal tidak mencurigainya. Dan mereka berfikir ia adalah tamu dari Tuannya.


Bagas menaiki tangga dengan langkah yang lebar. Ia tiba di depan ruangan yang di tunjukkan oleh pengawal yang menjaga gerbang.


Tok


Tok


Tok


Bagas mengetuk pintu di hadapannya dengan cukup keras karena sejak tadi tidak mendapat jawaban.


Membuang-buang waktu!!!, Geram Bagas di dalam hatinya.


Ceklek


Pintu terbuka dan menampilkan seorang pria berjenggot dengan wajah yang kurang bersahabat.


"Siapa kamu" Ucap Anton.


"Maaf Tuan Anton, saya mewakili atasan saya untuk bertemu dengan anda, karena beliau tiba-tiba memiliki kepentingan keluarganya" Ucap Bagas dengab ramah.


Anton memperhatikan Bagas dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


Bagas mengikuti Anton ke dalam ruangannya. Bagas sangat terkejut saat melihat Vyan yang sedang di sekap, begitu juga dengan Vyan, ia juga sama terkejutnya saat melihat keberadaan Bagas di sana, namun mereka tidak menunjukkan keterkejuttannya.


Bagas mengikuti Anton dan duduk di sofa yang ada di tempat itu. Anton memulai obrolannya dengan menanyakan bagaimana kelanjuttan jika memindahkan kuasa kedalam genggamannya karena bisa di bilang ia bodoh. Bagas cukup mahir dalam menjelaskan semuanya karena ia memang mengerti tentang hal seperti ini.


Tak lama ponsel Anton berdering.


"Apaa!!! Kenapa bisa tiba-tiba pinsan?!! Siapa yang membuatnya seperti itu" Teriak Anton.


Dor Dor Dor Dor!!


Terdengar banyak suara tembakkan di luar sana. Anton mendekati jendela dan melihat siapa yang melakukan itu.


Keluarga Arseniooo!!!!!!, Batin Anton.


Anton berbalik menatap Vyan dengan tatapan tajam.


"Apa yang kau lakukan brengsekkk??!!!!" Teriak Anton di hadapan Vyan.


"Apa kau buta?? Kau tidak melihat jika sedari tadi aku di sekap oleh orang gila seperti mu?!!" Ucap Vyan.


Anton terdiam lalu kemudian berbalik menatap Bagas.


"Kau ingin bersenang-senang dengan keluargaku rupanya" Bagas telah bersandar di sofa dengan satu kaki kanan yang di tumpangkan pada kaki kiri.


"Kauuu?!!" Geram Anton.


"Kau tidak bodoh dalam mengartikan kata-kataku bukan?" Ucap Bagas dengan tenang.


"Apa yang kau lakukan??!!!" Teriak Anton.


"Ck. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang kau lakukan pada putraku?" Tanya Bagas.


Anton melihat pistol yang tergelatak di meja yang berada di dekat sofa. Ia berjalan dengan cepat kearahnya dan hendak meraih pistol itu namun dengan cepat Bagas menepisnya hingga senjata itu jatuh ke bawah lemari baju.


Anton berlari kearah pintu dan menaik turunkan knop pintu namun ternyata pintu itu terkunci.


"Kamu mencari ini?" Tanya Bags seraya menunjukkan kunci pintu. Ternyata saat tadi Bagas sempat mengunci pintu dan menyembunyikan kuncinya.


"Siall!!! Kalian menjebakku?!!" Teriak Anton.


"Menjebakmu?? sama sekali tidak. Bukannya kau yang menjebak anakku?" Tanya Bagas dengan santai.


"Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!!"


"Milikmu?? kau yakin ini semua milikmu?"


"Ini semua memang milikku!! Aku yang berhak atas harta keluargaku, bukan bocah pembunuh sepertinya!!" Anton menodong Vyan dengan jari telunjuknya.


"Dia bukan pembunuh!!!" Teriak Bagas.


"Dia anakku!! putra pertamaku!! Dia bukan pembunuhh!!!"


"Kau salah mengadopsi anak, dia telah membunuh orang tua ku!" Ucap Anton.


"Kau tidak tahu apa-apa!!!" Sambung Anton.


"Aku tau!! aku bahkan lebih mengetahuinya daripada kamu!!!" Teriak Bagas.


"Dia anak yang tidak tau diuntung!! dia pembawa sial!!"


Dor!!!


Bagas menembak Anton tepat di kakinya.


"Aaaaa!!!!" Teriak Anton.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun merendahkan keluargaku!" Ancam Bagas.


_________


Tolong bayar aku huhuuuu😫