Twins'

Twins'
29.



Tak terasa sudah 3 bulan Aurel menjalani kehidupan seperti biasa setelah berpisah dengan Maheer. Saat ini dia sudah menetap di Indonesia karena dia sudah menyelesaikan kuliahnya. Hubungannya dengan Aydan pun sudah seperti biasanya, juga hubungan dengan Bagas semakin dekat. Bagas sudah bertekad secepatnya akan menjadikan Aurel miliknya.


Pagi ini di mansion Raka tepatnya di ruang keluarga, mereka sedang berkumpul. Mereka berbincang-bincang dengan candaan dan tak lupa dengan celotehan Amel yang semakin hari semakin lancar berceloteh. Sampai akhirnya perbincangan itu terlihat serius saat Raka memulai pembicaraan baru dengan raut wajah yang tak memancarkan candaan.


" Ehemmm " dehem Raka yang membuat semua orang menatapnya tak terkecuali Amel dan Vyan yang sedang duduk di lantai dengan cemilannya.


" Ada yang ingin daddy bicarakan " sambung Raka.


" Bukannya dari tadi Daddy berbicara? " jawab Aurel yang langsung mendapat tatapan tajam dari Raka dan hanya dibalas dengan unjukkan giginya. " Hehe santai " Aurel menempatkan 10 jarinya di depan dadanya.


" Ini tidak main-main. Daddy ingin membicarakan masa depanmu " ucap Raka dengan menatap Aurel.


" Hah? " ucap Aurel dengan mengernyitkan dahinya.


" Pertama daddy tanya apa kau mencintai Kak Tian selama ini? " tanya Raka dengan wajah seriusnya.


" Euh? " ucap Aurel " Daddy apasih aneh-aneh aja, ya tentu cinta lah kan kak Tian kakak Lia " sambungnya.


" Bukan sebagai kakak tapi sebagai seorang pria seperti dulu kau mencintai Maheer! " tegasnya.


Mendengar pertanyaan dari snag daddy membuat Aurel gugup dan jantungnya berdegup dengan kencang.


Aduh ni jantung gabisa apa diem dulu. Jangan diskoan dulu napa, ga tau apa pemiliknya lagi grogi gini, batinnya.


" Jawab daddy " ucap Raka.


" Haihhh apasih dad ah gajelas " jawab Aurel yang langsung bangkit dari posisinya namun dengan cepat Aydan mencekal lengannya dan membuat Aurel mengerucutkan bibirnya dan kembali duduk di tempatnya.


" Daddy ingin kalian menikah secepatnya " tegas Raka yang membuat semua orang mebelalakkan matanya kecuali Zahra karena memang Raka sudah membicarakan keputusannya itu dengan istrinya selama ini.


" Daddy aku belum siap menikah " jawab Aurel. Memang semenjak memutuskan hubungannya dengan Maheer dia lebih dekat dengan Bagas dan membuat sedikit rasa cinta di hatinya itu tumbuh.


" Daddy tidak membutuhkan jawabanmu. Ini perintah dari Daddy dan Mommy " ucap Raka.


" Apa kau siap? " ucap Raka dengan memandang Bagas yang sedari tadi hanya dia mendengarkan perbincangannya dan Aurel.


" Apapun yang Daddy perintahkan, Tian siap menjalaninya. Tapi jika tentang pernikahan, sebelumnya Tian akan membicarakan dengan Ayah " jawab Bagas.


" Tidak perlu! Daddy sudah mendapatkan restu dari ayahmu " ucap Raka.


" Baik dad " ucap Bagas.


Ini ga mimpi kan? Apa benar Lia akan menjadi milikku seutuhnya?, batin Bagas.


" Daddy sudah mempersiapkan semuanya. Pernikahan kalian diadakan minggu depan secara privat yang hanya dihadiri kerabat-kerabat terdekat. Tidak ada penolakkan! Semuanya sudah siap " tegas Raka.


" Momm " rengek Aurel dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sebenarnya hati Aurel sangat bahagia bahkan jika tidak ada siapapun saat itu dia akan berguling-guling. Namun yang membuatnya ragu adalah perasaan dari Bagas karena selama ini Bagas tidak pernah menunjukkan jika dia mencintai Aurel sebagai seorang wanita.


" Mommy tau kekhawatiranmu Lia. Percayalah Tian mencintaimu bahkan lebih dulu dari kau mencintainya. Saat kau masih bersama Maheer, Tian sudah mencintaimu tetapi dia tidak ingin merusak kebahagiaanmu saat itu. Percayalah walaupum cintamu belum sebesar cinta Tian padamu, Mommy yakin seiring berjalannya waktu kalian akan saling mencintai bahkan lebih dari cinta pada diri kalian sendiri " ucap Zahra.


" Ya, semua yang Mom ucapkan benar " ucap Bagas.


Aurel tersenyum lalu menyeka air matanya.


" Baiklah, Lia yakin keputusan kalian itu yang terbaik untuk Lia " ucap Aurel.


Semua orang yang mendengarnya pun langsung mengembangkan senyumnya.


" Abang " ucap Amel pada Vyan. Sudah sebulan kebelakang ini Amel memanggil Vyan dengan sebutan abang yang bahkan siapapun tidak tau alasannya karena setiap ditanya Amel selalu mengalihkan pembicaraannya.


" Hem? " jawab Vyan.


" Nanti abang jangan seperti kak Tian. Kalau abang menyukaiku abang langsung bicara padaku sebelum orang lain yang mengetahuinya. Itu akan lebih memalukan " ucap Amel yang membuat semua orang membelalakkan matanya.


Apa dia sedang menyindir kebodohanku selama ini?, batin Bagas.


Heyy bagaimana bisa anak sekecil itu sudah mengerti tentang cinta, batin Aydan.


Haihh gue salah ngasih makan apa gimana ini anak gue napa jadi bucin begini ya, batin Zahra.


Perasaan cara bikinnya sama kayak bikin kakak-kakaknya, tapi kenapa ni anak beda banget sikapnya ya, batin Raka.


Turunan siapa tuh anak. Perasaan gue sama kak Ay ga gitu juga, batin Aurel.


" Kau ini ada-ada saja " ucap Vyan sambil mengelus puncak kepala Amel.


" Kau ingin mengambil cemilan yang baru? " sambungnya mengalihkan pembicaraan dan akhirnya Amel dan Vyan pergi ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan sehat yang tersedia disana.


" Mom. Ngapa Amel jadi buciners gitu? " ucap Aurel.


Zahra mengangkat kedua bahunya " Mommy pun ga tau " ucap Zahra.


" Dad apa kita salah ya bikinnya " bisik Zahra pada Raka.


Raka pun ikut mendekatkan bibirnya pada telinga snag istri


" Daddy gatau, tapi setau daddy prosedurnya sama kayak Ay dan Lia " bisiknya.


" Yehhh malah bisik-bisik " sindir Aydan.


Akhirnya obrolan serius tentang penikahanpun beralih pada obrolan tentang Amel yang bersikap seperti seorang wanita yang berpikiran dewasa.


Setelah cukup lama berbicang akhirnya mereka kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Dikamar Aurel, dia sedang berguling-guling di ranjangnya seraya menekan wajahnya pada bantal sampai kegiatannya terhenti saat mendengar suara pesan masuk di handphone.