
"Iya bisa jadi kamu hamil Rel" Ucap Neli.
"Lo terakhir haid kapan?" Tanya Rere.
"Gue lupa, tapi yang pasti setiap malem gue lembur sama suami gue" Jawab Aurel dengan polosnya.
Cletak
Rere menyentil kening Aurel.
"Awwww" Ucap Aurel sambil mengelus keningnya.
"Kalo ngomong itu disaring napa Rel. Malu di denger banyak orang nantinya" Gerutu Rere.
"Heheh khilaf" Ucap Aurel.
"Mending pulang dari sini kita beli tespack di apotek depan gimana?" Saran Neli.
"Setujuuu!!!" Ucap Rere dengan cepat.
"Gimana Rel?" Tanya Neli.
"Ngikut aja deh diriku mah" Ucap Aurel.
***
"Mba saya mau tespack ya 4" Ujar Rere setelah mereka memasuki apotek.
Aurel terbelalak dengan ucapan Rere yang ingin membeli 4 tespack.
"Lo mau jualan? Banyak banget Re" Ucap Aurel.
Rere menatap Aurel dengan sinis.
Bagaimana bisa si cerdas ini bisa jadi bodoh?, Batin Rere.
"Tes kehamilan itu ga cuma pake 1 tespack doang, kita harus pake 2 sampe lebih" Ucap Rere yang dianggukki Aurel.
"Ini mbak, totalnya xxx" Ucap kasir.
Rere mengadahkan tangannya di depan Aurel.
"Apaan?" Ucap Aurel dengan kerutan dikeningnya.
"Uang lah, bayar ini. Gue gaada uang cash" Ucap Rere.
"Yaampun Re kira gue apa" Aurel langsung merogoh tasnya dan mengambil uang berwarna merah.
***
Sementara itu di Surabaya.
Bagas sedang makan siang di salah satu restoran di kota itu bersama Aji. Sampai suara seorang perempuan mengalihkan pandangannya.
"Kak Bagas?" Ucap wanita di depannya.
"Loh Dea? Kamu disini?" Jawab Bagas.
"Duduk dulu" Bagas menarik kursi di sampingnya .
"Terimakasih kak" Ucap Dea setelah duduk di kursi.
"Kamu lagi ada perlu disini?" Tanya Bagas.
"Bapak sakit kak" Jawab Dea dengan nada sendu.
"Inalillahi, sakit apa De?"
"Jantung Kak, udah dari lama sakitnya. Sekarang dirujuk ke rumah sakit disini"
"Yaallah kakak baru tau De, kasih kakak alamatnya nanti kakak kesana kalau kerjaan kakak selesai"
"Emmm kak, tulis nomor kakak biar nanti aku kirim alamatnya" Dea menyodorkan ponselnya.
Bagas meraih ponsel Dea dan langsung menuliskan nomornya.
"Ini, kakak harus pergi sekarang. Kamu jangan lupa kirim alamatnya" Ucap Bagas.
"Iya kak"
"Siapa Gas?" Ucap Aji setelah menjauh dari Dea.
"Dea, adek kelas waktu gue sd" Jawab Bagas.
"Kenapa? Lo suka?" Sambungnya.
"Cih, sorry gue ga demen sama yang masih bocah!" Ketus Aji.
"Jadi lo mau nya tante-tante?"
"Ga gitu juga Bambang! Dia itu keliatan jauh beda banget umurnya sama gue!"
"Yaiya emang, cuma beda 4taun doang"
"Gue lebih suka yang modelan bini lo" Canda Aji yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bagas.
"Lo suka sama istri gue berati lo nyerahin nyawa lo yang cuma satu itu ke gue!!"
"Wisss santai dong broooo, canda kali ah baperan" Ucap Aji.
***
Setelah pulang dari jalan-jalannya, Rere langsung mengikuti Aurel ke kamarnya karena ingin melihat hasil tespack sahabatnya. Sedangkan Neli, dia kembali ke kamarnya karena Aydan sudah uring-uringan meminta Neli untuk kembali.
"Ini gue coba sekarang?" Ucap Aurel.
"Yaiyalah markonah!!" Jawab Rere dengan kesal.
"Baca dulu caranya" sambungnya.
Aurel langsung memasuki kamar mandi dan melakukan cek kehamilan. Tak berapa lama dia keluar membawa beberapa tespack dengan mata yang sembab. Rere yang melihat itu pun langsung berlari kecil menghampiri Aurel.
"Rel, lo kenapa nangis? Hasilnya ga sesuai? Lo jangan sedih ya" Rere memeluk Aurel dengan erat.
Aurel melepaskan pelukkannya dan menyodorkan hasil tespeck nya.
"Rel ini?" Ucap Rere.
"Lo hamil Rel, lo hamilll!!!!!" Rere langsung memeluk lagi tubuh Aurel.
"Selamat Rel" Ucap Rere.
"Lo harus kasih tau suami lo sekarang juga!!" Sambungnya.
"Engga Re gausah" Ucap Aurel.
"Kenapa Rel? Lo ga seneng?" Tanya Rere.
"Bukan gitu, bentar lagi dia ulang tahun, gue mau ngasih ini buat kadonya" Ucap Aurel dengan senyum lebarnya.
