
Bagas berlari ke suatu ruangan yang bertuliskan"RUANG PERSALINAN" di atasnya.
"Kemana aja Lo!! istri lo lagi kesakitan disini dan lo malah gak ada disisinya!!" Aydan berteriak sambil menarik kerah baju Bagas.
"Mohon untuk tenang, karena di dalam Nyonya sedang berjuang" Ucapan Suster membuat mata Bagas terbelalak.
"Saya suaminya, biarkan saya menemaninya Suster" Bagas mendekati Suster.
"Baiklah silahkan masuk, tapi di harapkan untuk tenang" Ucap suster.
Bagas mengangguk dan langsung memasuki ruangan persalinan Aurel sedangkan Aydan, dia berlari mendekati Vyan dan Amel.
Bagas menghampiri Aurel yang tengah meremas selimut, wajahnya penuh dengan keringat, dia menggigit bibir bawahnya dengan mata yang terpejam.
Bagas mengusap keringatnya dan menciumi keningnya. Ia menggenggam tangan Aurel dengan erat.
"Sayang sayang, Mas mohon tenang. Ada Mas disini, Mas gak akan ninggalin kamu, kamu yang kuat sayang" Bisik Bagas.
Aurel membuka matanya dan menatap Bagas "Mass hiksss,, sakitt" Lirih Aurel.
"Mas ngerti sayang, pasti sangat sakit. Maafkan Mas" Bagas menciumi wajah Aurel.
"Dokter apa istri saya akan melahirkan?" Tanya Bagas.
"Sepertinya benar Tuan, walaupun belum waktunya tapi bayi di dalam perutnya memaksa untuk keluar, mungkin karena kondisi Nyonya nya juga yang memungkinkan untuk melahirkan diusia ini" Ucap Dokter wanita yang sedang menyiapkan alat-alat persalinan.
"Masss!!!!!" Jeritan Aurel seakan menambah kesakitan di hati Bagas. Ia terus menggenggam tangan Aurel dengan erat, bibirnya membisikkan doa-doa ke telinga Aurel.
"Nyonya mohon untuk menahannya sebentar, jangan dulu mengejan khawatir akan menghabiskan tenaga Nyonya sebelum melahirkan" Ucap Dokter.
"Masss sakittt hikss,,hikss,," Aurel mencengkeram tangan Bagas.
"Aaaaa!!!!!" Lagi-lagi Aurel mengejan dengan peluh yang terus saja bercucuran.
"Lebih baik Tuan membantunya berdiri, saat ini masih pembukaan ke 3. Akan lebih baik jika Nyonya berjalan di sekeliling ini, itu akan membantu melancarkan persalinan" Ucap Dokter.
"Kamu kuat sayang?" Tanya Bagas yang di balas dengan anggukkam kepala Aurel.
Bagas membantu Aurel turun dari ranjangnya, Aurel terus mencengkeram bahu Bagas dengan keras. Bagas membawanya berjalan dengan sangat pelan. Sesekali Aurel membungkukkan badannya karena sakit yang tidak tertahankan.
"Minum dulu sayang" Bagas memberikan botol air beserta sedotan.
"Masih kuat??" Tanya Bagas.
"Masssihhh ashhhh" Jawab Aurel.
Aurel berjalan cukup lama, ia merasakan perutnya sudah benar-benar kram. Bagas yang melihat cairan turun ke lantai langsung memasang wajah yang khawatir.
"Dokter kenapa ini?" Tanya Bagas.
"Mungkin sudah saatnya melahirkan. Tolong baringkan lagi Nyonya di kasur" Ucap Dokter dengan tergesa-gesa.
Bagas membaringkan tubuh Aurel di kasur, ia melihat wajah Aurel yang sudah benar-benar pucat. Hijabnya sampai basah karena keringatnya.
"Nyonya tenang. Tarik nafass,, buang perlahan" Dokter memberi instruksi yang langsung di patuhi oleh Aurel.
"Lakukan berulang Nyonya,, Nyonya harus mengejan saat saya memberi instruksi"
"Sekarang tarik nafas yang panjang,, hembuskan lagi dengan perlahan. Silahkan mengejan Nyonya, kepala bayi sudaj terlihat"
"Aaaaaaa!!!" Aurel mengejan seraya menjerit kencang.
Beberapa kali mengejan sampai akhirnya.
"Aaaaaaa!!!"
"Oooekk ooekk oooekk"
Jeritan terakhir beserta tangisan bayi membuat nafas Aurel tersengal-sengal.
"Bayinya sangat tampan seperti Ayahnya" Ucap Dokter.
Aurel tersenyum ke arah Bagas. Bagas langsung mengecup kening Aurel.
