
Bagas menggenggam tangan Aurel yang ada di sampingnya.
" Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Kakak akan selalu mendukungmu, tapi kamu harus ingat ! Jika ada seseorang yang menyakiti hatimu, kakak adalah orang pertama yang akan membuatnya hancur " ucapnya.
Aurel menatap wajah Bagas yang sedang fokus menyetir, dia tersenyum saat mendengar penuturan Bagas, hatinya menghangat tiba-tiba. " Terimakasih kak " ucap Aurel.
Bagas hanya tersenyum tanpa melihat ke arah Aurel.
* Kakak jadi ragu untuk memisahkan kalian berdua lia. Kakak lihat kau sangat mencintainya, entah apa yang terjadi jika kau tau yang sebenarnya. Tapi kakak juga tidak akan membiarkan kamu terus di permainkan lelaki itu * batin Bagas.
Setelah 1 jam berada di dalam mobil akhirnya mereka sampai di mansion mewah Raka, dan disana sudah banyak mobil yang terparkir. Aurel sangat antusias saat melihat satu mobil yang sangat ia kenal. Ia turun dari mobil dan langsung berlari memasuki mansion.
" Omaaaa " teriak Aurel sambil memeluk Omanya.
" Heyy sayang, darimana saja kamu. Oma udah nunggu dari tadi pagi " ucap Oma sambil pura-pura merajuk.
" Ahh maafkan aku omaa.. Aku tadi abis nganter kak Tian " jawab Aurel.
" Lepaskan dulu pelukanmu anak nakal. Mana Vyan? Oma ingin melihatnya " ucap Oma lalu melepaskan pelukkan Aurel.
Aurel menepuk dahinya karena ia baru sadar jika dia meninggalkan Vyan yang masih tertidur di dalam mobil, saat akan menjemputnya tiba-tiba Bagas datang dengan membawa Vyan di gendongan tangannya
" Cih. Segitu senengnya ketemu sama Oma, kamu sampe lupain anak kamu dek " ucap Bagas yang terdiam di hadapan Aurel.
" Maafkan aku kak, sini biar lia yang bawa " ucap Aurel.
Bagas menjauhkan dirinya saat Aurel akan mengambil Vyan
" Biar kakak aja, kamu lanjutin ngobrol sama Oma " ucap Bagas sambil membawa Vyan ke kamar Aurel.
" Jadi apa kau sudah memiliki perasaan pada Bagas? " tanya Oma dengan menepuk bahu Aurel membuat yang empunya terkejut dan membalikkan badannya.
" Oma apaansih, aku itu masih sama Maheer " jawab Aurel.
" Pacaran udah lama tapi gaada kepastian. Kalo oma jadi kamu oma bakal ninggalin dia dan nikah sama Bagas " ucap Oma.
" Hishhh dasar " gumam Aurel.
" Oma kenapa banyak mobil di depan? " tanya Aurel.
" Oh itu, pamanmu dan keluarganya ikut dengan oma kesini " jawab Oma.
" Lalu pada kemana? " ucap Aurel.
" Di belakang lagi ngumpul " jawabnya.
" Terus kenapa Oma gaikut kumpul? " tanya Aurel.
Oma menyentil dahi Aurel " Awww omaa " rengeknya sambil mengusap-usap dahinya.
" Oma disini nungguin kamu lah, ayok kesana " ajak Oma.
Aurel dan Oma pergi ke taman belakang menghampiri keluarganya. Terlihat sudah banyak sekali orang yang berkumpul, bahkan keluarga Neli pun ikut bergabung.
" Hallo my beautiful sister " ucap Farhan yang tiba-tiba memeluk Aurel dari belakang dan mencium pipinya.
" Kaget aku kak " ucap Aurel " Nyosor mulu kayak bebek aja lu kak " sambungnya.
Aurel melepaskan pelukkan Farhan dan menghampiri Opanya.
" Opaaa how are you " ucap Aurel sambil mencium pipi opanya.
" Hihh nyosor mulu kayak bebek " jawab Opa yang disambut dengan tawaan semua orang.
