
Pagi hari sekali Amel sudah membuka matanya dan menatap Vyan. " Tata tampan cepelti kak Ay " ucapnya dengan mengelus pipi Vyan.
Vyan yang merasakan sentuhan di wajahnya itu langsung membuka matanya, dia melihat seorang gadis kecil yang ia impikan menjadi masa depannya kelak.
" Ada apa girl? " ucapnya.
" Tidak, tata tampan cekali " ucapnya.
Vyan tersenyum dan langsung mencium pipi Amel dengan gemas " Terimakasih girl, kau pun sangat cantik " ucapnya.
" Tata apa tata mau menikah dengan ku? " ucap Amel yang membuat Vyan membulatkan matanya.
" Heyy tau apa kau tentang pernikahan. Sekolah yang benar baru kau bisa memikirkan pernikahan " ucap Vyan dengan mengelus puncak kepala Amel.
" Tapi aku mau nikah cama tata " ucap Amel dengan mata yang berkaca-kaca.
Vyan tersenyum saat mendengarnya " Baiklah kelak kita akan menikah " jawab Vyan.
" Plomic? " ucap Amel dengan menyodorkan jari kelingkingnya.
Vyan mengaitkan jari kelingkingya dengan jari kelingking Amel
" Promise " jawab Vyan.
" Tata Lia bilang, kalo cudah janji tata gaboleh boong " ucap Amel.
" Tentu saja girl " jawab Vyan.
Amel meminta Vyan untuk mengantarkannya ke kamar orangtuanya karena dia ingin mandi. Setelah mengantarkan Amel, Vyan kembali ke kamarnya dengan tersenyum sepanjang perjalanan.
* Aku percaya dengan ikatan janji kita Mel * batin Vyan dengan menatap jari kelingkingnya.
" Apa yang kau lakukan? " ucap Bagas yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Vyan.
Bagas masih mengenakan baju kantornya karena memang Bagas bekerja menjadi karyawan di salah satu perusahaan milik Raka, dan tentunya karena keinginan Bagas sendiri.
" Waalaikumsallam Ayahku yang tampan sejalan raya " ucap Vyan.
" Bukan sejalan tol? " cebik Bagas.
" Mana salamnya yah? " ucap Vyan.
" Hishh.. Assalamualaikum putraku yang paling tampan tapi masih tampanan Ayahnya " ucap Bagas.
" Waalaikumsallam Ayah yang terlalu narsis " jawab Vyan.
" Haihh dasar bocil " ucap Bagas dengan mengacak rambut Vyan.
" Plis ya yah aku bukan anak kecil " ketus Vyan.
" Baiklah kamu memang bukan anak kecil. Tadi kamu kenapa cengir-cengir sendiri ngeliatin jari kelingking kamu? apa jari kelingkinya berubah jadi jempol " tanya Bagas.
" Ngaco ah ayah " Vyan kembali tersenyum saat mengingat perkataan Amel.
" Yeh malah senyum-senyum lagi, ayah nanya bukannya jawab " ucap Bagas.
" Ohh hehe " Vyan menceritakan semuanya pada Bagas karena memang sampai saat ini dia tidak pernah menyembunyikan apapun dari Bagas dan Aurel.
Bagas tersenyum saat mendengar cerita dari sang anaknya itu
" Apa kamu benar-benar ingin menikahi Amel? " tanya Bagas.
" Tentu saja Ayah. Amel adalah cinta pertamaku dan aku ingin dia menjadi cinta terakhirku " ucap Vyan.
" Berjuanglah, Ayah akan selalu mendukungmu. Tapi kamu harus ingat!! Jangan pernah memaksakan kehendak orang lain. Kau harus siap jika suatu saat Amel tidak menyukaimu " ucap Bagas.
Vyan menundukkan kepalanya dalam-dalam " Ayah benar, itulah hal yang aku takutkan selama ini. Aku takut jika suatu saat Amel hanya mencintaiku sebagai seorang kakak bukan seorang pria " lirihnya.
" Walaupun begitu kau masih harus berjuang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Tuhan sudah menyiapkan skenario untuk kita semua " ucap Bagas sambil mengusap punggung Vyan.
°°°°°°
Sedangkan di negara tetangga terlihat Aurel sedang duduk melamun di balkon kamar dengan memandang kosong ke arah luar dari jendelnya.
Tak lama Aydan masuk ke kamarnya karena dia sangat khawatir pada adiknya itu. Sejak pulang dari kuliahnya dia sama sekali tidak melihat Aurel keluar dari kamar.
" Lia " ucap Aydan.
Aurel terlihat dengan cepat menghapus air matanya dan menoleh ke arah Aydan " Iya kak? " jawabnya.
" Kamu kenapa " ucap Aydan yang ikut duduk di kursi samping Aurel.
" Kamu mau cerita langsung ke kakak apa kakak yang nyari sendiri?!! " ucap Aydan dengan nada dinginnya.
Aurel sangat tahu jika Aydan sudah berbicara seperti itu artinya dia tidak akan main-main dengan ucapannya.
" Lia belum siap cerita kak " lirihnya dengan menahan air mata di pelupuk matanya.
" Siap tidak siap kamu harus cerita, jika tidak jangan salahkan kakak jika orang yang membuatmu seperti ini akan kakak hancurkan hari ini juga " ucap Aydan.
Aurel menatap nanar ke arah Aydan dan langsung menangis tersedu-sedu.
" Siapapun yang membuatmu menangis seperti ini tidak akan aku maafkan sekalipun itu seorang wanita!! " tegas Aydan.
