Twins'

Twins'
31



Saat sudah keluar dari kamar Vyan, Aurel dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba menarik tangannya dan langsung memeluk pinggangnya dengan erat.


" Kak Tian, ngapainnnn " ucap Aurel dengan pikiran yang sudah tidak karuan. Karena semenjak mengetahui jika Bagas mencintainya, Aurel menjadi lebih gugup saat berhadapan dengan Bagas.


" Jemput calon istri " jawab Bagas dengan senyumnya.


" Hihhh.. Lepaskan kakak ishh " ucap Aurel dengan meronta-ronta.


" Tidak akan " ucap Bagas yang semakin mengeratkan pelukannya.


" Daddy? " ucap Aurel.


" Daddy sedang dikamar, jangan mencoba menjebakku gadis kecil " ucap Bagas yang tahu jika Aurel sedang mengerjainya.


" Ehmm " deheman seorang laki-laki membuat Bagas melepaskan pelukannya dan berbalik ke sumber suara itu.


" Da..ddy? " ucapnya dengan gugup.


" Kalian belum menikah! Sabarlah, tunggu 6 hari lagi.. Lia kau kembali ke kamar " ucap Raka.


" Baik dad " Aurel langsung berlari dan memasuki kamarnya.


" Kau ikut dengan Daddy ke ruang kerja " ucap Raka lalu berjalan mendahului Bagas.


Ga mungkin kan gue mau dihukum sama Daddy, batin Bagas.


" Duduklah " ucap Raka pada Bagas setelah sampai di dalam ruang kerjanya.


Bagas menurut dan langsung duduk di sofa yang sama dengan Raka.


" Bagaimana perusahaanmu? " tanya Raka.


Memang setelah beberapa bulan lalu Bagas berhasil menangani masalah perusahaan yang lumayan sulit akhirnya Raka memberikan sebuah perusahaan dan mempercayai Bagas untuk mengurusnya.


" Sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar Dad. Tidak ada kendala, saham pun semakin hari semakin melonjak tinggi, hanya saja ada beberapa karyawan yang mencoba bermain-main dengan keuangan, karena mungkin mereka tidak mengetahui jika perusahaan itu ada dibawah naungan keluarga Arsenio " jawab Bagas.


" Perusahaan itu sudah Daddy alihkan dengan namamu. Itu hadiah dari Daddy karena selama ini kau sudah menjadi orang yang Lia cintai. Jaga perusahaan itu dengan baik, walaupun perusahaanmu berada di bawah naungan keluarga Daddy tapi tetap saja kau harus mengendalikannya dengan sangat cerdas. Di kemudian hari selalu ada perusahaan-perusahaan lain yang ingin bermain dengan perusahaanmu. Dan ya, kau harus menyembunyikan identitasmu dan keluargamu kelak karena info itu yang akan menjadi kelemahanmu di hadapan para musuh " ucap Raka.


" Setelah kau menikah bawalah Lia kemanapun kau mau, tinggallah bersamanya. Dan ingat! Kau harus terus bekerja, karena setelah menikah semua kebutuhan Lia akan menjadi tanggung jawabmu dan setelah menikahpun Daddy harap Lia tidak lagi mengurus perusahaannya " sambungnya


" Ya Dad, Tian mengerti. Tian akan menjaga Lia dengan baik bahkan lebih dari nyawa Tian sendiri " ucap Bagas.


" Syukurlah jika kau mengerti. Kau sudah memiliki rumah sendiri bukan? " ucap Raka.


" Eh? Bagaimana Daddy bisa tau? " ucap Bagas.


"Itu hanya hal sepele untuk Daddy ketahui. Daddy mengetahui semua yang anak-anak Daddy lakukan " jawab Raka dengan santai.


" Tian memang sengaja membuat rumah dengan desain sendiri, dan rumah itu akan Tian berikan pada istri Tian kelak " ucap Bagas dengan malu-malu kucingnya.


" Baguslah, setidaknya Daddy sudah tidak cemas jika Lia jatuh ke tanganmu. Daddy mempercayakanmu untuk menjaga Lia. Setelah menikah, tanggung jawab Daddy untuk menjaga Lia beralih padamu " ucap Raka.


" Baik Dad " ucap Bagas.


" Dan satu lagi, bereskan barang-barangmu sekarang dan bawa ke rumahmu sendiri " ucap Raka.


" Hah? " ucap Bagas.


Raka menepuk pelan dahinya " Kau akan menikah bukan, dan sebelum menikah kau akan di pingit selama beberapa hari " ucap Raka.


" Pingit? " tanya Bagas dengan mengerutkan keningnya.


" Ya, pingit. Kau tidak boleh bertemu dengan Lia 5 hari sebelum pernikahan " ucap Raka.