" Opaaaaaa " rengek Aurel.
" Hahhaha, opa baik-baik saja. Bagaimana denganmu? " tanya Opa.
" Aku juga baik Opa " jawab Aurel.
Aurel melihat seorang wanita yang datang dengan membawa nampan dengan beberapa gelas berisi jus diatasnya. Aurel berlari menghampirinya dan saat berlari kakinya secara tidak sengaja menendang batu hingga membuat tubuhnya tidak seimbang.
Grep..
Bagas memeluk tubuh Aurel yang akan terjatuh secara tiba-tiba " Lain kali hati-hati, kamu itu udah dewasa. Bukan anak kecil yang suka lari-larian " ucap Bagas.
" Thank you kakak " cup. Aurel mengecup pipi kanan Bagas dan segera menghampiri wanita itu.
" Dasar " gumam Bagas dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Auntyyyy, lia kangennnn " ucap Aurel pada Aunty Vita ( Ibunda Farhan ).
" Emhhhh aunty pun rindu sayang, bagaimana kabarmu? " ucap Vita.
Aurel meraih nampan di tangan Vuta dan di simpan di meja tempat yang lain berkumpul. Dia memeluk Vita dengan sangat erat memang dia jarang bertemu dengan Vita karena Vita adalah seorang wanita pebisnis yang pastinya sangat sibuk
" Sangat baik aunty, bagaimana dengan aunty? " tanyanya.
" Aunty pun baik sayang. Oiya mana cucu Aunty? " tanya Vita.
" Dia sedang tidur Aunty. Kalian kesini sebenernya mau ketemu siapa sih? kok pada nanyain Vyan semua, herman aku tuh " ucap Aurel dengan mengajak Vita untuk duduk bergabung bersama yang lainnya.
" Heran de " ucap Aydan.
" Hihhh gapapa lah, mulut - mulut aku " ketus Aurel.
" Kami kesini memang sengaja ingin bertemu dengan Vyan, cucu pertama uncle " jawab Riko.
" Hihhh kalian jahat, kalian ga rindu ama lia? " ucap Aurel sambil mengedarkan pandangannya.
Ketika sedang asik berbincang, Vyan keluar dari kamarnya dan menghampiri Aurel.
" Bunda " ucap Vyan dengan sangat pelan karena dia malu ketika melihat banyak orang di tempat itu.
Aurel menoleh ke arah Vyan dan langsung tersenyum, ia memberi isyarat dengan tangannya agar Vyan mendekat
" Sini sayang " ucap Aurel.
Vyan mendekat ke arah Aurel, dia melihat mata semua orang sedang memperhatikannya. Vyan mempercepat jalannya dan langsung duduk dipangkuan Aurel, dia memeluk Aurel dan menyembunyikan wajahnya di leher Aurel " Bunda aku malu " lirihnya.
Aurel tersenyum saat mendengar ucapan Vyan, dia mengelus rambut Vyan " Jangan malu sayang, ada bunda disini " jawabnya.
" Hey boy, apa kau Vyan?? " ucap Farhan.
Vyan hanya mengangguk namun masih dengan posisinya.
" Wahhh kau sangat tampan boy, apa uncle boleh memelukmu?? " ucap Farhan.
Vyan mendongakkan kepalanya dan menatap Aurel.
" Pergilah, dia udah jinak, gaakkan gigit kok tenang aja sayang " canda Aurel.
Vyan turun dari pangkuan Aurel dan menatap semua orang yang ada di tempat itu.
" Kenalkan, itu oma Mitha dan opa Erven dan yang itu grandpa Riko dan gradma Vita. Itu uncle Farhan, itu keluarganya Aunty Neli " jelas Aurel sambil menunjuk satu persatu yang ada disana.
" Kemarilah sayang " ucap oma pada Vyan. Vyan menurut dan melangkahkan kakinya namun dengan cepat dia ditarik dan di dekap oleh seseorang.