"Terimkasih sayang, terimakasih" Ucap Bagas dengan air mata yang tidak bisa ia tahan.
Sepersekian detik Aurel tidak sadarkan diri.
"Dokter apa yang terjadii!!" Teriak Bagas.
"Tuan tenang saja, Nyonya hanya lelah setelah melahirkan. Itu sangat lumrah terjadi pada Ibu yang baru melahirkan, Nyonya pasti akan sadar beberapa jam lagi" Ucap Dokter.
"Untuk sementara, bayi ini akan saya masukan ke incubator, dia membutuhkan suasana yang sama dengan di dalam rahim karena dia terlahir prematur" Sambung dokter yang di iyakan Bagas karena Bagas sedikit mengerti tentang bayi yang lahir sebelum waktunya.
Bagas menunggu Aurel di luar selagi perawat membersihkan sisa darah di kasur Aurel. Ia berniat untuk menghampiri Raka tapi ia juga tidak mungkin meninggalkan Aurel sendiri, khawatir jika nanti dia sadar dan tidak menemukan siapapun di sisinya.
Dari kejauhan Bagas melihat Vyan yang menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana Bunda Yah?" Tanya Vyan.
"Bunda tidak apa-apa, sedang istirahat. Adik kamu sudah lahir, sangat tampan seperti Ayah" Ucap Vyan.
"Yaiya, orang Ayah ayah kandungnya" Dengus Vyan.
"Grandma?" Bagas menatap Vyan.
Vyan menggelengkan kepalanya "Sudah bertemu dengan Tuhan, nanti sore akan dikebumikan" Jawab Vyan dengan suara tercekat.
Flashback!!
Pagi ini Amel merengek meminta Vyan mengantarkannya ke rumah sakit, padahal Amel tau jika Vyan harus pergi ke sekolah.
"Sama Kak Ay aja ya nyil, Abang kan mau ke sekolah" Ucap Vyan seraya mengelus rambut panjang Amel.
"Abang gak boleh ke sekolah!! Kak Ay juga gak boleh kerja! semuanya harus temani Mommy operasi!!" Jerit Amel yang mengundang kehadiran Aydan dan Neli.
"Kenapa lagi Dek?" Tanya Aydan.
"Semuanya harus temani Mommy! gak boleh ada yang kerja!" Lagi-lagi Amel berteriak.
"Kakak gak bisa Dek, kakak ada rapat sekarang. Abang juga sebentar lagi mau ujian, gak mungkin kalo bolos" Aydan berucap dengan nada lembut.
"Gak bolehh!! harus ikut ke rumah sakit semua huwaaaaa!!!!"
Aydan dan Vyan saling pandang, lalu sama-sama mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya.
"Hwaaaaaa!!! pokoknya harus temeni Mommy!!" Kali ini Amel terduduk di lantai sambil memukul lantai dengan kedua tangannya.
Vyan menghela nafas panjang, ia berjongkok dan meraih Amel ke pelukkannya.
"Baiklah, Abang izin sekolah sekarang. Ayok kita ke Grandma" Ucap Vyan.
Amel menarik tangan Aydan "Kakak ayok ke Mommy" Amel masih sesenggukan.
Aydan mengelus pipi Amel dengan lembut "Amel heyy,, dengerin kakak. Hari ini kakak ada kerjaan yang gak mungkin ditinggalkan. Kakak janji kalau udah selesai Kakak langsung ke rumah sakit ya"
Amel memalingkan wajahnya dari Aydan lalu memeluk Vyan dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Vyan "Kak Ay jahat!! kak Ay gak sayang Mommy! Aku benci kak Ay!!" Teriak Amel.
"Udah-udah, mending kita pergi sekarang ya. Kak Ay, Aunty Neli kita pergi dulu ya. Assalamualaikum" Vyan membawa Amel ke mobil dan memerintahkan supir untuk membawa mereka ke rumah sakit. Sebelumnya Vyan memberi kabar pada wali kelasnya jika hari ini ia tidak bisa masuk karena urusan keluarga.
Di dalam mobil Amel terus memeluk Vyan dengan isakkan yang tiada henti.
"Udah dong Nyil, ini kan kita mau ke rumah sakit" Ucap Vyan.
"Kak Ay jahat hikss,, kak Ay gak sayang sama Mommy,, kak Ay sayangnya sama kerjaan hikss"
"Udah-udah suttt"
Tak lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Amel tidak mau turun dari gendongan Vyan. Ia masih memeluk Vyan dengan isakkannya.
"Loh-loh kenapa ini??" Tanya Raka saat ia melihat Amel yang sesegukkan di gendongan Vyan.
