
Diluar Mall tampak Aurel memasang wajah cemberutnya yang membuat Aydan merasa heran.
" Kamu kenapa dek? " ucap Aydan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Aydan, Aurel malah menatap Riko dengan wajah cemberutnya " Uncle " ucap Aurel.
" Hah? " jawab Riko.
" Uncle kenapa ngebiarin mereka bebas gitu aja ishhh " ucap Aurel dengan wajah kesalnya.
Riko tersenyum sambil menggelengkan kepalanya " Aurell uncle ga mungkin ngebebasin orang yang udah nyentuh keluarga kita. Uncle pasti ngasih pelajaran buat mereka tapi perlahan-lahan " jawabnya.
" Hem terserah uncle saja! " ucap Aurel yang langsung menuju parkiran dengan menghentak-hentakkan kakinya.
" Dih cantik-cantik ambekkan!! " teriak Farhan pada Aurel.
" Bodoamet gapeduli!! " jawab Aurel yang juga berteriak, ia baru ingat jika dia meninggalkan Neli di belakang. Dengan langkah lesu nya dia berbalik arah dan menghampiri Neli.
" Neli biar aku antar pulangnya " ucap Aurel yang di angguki oleh Neli.
Aurel membawa mobil Aydan karena memang kunci mobilnya dititipkan di tas milik Aurel dan terpaksa Aydan ikut dengan Farhan di mobilnya.
" Ay " ucap Farhan.
" Oyy " jawab Aydan.
" Si adek masih ama laki itu? " tanya Farhan.
" Hem " jawabnya.
" Ay terserah lo bakal percaya ama gue apa engga tapi ini bener-bener nyata, gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri dia lagi ciuman ama cewek lain kemarin pas di pantai. Gila ga sih " ucap Farhan sambil mengepalkan tangannya " Gue kira Lia udahan ama dia " sambungnya.
" Lo lagi ga becanda kan Han? " ucap Aydan yang masih menatap ponselnya.
" Serius bangke!! Berani sumpah dah gue. Mata gue ga mungkin katarak lah " jawab Farhan.
" Gue gabakal biarin cowok kayak dia nyakitin Lia gue.. Gue sama Bagas udah nyiapin rencana buat jebak dia, tapi gue takut Lia kenapa-napa " ucap Aydan.
" Maksud lo? " tanya Farhan.
" Rencana ini sebagian kecil bakal bikin Lia celaka walaupun gue ga yakin " jawab Aydan.
" Lo gila Ay?! ga ga ga, gue gamau Lia celaka!! " ucap Farhan.
" Gue juga gamau kali! Yakali gue nyelakain lia " ucap Aydan
" Kita ikutin dulu skenario dari Bagas, biar Bagas yang ngatur semuanya " sambungnya.
" Terserah lu pada mau ngapain yang jelas kalo Lia kenapa-napa gue gabakal tinggal diem!! " ucap Farhan dengan nada mengancam yang membuat Aydan berdecik.
Sedangkan di dalam mobil sport berwarna merah Aurel dan Neli sedang berbincang-bincang membahas berbagai hal.
" Rel? " ucap Neli.
" Ya? " jawab Aurel.
" Tadi anak kamu? " tanya Neli.
" Vyan? " ucap Auren yang langsung di angguki oleh Neli " Iya dia anakku " sambung Aurel.
" Kamu udah nikah? " ucap Neli.
Aurel menggelengkan kepalanya yang membuat Neli bingung, bagaimana dia bisa mempunyai anak jika belum menikah apa dia hamil di luar nikah? tapi itu tidak mungkin karena Aurel kulihat anak baik-baik, begitulah pikiran Neli.
" Aku memang belum menikah Neli, dia bukan anak kandungku " ucap Aurel membuyarkan pikiran yang sedang di kelana Neli.
Aurel menceritakan awal mula ia bertemu dengan Vyan dan hal itu membuat Neli kagum pada sosok Aurel, sudah cantik paras hatinya pun cantik. Hingga tak terasa sekarang mereka berada di depan rumah Neli. Rumah yang sangat minim bahkan mungkin hanya cukup untuk 3 orang saja. Hanya ada 2 kamar, ruang tamu dan dapur yang bersatu dengan kamar mandi. Aurel merasa sangat kasihan melihat keadaan Neli.
" Aurel maaf " ucap Neli.
" Maaf? buat apa Neli? " jawab Aurel dengan mengerutkan keningnya.
" Ga seharusnya kamu temenan sama aku " lirih Neli.