" Enak aja, kan yang manggil duluan aku. Kenapa yang didatengin duluan oma " ucap Farhan sambil mencebikan bibirnya.
" Farhan Jonathan Puta Arsenio !!! " teriak semua orang kecuali oma, Bagas dan keluarga Neli. Mereka khawatir jika oma nya marah karena jika itu terjadi ia akan bermain-main dengan saham perusahaan.
Farhan mendengus saat mendengar teriakkan semua orang, dia melepaskan pelukannya dan mencium Vyan.
Dengan cepat Vyan mengusap pipi nya " Uncle ini punya bunda, uncle gaboleh nyium ishh " dengus Vyan yang membuat Farhan melongok.
" Hihh pelit " gumam Farhan.
Vyan menghampiri Oma dan Opa lalu mencium punggung tangan keduanya " Hallo Oma Opa " ucapnya.
" Hallo sayang. Kau sangat tampan, sini nak " ucap Oma sambil merentangkan tangannya.
Vyan langsung masuk ke pelukan oma dengan ragu-ragu. Oma tersenyum merasakan kehangatan saat memeluk Vyan " Kau adalah cicitku yang pertama, beruntungnya oma memiliki cicit yang sangat tampan sepertimu ini " ucapnya.
" Terimakasih Oma " jawab Vyan.
Setelah Vyan melepaskan pelukan Oma, dia menghampiri Opa dan melakukan hal yang sama.
Mereka berbincang dengan sangat santai hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 sore. Mereka memutuskan untuk masuk ke dalam rumah karena kondisi Zahra yang sedang mengandung dan tidak di perbolehkan diluar rumah saat akan maghrib.
Aurel memasuki kamarnya dan membersihkan tubuh. Setelah keluar dari kamar mandi dia merebahkan tubuhnya dan meraih ponsel yang ada di atas nakas. Dia tersenyum saat melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Maheer.
Aurel balik menghubunginya dan tak lama telefon itu tersambung.
Panggilan Telefon..
Aurel : Kamu tadi menelfon, ada apa?
Maheer : Salahkah aku menelfon pacarku sendiri nona?
Aurel : Haha tentu tidak tuan. Apa kau merindukanku?
Maheer : Tentu saja aku merindukan kekasihku ini
Aurel : Baiklah, jadi kapan?
Maheer : Kapan apanya?
Aurel : Kapan kau menghalalkanku tuan, aku sudah lelah merindukanmu. Aku ingin segera menikah denganmu hemm
Maheer : Apa kau sudah siap?
Aurel : Tentu saja aku siap
Maheer : Nanti akan ada saatnya sayang, sekarang aku belum mempunyai apa-apa untuk menghadap keluargamu
Aurel : Keluargaku tidak pernah memandang kekayaan, selagi kau bisa membuatku hidup dengan nyaman maka keluargaku pasti akan menyetujuinya
Maheer : Keluargamu memang seperti itu, tapi akan berjuang dulu untuk mendapatkan apa yang aku inginkan baru aku akan membawamu menjadi masa depanku
Aurel : Heuhh baiklah. Tapi aku sungguh lelah Maheer, aku lelah saat aku benar-benar merindukanmu. Dulu sewaktu kita masih sekolah jika aku merindukanmu kau pasti akan datang padaku dan menemaniku seharian. Tapi sekarang bahkan untuk menghubungiku saja kamu sangat jarang
Maheer : Tunggu sebentar lagi sayang, setelah ini aku akan membuat kita menjadi keluarga bahagia bersama anak-anak kita nanti
Aurel : Haruskah aku percaya?
Maheer : Tentu saja kau harus percaya
Aurel : Baiklah aku menunggumu
Mereka berbicang dengan cukup lama di telfon, sampai akhirnya Maheer menutup sambungan telfonnya dengan alasan akan pergi bersama keluarganya.
Tanpa Aurel sadari ternyata Bagas sudah duduk di sofa kamarnya seraya menatapnya.
" Ishh kakak ngapain disitu, kaget aku " ucap Aurel sambil mengelus dadanya.