"Amel maksa Vyan sama Kak Ay kesini Grandpa.. Sampe nangis kenceng, Vyan bisa izin tapi kalo kak Ay gak bisa karena ada rapat di perusahaannya" Ucap Vyan.
"Mau Mommy" Amel merentangkan tangannya ke arah Zahra.
Raka meraih Amel dan menidurkan Amel di samping Zahra "Jangan nangis terus ya, kasian Mommy baru istirahat tadi subuh" Ucap Raka.
"Kenapa hemm??" Zahra berucap lirih sambil mengelus rambut Amel.
"Kak Ay gak sayang Mommy hikss,, kak Lia juga.. Mereka gak temenin Mommy disini hwaaaaa"
"Kata siapa Kak Lia gak nemenin Mommy" Aurel tiba-tiba saja muncul di dalam kamar Zahra.
"Kak Liaa hikss,," Amel seperti ingin mengadukan sesuatu pada Aurel.
"Kenapa?" Aurel mendekat dan duduk di kursi samping Amel.
"Kak Lia disini, temenin Mommy. Amel takut" Lirih Amel.
"Takut kenapa dek?" Tanya Aurel.
"Amel takut sendiri.. Kak Ay gak nemenin Amek hikss" Ucap Amel.
"Udah-udah jangan nangis lagi ya, Kak Lia bakal temenin Mommy dan kamu disini" Aurel mencoba untuk menenangkan Amel.
"Mana Tian Kak?" Tanya Raka pada Aurel.
"Masih di mobil Dad, lagi jawab telefon" Ucap Aurel.
"Daddy titip Mommy dulu ya. Tadi pesen makanan di kantin" Ucap Raka yang di anggukki Aurel.
"Abang gak ke sekolah?" Kali ini Aurel duduk di sofa bersama Vyan.
"Enggak Bun, Amel bilang suruh temeni Grandma disini" Ucap Vyan.
Aurel mengamati pakaian yang dipakai Vyan "Kamu masih SMP?" Tanya Aurel.
"Iya, Ayah bilang Abang harus sekolah layaknya anak seusia Abang" Ucap Vyan yang di anggukki Aurel.
Aurel dan Vyan berbincang mengenai keadaan sehari-hari setelah Aurel pergi. Sedangkan diatas kasur Amel sedang mengamati wajah Zahra.
"Mommy??" Lirih Amel.
"Mom.." Kali ini Amel berkata lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
Amel mendekatkan telinganya ke dada Zahra lalu kembali menatap Zahra dengan air mata yang bercucuran.
"Mommy.."
Tiiittttttt
Alat pernafas berbentuk balok di samping ,Zahra tiba-tiba mengeluarkan bunyi yang nyaring hingga membuat Aurel dan Vyan menoleh ke arah Amel.
Amel dengan cepat melepaskan selang pernafasan yang ada tertempel di hidung Zahra.
"Mom tidak apa-apa,, hanya lelah. Kakak jangan mendekat, biar aku yang menjaga Mommy" Amel memeluk Zahra dengan erat.
Aurel mendekati Amel "Mell ada apa"
"Jangan mendekat kak!" Ucap Amel.
"Heyy ada apa dengan Grandma Mel, biar Abang panggilkan dokter" Ucap Vyan.
"Kubilang jangan!!!! jangan memanggil siapapun!!! Mommy sedang tidur dan tidak ingin di ganggu hwaaaa!!!!" Teriak Amel.
"Amel.."
"Jangannnn mendekattt Abanggg!!!" Amel berteriak saat Vyan mendekatinya.
"Ada apa?" Raka baru datang dan mendengar teriakkan Amel.
"Jangan mendekat Daddyy!!!! pergiii!!!!" Amel berteriak saat Raka akan mendekatinya.
Raka dan Aurel saling pandang, mereka mengerutkan dahinya masing-masing.
"Kenapa Mel?" Tanya Raka dengan nada lembut.
"Jangan mendekat hikss,,,"
Dengan tekad yang kuat Vyan mendekati Zahra walaupun Amel terus berteriak.
"Pergiiii!!!!!" Amel berteriak, saat Vyan mendekati Zahra Amel memeluk kepala Zahra hingga wajahnya tak terlihat.
Vyan yang melihat perut Zahra tidak ada tanda-tanda kehidupan langsung tercengang. Air matanya keluar begitu saja, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu menatap Amel. Vyan meraih Amel dengan keras dan langsung menggendongnya.
"Enggak Abang!!! aku mau Mommy!!!! Huwaaaaa!!! Mommy bangunn!!!" Amel berteriak histeris.
"Grandpa" Vyan memanggil Raka dan menunjuk Zahra.