Aurel memeluk Neli dengan tulus tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja. Benar kata Aydan, inilah alasan Tuhan mengajarkan kita untuk bersyukur. Saat sudah melepaskan pelukannya Aurel melihat wanita yang belum terlalu tua bahkan mungkin seumuran dengan Zahra menghampirinya.
" Neli? " ucap wanita itu.
" Ibu " Neli menghampiri dan mencium tangan ibunya itu.
" Oiya kenalin bu ini Aurel temen kuliah Neli " sambungnya.
Aurel menghampiri ibu Neli dan mencium punggung tangannya.
" Aurel bu " ucap Aurel sambil tersenyum.
" Kamu cantik nak, ibu merasa tidak asing dengan wajahmu " ucap ibu Neli yang membuat Aurel dan Neli mengerutkan keningnya.
" Iyakah? " ujar Aurel.
" Iya tapi ibu lupa siapa yang mirip denganmu. Mari nak masuk dulu sekedar minum saja " ucap Ibu Neli.
Neli melihat ibunya sambil menggelengkap kepalanya perlahan
" Ibu? " lirih Neli.
Aurel yang paham maksud Neli hanya tersenyum dan mengiyakan untuk masuk ke dalam. Pengap, itu yang Aurel rasakan saat masuk kedalam rumah tua itu. Tempatnya sangat bersih dan rapi tapi karena kecil membuat tempat itu sedikit pengap. Aurel melihat beberapa foto saat Neli smp hingga sekarang, tetapi Aurel tidak melihat satu pun foto saat Neli kecil. Cantik, Neli memang cantik, rambutnya yang benar-benar lurus membuat kecantikannya bertambah.
" Rel disini gaada sofa, ke kamar aku aja ya. Tapi maaf kamarnya sangat sempit " ucap Neli.
" Gapapa Neli, kamar aku juga ga gede kok. Kamarmu yang mana? " ucap Aurel.
Neli menunjuk kamar disebelah kanan yang pintunya di tempeli stiker nama Neli. Neli dan Aurel masuk ke dalam kamarnya, Neli izin untuk mengganti pakaiannya pada Aurel dan meninggalkan Aurel di kamar itu sendirian.
" Aurel? " ucap Neli yang tiba-tiba datang membuat Aurel sedikit terkejut karena dia masih di posisi setengah jongkok membaca kertas bertulisan itu.
" Ah iya? maaf udah lancang baca ini Nel " ucap Aurel yang merasa tidak enak pada Neli.
" Gapapa Rel lagian juga bukan apa-apa kok " jawab Neli.
" Oiya, aku baca salah satu kenginan kamu tadi. Kamu mau ke Indonesia? emang ada apa di Indonesia? " tanya Aurel.
" Ohhh itu, aku punya teman di Indonesia. Ibu asli Indonesia dan akupun sama dilahirkan disana, sampai umurku 10 tahun aku pindah kesini " ucap Neli.
" Apa keluargamu juga ingin pergi ke Indonesia? " tanya Aurel.
Neli mengangguk namun wajahnya memancarkan kesedihan.
" Kenapa? " ucap Aurel.
" Kami memang ingin pergi dari sini dan pulang ke Indonesia, tapi itu tidak akan mungkin " ucap Neli.
" Alasannya? " tanya Aurel.
" Memang sepertinya kami sudah ditakdirkan menetap disini " lirih Neli.
" Neli, ada beberapa takdir yang dapat kita rubah. Jika kau mau berjuang pasti itu akan mudah " ucap Aurel.
" Sekarang beritahu aku, kenapa kau tidak bisa ke Indonesia? " sambung Aurel.
" Kami takut " ucap Neli sambil menundukkan kepalanya.
" Kenapa? " tanya Aurel yang makin tidak mengerti posisi Neli.
" Dulu ibuku menentang kedua orangtuanya untuk menikahi ayah karena ayah bukan dari kalangan sepertimu. Sejak saat itu kakek dan nenek sudah tidak menganggap ibuku ada di dunia ini sampai kakek ku dengan berbagai caranya memisahkan ibu dan ayah, sampai cara kasarpun mereka lakukan. Kejadian terakhir saat kakek ku memerintahkan orang suruhannya untuk melenyapkanku. Rencana itu memang gagal, tapi membuatku koma sampai hampir 1 tahun. Dan semenjak itu ibu dan ayah memutuskan membawa ku pergi dari sana dan menetap disini sampai kami takut untuk pulang lagi ke Indonesia. Walaupun kami tau Indonesia luas tapi dengan kekuasaan keluarga ibu aku yakin kalau mereka pasti menemukan kami " ucap Neli sambil menitikan air matanya.
" Lalu alasanmu sendiri ingin kembali ke Indonesia? " tanya Aurel.
