
Dan benar saja Amel menangis dengan sangat kencang
" Huaaaaaa.. Menyebalkannnn " teriak Amel yang membuat para lelaki berlari menghampirinya.
" Kenapa? " tanya Vyan yang lebih dulu sampai dihadapan Amel.
" Huaaaaa abangg!! " tangis Amel semakin pecah, lalu kemudian dia merentangkan tangannya meminta agar Vyan menggendongnya.
" Kenapa dek " tanya Aydan.
" Mommy sama Kak Lia jahatt hikss " ucapnya.
" Jahat kenapa? " ucap Raka.
Amel menceritakan saat Zahra dan Aurel mengejeknya. Semua orang menepuk dahinya, mereka kira Amel mengapa sampai berteriak seperti itu.
" Yaampun dek cuma gitu doang pake nangis segala " ucap Aydan.
" Kakak!!! " teriak Amel yang kembali menangis.
Raka menatap mata Aydan dan memelototkan matanya.
Biarkan saja jangan dibantah ucapannya, kau mau dia berubah menjadi anak singa yang buas? begitulah arti dari tatapan Raka.
Aydan mengangguk dan mengusap tengkuknya.
Ya Tuhan, ini adek gue terbuat dari apa kenapa spesial banget dah, batin Aydan.
Bodo amet gamau ikut ngomong. Mending di iyain aja biar ga kena semprot anak singa buas ini, batin Bagas dengan menggerakkan tangannya seolah menyeletingkan mulutnya.
" Udah-udah jangan teriak-teriak gitu dek. Masuk yuk udah mau maghrib " ucap Vyan dengan mengelus punggung Amel.
-------
Malam harinya terlihat semua orang sudah berkumpul di meja makan kecuali Bagas karena sebelum makan malam dia sudah pamit pada Raka dan Zahra untuk tinggal dirumahnya sesuai permintaan Raka.
Aurel celingukkan mencari keberadaan Bagas karena dia tidak mengetahui jika Bagas sudah pergi dari rumah itu.
" Gausah dicari, gabakal ketemu " ucap Raka pada Aurel.
Aurel menoleh ke arah Raka " Maksud Daddy? " ucapnya.
Zahra menjelaskan pada Aurel tentang Bagas yang sudah pergi dari rumah karena sedang di 'pingit'.
" Kenapa gaada yang bilang ke Lia sih? " ucap Aurel.
" Ini udah bilang " jawab Raka dengan santai.
" Hihh.. daritadi bukan baru sekarang " dengus Aurel.
" Lagian baru ada waktu buat ngomonginnya sekarang. Kamu harus inget! Jangan pernah bertemu dengan Bagas minggu ini, Apapun ALASANNYA! " ucap Raka dengan penuh penekanan.
" Haihh baiklah Mom Dad " jawab Aurel dengan lesu.
Seharusnya dia pamit padaku, akukan calon istrinya, batin Aurel.
Setelah selesai menghabiskan makanannya semua orang masuk ke kamarnya masing-masing namun tidak dengan Aurel dan Vyan, mereka memutuskan untuk pergi ke teras rumah dan merasakan hembusan angin malam.
" Bunda " ucap Vyan.
" Ya? " jawab Aurel.
" Jika Bunda sudah menikah dengan Ayah lalu Bunda memiliki anak apa Bunda akan melupakanku? " ucap Vyan.
" Apa yang kau katakan? Mau bagaimanapun kau tetap anak Bunda, anak sulung Bunda dan Ayah. Bunda tidak akan melupakanmu sampai kapanpun " ucap Aurel
" Sampai kapanpun? "
" Promise? " Bagas menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Aurel.
Aurel mengaitkan jari kelingkinya " Promise " ucap Aurel dengan tersenyum.
" Bunda, Vyan takut jika papa menginginkan Vyan kembali. Karena bagaimanapun dia adalah papaku di mata negara dan agama. Bagaimana jika papa memaksa agar Vyan bisa bersamanya lagi " ucap Vyan.
" Tidak tidak. Kau tau kan, sekarang kau sudah menjadi bagian dari keluarga Arsenio. Tidak ada yang bisa membawamu pergi dari sisi Bunda. Bunda tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika Bunda kehilanganmu maka Bunda pun akan kehilangan diri Bunda sendiri " ucap Aurel dengan meneteskan air matanya.
Vyan menghapus air mata Aurel dengan ibu jarinya.
" Aku harap kita akan tetap bersama Bun. Sampai kapanpun. Selamanya " ucap Vyan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Vyan bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Aurel dengan erat " Vyan menanyangi Bunda " lirihnya.
" Bunda lebih menyayangimu sayang " ucap Aurel dengan memeluk Vyan lebih erat lagi.
Melihat hari yang sudah mulai larut akhirnya Aurel dan Vyan memutuskan untuk kembali ke kamarnya masing-masing.
Sesampainya di kamar, Aurel langsung mencari ponselnya.
" Sama sekali tidak ada telfon darinya. Dia benar-benar menyebalkan! " ucap Aurel lalu melemparkan ponselnya ke ranjang dan dia berlalu pergi ke kamar mandi, namun baru beberapa langkah ponselnya berdering dan dengan cepat dia meraihnya dan melihat siapa yang menelfon.
Senyumnya mengembang saat tahu Bagaslah yang menelfonnya, namun dia berniat untuk berpura-pura marah dengan Bagas.
***Panggilan Telefon***
Kak Tian : Assalamualaikum calon istri
Aurel : Waalaikumsallam
Kak Tian : Kau kenapa dek?
Aurel : Tidak
Kak Tian : Kau marah sama kakak?
Aurel : Menurutmu?
Kak Tian : Kakak membuat kesalahan? Tapi apa?
Aurel : Dasar cowok tidak peka!
Kak Tian : Haihh bukannya tidak peka. Kakak memang bingung kenapa kamu tiba-tiba saja marah, setau kakak kakak tidak melakukan kesalahan
Aurel : Dasar menyebalkan! Kakak pergi tanpa izin dariku, dan tanpa pamit padaku! Bahkan kakak tidak mengabariku walau di pesan saja
Kak Tian : Tadi kakak mau pamit sama kamu tapi kamunya lagi mandi. Dan lagi Daddy terus mengusir kakak
Aurel : Setidaknya kakak menungguku selesai mandi dan pamit padaku. Kita tidak akan bertemu selama 5 hari apa kakak tidak akan merindukanku Hah!
Kak Tian : Hahahaha, seperti inikah gadis kecilku yang sedang marah. Yasudah maafkan kakak karena tidak pamit padamu tadi. Kakak pasti akan sangat merindukanmu, bahkan setiap malamnya karena kau adalah bintang di malam gelapku
Aurel : Berhenti merayuku! aku sama sekali tidak akan terayu dengan semua ucapanmu itu!
Aurel memutuskan sambungannya begitu saja, niatnya akan berpura-pura marah namun ternyata dia terpancing emosi dan akhirnya mood nya rusak begitu saja.
Dia memutuskan untuk merbahkan tubuhnya dan langsung memejamkan mata.
Pagi hari terlihat Raka dan Aydan sudah rapi dengan pakaian kantornya juga Vyan yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Aurel tidak pergi ke kantor karena Daddy nya melarangnya.
Tersisa Zahra, Aurel dan Amel yang ada mansion mewah itu. Mereka sedang bersantai di ruang keluarga, dengan Aurel yang membawa cemilan dan Amel yang fokus dengan ponselnya.
" Kak " ucap Zahra.
" Hemmm? " jawab Aurel dengan meletakkan cemilannya dan menghadap kearah Zahra.