Dengan cepat Raka dan Aurel mendekati Zahra. Raka memasangkan selang pernafasan ke hidung Zahra dan otomatis mesin di sampingnya mengeluarkam suara yang keras.
"Mommyy!!!!" Aurel menangis lalu menggenggam tangan Zahra.
"Mommyy kumohon jangan pergii hikss,," Sambungnya.
Raka langsung berlari ke luar kamar.
"Jangan panggil dokter daddyy!!! mommy baik-baik saja!!! huaaaaaa!!!" Amel kembali berteriak namun Raka menghiraukannya ia tetap berlari dan mencari dokter.
"Aku sudah bilang jangan mendekat!!!!! Huwaaaaa Mommyy!!!" Amel berteriak sambil memukul punggung Vyan.
Tak lama dokter dan beberapa perawat berlarian memasuki kamar Zahra. Raka menemani Zahra yang sedang di periksa sementara Aurel, Vyan dan Amel menunggu di depan kamar. Dokter memeriksa Zahra dengan telaten, hingga akhirnya mereka saling tatap dan menggelengkan kepalanya.
"Maafkan kami Tuan Nyo--" Ucapan Dokter terpotong saat Raka menyelanya.
"Ya saya mengerti" Raka menjawab dengan suara yang bergetar.
Raka menghampiri Zahra ketika Dokter dan beberapa perawat meninggalkan kamar. Raka mencium kening Zahra hingga air matanya sampai di mata Zahra.
"Terimakasih untuk semuanya sayang, selamat jalan. Aku mencintaimu" Raka membisikkan kata-kata cintanya pada Zahra, berharap Zahra dapat mendengarnya.
"Sayang, jika kamu masih berada disini dan masih mendengarku ku harap kamu bisa tenang di sana. Jangan khawatirkan Amel, aku akan menjaganya dengan baik. Hiksss,, terimakasih sayang, terimakasih" Kali ini Raka berucap sambil terisak.
Sementara di luar kamar, Aurel langsung menghampiri dokter yang selesai memeriksa Zahra.
"Bagaimana keadaan Ibu saya?" Tanya Aurel.
"Maaf Nona, kami sudah melakukan yang terbaik namun takdir berkata lain" Ucapan Dokter membuat Aurel dan Vyan mengeluarkan air mata. Berbeda dengan Amel yang langsung memeluk Vyan dengan erat.
"Ada apa??" Tiba-tiba Aydan dan Neli muncul disana.
Aurel berbalik dan langsung memeluk Aydan.
"Kakk Mommyy hikss,," Ucap Aurel.
"Ada apa dengan Mommy??" Tanya Aydan yang masih tidak mengerti.
"Mommy pergi kak hiksss,,hikss" Kali ini Aydan mengerti apa yang di ucapkan Aurel. Ia pun ikut menangis mendengarnya.
"Kita liat Mommy yuk" Aydan menggandeng tangan Aurel dan memasuki kamar Zahra.
"Abang tunggu disini, jagain Amel" Ucap Aydan pada Vyan.
Aydan, Aurel dan Neli memasuki kamar Zahra dan melihat Raka yang sedang memeluk Zahra dengan punggungnya yang berguncang hebat. Sungguh pemandangan ini membuat hati seiapapun yang melihatnya akan tersayat.
Aurel berlari dan langsung ikut memeluk Zahra yang masih berada di pelukkan Raka.
"Mommyyy hikss,,"
Raka mendongakkan kepalanya menatap Aurel, ia menghapus air mata Aurel lalu menatap Aydan. Raka merentangkan tangannya agar Aydan ikut memeluk mereka. Dengan langkah yang gontai Aydan menghampiri Raka dan memeluk.
"Maafkan Daddy yang tidak bisa menjaga Mommy dengan baik" Lirih Raka.
"Maafkan Daddy hiksss" Raka mengelus rambut Aydan dan Aurel.
Aurel melerai pelukkannya dan memeluk Rak seorang diri.
"Maafkan Lia karena Lia gak ada disaat Mommy sakit" Lirihnya.
Neli menghampiri Aydan dan menepuk pundaknya "Jangan terlalu bersedih, kasihan Mommy jika melihatnya" Ucap Neli. Aydan membaringkan tubuh Zahra dan memeluk Neli.
Di luar sudah ramai karena kedatangan Erik, Oma dan Opa. Kebetulan Oma dan Opa sudah berada di Indonesia saat mengetahui Aurel pulang, berbeda dengan tujuannya memang. Tujuan mereka pulang ke Indonesia itu untuk melihat Aurel tapi malah mendengar kabar tentang kematian Zahra dan pengawal.