" Kak " lirih Aurel " I need hug " sambungnya dengan isak tangisnya.
Aydan bagkit dari posisinya dan langsung memeluk Aurel. Melihat kembarannya menangis seperti itu membuat Aydan merasakan sesak didadanya, karena baru hari ini dia melihat adiknya itu menangis dengan sangat kencang. Aydan mengelus rambut panjang Aurel dan membuat Aurel semakin terisak.
" Kakakk hikss " ucap Aurel yang semakin mengencangkan pelukan dan tangisannya " Kakak maheer hiksss " sambungnya.
Aydan mengepalkan tangannya saat mendengar nama Maheer di sebut. * Aku bersumpah jika alasan Lia menangis karenamu aku taakkan membiarkanmu begitu saja * batin Aydan.
Setelah cukup tenang Aurel melepaskan pelukannya dan menatap seorang lelaki paling berharga setelah daddynya. Namun lama kelamaan pandangan itu kabur dan akhirnya badannya ambruk.
Dengan sigap Aydan menahan tubuh Aurel agar tidak jatuh ke lantai, tanpa terasa ia juga meneteskan air matanya.
Aydan membawa Aurel ke tempat tidur dan langsung menelfon dokter keluarganya untuk memeriksa Aurel.
Beberapa saat seelah menelfon dokter akhirnya dokter wanita itu sampai di apartementnya.
" Bagaimana keadaannya dok? " tanya Aydan saat dokter selesai memeriksa.
" Nona muda sepertinya sedang sangat tertekan batinnya, dan juga tidak ada asupan dalam tubuhnya. Saya menyarankan agar Nona muda beristirahat untuk beberapa hari kedepan " ucap dokter " Dan ini saya membawakan vitamin agar stamina nya tetap terjaga " sambungnya dengan memberikan beberapa bungkus obat.
Dokter itu pamit pada Aydan karena tugasnya sudah selesai. Setelah dokter pergi Aydan duduk di tepi ranjang dan menatap wajah Aurel yang sedang memejamkan matanya. Dia mengelus pipi Aurel dan menyingkapkan beberapa rambut yang menutupi wajahnya.
" Semenyakitkan apa luka yang kau pikul dek. Maafkan kakak karena kakak tidak berhasil menjagamu dengan baik " lirih Aydan.
Aydan terus menemani Aurel di dalam kamar menunggunya sadar. Cukup lama Aurel pinsan akhirnya ia membuka matanya dan menatap kosong ke arah Aydan.
" Bagaimana keadaanmu? " ucap Aydan.
" Aku baik kak, maafkan aku kak " ucapnya.
" Tidak ada kata maaf, tunggu sebentar " Aydan melangkahkan kakinya ke dapur, dia berbalik ke arah Aurel dengan membawa bubur dimangkuk.
" Makanlah, walau hatimu sedang kacau kau harus tetap menjaga pola makan " ucap Aydan sambil menyodorkan satu sendok bubur ke mulut Aurel.
Aurel kembali mengingat kejadian yang di alaminya tadi dan kembali menangis. Dia tidak melahap makanan yang disodorkan Aydan.
" Ceritakan pada kakak sekarang !! " tegas Aydan, lalu dia menyimpan mangkuk itu ke atas nakas dengan cukup keras.
Falshback On..
Pagi tadi Aurel pergi ke kampus karena harus memberikan skripsi untuk sidangnya minggu depan.
" Neliiiii " teriak Aurel saat melihat Neli di dekat parkiran.
" Heyy Rel, baru dateng? " ucap Neli.
" Heemm. Kau mau menyelesaikan tugasmu? " tanya Aurel.
" Iya, nih " Neli memperlihatkan beberapa berkas ditangannya saat itu.
Mereka berdua memasuki lorong univ itu dengan canda tawanya dan sesekali terlihat Aurel berjongkok memegangi perutnya karena lelucon dari Neli.
Setelah memberikan tugasnya Aurel mengajak Neli untuk nongkrong di sebuah cafe yang cukup terkenal di negara itu. Saat awal memasuki cafe tidak ada yang aneh, namun siapa sangka ternyata disana dia melihat kekasihnya sedang menyanyi di atas panggung kecil cafe itu.
* Untuk apa Maheer disini? * batin Aurel.
Dia penasaran namun senang karena dapat melihat lagi kekasihnya secara langsung. Saat itu Maheer menyanyikan sebuah lagu kenangan mereka berdua, lagu yang selalu mereka dengar jika sedang di dalam mobil.
Setelah selesai menyanyi Maheer tidak langsung turun dari panggungnya, dia mengucapkan kata-kata yang membuat Aurel terkejut.
" Untukmu yang saat ini sangat aku cintai. Clarissa louis. "
Deg..
Hal itu membuat jantung Aurel berdegup dengan kencang, pelupuk matanya sudah tidak bisa menahan air yang akan jatuh.
" Mungkin aku terlambat untuk menyatakan semua ini padamu. Tapi setelah aku berpikir panjang setiap malam dan aku selalu bertanya pada hatiku sendiri apakah salah aku mencintaimu. Jawaban yang kudapat dari hatiku ini selalu sama, aku sama sekali tidak salah mencintaimu. Kamu adalah rembulan yang menerangi malam gelapku, pelangi yang menghiasi hidupku. Maka dari itu, hari ini dihadapan kalian semua. Saya yang bernama Maheer Fernando memutuskan untuk meminangmu, menjadikanmu masa depanku. Membuat keluarga yang harmonis denganku dan anak-anakku kelak " ucap Maheer dengan lembutnya.