"Waahhh gue yakin dia pasti bahagia bangett.. Sekali lagi selamat Aurellkuuuu"
"Makasih Rere, lo emang yang terbaik" Ucap Aurel.
"Gue mau lo sembunyiin dulu tentang kehamilan gue. Selain bikin kejutan buat suami gue, gue mau bikin juga buat Mommy dan Daddy" sambungnya.
"Siappp" Rere memberi hormat pada Aurel.
***
Di kamar lain di waktu yang sama terlihat Aydan sedang mengerucutkan bibirnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang seraya memandangi Neli yang baru saja masuk kedalam kamarnya.
Neli tersenyum saat melihat wajah suaminya yang benar-benar seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya.
Dia berjalan mendekati Aydan dan langsung mengecup singkat bibirnya.
"Maaf tadi lama ya Ay" Ucap Neli.
"Lama banget!! Aku kan udah bilang sebelum aku pulang dari kantor kamu udah dirumah" ketus Aydan.
Neli memeluk dan membenamkan kepalanya di dada bidang Aydan.
"Maaf sayang" Ucapnya.
"Kamu harus dapet hukuman saat ini juga!" Aydan langsung membalikkan tubuh Neli. Dan saat ini posisinya ada di atas Neli.
"Aku terima sayang" Neli mengalungkan tangannya di leher Aydan dan langsung ******* bibir Aydan dengan lembut.
Aydan yang sudah terbuaipun segera menelusupkan tangannya ke dalam baju Neli dan mengelus perut serta kedua buah dadanya.
"Mphtttt" Lenguhan Neli membuat gairah Aydan semakin tinggi. Dia segera membuka semua baju Neli dan menampilkan tubuh polos nan sempurna milik istrinya itu.
"Sayang kamu bisa tahan sakitnya sebentar kan? Hanya sebentar saja" Ucap Aydan sebelum melanjutkan kegiatannya.
Neli tersenyum dan mengangguk walaupun jantungnya bedegup sangat kencang karena ini yang pertama kali baginya tapi dia tidak menunjukkan ketegangannya.
Neli menggigit bibir bawahnya saat Aydan mencoba menerobos alat vital miliknya. Air matanya mencelos menahan perih dan sakit di daerah intimnya itu. Tak lama rasa sakit itu berkurang, dan Aydan pun mulai menggerakkan pinggulnya.
Mereka menyelesaikan tugas sepasang suami istrinya sampai 3 jam karena Aydan merasa tubuh Neli adalah candu baginya.
"Terimakasih dan maafkan aku sayang" Lirih Aydan setelah menyelesaikan aktifitasnya.
Neli mengangguk dan menelusupkan kepalanya di dada bidang Aydan, lalu kemudian mereka tertidur bersama.
***
Malam harinya Aurel sedang duduk di taman depan mansion dengan ditemani Vyan dan Amel.
"Bunda" Panggil Vyan.
"Iya sayang?" Jawab Aurel.
"Vyan dapat surat dari sekolah untuk Bunda dan Ayah" Vyan memberikan amplop putih dengan logo sekolah di depannya.
"Ini apa sayang?" Tanya Aurel.
"Vyan gatau Bunda" Jawab Vyan.
"Kamu ga buat kesalahan kan nak?" Ucap Aurel.
"Enggak Bunda, sumpah" Vyan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Syukurlah" Aurel membuka amplop dan membaca suratnya. Dia menepuk keningnya namun tersemit senyum di bibirnya yang membuat Amel dan Vyan saling pandang lalu mengangkat kedua bahunya.
"Vyan lagian kamu itu ya kalo sekolah jangan pinter-pinter banget napa" Ucap Aurel yang memasukkan lagi surat ke dalam amplopnya.
"Maksud Bunda?" Vyan mengerutkan keningnya.
"Kamu itu disuru langsung masuk SMA karena kamu udah nguasain semua pelajaran di sekolah. Emang kamu mau baru 11 tahun udah di SMA?" Ucap Aurel.
"Mau Bunda. Berati Vyan bakal cepet nyelesain sekolahnya" Jawab Vyan dengan cepat.
"Jadi kamu mau?" Tanya Aurel lagi yang dianggukki oleh Vyan.
"Baiklah, nanti Bunda bicarain sama Ayah ya" sambungnya.
"Tapi Bunda, ada yang mau Vyan bicarain sama Bunda" Ucap Vyan.
"Ada apa?" Tanya Aurel.
"Vyan mau kuliah di LN, di tempat kuliah Bunda" Ucap Vyan dengan ragu-ragu.
Aurel memalingkan wajahnya dan menutup matanya.
"Vyan, kalo kamu kembali ke negara itu Bunda takut keluarga kamu bakal nemuin kamu lagi. Bunda gamau kamu kembali ke keluarga itu" Lirih Aurel.
Vyan beranjak dari kursinya dan menghampiri Aurel, dia berjongkok dan menidurkan kepalanya di kaki Aurel.
"Bunda, Vyan gaakan ninggalin Bunda, Vyan janji" Ucap Vyan yang sebenarnya dia juga memiliki ketakutan yang sama dengan Aurel.
"Bunda akan izinin kamu kalo kamu benar-benar tidak akan ninggalin Bunda" Ucap Aurel yang dianggukki Vyan.
"Vyan janji Bun" Ucap Vyan.