" Dulu aku sempat bertemu dengan anak perempuan dan laki-laki yang umurnya lebih muda dariku. Tapi sayangnya aku tidak mengetahui namanya, dia bersedih saat mendengar bahwa aku akan pergi dari Indonesia dan aku sempat berjanji padanya suatu saat aku akan pulang dan menemuinya " ucap Neli.
" 2 minggu kedepan aku akan pulang ke Indonesia karena mommy ku akan melahirkan. Kuharap kamu dan sekeluarga mau ikut denganku " ucap Aurel.
" Tap_ " ucapan Neli terpotong karena Aurel menyelanya.
" Tidak usah takut, kamu tadi dengarkan? aku dari keluarga Arsenio, tidak ada yang berani menyentuh keluarga kami. Dan kalian berada dalam pengawasan keluargaku saat sampai di Indonesia. Percayalah " ucap Aurel meyakinkan Neli.
" Baiklah, akan ku bicarakan bersama ibuku nanti " jawab Neli.
" Tidak! Aku yang akan berbicara padanya " ucap Aurel. Neli pun menyetujuinya karena lebih baik Aurel yang berbicara pada ibunya agar ibunya bisa percaya sepenuhnya bahwa mereka akan selamat.
Neli dan Aurel keluar dari kamar untuk menghampiri ibu Neli. Mereka melihat ibu Neli yang sedang memasak makanan.
" Bu " ucap Neli.
" Ada apa nak " tanya ibu Neli yang langsung mematikan kompornya karena memang sudah selesai memasak.
" Ada yang ingin Aurel bicarakan bu " ucap Neli.
" Duduklah nak Aurel " ucap ibu Neli. Mereka langsung duduk di kursi plastik yang biasanya berada di warung lesehan.
" Bu Aurel mau ngajak kita ke Indonesia " ucapan Neli membuat mata ibu Neli terbelalak.
" Tidak ibu tidak mau " ucap ibu Neli dengan cepat walaupun dia ingin sekali pulang ke negaranya tapi dia tidak mau mengambil resiko berurusan dengan keluarganya.
" Ibu tenang aja, Aurel yang ngejamin keselamatan kalian. Kekuasaan keluarga Aurel sangat bisa membantu melindungi kalian dari siapapun. Aurel janji tidak akan terjadi sesuatu yang membahayakan pada kalian " jelas Aurel.
Ibu Neli masih resah dengan ini semua, jujur ia masih tidak sanggup untuk kembali ke Indonesia.
" Percaya padaku Bu. Aku menjamin 100% untuk keselamatan kalian " ucap Aurel.
" Baik, akan ibu pertimbangkan lagi nanti bersama suami ibu " jawab ibu Neli.
" Kuharap kalian menyetujuinya bu, karena aku akan berangkat 2 minggu lagi " ucap Aurel.
" Ibu akan memikirkannya nanti nak. Apa kamu sedang terburu-buru nak? " tanya Ibu Neli.
" Tidak bu, ada apa? " ucap Aurel.
" Mari makan siang nak, kebetulan ibu masak makanan Indonesia " ucap Ibu Neli.
" Bu tadi kami udah makan diluar " ucap Neli membuat raut wajah ibu Neli sedikit berubah.
" Tidak apa bu, apa aku boleh membawanya ke rumah? karena pasti jika sudah sampai rumah aku akan merasa lapar lagi " canda Aurel.
" Baiklah, tunggu sebentar nak " Ibu Neli pergi menyiapkan makanan menggunakan kotak makan untuk Aurel.
" Rel makasih " ucap Neli tiba-tiba.
" Untuk? " ucap Aurel.
" Kebaikanmu " jawab Neli.
" Aku ga merasa melakukan apapun padamu Neli. Udah ah gausah bahas itu lagi. Oiya kalo kamu bisa ikut ke Indonesia, mulai hari ini kamu harus nyelesain tugas kuliah biar nanti di sana kamu bisa tenang " ucap Aurel.
" Tenang saja Aurel, aku sedikit pintar kok " ucap Neli dengan tawanya.
Tak lama terlihat ibu Neli sudah membawakan kotak makan berwarna biru " Nak, semoga kau menyukainya ya " ucapnya sambil memberikan kotak itu.
" Terimakasih bu, aku pasti akan menyukainya. Karena aku cinta negara lokal " canda Aurel yang di sambut tawa Neli dan Ibunya. " Kalo gitu Aurel pamit dulu ya bu, Nel " sambungnya.
" Hati-hati Rel " ucap Neli.
* Aku yakin aku pernah melihat wajah itu * batin Ibu Neli.