" Selama itu? " tanya Bagas dengan raut wajah yang tidak percayanya.


" Ya selama itu. Apapun alasannya kau tidak boleh bertemu dengan Lia. Pergilah dan bereskan barang-barangmu " ucap Raka.


" Baik Dad " Bagas menurut dan langsung melenggang meninggalkan Raka di ruangan itu.


" Seseorang yang akan menikah tidak boleh bertemu satu sama lain selama 3 sampai 6 hari " guman Bagas.


" Ada ya beginian? Seharusnya Daddy memingit ku 3 hari saja, itu bahkan lebih baik untukku. Bagaimana bisa 5 hari tanpa bertemu dengan Lia " keluh Bagas.


" Cepat bereskan barangmu atau Daddy akan membatalkan pernikahan kalian " suara Raka membuat Bagas menoleh ke arahnya yang ternyata sedang melipat tangannya diatas perut sambil menyender di pintu yang terbuka.


" Hehe baik Dad " jawab Bagas, dan Raka berlalu meninggalkan kamar Bagas.


Gatau kenapa si Daddy akhir-akhir ini kayak jelangkung. Tiba-tiba nongol tiba-tiba pergi, batin Bagas dengan menggelengkan kepalanya.


Sore harinya terlihat Raka, Aydan, Bagas dan Vyan sedang berlatih bela diri di halaman rumahnya dan ditonton oleh Zahra, Aurel dan Amell.


" Sayang, setelah kau menikah kau harus benar-benar merawatnya dengan baik. Kau tau bukan, dia sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita setelah ibunya pergi. Mommy berharap kau akan menjadi istri sekaligus ibu untuknya kelak " ucap Zahra pada Aurel yang masih memandangi calon suaminya.


" Lia akan belajar menjadi istri yang baik perlahan-lahan. Lia pun ingin membahagiakan Kak Tian " ucap Aurel.


Saat fokus memandangi Bagas, Aurel terkesiap saat melihat Vyan yang tidak sengaja terkena tendangan dari Aydan.


" Kakak! " teriak Aurel yang langsung berlari menghampiri Vyan yang terduduk di tanah.


" Kau baik-baik saja kan? " tanyanya pada Vyan dengan wajah yang sangat khawatir.


" Bunda.. Aku baik-baik saja, tadi aku hanya lengah sedikit " ucap Vyan dengan mengelus punggung tangan Aurel.


" Tenanglah, ini tidak sakit sama sekali Bun " sambungnya.


" Hahh,, bisakah kau berhenti sejenak sayang? Bunda sangat khawatir padamu " ucap Aurel.


" Bunda, sungguh Vyan tidak apa-apa. Lihatlah ini tidak sakit sama sekali " ucap Vyan seraya mengelus bagian yang terkena tendangan Aydan.


" Tapi " ucap Aurel.


" Biarkan saja Lia, dia harus belajar beladiri dari belia. Karena dia seorang lelaki dan harus melindungi wanita yang dia cintai kelak " ucap Bagas.


" Tapi Lia takut kak " ucap Aurel.


" Pergilah ke tempat semula. Kakak yang akan menjamin Vyan baik-baik saja " ucap Bagas dengan membantu Aurel bangkit dari posisinya.


Aurel menurut dan langsung kembali ke kursi yang ditempatinya tadi.


" Kakak yang seharusnya khawatir itu aku. Kakak kan sudah ada Kak Tian jadi bang Vyan itu punya aku " ketus Amel dengan melipat tangannya.


" Dia anakku dek " ucap Aurel.


" Cih anak, kakak belum menikah tapi sudah memiliki anak " ucap Amel.


" Hey, kau bahkan belum sekolah tapi sudah memikirkan pernikahan. Bocah macam apa itu " ucap Aurel.


" This is planning for my future kak " sinis Amel yang membuat Zahra dan Aurel mebelalakkan matanya.


" Ginilah kehidupan gue, umur 21 taun kalah debat sama bocah yang bahkan belum genap 4 taun " gumam Aurel dalam hati.


" Belajar dengan benar baru memikirkan pernikahanmu nak " ucap Zahra dengan mengelus puncak kepala Amel dan langsung melenggang masuk ke dalam.


Aurel tertawa dan bangkit dari posisinya.


" Belajar yang benar baru memikirkan pernikahanmu dek, ingat itu " bisik Aurel yang langsung berlari meninggalkan Amel sebelum bocah itu menangis.


Dan benar saja Amel menangis dengan sangat kencang


" Huaaaaaa.. Menyebalkannnn " teriak Amel yang membuat para lelaki berlari menghampirinya.


-----------------------------------------------------


Minta vote nya boleh kan:(